google adsense

Monday, August 7, 2017

Teori Kepribadian

Teori Kepribadian: jawaban terhadap pertanyaan ‘apa’, ‘bagaimana’, dan ‘mengapa’.
      Jika kita mempelajari kepribadian orang secara intensif, kita ingin mengetahui seperti apa mereka, bagaimana mereka bisa menjadi seperti itu, dan mengapa mereka berperilaku seperti itu. Dengan demikian, kita ingin sebuah teori yang dapat menjawab pertanyaan apa, bagaimana, dan mengapa tentang perilakunya.
      Pertanyaan “apa”, berkaitan dengan karakteristik seseorang dan bagaimana karakteristik itu ditata untuk saling berhubungan satu dengan yang lain. Apakah seseorang sangat membutuhkan prestasi? Jika ya, apakah mereka menjadi gelisah dan tekun karena mereka berada dalam kebutuhan yang amat sangat terhadap prestasi? Atau, apakah mereka tekun dan amat membutuhkan prestasi karena mereka gelisah?
      Pertanyaan “bagaimana” berkaitan dengan penentu (determinan) kepribadian seseorang. Bagaimana aspek genetik memengaruhi kepribadian seseorang? Bagaimana faktor lingkungan dan pengalaman pembelajaran sosial memberikan kontribusi kepada perkembangan seseorang? Bagaimana aspek biologi dan lingkungan saling berinteraksi satu dengan yang lain? Bagaimana seseorang, melalui pilihan dan upaya mereka sendiri, mengembangkan kepribadian mereka sendiri?
      Pertanyaan “mengapa” berkaitan dengan alasan atau sebab dari perilaku individual. Jawabannya mengarah kepada aspek motivasional individu – mengapa dia bertindak, dan mengapa bertindak ke arah tertentu. Jika seseorang mencoba menghasilkan banyak uang, mengapa arah ini yang dipilih? Jika seorang anak berprestasi di sekolah, apakah karena untuk menyenangkan orang tua, ataukah untuk menggunakan bakatnya, ataukah untuk meningkatkan kepercayaan diri, ataukah untuk berkompetisi dengan rekan sebaya? Apakah seorang ibu overprotective karena dia memang menyayangi sang anak, karena dia mencoba memberikan kepada anaknya sesuatu yang hilang di masa kecilnya, atau dia mencoba menghindari ekspresi dendam dan rasa permusuhan yang dirasakannya terhadap sang anak? Apakah seseorang depresi karena dipermalukan, karena kehilangan yang dicintainya, atau karena merasa bersalah? Sebuah teori dapat membantu kita untuk memahami tingkatan depresi mana yang merupakan karakteristik seseorang, bagaimana karakteristik kepribadian ini berkembang, mengapa depresi dirasakan dalam kondisi tertentu, dan mengapa seseorang berperilaku tertentu ketika tertekan. Jika ada dua orang yang menderita depresi, mengapa salah seorang dari mereka ke luar rumah dan belanja, sedangkan yang lain mengurung diri?
      Dalam menjawab pertanyaan apa, bagaimana dan mengapa, ada empat bidang penting yang dibahas oleh teori kepribadian. Bidang-bidang tersebut adalah:
1.      Struktur, yakni unit dasar atau fondasi kepribadian;
2.      Proses, yakni aspek dinamis kepribadian; termasuk motif;
3.      Pertumbuhan dan perkembangan, yakni bagaimana seseorang berkembang menjadi pribadi yang unik; dan
4.      Psikopatologi dan perubahan perilaku, yakni bagaimana orang berubah dan mengapa terkadang mereka menolak perubahan atau tidak dapat berubah. Pembahasan masing-masing bidang ini dimaksudkan untuk mendapatkan jawaban komprehensif atas pertanyaan apa, bagaimana, dan mengapa.
      STRUKTUR. Konsep struktur kepribadian merujuk kepada aspek tetap dari kepribadian. Seseorang memiliki kualitas psikologis yang bertahan dari hari ke hari dan dari tahun ke tahun. Kualitas tetap yang mendefinisikan individu dan membedakan individu yang satu dengan yang lain ini disebut struktur kepribadian. Dalam kerangka ini, struktur tersebut dapat dibandingkan dengan bagian tubuh, atau dengan konsep seperti atom dan molekul dalam fisika. Mereka merepresentasikan dasar-dasar teori kepribadian. Unit Analisis berbagai teori dapat dibandingkan dalam istilah konsep struktural yang mereka gunakan untuk menjawab pertanyaan apa, bagaimana, dan mengapa yang berkaitan dengan kepribadian. Berbagai tipe konsep struktural telah dikembangkan oleh teoretikus kepribadian yang berbeda untuk mengkonseptualisasikan kualitas tetap dari kepribadian.Dengan kata lain, teori kepribadian yang berbeda menampilkan variabel dasar yang berbeda, atau unit analisis yang berbeda. Tiap unit analisis yang berbeda bisa jadi “benar” menurut caranya sendiri. Bahkan tiap tipe tersebut bisa jadi memberikan tipe informasi yang berbeda tentang sebuah objek. Sebagai contoh, pada saat ini Anda mungkin sedang duduk di kursi. Kursi tersebut dideskripsikan dapat menanggung beban sebesar X kg, berharga Y rupiah, sebagai “kualitas baik”. Tiap unit analisis ini – kg, rupiah, dan tingkat “kualitas baik” – memberitahukan sesuatu tentang kursi tersebut. Berbagai hal yang mereka sampaikan kepada kita mungkin berhubungan secara sistematis; kursi yang buruk akan berharga lebih murah dan hanya mampu menanggung beban yang lebih ringan.
      Akan tetapi, unit analisis adalah sesuatu yang berbeda secara konseptual. Senada dengan hal tersebut, berbagai teori kepribadian yang berbeda menggunakan unit analisis yang berbeda secara konseptual untuk mengkonseptualisasi struktur kepribadian. Salah satu unit analisis yang kerap digunakan untuk mendeskripsikan struktur kepribadian adalah sifat atau ciri kepribadian (personality trait). Susunan sifat merujuk kepada konsistensi respons individual kepada berbagai situasi. Seseorang yang secara konsisten bertindak dengan cara yang kita sebut “teliti” (conscientious) dapat dikatakan memiliki sifat “teliti” (conscientiousness). Dengan cara ini, sifat membentuk konsep yang digunakan orang awam untuk mendeskripsikan orang.
      Salah satu cara memahami sifat adalah dengan memikirkan bagaimana Anda akan mendeskripsikan seseorang yang Anda temui baru-baru ini. Bisa jadi Anda mendeskripsikan mereka dengan kata sifat seperti “ramah”, “jujur”, “menyebalkan”, atau “berpikiran terbuka”. Dalam menggunakan berbagai kata sifat, secara tidak langsung Anda akan mengatakan bahwa individu tersebut lebih “ramah”, atau lebih “jujur “, lebih “menyebalkan” dibandingkan rata-rata orang pada umumnya. Anda akan menggunakan berbagai istilah sifat ini dengan cara yang amat mirip dengan yang digunakan banyak teoretikus sifat kepribadian. Variabel sifat sering dianggap sebagai dimensi yang berkelanjutan; orang memiliki sifat bawaan, dimana kebanyakan orang memiliki sifat yang moderat dan sebagian kecil memiliki sifat ekstrem.
      Konsep tipe merujuk kepada pengelompokan sifat yang berbeda. Dibandingkan dengan konsep sifat, tipe sifat menyatakan secara tidak langsung tingkat regularitas dan generalitas perilaku yang lebih besar. Walaupun orang dapat memiliki banyak sifat dengan banyak tingkatan, sifat-sifat itu dideskripsikan sebagai “kelompok” tipe sifat tertentu. Misalnya, individu dideskripsikan sebagai tertutup (introvert) atau terbuka(extrovert), dan dideskripsikan pula berdasarkan apakah orang itu ramah atau suka memusuhi orang lain. Beberapa periset belakangan ini telah mengeksplorasi kombinasi dimensi kepribadian dan mengindikasikan adanya tiga tipe manusia: orang yang merespon dengan penuh kegembiraan terhadap tekanan psikologis, orang yang merespon dengan cara yang dilarang secara sosial atau lepas kontrol secara emosional, dan orang yang merespon dengan cara yang liar atau tidak terkontrol. Para psikolog yang menaruh perhatian kepada perkembangan kepribadian dalam masa kanak-kanak juga mengindikasikan bahwa hubungan orang tua-anak dapat dipahami sebagai hubungan yang terdiri dari tiga atau empat tipe yang berbeda. Gagasan utama yang dikaitkan dengan satu tipe yang membuatnya berbeda dengan sifat adalah tipe alternatif dianggap sebagai kategori yang berbeda secara kualitatif. Dengan kata lain, orang memiliki tipe berbeda bukan hanya karena memiliki satu karakteristik tertentu dengan kadar berbeda, tetapi juga karena memiliki kategori karakteristik yang berbeda. Hal ini paling mudah dijelaskan dengan analogi di luar psikologi. Tinggi badan jelas bukan variabel tipe. Bahkan walaupun kita menyebut beberapa orang “tinggi” dan yang lain “pendek”, kita menyadari bahwa kata tersebut tidak mengidentifikasikan kategori orang yang berbeda. Maka, tinggi merupakan dimensi kontinuitas. Sebaliknya, jenis kelamin biologis bersifat kategoris. Tidak seperti “tinggi” dan “pendek”, “pria” dan “wanita” mengidentifikasi kategori orang yang berbeda secara kualitatif.
      Adalah mungkin untuk menggunakan konsep selain tipe atau sifat untuk mendeskripsikan struktur kepribadian dan tatanan struktur kepribadian. Kepribadian dapat dipandang sebagai sebuah sistem, yang merupakan kumpulan dari bagian yang saling terhubung dengan erat yang bekerja sama untuk menghasilkan fenomena yang kita sebut personality functioning. Beberapa teoretikus kepribadian mengemukakan sistem yang relatif sederhana dimana sejumlah kecil komponen dasar memiliki hubungan satu dengan yang lain. Teoretikus lain memandang kepribadian sebagai sistem yang amat kompleks dimana sejumlah besar komponen psikologis saling berhubungan dengan rumit. Teoretikus yang memandang kepribadian sebagai sistem mengakui bahwa seseorang memiliki karakteristik unik yang dideskripsikan oleh sifat dan tipe kepribadian. Akan tetapi, mereka cenderung tidak menggunakan konsep sifat atau tipe sebagai unit dasar analisis mereka dalam menjelaskan perilaku seseorang. Dalam pendekatan ini, istilah seperti “ketelitian” tidak berkaitan dengan struktur yang dimiliki oleh orang tersebut; istilah tersebut, hanya berfungsi sebagai penggambaran apa yang telah dilakukan oleh seseorang. Psikolog kepribadian tidak akan menjelaskan “ketelitian” seseorang dengan menyatakan orang tersebut “memiliki sifat teliti” tetapi dengan menelaah sistem emosional dan proses berpikir yang menghasilkan perilaku yang kita deskripsikan sebagai teliti. Unit analisis dalam penjelasan ilmiah adalah proses emosional dan pemikiran serta hubungan di antara keduanya.
      Selain isu unit analisis, ada pertimbangan lain dalam studi struktur kepribadian. Pertimbangan tersebut adalah hierarki. Beberapa teori kepribadian melihat struktur kepribadian sebagai struktur yang terorganisasi secara hierarkis. Beberapa unit struktural tampak berada di urutan yang lebih tinggi, dan karena itu berfungsi sebagai pengontrol fungsi unit lainnya. Secara umum, dua hal adalah berkaitan secara hierarkis apabila salah satu di antara keduanya merupakan contoh dari yang lain atau melayani tujuan yang lain. Hubungan antara “pohon” dan “tumbuhan” bersifat hierarkis di mana pohon merupakan contoh dari tanaman. “Joging” dan “menjadi langsing” berhubungan secara hierarkis di mana joging dimaksudkan untuk membuat seseorang menjadi langsing (sedangkan menjadi langsing tidak “melayani tujuan dari” joging). Menariknya, ide hierarkis dapat diaplikasikan kepada unit analisis yang berbeda dalam studi kepribadian. Sebagai contoh, apabila seseorang menjelaskan kepribadian dalam kerangka tujuan dari seseorang, maka model hierarkis akan menspesifikasikan tujuan tingkat yang lebih tinggi (misalnya, menjadi sukses, menjadi orang yang baik) yang diasosiasikan dengan tujuan level lebih rendah yang lebih spesifik (misalnya, mendapatkan kenaikan pangkat, bersikap baik terhadap orang asing). Ada hierarki dalam contoh di atas, yakni tujuan tingkat lebih rendah merupakan jalan mencapai tujuan yang lebih tinggi (contoh, seseorang mungkin akan menolong orang yang belum dikenalnya untuk mencapai target menjadi orang baik). Apabila seseorang mengadopsi unit sifat kepribadian, maka sifat tingkat tinggi (misalnya, sosialibilitas, tepat waktu). Di sini terdapat hierarki di mana sifat tingkat lebih rendah merupakan jalan menghadirkan karakteristik level lebih tinggi (misalnya, bersikap tepat waktu merupakan jalan untuk menjadi orang yang bersifat teliti).
      Sebaliknya, beberapa teoretikus tidak secara eksplisit mengemukakan hierarki struktur kepribadian. Mereka memandang sistem kepribadian yang berbeda-beda sebagai sistem yang saling mempengaruhi satu dengan yang lain secara mutual dengan cara yang tidak selalu bersifat hierarkis. Dengan demikian, teori kepribadian berbeda dalam fondasi mereka, yaitu dalam unit analisis dasar yang mereka gunakan untuk mendeskripsi dan menjelaskan atribut psikologis permanen yang menyusun struktur kepribadian individual.
      PROSES. Proses  perilaku manusia, sebagaimana teori dapat dibandingkan strukturnya, teori-teori dapat pula dibandingkan dalam hal konsep motivasional dinamis yang mereka gunakan untuk menilai perilaku. Konsep ini mengacu pada proses perilaku manusia. Terdapat tiga kategori konsep motivasi utama yang digunakan oleh psikolog kepribadian: motif bersenang-senang atau hedonis, motif tumbuh atau aktualisasi diri, dan motif kognitif (Pervin, 2003). Konsep motivasi hedonis menekankan tujuan mengejar kesenangan dan menghindari hal yang menyakitkan. Ada dua varian utama teori motivasi ini: model reduksi atau pereda ketegangan dan model insentif. Salah satu teoretikus kepribadian menyebutnya sebagai “teori dorong” atau “teori pitchfork” versus “teori tarik” atau “teori carrot”. Menurut model motivasi pereda ketegangan “pitchfork”, kebutuhan psikologis menciptakan ketegangan yang coba diredakan oleh individual dengan memuaskan kebutuhan tersebut.
      Contohnya, lapar dan dahaga menciptakan ketegangan yang dapat diredakan dengan makan atau minum. Istilah dorongan (drive) biasanya digunakan untuk merujuk aktifnya kondisi internal ketegangan yang menyebabkan orang berusaha meredakan ketegangan itu. Berlawanan dengan model pereda ketegangan, dalam model “tarik” atau “carrot” penekanannya adalah pada titik akhir, tujuan, atau insentif yang ingin dicapai oleh orang tersebut. Misalnya, seseorang mungkin ingin mendapatkan kekayaan, ketenaran, penerimaan sosial, atau kekuasaan. Walaupun yang ditekankan di sini adalah tujuan ketimbang pada kondisi internal ketegangan, namun jelas bahwa penekannya adalah pada pengejaran kesenangan, dalam kasus ini, kesenangan tersebut diasosiasikan dengan pencapaian tujuan/target. Alasan inilah yang menyebabkan teori insentif motivasi dan teori pereda ketegangan dianggap sebagai teori motivasi hedonis atau teori motivasi yang berorientasi pada kesenangan.
      Berlawanan dengan teori yang berorientasi pada kesenangan, teori motivasional lain menekankan upaya organisme untuk terus tumbuh berkembang dan mendapatkan kepuasan diri. Menurut pandangan ini, individu mencoba untuk dewasa secara psikologis dan menyadari potensi mereka. Perkembangan diri merupakan hal yang terpenting, bahkan jika harus dibayar dengan peningkatan ketegangan dalam sistem biologis.
      Terakhir, teori motivasi kognitif menekankan pada upaya seseorang untuk memahami dan memprediksi berbagai kejadian di dunia. Menurut teori ini, ketimbang mencari kesenangan atau kepuasan diri, seseorang ingin konsisten atau ingin mengetahui. Misalnya, seseorang ingin mempertahankan gambaran diri yang konsisten dan menjadikan orang lain bertindak dengan cara yang dapat diprediksi. Dalam kasus ini, penekanannya adalah pada konsistensi dan prediktabilitas meskipun harus dibayar dengan rasa sakit atau ketidaknyamanan. Dengan demikian, teori tersebut mengisyaratkan pada suatu waktu seseorang mungkin memilih peristiwa yang tidak menyenangkan ketimbang yang menyenangkan jika yang tidak menyenangkan tersebut menjadikan dunia lebih stabil dan dapat diprediksi.
      Sepanjang sejarahnya, para psikolog kepribadian telah memberikan perhatian pada tipe proses motivasional. Pada paruh pertama abad ke-20, para peneliti mengutamakan pembahasan proses pereda ketegangan dan proses insentif. Pada pertengahan abad ke-20, para periset mulai menyadari bahwa organisme sering kali melakukan aktivitas eksplorasi di mana mereka belajar tentang lingkungan mereka, bahkan walaupun mereka tidak mendapatkan imbalan langsung dengan melakukan hal tersebut. Observasi seperti itulah yang menyebabkan psikolog R.W.White (1959) mengkonseptualisasi proses dalam diri manusia, yang disebut competence motivation, yakni orang termotivasi untuk berhadapan secara kompeten atau efektif dengan lingkungan. Seiring dengan kedewasaan seseorang, semakin banyak perilaku mereka yang diarahkan untuk pengembangan keterampilan guna menguasai atau menghadapi lingkungannya secara efektif, dan makin sedikit perilaku mereka yang secara eksklusif ditujukan untuk mengurangi ketegangan. Pada era selanjutnya di abad ini, bidang psikologi semakin mengeksplorasi proses berpikir, atau kognisi, dan kecenderungan ini mengarahkan perhatian psikolog kepribadian ke motif kognisi untuk mendapatkan konsistensi dan prediktabilitas. Mereka juga mulai membahas representasi mental dari tujuan yang memotivasi perilaku ke arah titik akhir dari tujuan tersebut. Apakah seseorang harus memilih dari berbagai teori motivasi: pereda ketegangan, kepuasan diri, kognitif/tujuan?
      Mungkin tiap perspektif ini menangkap sebuah aspek dari motivasi manusia. Manusia adalah makhluk yang kompleks secara biologis dan psikologis. Mereka bisa saja memiliki beragam motivasional yang bekerja dalam kondisi yang berbeda. Terkadang orang mencari kesenangan, pada saat yang lain mencari pertumbuhan personal, dan kadang kala mencari kognitif konsistensi dan prediktabilitas. Oleh karena itu, teori motivasional yang berbeda dapat menangkap berbagai aspek motivasi manusia. Psikolog kontemporer menyadari hal ini, dan mereka sering kali mempelajari cara berbagai tipe proses motivasional yang berbeda – sebagian mengandung impuls emosional, sedangkan yang lain mengandung pemikiran rasional – bergabung untuk mempengaruhi output psikologis. Meskipun demikian, teori kepribadian yang berbeda cenderung menekankan pada satu model atau model yang lain untuk memberikan penjelasan memuaskan bagi proses motivasional. Hasilnya, teori kepribadian memberikan potret karakteristik manusia yang berbeda.

PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN.
      Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi psikolog kepribadian adalah memberikan penjelasan memuaskan mengenai perkembangan kepribadian, yaitu perkembangan psikologis individual menjadi orang dewasa yang berbeda satu dengan yang lain secara psikologis. Tantangan ilmiah utamanya adalah memahami penyebab utama perbedaan individual. Pemilahan klasik kemungkinan penyebabnya, memisahkan antara nature (bawaan) dan nurture (yang didapat dari asuhan/belajar). Pada satu sisi, kita bisa jadi seperti saat ini karena bawaan biologis kita, yaitu fitur biologis yang kita warisi. Pada sisi lain, kepribadian kita bisa jadi merefleksikan pengasuhan kita; yaitu pengalaman kita ketika dibesarkan sebagai anak. Dengan bergurau kita dapat mengatakan “Jika Anda tidak menyukai kepribadian Anda, siapa yang harus Anda salahkan”? Orang tua Anda karena cara mereka mengasuh Anda? Atau orang tua Anda, karena gen yang mereka turunkan kepada Anda, yang membentuk karakteristik alamiah biologis Anda?
      Sepanjang sejarah bidang ini, riset psikologis telah menyoroti nature atau nurture sebagai penyebab kepribadian. Pada pertengahan abad ke-20, para teoretikus fokus pada penyebab lingkungan dari perilaku dan hanya memberikan sedikit perhatian kepada pengaruh genetik. Dimulai pada tahun 1970-an, para peneliti memulai studi sistematis terhadap kemiripan kepribadian orang kembar. Berbagai studi ini menghadirkan bukti tak terbantahkan bahwa faktor bawaan memberikan kontribusi kepada kepribadian. Walaupun demikian, baru-baru ini ada kecenderungan ketiga. Para periset mulai mengidentifikasi interaksi antara faktor genetik dan lingkungan. Mereka mulai menyadari bahwa nature dan nurture bukanlah pengaruh yang terpisah satu dengan yang lain. Sebaliknya, keduanya adalah faktor pengaruh yang berinteraksi secara dinamis. Misalnya, pengalaman lingkungan mengaktifkan mekanisme genetic sehingga beberapa tipe pengalaman dapat mengubah unsur biologi organism tersebut. Karena itu, baik psikolog maupun ahli biologi, semakin menyadari bahwa masalah yang ada dalam “nature vs nurture” tradisional adalah pada kata “versus”. Faktor biologis dan lingkungan bukan kekuatan yang saling bersaing, tetapi faktor yang saling berinteraksi, tak jarang dengan cara saling melengkapi, dalam perkembangan seseorang.
      Determinan Genetik. Faktor genetik memainkan peran utama dalam menentukan kepribadian dan perbedaan individual. Kemajuan pengetahuan mulai memungkinkan para psikolog kepribadian untuk melampuai pernyataan umum ini, dan menunjukkan jalur pengaruh yang lebih spesifik. Salah satu caranya adalah mengidentifikasi kualitas kepribadian tertentu yang diperkirakan memiliki basis biologis. Kualitas seperti ini sering kali dianggap sebagai aspek dari temperamen, istilah yang merujuk pada kecenderungan emosional dan perilaku berbasis biologis yang tampak jelas pada masa kanak-kanak awal. Temuan riset mengindikasikan bahwa cara kerja sistem frontal cortex dan limbic orang-orang adalah berbeda dalam merespon rasa takut, dan bahwa perbedaan biologis ini memberikan kontribusi kepada perbedaan psikologis pada kecenderungan orang untuk menunjukkan perilaku ketakutan. Karena faktor genetik mempengaruhi perkembangan otak, tipe analisis ini memungkinkan psikolog kepribadian untuk memahami hubungan dari gen ke sistem biologis ke perilaku secara relatif lebih akurat.
      Determinan Lingkungan. Bahkan psikolog yang amat berorientasi biologis mengakui bahwa lingkungan berperan penting dalam perkembangan kepribadian. Jika kita tidak tumbuh dalam masyarakat dengan orang lain, kita tidak akan menjadi “orang” dalam artian yang dipahami secara umum. Konsep diri kita , tujuan hidup, dan nilai yang memandu kita berkembang di dunia sosial. Beberapa determinan lingkungan membuat orang mirip satu dengan yang lain, sedangkan determinan lain memberikan kontribusi kepada perbedaan individual dan keunikan individual. Determinan lingkungan yang terbukti penting dalam studi perkembangan kepribadian di antaranya adalah kultur (budaya), kelas sosial, keluarga, dan teman sebaya.
      PSIKOPATOLOGI DAN PERUBAHAN PERILAKU. Menyusun teori kepribadian mungkin dianggap sebagai aktivitas “menara gading”, yakni latihan intelektual abstrak yang tak berhubungan dengan masalah penting kehidupan sehari-hari. Tetapi anggapan ini salah. Teori kepribadian berpotensi memiliki nilai praktis yang besar. Orang-orang kerap kali menghadapi masalah psikologis; mereka merasa tertekan dan kesepian; teman dekat menjadi pecandu; mereka gelisah akan hubungan seksual; pertengkaran yang kerap terjadi mengancam stabilitas hubungan asmara. Untuk memecahkan masalah semacam itu, seseorang membutuhkan kerangka konseptual yang menentukan penyebab masalah tersebut dan berbagai faktor yang bisa membawa perubahan. Dengan kata lain, seseorang membutuhkan teori kepribadian. Sejarahnya, masalah praktis yang paling penting bagi perkembangan teori kepribadian adalah psikopatologi. Banyak teoretikus yang dibahas dalam buku kepribadian, juga seorang terapis. Mereka memulai karier mereka dengan mencoba membantu klien. Oleh karena itu, teori mereka merupakan upaya untuk mensistematisasi pelajaran tentang karakter manusia yang mereka pelajari dengan cara memecahkan masalah praktis dalam terapi. Tidak semua teori kepribadian memiliki akar klinis. Sebagian teori didasari oleh data lain tentang kepribadian. Meskipun demikian, kemampuan suatu teori untuk memberikan bantuan kepada orang yang sedang mengalami tekanan psikologis adalah “dasar utama” untuk mengevaluasi semua teori kepribadian. Teori kepribadian yang lengkap harus mencakup analisis mengapa sebagian orang dapat berhadapan dengan tekanan kehidupan sehari-hari dan merasakan kebahagiaan psikologis secara umum, sedangkan yang lain sering mengalami tekanan psikologis dan pola coping yang buruk. Teori tersebut juga seharusnya menyarankan teknik untuk memodifikasi bentuk perilaku patologis.
(Sumber: Lawrence A. Pervin & Oliver P.John, “Personality, theory & research”)


No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat