google adsense

Monday, August 7, 2017

Klasifikasi Konsep Diri

A.    Klasifikasi Konsep Diri

Adapun 3 klasifikasi konsep diri yakni, konsep diri yang sehat, resiko terhadap gangguan, dan gangguan konsep diri itu sendiri.

1.        Konsep Diri Sehat
Sebagai perawat, kita perlu mengetahui tentang teori konsep diri agar dapat berinteraksi dengan pasien secara holistik. Dibutuhkan dalam hal ini teori Erikson, agar dapat membantu perawat untuk memahami konsep diri secara menyeluruh.
2.        Resiko gangguan konsep diri
Stresor  menantang kapasitas adaptif seseorang. Selye (1956)  dikutip dari Potter & Perry (2005, p. 502)  menyatakan bahwa stres adalah kehilangan dan kerusakan normal dari kehidupan, bukan hasil spesifik tindakan seseorang atau respons khas terhadap sesuatu. Proses normal dari kematangan dan perkembangan itu sendiri adalah stresor. Perubahan yang terjadi dalam kesehatan fisik, spiritual, emosional, seksual, kekeluargaan, dan sosiokultural dapat menyebabkan stres. Stresor konsep diri adalah segala perubahan nyata atau yang diserap yang mengancam identitas, citra tubuh, atau perilaku peran (Potter & Perry, 2005, p. 502).
Individu yang berbeda bereaksi terhadap situasi yang sama dengan tingkat stres bergam. Persepsi tentang stresor adalah faktor penting yang mempengaruhi respons terhadap respons tersebut. Semua orang mengetahui pola perilaku yang biasanya memberikan cara untuk menghadapi atau mengadaptasi stresor, dengan demikian dengan memberikan metoda untuk koping terhadap stresor di masa datang. Namun demikian, beberapa orang dikerahkan oleh ancaman yang dicerap dan membutuhkan bantuan dari orang lain. Stres berkepanjangan  atau stres yang dicerap dapat menipiskan kemampuan adaptif (Potter & Perry, 2005, p. 502).
                                      KESEHATAN
Stresor fisik dan emosional
Stresor fisik dan emosional
Konsep diri:
 Indentitas
 Citra tubuh
Harga diri
  Fungsi Peran
 



















                                               PENYAKIT
Gambar 1.1 Bagaimana stresor mempengaruhi konsep diri
Setiap perubahan dalam kesehatan dapat menjadi stresor yang mempengaruhi konsep diri. Perubahan fisik dalam tubuh menyebabkan perubahan citra tubuh, dimana indentitas dan harga diri juga dapat dipengaruhi. Penyakit kronis sering mengganggu peran, yang dapat mengganggu identitas dan harga diri seseorang (Potter & Perry, 2005, p. 502).
a.    Stresor Identitas
     Identitas didefinisikan sebagai “pengorganisasi prinsip dari sistem kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kontinuitas, keunikan, dan konsistensi dari kepribadian” (Stuart & Sundeen, 1991dikutip dari Potter & Perry, 2005, p. 503). Indentitas dipengaruhi oleh stresor sepanjang hidup. Masa remaja adalah waktu dimana banyak terjadi perubahan, yang menyebabkan ketidakamanan dan ansietas. Remaja mencoba untuk menyesuaikan diri dengan perubahan fisik, emosional, dan mental akibat peningkatan kematangan. Stresor dapat timbul pada setiap area ini atau sebagai akibat dari konflik di antara mereka (Potter & Perry, 2005, p. 503).
     Contoh perubahan yang mengganggu konsep diri klien, antara lain:  Seorang dewasa biasanya mempunyai identitas yang lebih stabil dan karenanya konsep diri berkembang lebih kuat. Stresor kultural dan sosial dibanding stresor personal dapat mempunyai dampak lebih besar daripada identitas orang dewasa. Misalnya, seorang dewasa harus memutuskan antara karier dan pernikahan,kerjasama dan kompetisi atau ketergantungan dan kemandirian dalam suatu hubungan (Stuart & Sundeen, 1991 dikutip dari Potter & Perry, 2005, p. 503)
     Bingung identitas terjadi ketika seseorang tidak mempertahankan identitas personal yang jelas, konsisten, terus sadar. Kebingungan identitas terjadi kapan saja dalam kehidupan jika seseorang tidak mampu mengadaptasi stresor identitas. Dalam stres yang ekstrem seorang individu dapat mengalami depersonalisasi, yaitu suatu keadaan dimana realitas internal dan eksternal atau perbedaan antara diri dan orang lain tidak dapat ditetapkan (Potter & Perry, 2005, p. 504).
b.    Stresor Citra Tubuh
    Perubahan dalam penampilan, struktur, atau fungsi bagian tubuh akan membutuhkan perubahan dalam citra tubuh. Perubahan dalam penampilan tubuh, seperti amputasi atau perubahan penampilan wajah, adalah stresor yang sangat jelas mempengaruhi citra tubuh. Mastektomi, kolostomi, dan ileostomi mengubah penampilan dan fungsi tubuh, meski perubahan tersebut tidak tampak ketika individu bersangkutan mengenakan pakaian. Meskipun tidak terlihat oleh orang lain, perubahan tubuh ini mempunyai efek yang signifikan pada individu. Penyakit kronis seperti penyakit jantung dan ginjal mencakup perubahan fungsi, dimana tubuh tidak bisa lagi berfungsi pada tingkat optimal. Bahkan perubahan tubuh “normal” akibat progres perkembangan normal dari penuaan dapat mempengaruhi citra tubuh. Selain itu, kehamilan dan penambahan atau penurunan berat badan yang signifikan mengubah citra tubuh, sama seperti halnya kemoterapi dan terapi radiasi (Potter & Perry, 2005, p. 504).
    Persepsi seseorang tentang perubahan tubuh dapat dipengaruhi oleh bagaimana perubahan tersebut terjadi. Paralisis yang disebabkan oleh cedera saat perang mungkin diterima oleh masyarakat, berbeda dengan individu yang mengalami kecelakaan ketika dalam keadaan mabuk dan menderita paralisis mungkin mendapat respons yang berbeda dari masyarakat (Potter & Perry, 2005, p. 504).
    Makna dari kehilangan fungsi atau perubahan dalam penampilan dipengaruhi oleh persepsi individu tentang perubahan yang dialaminya. Citra tubuh terdiri atas elemen yang ideal dan nyata. Misalnya, jika citra tubuh seorang wanita memasukan payudara sebagai elemen ideal, maka kehilangan payudara akibat mastektomi mungkin akan menjadi perubahan yang signifikan. Makin besar makna penting dari tubuh atau bagian tubuh spesifik, maka makin besar ancaman yang dirasakan akibat perubahan dalam citra tubuh (Potter & Perry, 2005, p. 504).
    Banyak orang mengaitkan keberhasilan dengan bagian tubuh atau fungsi spesifik. Misalnya, seorang atlet dapat menganggap aktivitas tubuh dan fisik mereka menjadi fokus dari keberhasilan pribadi. Namun demikian, jika mereka tidak dapat lagi ikut serta dalam aktivitas fisik karena mengalami kecelakaan, adaptasi dan rehabilitas yang harus mereka hadapi dapat terpengaruhi. Mareka harus mengubah asumsi yang telah lama diterima tentang diri mereka dan mengubah gaya hidup mereka. Untuk meraih kembali konsep diri dan harga diri yang positiv dan untuk mempertahankan kesehatan yang baik, mereka harus mengadaptasi stresor citra tubuh mereka. (Potter & Perry, 2005, p. 504)
    Seseorang dengan perubahan citra tubuh, seperti mereka yang mengalami perubahan wajah, sering merasa ditolak atau terasing. Perasaan tidak berdaya juga perasaan yang umum. Perasaan isolasi sosial ini sering didasarkan pada realita; orang takut merasa malu atau individu yang merasa bersalah mengalami perubahan dan dengan demikian menghindari kontak dengan mereka (Potter & Perry, 2005, p. 505).
    Perubahan sosial yang positif berkenaan dengan penyakit dan perubahan citra tubuh telah terjadi. Media sekarang ini telah sering menyajikan cerita yang positif mengenai orang yang pernah mengalami bedah mayor akibat perubahan tubuh (Potter & Perry, 2005, p. 505).
c.    Stresor Harga Diri
Harga diri adalah rasa dihormati, diterima, kompeten dan bernilai. Orang dengan harga diri rendah sering merasa tidak dicintai dan sering mengalami depresi dan ansietas. Harga diri berfluktuasi sesuai dengan kondisi sekitarnya. Meskipun inti dasar dari perasaan positif dan negatif diperthankan (Potter & Perry, 2005, p. 505).
Banyak stresor yang mempengaruhi harga diri seorang bayi, usia bermain, prasekolah, dan remaja. Kritik yang tajam, hukuman yang tidak konsisten, persaingan antar saudara sekandung, dan kekalahan berulang dapat menurunkan tingkat nilai diri. Stresor yang mempengaruhi pada orang dewasa mencakup ketidakberhasilan dalam pekerjaan dan kegagalan dalam menjalin hubungan (Potter & Perry, 2005, p. 505).
Penyakit, pembedahan, atau kecelakaan yang mengubah pola hidup dapat juga menurunkan perasaan  nilai diri. Jika perubahan lambat dan progresif, maka individu mempunyai kesempatan untuk mengantisipasi berduka. Namun demikian perubahan mendadak dalam kesehatan lebih mungkin menciptakan situasi krisis. Makin kronis suatu penyakit yang mengganggu kemampuan untuk terlibat dalam aktifitas yang menunjang perasaan berharga atau berhasil, makin besar pengaruhnya pada harga diri (Potter & Perry, 2005, p. 505).
d.   Stresor Peran
     Peran membentuk pola perilaku yang diterima secara sosial yang berkaitan dengan fungsi seorang individu dalam berbagai kelompok sosial (Stuart & Sundeen, 1991 dikutip dari Potter & Perry, 2005, p. 505). Sepanjang hidup orang menjalani berbagai perubahan peran. Perubahan normal yang berkaitan dengan pertumbuhan dan maturasi mengakibatkan transisi perkembangan.
     Transisi situasi terjadi ketika orangtua, pasangan hidup, atau teman dekat meninggal, atau orang lain pindah rumah, menikah, bercerai, atau ganti pekerjaan. Transisi sehat-sakit adalah gerakan dari keadaan sehat atau sejahtera ke arah sakit atau sebaliknya. Masing-masing dari transisi ini dapat mengancam konsep diri, yang mengakibatkan konflik peran, ambiguitas peran, atau ketegangan peran. Penting sekali artinya untuk mengenali bahwa perpindahan sepanjang kontinum dari sakit ke sejahtera sama menegangkannya seperti perpindahan dari sejahtera ke sakit (Potter & Perry, 2005, p. 505).











·         Stroke
·         Kebutaan
·         Kolostomi
·         Anoreksia
·         Artritis
·         Inkontinensia
·         Obesitas
·         Sklerosis multiple
·         Amputasi
·         Pembentukan jaringan parut
·         Penuaan
·         Kehamilan
·         Mastektomi
·         Diabetes
·         Trakeostomi


Perubahan konsep diri
Citra Tubuh
·         Kehilangan pekerjaan
·         Perceraian
·         Kelalaian
·         Perkosaan
·         Serangan
·         Ketergantungan pada orang lain
·         Konflik dengan orang lain
·         Perhatian seksual
·         Ketidakberhasilan berulang
·         Sikap sosial



Harga Diri
     Peran
·         Tidak ada definisi tentang peran.
·         Defisit fisik/emosional/kognitif yang menghambat penerimaan peran.
·         Keterbatasan untuk melakukan peran
·         Ketidakmampuan untuk menjadi ibu dari seorang anak
·         Kehilangan peran yang memuaskan
            Identitas
·         Kehilangan pekerjaan
·         Perceraian
·         Kelalaian
·         Perkosaan
·         Pelecehan
·         Ketergantungan pada orang lain
·         Perhatian seksual
·         Ketidakberhasilan berulang
·         Sikap sosial
·         Konflik dengan orang lain

(Potter & Perry, 2005, p. 503)
3.      Gangguan Konsep Diri
Gangguan konsep diri merupakan suatu keadaan di mana individu mengalami atau berada pada resiko mengalami suatu keadaan negatif dari perubahan mengenai perasaan, pikiran, atau pandangan mengenai dirinya. Hal ini meliputi perubahan dalam citra tubuh, ideal diri, harga diri, penampilan peran atau identitas pribadi. (Carpenito, 1997, p. 341).
a.       Gangguan Citra tubuh
Suatu keadaan di mana individu mengalami atau beresiko untuk mengalami gangguan dalam cara penerapan citra diri seseorang (Capernito, 1997, p. 344).
b.      Gangguan Identitas
Suatu keadaan di mana individu mengalami atau berada pada resiko mengalami ketidakmampuan membedakan antara diri dan bukan dirinya (Capernito, 1997, p. 347).
c.       Gangguan Peran
1)   Ambiguitas peran, terjadi ketika harapan tidak jelas dan orang tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya dan tidak mampu memperkirakan reaksi orang lain terhadap perilaku meraka (Kozier, 2004, p.445)
2)   Konflik peran, mucul dari harapan yang bertentangan atau tidak cocok.  Dalam konflik interpersonal, individu memiliki harapan yang berbeda mengenai peran tertentu.  Contohnya seorang nenek memiliki harapan yang berbeda dengan seorang ibu mengenai bagaimana ia seharusnya mengasuh anak-anaknya (Kozier, 2004, p.445).
3)   Ketegangan peran, terjadi karena merasa atau dibuat merasa tidak adekuat atau tidak cocok dengan satu peran (Kozier, 2004, p.445).
d.      Gangguan Harga diri

Suatu keadaan di mana individu mengalami atau beresiko mengalami evalusi diri negative tentang kemampuan atau diri (Capernito, 1997, p. 348).

DAFTAR PUSTAKA
AIPNI (2010). Kurikulum pendidikan ners. Fakultas keperawatan universitas indonesia. Jakarta
Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan: konsep dan aplikasi kebutuhan dasar klien. Jakarta: Salemba Medika
Atkinson,L., Lita, Atkinson, C., Richard, dkk. (1992). Pengantar Psikologi Jilid I (edisi Ke-11). Batam: Interaksara
Carpenito, L. J. (1997). Buku saku: Diagnosa keperawatan. Edisi 6. Jakarta:EGC
Deglin, Judith Hopfer.( 2004). Pedoman Obat untuk Perawat Ed.4. Jakarta: EGC
Hawari, D.(2008) Manajemen Stres Cemas dan Depresi, Jakarta : Balai Penerbit FKUI
Hudak, Carolyn M. (1997). Keperawatan Kritis; Pendekatan Holistik. Jakarta EGC
 Isaacs, Ann.( 2004). Panduan belajar : keperawatan kesehatan jiwa dan psikiatrik. Edisi 3. Jakarta :EGC
Kaplan Harold I. (1998). Ilmu Kedokteran Jiwa Darurat. Jakarta : Widya Medika Kozier, B., Erb, G., Berman, A., & Snyder, S. J. (2010). Asepsis. Buku ajar fundamental keperawatan: Konsep, proses dan praktek.Ed. 7. Vol 2. Jakarta: EGC
Kee, Joyce L. (1996). Farmakologi: Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta: EGC
Keliat, B.A., Panjaitan, R.U., & Daulima, N.H.C., (2005). Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta : EGC
Mycek, Mary J. (2001). Farmakologi: Ulasan Bergambar Ed. 2. Jakarta: Widya Medika
Potter & Perry (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 4 Volume 1. Jakarta: EGC
Pustaka familia. 2006. Konsep Diri Positif, Menentukan Prestasi Anak. Yogyakarta: Kanisius
Riyanti,B.P.,Prabowo, Hendro, dan Puspitawati, Ira. (1996). Psikologi Umum I (Seri Diktat Kuliah). Jakarta: Universitas Gunadarma
Stuart, G.W., & Sundeen, S.J., (1998). Buku Saku Keperawatan Jiwa (terjemahan). Edisi 3. Jakarta: EGC
Suliswati dkk. 2005. Konsep dasar keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta : EGC
Sunaryo (2004). Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta: EGC
S. Hall, Calvin, dan Gardner Lindzey. (1993). Theories of Personality (terjemahan A. Supratika). Yogyakarta: Kanisius
Tarwoto & Wartonah. (2004). Kebutuhan dasar manusia dan proses keperawatan. Jakarta: Salemba Medika
Videbeck, Sheila. L. (2008), Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta. EGC
Wong, D. L, (2008). Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Edisi 6 Volume 1. Jakarta: EGC

No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat