google adsense

Monday, August 7, 2017

Mekanisme Proses Pembentukan Beta Endorphin dalam Mengurangi Rasa Nyeri

A.    Mekanisme Proses Pembentukan Beta Endorphin dalam Mengurangi Rasa Nyeri
1.      Sistem Penekanan Rasa Nyeri (Analgesia) di dalam Otak dan Medula Spinalis
      Derajat reaksi seseorang terhadap rasa nyeri dapat sangat bervariasi. Keadaaan ini sebagian disebabkan oleh kemampuan otak sendiri untuk menekan besarnya sinyal nyeri yang masuk ke dalam sistem saraf, yaitu dengan mengaktifkan sistem pengatur rasa nyeri, disebut “sistem analgesia”. (Guyton. 2007, p. 629)
      Menurut Guyton (2007), sistem analgesia atau sistem pnegaturan nyeri ini terdiri atas tiga komponen utama, yaitu:
a.       Area periakuaduktus grisea dan periventrikuler dari mesensefalon dan bagian atas pons yang mengelilingi akuaduktus Sylvii dan bagian ventrikel ketiga dan keempat. Neuron-neuron dari daerah ini akan mengirim sinyal ke nucleus rafe magmus.
b.      Nukleus Rafe magmus, merupakan nukelus tipis di bagian tengah yang terletak di bagian bawah pons dan bagian atas medula oblongata dan nucleus retikularis paragigantoselularis yang terletak di sebelah lateral dari medulla. Dari nuclei ini, sinyal-sinyal urutan kedua dijalarkan ke bawah kolumna dorsolateralis di medula spinalis menuju ke kompleks penghambat rasa nyeri.
c.       Kompleks penghambat rasa nyeri, berada di dalam medulla spinalis. Pada tempat itu, sinyal analgesia dapat menghambat sinyal rasa nyeri sebelum dipancarkan ke otak.


Gambar 2.1 Sistem pengaturan nyeri



2.      Sistem Opium Otak- Endorfin dan Enkefalin
      Lebih dari 35 tahun yang lalu telah ditemukan bahwa penyuntikan morfin dalam jumlah yang sangat sedikit ke dalam nukelus periventrikular di sekitar ventrikel ketiga atau ke dalam area periakuaduktal kelabu batang otak menimbulkan perasaan analgesia yang hebat. Dalam penelitian yang dilakukan setelah itu, telah ditemukan bahwa zat serupa-morfin, terutama opioat, bekerja di banyak titik pada sistem analgesia, termasuk kornu dorsalis medulla spinalis, sehingga timbul anggapan bahwa “reseptor morfin” sistem analgesia sebenarnya merupakan neurotransmitter yang memang disekresikan di dalam otak. (Guyton, 207, p. 630)
      Sekarang telah terbukti bahwa dalam otak ada paling sedikitnya dua belas bahan semacam opioum yang terdapat pada beberapa tempat dalam sistem saraf; semuanya merupakan hasil pemecahan tiga molekul protein besar yaitu: proopiomelanokortin, proenkefalin, dan prodinorfin. Bahan serupa opium yang penting adalah b-endorfin, met-enkefalin, leu-enkefalin, dan dinorfin. (Guyton, 2007, p. 630)
      Sel lobus intermedius dan sel kortikotrop lobus anterior pada kelenjar Hipofisis, keduanya mensintesis suatu protein precursor yang besar dan terurai membentuk sekelompok hormone. Setelah peptide sinyal dikeluarkan, prohormon ini disebut sebagai pro-opiomelanokortin (PMOC). Molekul ini juga disintesis di hipotalamus, paru, saluran cerna, dan plasenta. Di kortikotrop, molekul ini mengalami hidrolisis menjadi ACTH dan b-LPH, sejumlah kecil b-endorfin, dan zat-zat ini kemudian disekresikan. Di sel lobus intermedius, PMOC mengalami hidrolisis lebih lanjut menjadi corticotrophin-like intermedicate lobe peptide (CLIP), g-LPH dan b-endorfin dalam jumlah yang cukup bermakna. b-endorfin adalah suatu peptide opioid, yang memiliki lima residu asam amino met-enkefalin di ujung terminal aminonya.  (Ganong. 2008, 414)
      Terdapat tiga golongan utama peptida opioid endogen, yang masing-masing berasal dari precursor yang berlainan dan memiliki distribusi anatomik yang sedikit berbeda, yaitu golongan enkefalin, beta endorphin dan dinofrin. (Price. 2005, p. 1073)
      Beta endorphin adalah suatu fragmen peptide yang berasal dari proopiomelanokortin (POMC), di kelenjar hipofisis. Melanocyte stimulating hormone (MSH) dan hormone adrenokortikotropik (ACTH) juga berasal dari PMOC. Beta endorphin terdapat dalam jumlah signifikan di dalam hipotallamus dan PAG serta sedikit di medulla dan medulla spinalis. Beta endorphin adalah analgesic yang jauh lebih poten daripada enkefalin. (Price. 2005, p. 1073)
      Endorphin dikeluarkan oleh hipofisis sebagai respon terhadap olah raga berat, dan selama pengalaman nyeri misalnya persalinan dan kelahiran. Endorphin juga mempengaruhi suasana hati. Nyeri berkepanjangan telah dibuktikan menyebabkan berkurangnya kadar endorphin, dan mungkin menimbulkan penderitaan dan putus asa pada orang yang mengidap nyeri kronik. (Corwin. 2000, p. 227)
      Semua opioat endogen ini bekerja dengan mengikat reseptor opioat, dengan efek analgesik serupa dengan yang ditimbulkan oleh obat opioat eksogen. Dengan demikian, reseptor opioat dan opioat endogen membentuk suatu “sistem penekanan nyeri” intrinsik. Bukti eksperimental membuktikan bahwa tindakan-tindakan untuk mengurangi nyeri, seperti placebo, akupuntur, dan TENS mungkin bekerja karena tindakan-tindakan tersebut merangsang pelepasan opioid endogen.  (Price. 2005, p. 1073)
      Obat opioat (misalnya, morfin) dalam dosis relative kecil sudah menimbulkan efek analgesia yang kuat dan bekerja lama dengan efek sistemik yang sedikit. Opioid yang diberikan secara klinis adalah agonis bagi reseptor opioat sehingga menyerupai kerja endorphin tubuh. Efek spesifik opioid bergantung pada lokasi dan jenis reseptor yang diikat, telah ditemukan adanya reseptor mu, kappa, dan delta (Zaki et al, 1996 dalam Price, 2005, p. 1073)

      Setelah berikatan dengan reseptor opioid di sistem limbik, otak tengah, medulla spinalis, dan usus, opioid mengurangi nyeri dengan mencegah dibebaskannya berbagai neurotransmitter penghasil nyeri. (Price. 2005, p. 1073)
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. (2009). Buku saku patofisiologi Corwin. Egi Komara Yudha (et al). Jakarta: EGC.
Djohan. (2009). Psikologi musik. Yogyakarta: Best Publisher.
Guyton, A. C.(2007). Buku ajar fisiologi kedokteran. Ed. 11 (Irawati, Penerjemah).  Jakarta: EGC.
Mucci, K dan Mucci, R. (2002). The healing sound of musik: manfaat musik untuk kesembuhan, kesehatan dan kebahagiaan anda (Jungprakoso, penerjemah). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Potter, A. Patricia, Perry Anne Griffin. (2005). Fundamental keperawatan: konsep, proses, dan praktik. Ed. 4. Vol. 2. (Renata Komalasari, penerjemah). Jakarta: EGC

Price, S. A. (2005). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. (Brahm U. Pendit, et. al., Penerjemah). Jakarta: EGC.

No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat