google adsense

Monday, August 7, 2017

Masalah Spiritual

A.      Masalah Spiritual
1.    Pengertian
Ketika penyakit, kehilangan atau nyeri menyerang seseorang, kekuatan spiritual dapat membantu seseorang ke arah penyembuhan atau pada perkembangan kebutuhan dan perhatian spiritual. Selama penyakit atau kehilangan, misalnya saja, individu sering menjadi kurang mampu untuk merawat diri sendiri dan lebih bergantung pada orang lain untuk perawatan dan dukungan (Potter ,2005).
Distres spiritual dapat berkembang sejalan dengan seseorang mencari makna tentang apa yang sedang terjadi, yang mungkin dapat mengakibatkan sesorang merasa sendiri dan terisolasi dari orang lain. individu mungkin mempertanyakan nilai spiritual mereka, mengajukan pertanyaan tentang jalan hidup seluruhnya, tujuan hidup, dan sumber dari makna hidup (Potter ,2005).
a.    Penyakit Akut
Penyakit yang mendadak, tidak diperkirakan, yang menghadapkan baik ancaman langsung atau jangka panjang terhadap kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan klien, dapat menimbulkan distres spiritual yang bermakna. Misalnya pria yang berumur 40 tahun yang terkena serangan jantung, individu yang berusia 20 tahun yang menjadi korban kecelakaan kendaraan bermotor, semua menghadapi krisis yang mungkin mengancam kesehatan spiritual mereka (Potter ,2005).
Penyakit atau cedera yang dialami dapat dipandang sebagai hukuman, sehingga klien menyalahkan diri mereka sendiri karena mempunyai kebiasaan kesehatan yang buruk, gagal untuk mematuhi tindak kewaspadaan keselamatan, atau menghindari pemeriksaan kesehatan secara rutin. Konflik dapat berkembang sekitar keyakinan individu dan makna hidup. Individu mungkin mempunyai kesulitan memandang masa depan dan dapat terpuruk tidak berdaya oleh kedukaan (Potter ,2005).
Kemarahan bukan hal yang tidak wajar, dan klien mungkin mengekspresikannya terhadap Tuhan, keluarga mereka atau terhadap diri sendiri. Kekuatan spiritualitas klien mempengaruhi bagaimana mereka menghadapi penyakit mendadak dan bagaimana mereka dengan cepat beralih ke arah penyembuhan (Potter & Perry ,2005).
Yim (1994, dalam potter dan perry, 2005) telah mengembangkan jalur kritis penyembuhan spiritual untuk klien yang menjalani bypass arteri koroner. Jalur ini di dasarkan pada dinamika spiritual yang dapat memaksimalkan penyembuhan pasien. Harapan dapat timbul dari keintiman dengan suatu persekutuan atau pasangan, kemampuan untuk menyuarakan tentang nilai kehidupan dan mengambil makna dari penyakit, dan menemukan tujuan dan nilai untuk mengarah pada masa mendatang dan sembuh adalah komponen yang mempengaruhi pergerakan pada jalur (Potter ,2005).
b.    Penyakit kronis
Seseorang dengan penyakit kronis sering menderita gejala yang melumpuhkan  dan mengganggu kemampuan untuk melanjutkan gaya hidup normal mereka. Kemandirian dapat sangat terancam, yang menyebabkan ketakutan, ansietas, kesedihan yang menyeluruh. Ketergantungan pada orang lain untuk mendapat perawatan diri rutin dapat menimbulkan perasaan tidak berdaya dan persepsi tentang penurunan kekuatan batiniah (Potter ,2005).
Seseorang mungkin merasa kehilangan tujuan dalam hidup yang mempengaruhi kekuatan dari dalam yang diperlukan untuk menghadapi perubahan fungsi yang dialami. Kekuatan tentang spiritualitas seseorang dapat menjadi faktor penting dalam cara seseorang menghadapi perubahan yang diakibatkan oleh penyakit kronis. Keberhasilan dalam mengatasi perubahan yang diakibatkan oleh penyakit kronis dapat menguatkan seseorang secara spiritual. Reevaluasi tentang hidup mungkin terjadi. Mereka yang kuat secara spiritual akan membentuk kembali identitas diri dan hidup dalam potensi mereka (Potter ,2005).
Pada stadium lanjut, pasien dengan penyakit kronis tidak hanya mengalami berbagai maslah fisik seperti nyeri, sesak nafas, penurunan berat badan, gangguan aktivitas tetapi juga mengalami gangguan psikososial dan spiritual yang mempengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarganya.
Maka kebutuhan pasien pada stadium lanjut suatu penyakit tidak hanya pemenuhan atau pengobatan gejala fisik, namun juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual yang dilakukan dengan pendekatan interdisiplin yang dikenal sebagai perawatan paliatif. Masyarakat menganggap perawatan paliatif hanya untuk pasien dalam kondisi terminal yang akan segera meninggal.
Namun konsep baru perawatan paliatif menekankan pentingnya integrasi perawatan paliatif lebih dini agar masalah fisik, psikososial dan spiritual dapat diatasi dengan baik. Perawtan paliatif adalah pelayanan kesehatan yang bersifat holistik dan terintegrasi dengan melibatkan berbagai profesi dengan dasar falsafah bahwa setiap pasien berhak mendapatkan perawatan terbaik sampai akhir hayatnya.
Canadian Nurses Association (CNA) mengusulkan standar praktik pada perawatan paliatif-hospis atau Hospice Palliative Care Nursing Standars (HPCNS). Kerangka konsep dari standar praktik ini adalah berdasarkan 6 dimensi, yaitu: Valuing (menilai), connecting (menghubungkan), empowering (memberdayakan), doing for (melakukan untuk), finding meaning (menemukan makna), dan preserving integrity (menjaga integritas) dari Support Care Model.


Setiap dimensi merupakan mewakili setiap standar sebagai berikut:
1.    Perawat paliatif percaya pada nilai interinsik dari orang lain, makna hidup dan bahwa kematian itu adalah proses alami.
2.    Perawat paliatif melakukan hubungan terapeutik dengan pasien dan keluarga dengan cara menciptakan, mempertahankan, dan menutup suatu hubungan.
3.    Perawat paliatif memberikan perawatan dengan cara memberdayakan pasien dan keluarga.
4.    Perawat paliatif memberikan perawatan berdasarkan praktek terbaik dan/atau berdasarkan evidence-based dalam bidang: nyeri dan menejemen gejala, koordinasi perawatan, dan advokasi.
5.    Perawtan paliatif membantu pasien dan keluarga untuk menemukan makna hidup mereka dan makna dari penyakit yang diderita.
6.    Perawat paliatif menjaga integritas diri, pasien dan keluarga.
c.    Penyakit terminal
Penyakit terminal umumnya menyebabkan ketakutan terhadap nyeri fisik, ketidaktahuan, kematian, dan ancaman terhadap integritas.  Klien mungkin mempunyai ketidakpastian tentang makna kematian  dan dengan demikian mereka menjadi sangat rentan terhadap distres spiritual. Terdapat juga klien yang mempunyai rasa spiritual tentang ketenangan yang memampukan mereka untuk menghadapi kematian tanpa rasa takut (Potter ,2005).
Individu yang mengalami penyakit terminal sering menemukan diri mereka menelaah kembali kehidupan mereka dan mempertanyakan maknanya. Pertanyaan-pertanyaan yang umum diajukan dapat mencakup, “Mengapa hal ini terjadi pada saya” atau “Apa yang telah saya lakukan sehingga hal ini terjadi pada saya ?” keluarga dan teman-teman dapat terpengaruhi sama halnya yang klien alami. Penyakit terminal menyebabkan anggota keluarga mengajukan pertanyaan penting tentang maknanya dan bagaimana penyakit tersebut akan mempengaruhi hubungan mereka dengan klien (Potter ,2005).
Fryback(1992) melakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana individu dengan penyakit terminal menggambarkan tentang kematian. Klien yang termasuk dalam penelitian mengidentifikasi tiga domain kesehatan sebagai berikut: mental-emosi, spiritual, dan fisik. Domain spiritual di pandang sebagai hal yang penting dalam kesehatan dan mencakup mempunyai hubungan dengan kekuatan yang lebih tinggi, menghargai mortalitas seseorang, dan menumbuhkan aktualisasi-diri.
Mereka menghubungkan kesehatan dengan keyakinan dalam kekuatan yang lebih tinggi yang telah memberi mereka kepercayaan dan kemampuan untuk menyintai. Penelitian tersebut telah menunjukkan bahwa ketika klien yang mempunyai penyakit terminal mempunyai persepsi dalam keadaan tidak sehat, persepsi tersebut bukan karena penyakitnya tetapi karena sedang tidak mampu menjalani hidup mereka dengan sempurna dan tidak mampu melakukan hal-hal yang mereka inginkan (Potter ,2005).
Keyakinan beragama dapat membantu menyokong pasien dalam menghadapi krisis kehidupan termasuk kematian melalui berbagai hal berikut:
1.    Membantu mengendalikan rasa takut dan ansietas tidak saja dengan mengungkapkan kedukaan, tetapi juga melalui rasa syukur terhadap karunia dan pengalaman yang diberikan
2.    Menekankan kepada peristiwa kehidupan dan pengalaman kemanusiaan yang membuat hidup tampak lebih mudah dipahami
3.    Membantu pasien mengalihkan pikiran dan perasaan pada tindakan yang konstruktif
4.    Memungkinkan pasien untuk mengalihkan peristiwa kehidupan yang tragis ke arah kekuatan yang memberi harapan dan cinta
5.    Mengarahkan pada kepekaan spiritual dan aspirasi yang tinggi sehingga mudah menemukan hikmah yang terkandung dalam penderitaan
6.    Mengurangi rasa bersalah dan berduka dalam menghadapi saat akhir kehidupan
7.    Mengalihkan perhatian dari kematian, tidak untuk mengingkari, tetapi dengan menempatkannya dalam perseptif yang lebih luas


A.      Tahap-tahap kematian
Kematian adalah kematian otak, korteks serebral, mengalami kerusakan permanen. Aktivitas jantung kehilangan fungsi. Dimanifestasikan secara klinis dengan tidak ada respon terarah terhadap stimulus eksternal, tidak ada reflek sefalik, apneu dan elektrogram isoelektrik minimal 30 menit tanpa hipotermia dan keracunan oleh depresan system saraf, (Kozier, 2010).
Kubler-Ross (1969, Hegner,2003), lima tahap yang dialami pasien ketika menghadapi kematian, yaitu mengingkari (denial), marah (anger), tawar menawar (bargaining), depresi (depression) dan menerima (acceptance). Jika terdapat cukup waktu dan dukungan mental, beberapa pasien dapat menggerakan emosinya melalui tiap tahap sampai titik penerimaan penyakitnya dan kematiannya.
1.      Menyangkal (denial)
Pada tahap pertama ini pasien akan merasa syok dan mati rasa, selanjutkan memasuki proses denial. Menurut Kubler-Ros (1969) tahap ini bersifat adaptif berperan sebagai penahan terhadap hal yang tidak diharapkan dan merupakan proteksi yang diperlukan. Contoh : tidak mungkin, ini tidak mungkin terjadi.
2.      Marah (anger)
Kemarahn terjadi karena pasien merasa rencana kegiatannya terganggu. Pesien merasa iri dengan orang lain yang masih dapat menikmati kehidupan. Kemarahan biasanya ditumpahkan memalui reaksi yang alamiah dan sering dilakukan terhadap siapapun yang berada disekitarnya. Contoh : kenapa saya, ini tidak adil, siapa yang harus disalahkan?
3.      Tawar-menawar (bargaining)
Pada tahap ini, pasien merasa bahwa kematiannya masih dapat ditunda dengan  berdoa. Melalui tawar-menawar ini, pasien akan mencoba menunda atau memesan saat-saat  kematian. Dia masih ada waktu untuk berdoa, melengkapi tujuan hidupnya yang penting. Pada tahap ini ia berjanji akan memperbaiki cara hidupnya, dan akan lebih sering berdoa. Contoh : saya akan lakukan apapun agar bisa bertahan beberapa tahun lagi.
4.      Depresi (depression)
Pada tahap depresi, pasien dengan gejala penyakit yang makin memburuk, menyadari bahwa kematian sudah semakin dekat. Depresi merupakan jalur utama bahwa ia akan dipisahkan dari kehidupan dan dengan demikian tidak ada pilihan lain. Contoh : apa gunanya lagi? saya akan meninggal. Saya tidak peduli dengan apapun lagi.
5.      Penerimaan (acceptance)
Pada tahap ini, pasien telah menerima nasibnya. “apabila pasien telah mendapatkan cukup waktu dan telah dibantu dalam menjalani tahap-tahap sebelumnya, ia akan tiba pada suatu keadaan ketika ia merasa depresi maupun arah pada nasibnya”. Contoh : semuanya akan baik-baik saja. Saya tidak dapat melawan ini. Lebih baik saya bersiap diri untuk mengahapinya.
Kubler-Ros menyatakan langkah-langkah ini tidak selalu urut, atau dilalui semuanya oleh seorang individu, tapi paling tidak ada 2 langkah yang pasti akan dilalui. Seringkali, individu akan mengalami beberapa langkah berulang-ulang. Intinya, seorang individu tidak seharusnya memaksakan proses yang dilalui, Proses duka adalah hal yang sangat personal dan sebaiknya tidak dipercepat (atau diperpanjang).
Kebanyakan orang tidak siap menghadapi duka, karena seringkali, tragedi terjadi begitu cepat, dan tanpa peringatan. Dia harus bekerja keras melalui proses tersebut hingga akhirnya sampai pada tahap Penerimaan.
B.       Bimbingan sakaratul maut
     Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan WHO yang menyatakan bahwa aspek agama ( spiritual ) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Menurut Dadang Hawari (1977) “orang yang mengalami penyakit terminal dan menjelang sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit kejiwaan,  krisis spiritual, dan krisis kerohanian sehingga pembinaan kerohanian saat klien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus”.
Pasien terminal biasanya mengalami rasa depresi yang berat,  perasaan marah akibat ketidakberdayaan dan keputusasaan.  Dalam fase akhir kehidupannya ini, pasien tersebut selalu berada di samping perawat.  Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan spiritual dapat meningkatkan semangat hidup klien yang didiagnosa harapan sembuhnya tipis dan dapat mempersiapkan diri pasien untuk menghadapi alam yang kekal. Menurut konsep Islam, fase akhir tersebut sangat menentukan baik atau tidaknya kematian seseorang dalam menuju kehidupan alam kekal dan perawat sendiri kelak akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT karena upaya pemenuhan kebutuhan pasien di rumah sakit mutlak diperlukan. Perawat hendaknya meyakini bahwa sesuai dengan ajaran islam dalam menjalani fase akhir dari kehidupan manusia di dunia terdapat fase sakaratul maut.
Fase sakaratul maut seringkali di sebutkan oleh Rasulullah sebagai fase yang sangat berat dan menyakitkan sehingga kita diajarkan do’a untuk diringankan dalam fase sakaratul maut.
Hal tersebut digambarkan Allah dalam firman-Nya :
 “Dan datanglah Sakratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. (Q.S. Qaf (50): 19 )
“Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
“Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)
“Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”. (Ka’b al-Ahbar, sahabat Rasulullah saw)
“Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri”. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).
“Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”. ( Imam Ghozali)
Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang.  Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup.
Sakaratul maut itu pedih seperti firman Allah SWT kepada Ibrahim AS adalah “Seperti panasnya besi dibakar pada kain sutera yang basah, lalu nyawapun ditarik”, Selanjutnya Allah berfirman kepada Nabi Musa “rasanya seperti burung hidup yang digoreng dalam wajan. Rasanya seperti domba yang hidup kemudian diikuti oleh penjagal. Rasanya lebih perih pedih dibanding sayatan pedang, geretan gergaji, dan tusukan benda tajam. Seringan-ringannya kematian seperti duri dalam kain. Bisakah duri keluar dari sutera tersebut tanpa robekan. Seperti berada dalam selimut api panas dan seolah-olah bernafas dalam lubang jarum seakan-akan berada dalam satu pohon yang berduri lalu ditarik dari ujung kaki sampai keubun-ubun”.
a.       Tanda-tanda pasien sakaratul maut
Menurut Kozier (2010), tanda-tanda klinis pasien sakaratul maut adalah :
1)      Kehilangan tonus otot
2)      Perlambatan sirkulasi
3)      Perubahan respirasi
4)      Kerusakan sonsori
Menurut Wotf &Weitzel (dalam Hawari,1998) Ciri-ciri pokok pasien yang akan melepaskan nafasnya yang terakhir, yaitu :
1)      Penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang dimulai pada anggota gerak paling ujung khususnya pada ujung kaki, tangan, ujung hidung yang terasa dingin dan lembab
2)      Kulit tampak kebiru-biruan kelabu atau pucat
3)      Nadi mulai tak teratur, lemah dan pucat
4)      Terdengar suara mendengkur disertai gejala nafas cyene stokes
5)      Menurunnya tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot rahang menjadi mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak lebih pasrah menerima.


b.      Bimbingan perawat dalam menghadapi pasien sakaratul maut
1)      Membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT.
     Pada sakaratul maut perawat harus membimbing agar berbaik sangka kepada Allah sebagaimana Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslem :
 “Jangan sampai seorang dari kamu mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah”.
Selanjutnya Allah berfirman dalam hadist qudsi :
 ”Aku ada pada sangka-sangka hambaku,  oleh karena itu bersangkalah kepadaKu dengan sangkaaan yang baik”,
Selanjutnya Ibnu Abas berkata :
 ”Apabila kamu melihat seseorang menghadapi maut, hiburlah dia supaya bersangka baik pada Tuhannya dan akan berjumpa dengan Tuhannya itu”.
Selanjutnya Ibnu Mas´ud berkata :
”Demi Allah yang tak ada Tuhan selain Dia, seseorang yang berbaik sangka kepada Allah maka Allah berikan sesuai dengan persangkaannya itu”.
Hal ini menunjukkan bahwa kebaikan apapun jua berada ditangannya.
2)      Mentalkinkan dengan Kalimat Laailahaillallah
     Perawat muslim dalam mentalkinkan kalimah laaillallah dapat dilakukan pada pasien terminal menjelang ajalnya terutama saat pasien akan melepaskan nafasnya yang terakhir. Perawat membimbing pasien dengan mentalkinkan (membimbing dengan melafalkan secara berulang-ulang), sebagaimana Rasulullah mengajarkan dalam Hadist Riwayat Muslim.
 “Talkinkanlah olehmu orang yang mati diantara kami dengan kalimat Laailahaillallah karena sesungguhnya seseorang yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya sesungguhnya seseorang yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya menuju surga”. Selanjutnya Umar Bin Ktahab berkata :
“Hindarilah orang yang mati diantara kami dan dzikirkanlah mereka dengan ucapan Laailahaillahllah, maka sesungguhnya mereka (orang yang meninggal) melihat apa yang tidak bisa, kamu lihat”. Para ulama berpendapat,” Apabila telah membimbing orang yang akan meninggal dengan satu bacaan talqin, maka jangan diulangi lagi. Kecuali apabila ia berbicara dengan bacaan-bacaan atau materi pembicaraan lain. Setelah itu barulah diulang kembali, agar bacaan La Ilaha Illallha menjadi ucapan terakhir ketika menghadapi kematian. Para ulama mengarahkan pada pentingnya menjenguk orang sakaratul maut, untuk mengingatkan, mengasihi, menutup kedua matanya dan memberikan hak-haknya.” (Syarhu An-nawawi Ala Shahih Muslim : 6/458).

3)      Berbicara yang Baik dan Do´a untuk jenazah ketika menutupkan matanya
Di samping berusaha memberikan sentuhan perawat muslim perlu berkomunikasi terapeutik, antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah SAW bersabda :
”Bila kamu datang mengunjungi orang sakit atau orang mati, hendaklah kami berbicara yang baik karena sesungguhnya malaikat mengaminkan terhadap apa yang kamu ucapkan”.
Selanjutnya diriwayatkan oleh Ibnu Majah Rasulullah bersabda : “Apabila kamu menghadiri orang yang meninggal dunia di antara kamu, maka tutuplah matanya karena sesungguhnya mata itu mengikuti ruh yang keluar dan berkatalah dengan kata-kata yang baik karena malaikat mengaminkan terhadap apa yang kamu ucapkan”.
Berdasarkan hal diatas perawat harus berupaya memberikan suport mental agar pasien merasa yakin bahwa Allah Pengasih dan selalu memberikan yang terbaik buat hambanya, mendo’akan dan menutupkan kedua matanya yang terbuka saat roh terlepas, dari jasadnya.
4)      Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut
“Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian disunnahkan juga untuk membasahi bibirnya dengan kapas yg telah diberi air. Karena bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk berbicara dan berkata-kata. Dengan air dan kapas tersebut setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang mengalami sakaratul maut, sehingga hal itu dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat.” (Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)
5)      Menghadapkan orang yang sakaratul maut ke arah kiblat
Kemudian disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul maut kearah kiblat. Sebenarnya ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits Rasulullah Saw., hanya saja dalam beberapa atsar yang shahih disebutkan bahwa para salafus shalih melakukan hal tersebut. Para Ulama sendiri telah menyebutkan dua cara bagaimana menghadap kiblat :
a)      Berbaring terlentang diatas punggungnya, sedangkan kedua telapak kakinya dihadapkan kearah kiblat. Setelah itu, kepala orang tersebut diangkat sedikit agar ia menghadap kearah kiblat.
b)      Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul maut menghadap ke kiblat. Dan Imam Syaukai menganggap bentuk seperti ini sebagai tata cara yang paling benar. Seandainya posisi ini menimbulkan sakit atau sesak, maka biarkanlah orang tersebut berbaring kearah manapun yang membuatnya selesai.


C.       Teori Peace End Of Life
Menurut Ruland & Moore (1998), teori menghadapi kematian dengan damai merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan tehadap pasien dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk hidup lebih lama. Teori ini dirancang untuk memberikan hasil yang positif  dengan kriteria:
1.    Bebas dari rasa sakit
Terbebas dari penderitaan atau gejala distres merupakan bagian pokok/penting dari pengalaman banyak pasien yang menghadapi kematian. Rasa sakit dianggap sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan yang aktual atau potensial. (Lenz, Suppe, Gift, Pugh & Milligan, 1995; Pain terms, 1979)
2.    Merasakan kenyamanan
Kenyamanan didefinisi secara inklusif yang digunakan oleh Kolcaba dan Kolcaba’s (1991) antara lain:
a.    Bantuan terhadap ketidaknyamanan.
b.    Berada dalam keadaan yang senang dan kepuasan yang damai.
c.    dan apa pun yang membuat hidup menjadi mudah atau menyenangkan (Ruand & Moore, 1998, p. 172).
3.    Merasakan dihargai/dihormati
Setiap pasien yang berada pada fase penyakit terminal perlu dihormati dan dihargai sebagai manusia (Ruland & Moore, 1998, p. 172). Konsep ini menggabungkan ide yang bernilai pribadi, seperti yang diungkapkan oleh prinsip etis otonomi dan menghormati orang, yang menyatakan bahwa individu harus diperlakukan sebagai individu yang otonom dan jika seseorang dengan otonomi yang berkurang berhak atas perlindungan (United States, 1978).
4.    Merasakan kedamaian
Kedamaian yaitu merasakan ketenangan, kesesuaian/keselarasan dan kepuasaan serta bebas dari ansietas, kegelisahan, kekhawatiran, dan ketakutan (Ruland & Moore, 1998, p. 172). Kondisi damai meliputi fisik, psikologis dan spiritual
5.    Kedekatan dengan orang yang berarti dalam hidup dan yang telah merawat pasien
Kualitas hidup didefinisikan dan dievaluasi sebagai wujud kepuasan melalui hasil penilaian empiris seperti penanganan tehadap gejala dan kepuasan dengan hubungan interpersonal. Memasukkan pilihan-pilihan pasien ke dalam keputusan perawatan merupakan pertimbangan yang tepat.
Teori ini menjelaskan hidup yang berkualitas sebagai keadaan di mana seseorang mendapatkan apa yang diinginkan, sebuah pendekatan yang dirasa tepat untuk memberikan perawatan pada seseorang yang ingin menghadapi kematian dengan damai.
Karena teori peace end of life berasal dari standar pelayanan yang ditulis oleh tim perawat ahli yang menangani masalah praktek, konsep metaparadigma yang melekat dalam mengatasi fenomena keperawatan, perawatan kompleks dan holistik diperlukan untuk mendukung peace end of life.
Ada dua asumsi yang diidentifikasi oleh Ruland and Moore’s (1998) dalam teori peace end of life yaitu:
a.    Kejadian dan perasaan pada end of life bersifat personal dan individual.
b.    Pelayanan keperawatan memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman end of life ini. Perawat mengkaji dan menginterprestasikan petunjuk yang merefleksikan pengalaman end of life pasien dan memberikan intervensi seperlunya untuk mendapatkan atau mempertahankan pengalaman penuh kedamaian bahkan terhadap pasien sekarat yang tidak mampu berkomunikasi secara verbal sekalipun.












Peace End Of Life
Bebas dari rasa sakit
Merasakan dihargai
Merasakan kenyamanan
Kedekatan dengan orang yang bermakna/yang telah merawat
Merasakan kedamaian
Mengkaji dan Memantau skala nyeri dan respon pasien secara berkala
Menerapkan intervensi farmakologi dan non-farmakologi
Mencegah, memantau, dan menghilangkan ketidaknyamanan fisik
Memberikan/memfasilitasi istirahat, relaksasi dan kepuasan
Mencegah komplikasi-komplikasi yang timbul
Mengikutsertakan pasien dan keluarga/orang terdekat dalam pengambilan keputusan perawatan dan pengobatan pasien

merawat pasien dengan tulus, empati dan hormat
Menghargai dan memperhatikan   kebutuhan pasien, harapan dan hal-hal yang disukainya
Memberikan dukungan emosional

Memantau dan menjumpai pasien yang membutuhkan obat anti-ansietas

Membangkitkan rasa kepercayaan
Memberikan pasien atau orang terdekat (keluarga) berupa bimbingan tentang masalah-masalah praktis
Memberikan bantuan fisik dari orang lain jika diinginkan
Mengikutsertakan partisipasi orang terdekat/keluarga dalam perawatan pasien.

Memperhatikan keluarga/orang terdekat yang mengalami kesedihan, kekhawatiran dan keraguan

Memfasilitasi/memberikan kesempatan untuk pendekatan keluarga
 


 

D.      Asuhan Keperawatan Spiritual
1.    Pengkajian
Joint Commission on acreditation Healthcare Organizations (2000) saat ini memandatkan bahwa setiap klien yang masuk ke intitusi keperawatan harus dilakukan pengkajian keyakinan dan praktik spiritual.  Taylor (2000) merekomendasikan suatu pendekatan dua tingkat untuk pengkajian spiritual. (Kozier, 2010., p.503)
Meskipun perawat melakukan pengkajian secara kontinu, pengkajian spiritual awal paling baik dilakukan pada akhir proses pengkajian, atau setelah pengkajian psikososial, setelah perawat membina hubungan saling percaya dengan pasien atau orang pendukung. Perawat yang menunjukkan kepekaan dan kehangatan personal, serta berhasil membina hubungan terapeutik lebih mampu melakukan pengkajian spiritual. (Kozier, 2010., p.504)
Secara sistematis, menurut (Hamid 2008., p.20) pada dasarnya informasi awal yang perlu digali secara umum adalah sebagai berikut.
a.    Afiliasi agama
1)   Partisipasi klien dalam kegiatan agama, apa dilakukan secara aktif atau tidak
2)   Jenis partisipasi dalam kegiatan agama
b.    Keyakinan agama atau spiritual, mempengaruhi:
1)   Praktik kesehatan: diet, mencari dan menerima terapi, ritual atau upacara agama
2)   Persepsi penyakit: hukuman,cobaan terhadap keyakinan
3)   Stress koping
c.    Nilai agama atau spiritual, Mempengaruhi:
1)   Tujuan dan arti hidup
2)   Tujuan dan ari kematian, kesehatan dan pemeliharaannya
3)   Hubungan dengan tuhan, diri sendiri dan orang lain
d.   Pengkajian data subjektif
Pedoman pengkajian spiritual yang disusun oleh Stoll dalam Craven dan Hirnle (1996) dalam (Hamid 2008., p.20) mencakup empat area, yaitu:
1)   Konsep ketuhanan
2)   Sumber harapan atau kekuatan
3)   Praktik agama dan ritual
4)   Hubungan antara keyakinan spiritual dan kondisi kesehatan
Pertanyaan yang dapat di ajukan perawat untuk memperoleh informasi tentang pola fungsi spiritual klien, antara lain:
a)    Apakah agama atau tuhan merupakan hal penting dalam kehidupan anda?
b)   Kepada siapa biasanya anda meminta bantuan?
c)    Apakah anda merasa percaya bahwa agama membantu anda?jika ya, bagaimana dapat membantu anda?
d)   Apakah sakit (atau kejadian penting lainnya yang pernah anda alami) telah mengubah perasaan anda terhadap tuhan atau praktik agama anda?
Fish dan Shelly dalam Craven dan Hirnle (1996) dalam (Hamid, 2008, p.21) juga menambah beberapa pertanyaan yang bermanfaat untuk mengkaji data subjektif, yaitu:
a)    Mengapa anda berada dirumah sakit?
b)   Apakah kondisi sakit yang anda alami telah mempengaruhi cara anda memandang kehidupan?
c)    Apakah penyakit anda telah mempengaruhi hubungan anda dengan orang yang paling berarti dalam kehidupan anda?
d)   Apakah kondisi sakit yang anda alami telah mempengaruhi cara anda melihat diri sendiri?
e)    Apa yang paling anda butuhkan saat ini?
e.    Pengkajian data objektif
Pengkajian data objektif dilakukan melalui pengkajian klinis yang meliputi pengkajian afek dan sikap, prilaku, verbalisasi, hubungan interpersonal dan lingkungan. Pengkajian data objektif terutama dilakukan melalui observasi. Shelley & fish, 1998; Summer, 1998 dalam Kozier, 2010 p. 504 dan Hamid, 2008., p.22
1)         Afek dan sikap
Apakah pasien tampak kesepian, depresi, marah, cemas, agitasi, apatis atau preokupasi?
2)         Prilaku
a)    Apakah pasien tampak berdoa sebelum makan, membaca kitab suci atau buku agama?
b)   Apakah pasien sering kali mengeluh, tidak dapat tidur, mimpi buruk, dan berbagai bentuk gangguan tidur lainnyya serta bercanda yang tidak sesuai atau mengekspresikan kemarahannya terhadap agama?
3)      Verbalisasi
a)      Apakah pasien menyebut tentang makna dan arti hidup
b)      Kebutuhan, doa atau topik keagamaan lainnya (walau hanya sepintas)
c)      Apakah pasien pernah meminta dikunjungi oleh pemuka agama?
d)     Apakah pasien mengekspresikan rasa takutnya terhadap kematian, kepedulian terhadap arti kehidupan, konflik batin tentang keyakinan agama, kepedulian tentang hubungan dengan yang maha penguasa, arti keberadaannya di dunia, arti penderitaan atau implikasi terapi terhadap nilai moral/etik?
4)      Hubungan interpersonal
a)    Siapa pengunjung pasien?
b)   Bagaimana pasien berespon terhadap pengunjung?
c)    Apakah pemuka agama mengunjungi pasien?
d)   Bagaimana pasien berhubungan dengan pasien lain dan dengan tenaga keperawatan
5)      Lingkungan
a)      Apakah pasien membawa kitab suci atau perlengkapan sembahyang lain?
b)      Apakah pasien menerima kiriman tanda simpati dari unsur keagamaan?
c)      Apakah klien memakai pakaian yang memiliki makna religius?
Menurut Hamid (2008)., p.23 pada umumnya karakteristik klien yang berpotensi mengalami distress spiritual adalah sebagai berikut.
a.    Klien yang tampak kesepian dan sedikit pengunjung
b.    Klien yang mengekspresikan rasa takut dan cemas
c.    Klien yang mengekspresikan keraguan terhadap sistem agama
d.   Klien yang mengekspresikan rasa takut terhadap kematian
e.    Klien yang akan di operasi
f.     Penyakit yang berhubungan dengan emosi atau implikasi sosial dan agama
g.    Mengubah gaya hidup
h.    Preokupasi tentang hubungan agama dan kesehatan
i.      Tidak dapat dikunjungi oleh pemuka agama
j.      Tidak mampu atau menolak melakukan ritual spiritual
k.    Menverbalisasikan bahwa penyakit yang di deritanya merupakan hukuman dari tuhan
l.      Mengekspresikan kemarahannya kepada tuhan
m.  Sedang menghadapi sakaratul maut (dying)

Tabel. Panduan Pengkajian Terfokus. Menurut Hamid, 2008., p.24
No
Aspek spritual
Pertanyaan dan pendekatan
1
Keyakinan spiritual
Apakah ada keyakinan spiritual atau agama yang penting bagi anda?
Apakah keyakinan agama anda mengatur tindakan yang berkonflik dengan terapi yang direkomendasikan oleh dokter?
2
Praktik spiritual
Uraikan praktik spiritual yang biasa anda lakukan atau yang mengganggu kemampuan anda uuntuk melakukannya?
Apakah saya dapat membantu anda untuktatap melakukannya?
3
Hubungan antara keyakinan spiritual dengan kehidupan sehari-hari
Uraikan bagaimana keyakinan spiritual anda mempengaruhi kehidupan anda sehari-hari?
Apakah pengaruh tersebut membuat hidup anda lebih sehat atau justru destruktif?
4
Defisit atau distress spiritual
Apakah keyakinan spiritual anda akhir-akhir inimenyebabkan distress?
5
Kebutuhan spiritual
Dengan cara apa saya dan perawat lain membantu anda memenuhi kebutuhan spiritual anda?
Apakah anda ingin berhubungan dengan pemuka agama?
6
Kebutuhan menemukan arti dan tujuan
Dengan cara apa keyakinan agama anda membantua atau  menghalangi anda mengahadapi situasi yang di alamiakhir ini serta menghadapinya dengan keberanian dan perasaaan damai?
7
Kebutuhan mencintai  dan keterikatan-kedekatan
Dengan cara apa keyakinan keagamaan anda membantu atau menghalangi anda untuk memenuhi kebutuhan untuk dicintai dan mencintai?
8
Kebutuhan untuk mendapatkan pengampunan
Dengan cara apa keyakinan agama anda membantu atau menghalangi anda untuk merasa damai?
9
Observasi prilaku penting
Waspadai kemungkinan perubahan mendadak dalam praktik spiritual, perubahan alam perasaan, minat yang tiba-tiba terhadap hal-hal spiritual dan gangguan pola tidur. Semuanya ini mungkin menunjukkan adanya kebutuhan spiritual yang belum terpenuhi?

f.     Pengkajian menurut Potter & perry (2005)
1.      Keyakinan dan makna
Penting untuk mempelajari tentang filosofi hidup seseorang, perspektif spiritualitasnya, dan apakah pandangan spiritualnya sebagai bagian darikehidupannya secara keseluruhan. Tanyakan kepada klien,”dapatkah anda katakan kepadasaya tentang filosofi hidup anda?, jelaskan kepada saya apa yang paling penting dalam hidup anda ? katakan kepada saya apa yang telah memberi makna hidup anda ?”. informasi ini dapat membantu perawat untuk mengenali fokus spiritual klien dan dampak penyakit pada kehidupan seseorang. Suatu pemahaman tentang keyakinan dan makna yang mencerminkan sumber spiritual seseorang memudahkan dalam mengatasi kejadian troumatik atau yang menyulitkan. (Potter & perry, 2005., p.571)
2.      Autoritas dan pembimbing
Autoritas dapat berupa yang maha kuasa, pembuka agama, keluarga atau teman, diri sendiri. Suatu autoritas memandu seseorang dalam mengujai keyakinan dan mengalami pertumbuhan. Perawat dapat mengkaji sumber autoritas dan pedomn seseorang dengan menanyakan klien “apa yang memberi anda kekuatan dari dalam?, kepada siapa anda mencari bantuan untuk pedoman dalam hidup anda?”. Juga penting untuk mengetahui apakah ada sumber keagamaan yang berkonflik dengan pengobatan medis. Hal ini sangat mempengaruhi pilihan yang diberikan perawat dan pemberi perawatan kesehatan lainnya kepada klien. Misalnya jika klien penganut saksi yehove sebagai sumber autoritasnya maka tranfisi darah tidak akan diterima sebagai suatu bentuk pengobatan. (Potter & perry, 2005., p.571)
3.      Pengalaman dan emosi
Pengkajian spiritual yang mencakup tinjauan tentang riwayat seseorang dengan dan kapasitas pengalaman keagamaan dan apakah pengalaman tersebut terjadi mendadak atau bertahap. Perawat dapat menanyakan “pernahkah anda mempunyai pengalaman keagamaan atau spirirual yang membuat berbeda dalam anda menjalani hidup?”. Perawat menggali emosi atau suasana hati seperti kebahagian damai, marah, rasa bersalah, harapan atau rasa malu yang berkaitan dengan pengalaman keagamaan. Informasi tersebut dapat menunjukkan makna spiritualitas yang dianut dan apakan perasaan tersebut menyatu  kedalam atau ditolak oleh keyakina klien.  (Potter & perry, 2005., p.572)
4.      Persahabatan dan komunitas
Pengkajian holistik perawat menggali keluasan jaringan dukunan seseorang dan hubungan mereka dengan klien. Apakah klien mempunyai satu hubungan persahabatan atau  lebih ? tingkat dukungan apa yang diterima dari komunitas ini ? bagaimana komunitas mengekspresikan perasaan tentang perhatian dan persahabatan? perawat ingin mempelajari apakah terdapat keterbukaan diantara klien dan individu tersebut dengan siapa klien membentuk persahabatan. (Potter & perry, 2005., p.572).
5.      Ritual dan ibadat
Klien yang beragama islam mungkin berkeinginan untuk memadukan ritual sembahyang mereka ke dalam rutinitas perawatan kesehatan. Ketika kematian klien sudah dekat, sangat penting artinya untuk mengetahui apakah praktik keagamaan harus di lakukan untuk memastikan ketenangan jiwa bagi klien dan keluarganya. (Potter & perry, 2005., p.573)
6.      Dorongan dan pertumbuhan
Pengkajian mencakup tinjauan apakah klien membiarkan keyakinan lama terpendam dengan harapan bahwa keyakinan baru akan muncul. Hal ini penting karena kehilangan harapan dapat menyebabkan keputusasaan. Jika penyakit membuat seseorang lebih bergantung, dapatkah sumber baru muncul? (Potter & perry, 2005., p.574)
7.      Panggilan dan konsekuensi
Individu mengekspresikan spiritulitas mereka pada rutinitas sehari-hari, pekerjaan, hubungan, dan bidang lainnya. Hal tersebut dapat menjadi panggilan dalam hidup dan menjadi bagian dari identitas mereka. Perawat mengkaji apakah dalam menghadapi penyakit, klien kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan rasa keterhubungan dengan sesuatu yang lebih besar darinya.. (Potter & perry, 2005., p.574)
2.    Diagnosa Keperawatan
Menurut NANDA 2003,mengakui tiga diagnosis yg berhubbungan dengan spiritual :
a.    Distress spiritual adlah hambatan kemampuan untuk mengalami dan menintegritas makna dan tujuan hidup melalui keterkaitan dengan sesuatu.
b.    Kesiapan untuk meningkatkan kesejahteraan spiritual
c.    Resiko distress spiritual
Sedangkan menurut kozier menyebutkan distres spiritual dapat memengaruhi area fungsi lain dan mengidentifikasi diagnosis lain.Dalam  kondisi tsb distress spiritual menjadi etiologi,contohnya mliputi :
1)      Ketakutan ya b/d kecemasan mengenai roh dimasa mendatang setelah kematian dan ketidak siapan menghadapi kematian
2)       HDR kronik atau situasional yg b/d kegagalan untuk hidup sesuai dengan ajaran keyakinan individu
3)      Gangguan pola tidur yg b/d distres spiritual
4)      Ketidakefektifan koping yg b/d perasaan diabaikan Tuhan dan kehilangan keyakinan keagamaan.
5)      Konflik pengambilan keputusan yg b/d konflik antara rencana penanganan dan keyakinan keagamaan
Sedangkan menurut Hamid 2008,menyatakan distress spirirual sbgai etiologinya,sehingga muncul diagnosa :
a)    Gangguan penyesuaian terhadap penyakit yg b/d ketidak  mampuan ntuk merekonsilasi penyakit dgn keyakinan spiritual.
b)   Ketidakefektifan kping individu yg b/d kehilangan agama sebagai dukungan utama.
c)    Takut  yg b/d belum siap menghadapi kematian dan pengalaman kehdupan setelah kematian
d)   Berduka yang disfungsional,keputus asaan yg b/d keyakinan bhwa agama tidak mempunyai anti.
e)    Keputusasaan yg b/d keyakinan bahwa tidak ada yang peduli termasuk Tuhan
f)    Ketidak berdayaan yg b/d perasaan menjadi korban
g)   Gangguan HDR yg b/d kegagalan u hidup sesuai dg ajaran agama
h)   disfungsional seksual yg b/d konflik nilai
i)     Gangguan pola tidur yg b/d distress spiritual
j)     Resiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri yg b/d perasaan bahwa hidup ini tidak beart
3.    Intervensi
a.    Membantu pasien memenuhi kewajiban agamanya,
b.    Membantu pasien menggunakan sumber dari dalam dirinya dengan cara yang lebih efektif untuk mengatasi situasi yang sedang dialami,
c.    Membantu pasien mempertahankan atau membina hubungan personal yang dinamik dengan maha pencipta ketika sedang menghadapi peristiwa yang kurang menyenangkan,
d.   Membantu pasien mencari arti keberadaannya dan situasi yang sedang dihadapinya,
e.    Meningkatkan perasaan penuh harapan,
f.     Memberikan sumber spiritual atau cara lain yang relevan.(kozier, 2005)
Craven & Hirnle (1996) mengklasifikasi intervensi berdasarkan kelompok usia
1)   Bayi
2)   Todler dan anak pra-sekolah
3)   Anak dan remaja
4)   Dewasa dan lanjut usia  (Hamid, 2009)
4.      Implementasi
a.       Menunjukkan Kehadiran
Osterman dan Schwartz-Barcott (1996) mengidentifikasi empat cara hadir untuk klien:
1)      Hadir
2)      Hadir persial
3)      Hadir penuh
4)      Hadir transendens  (kozier, 2005)
b.    Mendukung praktik keagamaan
c.    Membantu klien berdoa
d.   Merujuk klien untuk konseling spiritual (Kozier, 2005)
Pada tahap implementasi, perawat menerapkan rencana intervensi dengan melakukan prinsip-prinsip kegiatan asuhan keperawatan sebagai berikut :
1)   Periksa keyakinan spiritual pribadi perawat,
2)   Fokuskan perhatian pada persepsi pasien terhadap kebutuhan spiritualnya,
3)   Jangan beranggapan pasien tidak mempunyai kebutuhan spiritual,
4)   Mengetahui pesan non verbal tentang kebutuhan spiritual pasien,
5)   Berespon secara singkat, spesifik, dan aktual,
6)   Mendengarkan secara aktif dan menunjukkan empati yang berarti menghayati masalah pasien,
7)   Membantu memfasilitasi pasien agar dapat memenuhi kewajiban agama,
8)   Memberitahu pelayanan spiritual yang tersedia di rumah sakit. (hamid, 2009).
5.      Evaluasi
Tujuan asuhan keperawatan tercapai apabila secara umum pasien :
a.       Mampu beristirahat dengan tenang,
b.      Mengekspresikan rasa damai berhubungan dengan tuhan,
c.       Menunjukkan hubungan yang hangat dan terbuka dengan pemuka agama,
d.      Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya,
e.       Menunjukkan afek positif, tanpa rasa bersalah dan kecemasan.

E.       Asuhan keperawatan distress spiritual
1.    Pegertian
Distress spiritual adalah hambatan kemampuan untuk mengalami dan mengintegrasikan  makna dan tujuan hidup melalui keterkaitan seseorang dengan diri sendiri, orang lain, seni, musik, literature, alam, atau kekuatan yang lebih besar dari diri sendiri.
Distress spiritual mengacu pada gangguan atau tantangan terhadap keyakinan atau system nilai individu yang memberi kekuatan, harapan, dan makna hidup. Kemungkinan factor pada distress spiritual mencakup masalah fisiologis, kekhawatiran terhadap penanganan, dan kekhawatiran situasional. Distress spiritual dapat direfleksikan dalam berbagai perilaku termasuk depresi, ansietas, pernyataan tidak berharga, dan takut akan kematian (kozier, 2010,  p. 505).
2.    Tujuan
Menurut hamid (2008), tujuan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami distress spiritual harus difokuskan pada menciptakan lingkungan yang mendukung praktik keagamaan dan keyakinan yang biasanya dilakukan, seperti:
a.    Klien akan mengidentifikasi keyakinan spiritual untuk  memenuhi kebutuhan dan memperoleh arti dan tujuan, mencintai, keterikatan dan pengampunan.
b.    Klien akan menggunakan kekuatan keyakinan, harapan, dan rasa nyaman ketika menghadapi tantangan berupa penyakit, cedera atau krisis kehidupan lain.
3.    Tanda dan gejala distress spiritual
Menurut hamid (2008) pada umumnya karakteristik klien yang berpotensi mengalami distress spiritual adalah sebagai berikut:
a.    Klien yang tampak kesepian dan sedikit pengunjung.
b.    Klien yang mengekspresikan rasa takut dan cemas.
c.    Klien yang mengekpresikan keraguan terhadap sistem agama.
d.   Klien yang mengekspresikan rasa takut terhadap kematian.
e.    Klien akan dioperasi.
f.     Penyakit yang berhubungan dengan emosi atau implikasi social dan agama.
g.    Mengubah gaya hidup.
h.    Preokupasi tentang hubungan agama dan kesehatan.
i.      Tidak dapat dikunjungi oleh pemuka agama.
j.      Tidak mampu atau menolak melakukan ritual spiritual.
k.    Memverbalisasikan bahwa penyakit yang dideritanya merupakan hukuman dari tuhan.
l.      Mengekspresikan kemarahannya kepada tuhan
m.  Sedang menghadapi sakaratul maut (dying).
4.         Askep
a.    Pengkajian
Data mengenai keyakinan spiritual klien diperoleh dari riwayat umum klien (pilihan agama atau orientasi agama), pengkajian riwayat keperawatan yang menyeluruh, dan observasi klinis perilaku klien, verbalisasi, alam perasaan, dan sebagainya (kozier, 2008, p. 503).
1)   Riwayat keperawatan
2)   Pengkajian klinis (lingkungan, perilaku, verbalisasi, afek dan sikap, dan hubungan interpersonal)
b.    Diagnosa keperawatan
1)   Distress spiritual berhubungan dengan ketidakmampuan mempraktikkan ritual spiritual
2)   Distress spiritual berhubungan dengan krisis penyakit dan ancaman kematian.
3)   Keputusasaan yang berhubungan dengan keyakinan bahwa tidak ada yang perduli, termasuk tuhan..
4)   Ketidakefektifan koping berhubungan dengan perasaan diabaikan oleh tuhan dan kehilangan keyakinan agama.
c.    Intervensi
Perencanaan terkait kebutuhan spiritual harus dirancang untuk melakukan satu atau lebih dari hal-hal berikut (kozier, 2010, p. 507)
1)   Membantu klien memenuhi kewajiban keagamaan.
2)   Membantu klien memperoleh dan menggunakan sumber yang ada dalam dirinya secara lebih efektif untuk mengatasi situasi yang sedang dihadapi.
3)   Membantu klien mempertahankan atau menciptakan hubungan personal yang dinamis dengan Yang Maha Tinggi pada saat berhadapan dengan situasi yang tidak menyenangkan.
4)   Membantu klien menemukan makna keberadaan dan situasi yag sedang dihadapi.
5)   Meningkatkan rasa harapan.
6)   Menyediakan sumber spiritual jika tersedia.
d.   Implementasi
1)   Menunjukan kehadiran
a)    Hadir secara fisik,
b)   Hadir dengan sepenuh hati
c)    Mendengarkan, dengan kesadaran penuh atas hak khusus untuk melakukannya
d)   Hadir dalam cara yang bermakna bagi orang lain.
2)   Mendukung praktik keagamaan
3)   Membantu klien berdoa,
4)   Merujuk klien utuk konseling spiritual.
F.        Asuhan Keperawatan Pada Pasien Menjelang Ajal
1.    Pengkajian
Untuk mendapatkan data dasar lengkap yang memungkinkan analisis akurat dan identifikasi diagnosis keperawatan yang tepat untuk klien menjelang ajal dan keluarga mereka, perawat pertama kali perlu mengetahui status pemahaman yang ditunjukkan oleh klien dan anggota keluarga, yaitu tidak memiliki pemahaman, keadaan saling berpura-pura dan pemahaman terbuka.
Pada saling berpura-pura, klien, keluarga, dan personel kesehatan tahu bahwa prognosis menunjukkan penyakit terminal tetapi tidak membicarakannya dan berusaha untuk tidak memunculkan subjek tersebut. Pada pemahaman terbuka, klien dan orang di sekitarnya mengetahui tentang kematian yang akan datang dan merasa nyaman mendiskusikannya, walaupun terasa sulit. Dalam tidak memiliki pemahaman, klien tidak menyadari kematian yang akan datang. Keluarga mungkin tidak sepenuhnya memahami mengapa klien sakit dan mereka percaya bahwa klien akan pulih. Dokter meyakini bahwa hal terbaik adalah tidak mengomunikasikan diagnosis atau prognosis kepada klien. Personel keperawatan dihadapkan dengan masalah etik dalam situasi ini. (Kozier, 2010, p. 570).
Wawancara pengkajian pada keluarga atau orang terdekat:
a.    Pernahkan Anda dekat dengan seseorang yang sebelumnya menjelang ajal?
b.      Apa yang pernah dikatakan kepada Anda mengenai seseuatu yang mungkin terjadi apabila terjadi kematian?
c.       Apakah Anda mempunyai pertanyaan mengenai apa yang mungkin terjadi di saat kematian?
d.      Menurut Anda bagaimana Anda akan mengatakan selamat tinggal?
e.       Bagaimana Anda merawat diri sendiri selama masa ini?
f.       Kepada siapa Anda meminta bantuan dalam masa ini?
g.      Apakah ada orang yang ingin Anda hubungi melalui saya saat ini atau saat kematian terjadi?
Asuhan keperawatan dan dukungan untuk klien yang menjelang ajal dan keluarga terdiri atas membuat pengkajian akurat mengenai tanda-tanda fisiologi menjelang ajal. Selain tanda-tanda yang berhubungan dengan penyakit spesifik klien, tanda-tanda fisik tertentu lainnya dapat mengindikasikan keadaan menjelang ajal. Empat karakteristik utama perubahan adalah kehilangan tonus otot, perlambatan sirkulasi, perubahan respirasi, kerusakan sensori. (Kozier, 2010)
Potter & Perry (2005) menjelaskan tanda kematian berdasarkan respon fisiologis pada masa saat kematian dan setelah kematian, serta respon psikologis yang mungkin muncul pada klien menjelang ajal.
Saat kematian mendekat, perawat membantu keluarga dan orang terdekat lain untuk mempersiapkan diri. Bergantung sebagian pada pengetahuan mengenai status pemahaman seseorang, perawat memberi pertanyaan yang membantu mengidentifikasi cara-cara untuk menyediakan dukungan selama periode sebelum dan sesudah kematian. Terutama, perawat perlu mengetahui apa yang keluarga harapkan akan terjadi saat seseorang meninggal sehingga informasi akurat dapat diberikan dengan kedalaman yang tepat. Saat anggota keluarga mengetahui apa yang diharapkan mereka mungkin mampu mendukung orang yang menjelang ajal dan orang lain yang berduka. Selain itu, mereka mungkin mampy membuat keputusan tertentu mengenai kejadian disekitar kematian seperti apakah mereka ingin melihat jenazah klien atau tidak.
Menurut Hegner (2003, p. 461), saat kematian mendekat terdapat beberapa perubahan fisik yang dapat dikaji, antara lain:
1)      Pasien kurang responsif
2)      Fungsi tubuh melambat
3)      Pasien kehilangan kontrol otot volunter dan involunter
4)      Pasien berkemih dan defekasi dengan tidak sengaja
5)      Rahang cenderung jatuh
6)      Pernapasan tidak teratur dan dangkal
7)      Sirkulasi melambat dan ekstremitas dingin. Nadi cepat dan melemah dengan progresif
8)      Kulit memucat
9)      Mata membelalak dan tidak berespon terhadap cahaya
10)  Pendengaran adalah indera yang terakhir hilang, jadi pada pasien muslim perawat harus membimbing pasien dengan mentalqinkannya.
2.    Diagnosa
      Berbagai diagnosis keperawatan, untuk memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologis, dapat disusun untuk klien menjelang ajal, bergantung pada data pengkajian. Diagnosa yang khususnya tepat untuk klien menjelang ajal adalah:
a.       Ketakutan berhubungan dengan ancaman kematian (proses sekarat)
b.      Keputusasaan berhubungan dengan penyakit terminal
c.       Ketidakberdayaan
d.      Resiko ketegangan peran pemberi asuhan
e.       Gangguan proses keluarga
f.       Berduka berhubungan dengan kematian
3.    Intervensi Keperawatan
Tujuan utama untuk klien menjelang ajal adalah:
a.       Mempertahankan kenyamanan fisiologis dan psikologis
b.      Mencapai kematian yang damai dan bermartabat atau terhormat
c.       Membantu mengurangi depresi dan ketakutan pasien
d.      Mempertahankan harapan dan membantu pasien menerima kenyataan
      Marelli (2007, p. 345-346), juga merumuskan beberapa tujuan dan kriteria hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien yang menjelang ajal, antara lain sebagai berikut:
1)      Mobilitas fungsi dan ambulasi dipertahankan (jika memungkinkan)
2)      Dukungan diberikan kepada pasien dan keluarga dalam melewati kematian
3)      Pasien menjalani kematian secara terhormat, dengan kehadiran seseorang yang dicintainya, jika memungkinkan
4)      Pasien meninggal dengan tenang
5)      Pasien mengungkap kontrol terhadap atau pengurangan ansietas
6)      Pasien secara aktif berpartisipasi dalam pengambilan keputusan tentang perawatan dan aktivitas sehari-hari
7)      Martabat dan privasi pasien dihargai, serta perawatan diri dan ADL diberikan.
Intervensinya:
a)      Beri dukungan dan kembalikan kontrol diri pasien dengan cara mengatur tempat perawatan, mengatur kunjungan, jadwal aktivitas dan penggunaan sumber pelayanan kesehatan.
b)   Bantu pasien mengatasi kesepian, depresi dan rasa takut
c)    Bantu pasien mempertahankan rasa nyaman,percaya diri dan harga diri
d)   Bantu pasien mempertahankan harapan yang dimiliki
e)    Bantu pasien menerima kenyataan
f)    Penuhi kebutuhan fisiologis
g)   Beri dukungan spiritual dengan memfasilitasi kegiatan spiritual pasien
h)   Tingkatkan suatu hubungan saling percaya
      Wilkinson (2006, p. 29), menyatakan terdapat beberapa tindakan yang dapat diberikan kepada pasien yang menjelang ajal yaitu:
1)      Dukung kebutuhan spiritual pasien tanpa menekankan kepercayaan diri perawat pada pasien
2)      Atur akses ke pendeta atau penasehat spiritual sesuai dengan yang diinginkan pasien
3)      Gunakan keterampilan komunikasi terapeutik untuk membangun hubungan saling percaya dan memfasilitasi ekspresi dari kebutuhan pasien
4)      Dengarkan pasien dengan penuh perhatian
5)      Berikan kenyamanan fisik dan keamanan.
4.      Evaluasi
Untuk menevaluasi pencapaian tujuan klien, perawat mengumpulkan data yang sesuaidengan hasil yang telah dibuat dalam fase perencanaan. Aktivitas evaluasi dapat terdiri atas:
a.    Mendengarkan laporan klien mengenai perasaan dapat mengontrol lingkungan di sekitar kematian, seperti mengontrol pereda nyeri, didatangi keluarga dan orang pendukung, atau rencana penanganan.
b.    Mengobservasi hubungan klien dengan orang terdekat
Mendengarkan pikiran dan perasaan klien berkenaan dengan keputusasaan atau ketidakberdayaan.

DAFTAR PUSTAKA
Hamid, A .Y.S. (2008).Bunga rampai Asuhan Keperawatan Jiwa.Jakarta : EGC
Hawari, D. (2007). Doa dan zikir sebagai Pelengkap Terapi Medis. Jakarta :  Penerbit FKUI
Herger, B.R. 2003. Asisten Keperawatan: Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Ed. 6. Jakarta: EGC
Kozier, B. et al. 2010. Buku ajar fundamental keperawatan: konsep, proses, dan praktik. Vol.2. (Pamilih Eko K., et. al., Penerjemah). Jakarta: EGC
Potter & Perry (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 4 Volume 1. Jakarta: EGC

No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat