google adsense

Monday, August 7, 2017

Proses Keperawatan Keluarga

Proses keperawatan keluarga berbeda-beda bergantung pada siap yang menjadi focus keperawatan. Perbedaan ini bergantung pada konsep perawat tentang keluarga dalam praktiknya. Jka perawat memandang keluarga sebagai latar belakang atau konteks individu pasien, individu anggota keluarga menjadi foskus dan proses keperawatan berorientasi pada individu. Namun, apabila perawat mengartikan keluarga sebagai suatu unit perawatan, maka keluarga sebagai unit atau system sebagai focus walaupun proses disitu sendiri tidak berbeda. (Friedman, Bowden & Jones, 2010)
Asuhan keperawatn keluarga keluarga merupakan proses yang kompleks dengan menggunakan pendekatan sistematis untuk bekerja sama dengan keluarga dan individu sebagai anggota keluarga. (Mubarak, 2010). Tahapan dari proses keperawatan keluarga adalah sebagai berikut:
1.      Pengkajian keluarga dan individu di dalam keluarga. Pengkajian keluarga dilakukan dengan cara mengidentifikasi data demografi, data social cultural, data lingkungan, struktur keluarga, fungsi keluarga, stress dan koping yang digunakan keluarga, serta perkembangan keluarga. Sedangkan pengkajian terhadap individu sebagai anggota keluarga meliputi: pengkajian fisik, mental, emosional, social, dan spiritual.
2.      Analisa data
3.      Perumusan diagnosis keperawatan.
4.      Prioritas masalah kesehatan keluarga
5.      Penyusunan perencanaan.
6.      Pelaksanaan asuhan keperawatan.
7.      Evaluasi.
1.      PENGKAJIAN
a.       Definisi
Pengkajian merupakan tahapan terpenting dalam proses keperawatan, mengingat pengkajian sebagai awal begi keluarga untuk mengidentifikasi data-data yang ada pada keluarga. Pengkajian adalah proses sistematis dari pengumpulan, verivikasi dan komunikasi data tentang klien. (Potter & Perry, 2005).
Sedangkan menurut Suprajitno, (2004; 29), Pengkajian merupakan suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan informasi secara terus menerus tentang keluarga yang di binanya. Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga. Agar diperoleh data pengkajian yang akurat dan sesuai dengan keadaan keluarga, perawat diharapkan menggunakan bahasa ibu (yang digunakan setiap hari), lugas, dan sederhana.
Secara garis besar data dasar yang dipergunakan mengkaji status keluarga adalah:
1)      Struktur dan karakteristik keluarga
Yakni komposisi keluarga dan data demografi, tipe keluarga dan struktur keluarga, pola pengambilan keputusan, hubungan interpersonal, pola interaksi, dan pola komunikasi atau proses mempengaruhi hubungan keluarga, (seperti: mengekspresikan perasaan atau emosi ditunjukkan dengan motivasi berkumpul atau berpisah, missal ketika ada konflik/masalah), efektivitas dan efisiensi proses komunikasi sebagai peran dalam keluarga, kesehatan tiap anggota keluarga, serta system integritas keluarga.
2)      Karakteristik social, ekonomi, dan budaya
Yakni pekerjaan, tempat kerja, dan pendapatan setiap anggota keluarga yang bekerja; pendidikan yang diperoleh tiap anggota keluarga, latar belakang etnik dan agama; tradisi/kebiasaan keluarga, kegiatan atau latihan  yang mempengaruhi kesehatan anggota keluarga atau fungsi keluarga; orang terdekat lainnya dan orang yang berperan penting dalam kehidupan keluarga; serta hubungan keluarga dengan komunitas yang lebih besar.
3)      Faktor rumah dan lingkungan
Yakni informasi tentang tempat tinggal serta fasilitas penjagaan kesehatan/kebersihan; tipe masyarakat/tetangga dan kemampuan bersosialisasi, kesehatan, komunikasi dan fsilitas transportasi.
4)      Riwayat kesehatan dan medis dari setiap anggota keluarga
Yakni kondisi kesehatan saat ini dan riwayat kesehatan/kesakitan masa lalu, kepercayaan atau kegiatan yang menimbulkan kesehatan/kesakitan, nutrisi dan status tahap perkembangan, hasil pengkajian fisik dan hasil tes laboratorium/tes diagnostic/prosedur screening.
5)      Psikososial keluarga, nilai-nilai dan praktik promosi/ mempertahankan kesehatan, dan pencegahan penyakit.
Yakni usaha promotif atau preventif (mis status imunisasi) dari anggota keluarga yang beresiko dan usaha melakukan gaya hidup yang sehat, kepatenan/adekuat dari istirahat/tidur, olahraga, aktivitas rekreasi, mnajemen stress atau latihan gaya hidup sehat lainnya.


b.      Tahapan-tahapan Pengkajian
Untuk mempertahankan perawat keluarga saat melakukan pengkajian, digunakan istilah penjajakan pertama dan penjajakan kedua (Friedman, 1998; Maglaya, 2009)
1)      Penjajakan pertama
     Data-data yang dikumpulkan pada penjajakan pertama anatara lain adalah data umum, lingkungan, struktur keluarga, fungsi keluarga, stress dan koping keluarga, harapan keluarga, data tambahan, dan pemeriksaan fisik. Dari hasil pengumpulan data tersebut maka akan dapat diidentifikasi masalah kesehatan keluarga.
2)      Penjajakan kedua
Pengkajian yang tergolong kedalam pengkajian kedua diantaranya pengumpulan data-data yang berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan sehingga dapat ditegakkan diagnosa keperawatan keluarga, adapun ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah diantaranya adalah:
a)Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan.
b)      Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan.
c)Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.
d)     Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan, dan
e)Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan.
c.       Metode dan sumber data pengkajian
Terdapat beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipilih oleh perawat, berdasarkan dari sumber-sumber yang tersedia seperti materi, tenaga kerja, waktu, dan fasilitas. Dalam pemilihan metoda harus mempertimbangkan keakuratannya, validitasnya, reliabilitasnya, dan keadekuatan dari data pengkajain. Rendahnya kualitas, tidak akurat, dan tidak adekuat data dapat mengakibatkan katidakakuratan dari definsi masalah kesehatan dan keperawatan, yang bias menyebabkan rendahnya desain dari rencana asuhan keperawatan. Untuk memastikan kualitas dari data pengkajian, sebuah kombinasi dari beberapa metoda dan sumber bias melakukan cross-check dan validasi data (Maglaya, 2009).
Pengumpulan data keluarga berasal dari berbagai sumber yaitu wawancara klien tentang peristiwa yang lalu dan saat ini, temuan objektif (mis: observasi rumah keluarga dan fasilitasnya), penilaian subjektif (mis: pengalaman yang dilaporkan anggota kelarga), informasi tertulis dan lisan dari rujukan, berbagai agensi yang bekerja dengan keluarga, adan anggota tim kesehatan lain (Friedman, Bowden & Jones, 2010).
Menurut Maglaya (2009), terdapat beberapa metoda yang sering digunakan untuk mendapatkan data tentang keluarga, status kesehatan, dan fungsi keluarga yaitu:
1)      Observasi
Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan melibatkan seluruh indera/saraf sensori seperti penglihatan, pendengaran, penciuman dan perabaan. Lewat pengamatan langsung, perawat mengumpulkan informasi tentang keadaan keluarga dan respon perilaku. Statur kesehatan keluarga dapat disimpulakan dari tanda dan gejala dari masalah yang ditunjukkan dari berikut ini:
a)      Komunikasi, pola interaksi dan harapan hubungan interpersonal, kebiasaan dan toleransi anggota keluarga.
b)      Persepsi peran/ asumsi tugas keluarga oleh tiap anggota kelaurga, termasuk pola pengambilan-keputusan.
c)      Kondisi factor lingkungan dan rumah.
2)      Pememriksaan fisik
Data signifikan terkait status kesehatan seorang anggota keluarga dapat didapatkan lewat pemeriksaan fisik langsung. Hal ini dilakukan melalui inspeksi, palapsi, perkusi dan auskultasi.
3)      Wawancara
Metode pengumpulan data berikutnya ialah dengan wawancara. Tipe wawancara pertama yakni dengan mengumpulkan riwayat kesehatan keluarga. Riwayat kesehatan merujuk pada status kesehatan masa kini yang didapat berdasarkan riwayat kesehatan masa lalu (gangguan perkembangan, pengetahuan tentang penyakit, alergi, perawatan restorative, dll); riwayat keluarga (genetic dan keturunan yang berhubungan dengan kesehatan/kesakitan); riwayat social, dll.
Tipe wawancara kedua ialah dengan mengumpulkan data dengan menanyakan secara personal kepada anggota keluarga tentang pertanyaan yang berkaitan dengan kesehatan, pengalaman/ gaya hisup keluarga, lingkungan tempat tinggal untuk menyimpulkan data tentang kondisi apa yang sedang dihadapi dan masalah kesehatan apa yang ada pada keluarga.
4)      Record review
Perawat dapat mengumpulkan informasi dengan melihat rekaman medis yang ada dan laporan klien. Dalam hal ini juga termasuk rekam medis anggota keluarga, hasil laboratorium dan laporan hasil diagnostic, riwayat imunisasi, laporan tentang kondisi rumah dan lingkungan, atau sumber yang sejenisnya.
5)      Laboratorium/tes diagostik
Metode pengumpulan data lainnya ialah dengan menampilkan tes laboratorium, prosedur diagnostic, atau tes lainnya yang dilakukan perawat itu sendiri atau petugas kesehatan lainnya.
d.      Teknik Pengkajian
Menurut Mubarak 2009, pada tahap ini hal-hal yang dikaji dalam keluarga adalah:
1)      Data Umum, meliputi:
a)      Nama kepala keluarga, umur, alamat, dan telepon jika ada, pekerjaan dan pendidikan kepala, komposisi keluarga yang terdiri atas nama/inisial, jenis kelamin, tanggal lahir/umur, hubungan dengan kelapa keluarga, status imunisasi dari masing-masing anggota keluarga, dan genogram.
b)      Genogram keluarga
Genogram keluarga merupakan sebuah diagram yang menggambarkan konstelasi atau pohon keluarga dan genogram ini merupakan suatu alat pengkajian informative yang digunakan untuk mengetahui keluarga dan riwayat keluarga, serta sumber-sumbernya. (Friedman, Bowden & Jones, 1998 & 2010)
Wright dan Leahey  (2000) dalam Friedman, Bowden dan Jones (2010) menjelaskan metode dasar yang terlibat dalam pencatatan data keluarga pada genogram keluarga yaitu anggota keluarga ditempatkan pada baris horizontal yang menunjukkan garis generasi. Anak-anak diurutkan dari kiri ke kanan dimulai dari anak yang tertua. Kemudian, tiap individu dalam keluarga disajikan. Disarankan pertanyaan tentang keluarga dekat yang pertama kali diajukan adalah nama, usia, jenis kelamin anggota keluarga.
Grafik genogram memperlihatkan informasi tentang anggota keluarga dan hubungan anggota keluarga paling kurang tiga generasi. Teori system keluarga dari Bowen (dalam Maglaya 2009) digunakan sebagai kerangka konsep untuk membangun dan menganalisis pola genogram (informasi struktur, hubungan, dan fungsi tentang keluarga) digambarkan potongan horizontal sebagai konteks keluarga dan vertical sebagai generasi. Luasnya konteks keluarga memperlihatkan bahwa keterkaitan anggota keluarga inti dan keluarga besar sebagai non-anggota keluarga yang berpengaruh yang pernah hidup dengan keluarga atau memainkan peran utama dalam kehidupan keluarga, termasuk kekuatan keluarga,  dan kerentanan dalam kaitannya dengan keseluruhan situasi.
Anggota keluarga diwawancara tentang situasi sekarang yang berkaitan dengan tema, mitos, aturan, dan isu-isu emosiaonal dari generasi sebelumnya, menunjukkan kemungkinan hubungan antara acara keluarga. Pola penyakit terdahulu dan sebelumnya bergantian dalam hubungan keluarga yang dibawa melalui perubahan dalam struktur keluarga dan perubahan hidup yang penting lainnya dapat dengan mudah untuk dicatat pada genogram, menyediakan sumber yang kaya informasi tentang apa yang menyebabkan perubahan dalam keluarga tertentu (McGoldrick dan Gerson dalam Maglaya, 2009).
Aturan yang harus dipenuhi dalam pembuatan genogram:
a.       Anggota keluarga yang lebih tua berada di sebelah kiri
b.      Umur anggota keluarga ditulis pada symbol laki-laki atau perempuan
c.       Tahun dan penyebab kematian ditulis di sebelah atau dibawah symbol laki-laki atau perempuan
d.      Penggunaan symbol dalam genogram
genogram.jpg
Symbol-simbol pola interaksi keluarga yang harus diketahui oleh perawat (maglaya, 2009):
1)      Hubungan yang sangat dekat :
 


2)      Konflik hubungan: 
 


3)      Hubungan jauh:

 


4)      Ketegangan atau cut off:
(buat tanggal jika memungkinkan)
 


5)      Tergabung dan konflik:

c)      Tipe keluarga, menjelaskan jenis tipe keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi dengan jenis tipe keluarga tersebut.
d)     Suku bangsa, atau latar belakang budaya (etnik), mengkaji asal suku bangsa keluarga tersebut, serta mengidentifikasi budaya suku bangsa terkait dengan kesehatan.
                                                           i.            Latar belakang etnik keluarga atau anggota keluarga.
                                                         ii.            Tempat tinggal keluarga bagaimana (uraikan bagian dari sebuah lingkungan yang secara etnik bersifat homogeny)
                                                       iii.            Kegiatan-kegiatan social budaya, rekreasi dan pendidikan. Apakah kegiatan ini ada dalam kelompok kultur atau budaya keluarga.
                                                       iv.            Kebiasaan-kebiasaan diet dan berbusana, baik tradisional atau modern.
                                                         v.            Bahasa yang digunakan didalam keluarga.
                                                       vi.            Penggunaan jasa pelayanan kesehatan keluarga dan praktisi. Apakah keluarga mengunjungi praktik-praktik pelayanan kesehatan tradisional atau mempunyai kepercayaan tradisional dalam bidang kesehatan.
e)      Agama, mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta kepercayaan yang dapat memengaruhi kesehatan seperti:
                                                           i.            Apakah ada anggota keluarga yang berbeda dalam keyakinan beragamanya.
                                                         ii.            Bagaimana keterlibatan keluarga dalam kegiatan agama atau organisasi keagamaan.
                                                       iii.            Agama yang dianut oleh keluarga.
                                                       iv.            Keercayaan-kepercayaan dan nilai-nilai keagamaan  yang dianut dalam kehidupan keluarga, terutama dalam hal kesehatan.
f)       Status social ekonomi keluarga, yng ditentukan dari pendapatan, baik dari kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya. Selain itu, status social ekonomi keluarga ditentukan pula oleh kebtuhan-kebituhan yang dikeluargak oleh keluarga serta barang-barang yang dimiliki oleh keluarga, seperti:
                                                           i.            Jumlah pendapatan per bulan.
                                                         ii.            Sumber-sumber pendapatan per bulan.
                                                       iii.            Jumlah pengeluaran per bulan.
                                                       iv.            Apakah sumber pendapatan mencukupi kebutuhan keluarga.
                                                         v.            Bagaimana keluarga mengatur pendapatan dan pengeluarannya.
g)      Aktivitas rekreasi keluarga dan waktu luang, rekreasi keluarga tidak hanya dilihat kapan keluarga pergi bersama-sama untuk mengunjungi tempat rekreasi, namun dengan menonton TV dan mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi, selain itu perlu dikaji pula penggunaan waktu luang atau senggang keluarga.
2)      Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
Tahap perkembangan keluarga adalah pengkajian keluarga berdasarkan tahap kehidupan keluarga. Menurut Duvall, tahap perkembangan keluarga ditentukan dengan anak tertua dari keluarga inti dan mengkaji sejauh mana keluarga melaksanakan tugas tahapan perkembangan keluarga. Sedangkan riwayat keluarga adalah mengkaji riwayat kesehatan keluarga inti dan riwayat kesehatan keluarga.
a)      Tahap perkembangan keluarga saat ini, ditentukan oleh anak tertua dari keluarga inti.
b)      Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi, menjelaskan bagaimana tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta kendalanya.
c)      Riwayat keluarga inti, menjelaskan riwayat kesehatan keluarga inti, meliputi riwayt penyakit keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota dan sumber pelayanan yang digunakan keluarga seperti perceraiana, kematian, dan keluarga yang hilang.
d)     Riwayat keluarga sebelumnya, keluarga asal kedua orang tua (seperti apa kehidupan keluarga asalnya) hubungan masa silam dan saat dengan orang tua dari kedua orang tua.
3)      Pengkajian Lingkungan
a)      Karakteristik rumah
Diidentifikasi dengan melihat luas rumah, tipe rumah, jumlah ruangan, jumlah jendela, pemanfaatan ruangan, peletakan perabotan rumah, sumber air, pembuangan sampah, dan denah.
b)      Karakteristiklingkungan dan komunitas tempat tinggal
Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga dan komunitas setempat yang meliputi kebiasaan, lingkungan fisik, aturan atau kesepakatan penduduk setempat, budaya yang memengaruhi kesehatan, sumber air, polusi, mayoritas pekerjaan masyarakat, transportasi umum, keamanan, akses fasilitas umum dan pelayanan kesehatan.
c)      Mobolitas geografis keluarga
Mobilitas geografis keluarga yang ditentukan dengan kebiasaan keluarga berpindah tempat, lama keluarga tinggal di daerah ini, atau apakah sering mempunyai kebiasaan berpindah-pindah tempat tinggal.
d)     Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Menjelaskan waktu yang digunakan keluarga keluarga untuk berkumpul serta perkumpulan keluarga yang ada.
e)      System pendukung keluarga, meliputi:
                                                        i.            Jumlah anggota keluarga yang sehat, fasilitas yang dimiliki keluarga untuk menunjang kesehatan yang meliputi fasilitas fisk dan psikologis.
                                                      ii.            Sumber dukungan dari anggota keluarga dan fasilitas social atau dukungan masyarakat setempat, lembaga pemerintah, maupun swasta/LSM.
                                                    iii.            Jaminan pemeliharaan kesehatan yang dimiliki keluarga.

4)      Struktur Keluarga
Struktur pesan yang menjeaskan peran masing-masing anggota keluarga secara formal maupun informal baik di keluarga atau masyarakat (Suprajitno, 2004; 33).
a)      Pola komunikasi keluarga
Menjelaskan bagaimana cara keluarga berkomunikasi, siapa pengambil keputusan utama, dan bagaimana peran anggota keluarga dalam menciptakan komunikasi. Perlu dijelaskan pula hal-hal apa saja yang juga mempengaruhi komunikasi keluarga. Pola komunikasi keluarga juga menjelaskan cara berkomunikasi antar anggota keluarga termasuk pesan yang disampaiakan, bahasa yang digunakan, komunikasi secara langsung atau tidak, pesan emosional (positif/negative), frekuensi, dan kualitas komunikasi yang berlangsung. Adakah hal-hal yang tertutup dalam keluarga untuk didiskusikan.
b)      Struktur kekuatan keluarga
Menjelaskan kemempuan keluarga untuk memengaruhi dan mengendalikan anggota keluarga untuk mengubah perilaku yang berhubungan dengan kesehatan.
(1)   Keputusan dalam keluarga, siapa yang membuat, yang memutuskan dalam keuangan, pengambilan keputusan dalam pekerjaan atau tempat tinggal, serta siapa yang memutuskan kegiatan dan kedisiplinan anak-anak.
(2)   Model kekuatan atau kekuasaan yang digunakan keluarga dalam membuat keputusan.
c)      Struktur peran
Menjelaskan peran dari masing-masing anggota keluarga, baik secara formal maupun informal.
(1)   Peran formal, posisi dan peran formal pada setiap anggota kelurga (gembarkan bagaimana setiap anggota keluarga melakukan peran masing-masing) dan apakah ada konflik peran dalam keluarga.
(2)   Peran informal, adalah peran informal dalam keluarga, siapa yang memainkan peran tersebut, berapa kali dan bagaimana peran tersebut dilaksanakan secara konsisten
(3)   Analisi model peran, siapa yang menjadi model dalam menjalankan peran di budaya masyarakat, bagaimana agama membegi pembagian peran keluarga, apakah peran yang dijalankan sesuai tahap perkembangannya, bagaimana masalah kesehatan mempengaruhi peran keluarga, adakah peran baru, bagaimana anggota keluarga menerima peran baru, respon kelurga yang sakit terhadap perubahan peran atau hilangnya peran, serta apakah ada konflik akibat peran.
d)     Nilai atau norma keluarga
Menjelaskan nilai atau norma yang dipelajari dan dianut oleh keluarga yang berhubungan dengan kesehatan. Mengenai nilai norma yang di anut kelurga dengan kelompok atau kemunitas. Apakah sesuai dengan nilai norma yang dianut, seberapa penting nilai yang dianut, apakah nilai yang dianut secara sadar atau tidak, apakah konflik niai yang menonjol dalam kelurga, bagaimana latar belakang budaya yang mempengaruhi nilai-nilai kelurga , serta bagaimana nilai-nilai kelurga memengaruhi status kesehatan keluarga.
5)      Fungsi Keluarga
a)      Fungsi efektif
(1)   Pola kebutuhan keluarga. Apakah anggota keluarga merasakan kebutuhan individu lain dalam keluarga, apakah orang tua mampu menggambarkan kebutuhan mereka, bagaimana psikologi keluarganya, apakah setiap anggota keluarga memiliki orang yang dipercaya dalam keluarga, apakah dalam keluarga saling menghormati satu sama lainnya, apakah setiap anggota keluarga sensitive terhadap persoalan individu.
(2)   Mengkaji gambaran dari anggota keluarga. Perasaan memiliki dan dimiliki keluarga, dukungan keluarga terhadap anggota keluarga yang lainnya, kehangatan pada keluarga, serta keluarga mengembangkan sikap slaing menghargai.
(3)   Keterpisahan dan keterkaitan. Bagaimana keluarga menghargai keterpisahan dengan anggota keluarga yang lain, apakah keluarga merasa adanya keterkaitan yang erat antara anggota keluarga satu dengan anggota keluarga lain.
b)      Fungsi sosialisasi
Menjelaskan tentang hubungan anggota keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar tentang disiplin, nilai, norma, budaya, dan prilaku yang berlaku dikeluarga dan masyarakat.
c)      Fungsi perawatan kesehatan
Sejauh mana keluarga menyediakan makanan, pakaian, dan perlindungan terhadap anggota yang sakit. Pengetahuan keluarga mengenai konsep sehat sakit. Kesanggupan keluarga melakukan pemenuhan tugas perawatan keluarga.
(1)   Mengenal masalah kesehatan
Sejauh mana keluarga mengenal fakta-fakta dari masalah kesehatan meliputi, pengertian, tanda dan gejala, penyebab dan yang mempengaruhi, serta persepsi keluarga terhadap masalah.
(2)   Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang tepat
Sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya maslah, apakah masalah dirasakan, menyerah terhadap masalah yang dialami, takut akan akibat dari tindakan penyakit, dapat menjangkau fasilitas kesehatan yang ada, dan kurang percaya terhadap tenaga kesehatan.
(3)   Merawat anggota keluarga yang sakit
Sejauh mana keluarga mengetahui keadaan penyakitnya, mengetahui tentang sifat dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan, mengetahui sumber-sumber yang ada dalam keluarga, mengetahui keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk perawatan dan sikap keluarga terhadap sakit.
(4)   Memelihara lingkungan rumah yang sehat
Sejauh mana mengetaui sumber-sumber keluarga yang dimiliki, manfaat pemeliharaan lingkungan, mengetahui pentingnya hygiene sanitasi.
(5)   Menggunakan fasilitas atau pelayanan kesehatan dimasyarakat
Apakah keluarga memahami keuntungan yang diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat kepercayaan keluarga terhadappetugas kesehatan dan fasilitas kesehatan tersebut terjangkau oleh keluarga.
d)     Fungsi Reproduksi
Mengkaji berapa jumlah anak, merencanakan jumlah anggota keluarga, serta metode apa yang digunakan keluarga dalam mengendalikan jumlah anggota keluarga. Perlu juga diuraikan bagaimana keluarga menjelaskan kepada anggota keluarga tentang pendidikan seks yang dini dan benar kepada anggota keluarganya.
e)      Fungsi ekonomi
Menjelaskan bagaimana upaya keluarga dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan serta pemanfaatan lingkungan rumah untuk meningkatkan penghasilan keluarga. Juga diuraikan kemampuan keluarga dalam pemanfaatan sumber yang ada di masyarakat sekitar untuk meningkatkan status kesehatannya.
6)      Stress dan koping keluarga
a)      Stressor jangka pendek dan panjang
Stressor jangka pendek adalah stressor yang dialami keluarga dan memerlukan waktu penyelesaian lebih kurang 6 bulan. Stressor jangka panjang adalah stressor yang dialami keluarga dan memerlukan waktu penyelesaian lebih dari 6 bulan.
b)      Strategi koping keluarga
Kemampuan keluarga berespons terhadap stressor menjelaskan bagaimana keluarga berespons terhadap stressor yang ada. Strategi koping yang digunakan menjelaskan tentang strategi koping (mekanisme pembelaan) terhadap stressor yang ada.  Mengkaji  bagaimana reaksi keluarga terhadap stressor, strategi koping internal, strategi koping eksternal, dan strategi koping disfungsional (saat ini & masa lalu, tingkat penggunaan koping).
c)      Adaptasi keluarga
Mengkaji adaptasi keseluruhan keluarga, dan krisis keluarga. Disfungsi strategi adaptasi menjelaskan tentang perilaku keluarga yang tidak adaptif ketika mempunyai masalah.
7)      Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga. Pemeriksaan fisik yang dilakukan tidak jauh berbeda dengan pemeriksaan fisik pada klien di klinik (rumah sakit) meliputi pengkajian kebutuhan dasar individu, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penujang yang perlu.
8)      Harapan keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga terhadap petugas kesehatan (perawat)  yang ada, untuk membantu menyelesaikan masalah kesehatan yang terjadi.
2.      Analisa Data
a.       Pengertian
      Analisa data adalah kemampuan kognitif dalam pengembangan daya berfikir dan penalaran yang dipengaruhi oleh latar belakang ilmu pengetahuan, pengalaman, dan pengertian dalam keperawatan.
      Analisa data adalah kemampuan mengkaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan konsep, teori, prinsip-prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dari kesenjangan atau masalah kesehatan dan keperawatan yang ditemukan.
b.      Fungsi analisa
1)      Untuk mengiterpretasikan data keperawatan dan kesehatan yang diperoleh dari berbagai sumber, sehingga data yang diperoleh memiliki makna dan arti dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan serta kebutuhan kesehatan masyarakat.
2)      Sebagai alat pengambil keputusan dalam menentukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi oleh masyarakat.
c.       Pedoman analisa data
1)      Menyusun kategorisasi data secara sistematis dan logis
2)      Identifikasi kesenjangan data
3)      Menyusun pola alternatif pemecahan masalah
4)      Menerapkan teori, model, kerangka kerja, norma dan standar yang kemudian dibandingkan dengan data dan kesenjangan yang ditemukan
5)      Identifikasi kemampuan dan sumber daya masyarakat yang dapat menunjang asuhan perawatan kesehatan masyarakat
6)      Membuat hubungan sebab akibat antara data dengan masalah yang diambil
d.      Cara analisa data
1)      Validasi data dengan cara meneliti kembali data yang terkumpul
2)      Mengklasifikasi data
3)      Bandingkan dengan standar dan kriteria
4)      Buat kesimpulan tentang kesenjangan (masalah) yang ditemukan
Menurut setiawati dan Dermawan (2008), analisa data merupakan kegiatan pemilihan data dalam rangka proses klarifikasi dan validasi informasi untuk mendukung penegakan diagnose keperawatan keluarga yang akurat. Selain itu, data juga direview dengan menghubungkan antara penyebab dan masalah yang di tegakkan; dan menghubungkan data dari pengkajian yang berpengaruh kepada munculnya masalah.
Data subyektif.
1)   Ny. N belum pernah mendapatkan informasi perawatan masa nifas.
2)   Ny. N mengatakan bahwa ia tidak tahu bagaimana masa nifas yang normal.
3)   Ny. N mengatakan bahwa proses melahirkan di bantu rukun beranak.
4)   Ny. N mengeluh pusing.
5)   Ny. N mengatakan agak takut kalua mau bergerak.
   Data objektif
1)   Ny. N terlihat bingung saat dilakukan pengkajian.
2)   Ny. N terlihat banyak bertanya mengenai masalah nifas.
3)   Ny. N masa nifas minggu pertama.

Norma-norma standar yang digunakan dalam menentukan status keluarga sebagai klien/pasien dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis (maglaya, 2009) yaitu:
1)      Kesehatan normal dari masing-masing anggota keluarga.
Melibatkan kesejahteraan fisik, sosial dan emosional dari setiap anggota keluarga.
2)      Rumah dan lingkungan yang kondusif untuk pengembangan kondisi kesehatan.
Kondisi rumah dan lingkungan mencakup lingkungan fisik, psikologis, sosial budaya. Sebuah lingkungan mempertimbangkan tipe dan kualitas dari rumah, ruang hidup yang adekuat, fasiliotas dan sumber sanitasi yang adekuat baik di dalam rumah maupun masyarakat, jenis lingkungan sekitar, norma psikologis/sosial- budaya, nilai-nilai, harapan atau cara hidup yang meningkatkan pembangunan kesehatan dan mencegah atau mengendalikan factor-faktor resiko dan berbahaya.
3)      Karakteristik keluarga, dinamika atau tingkat dari fungsi yang kondusif terhadap pertumbuhan dan perkembangan keluarga.
Karakteristik keluarga merupakan kemampuan klien sebagai sebuah sistem untu menjaga integritas batas dan mencapai tujuannya melalui pertukaran dinamis antara anggotanya, ketika menanggapi lingkungan multi-eksternal di sepanjang waktu.
Karakteristik dari fungsi keluarga yang sehat menggambarkan sebagai pola peran yang fleksibel, responsive terhadap kebutuhan masing-masing anggota, mekanisme pemecahan masalah yang dinamis, kemampuan untuk menerima bantuan, pola komunikasi terbuka, pengalaman terhadap kepercayaan dan rasa hormat dalam suasana hangat dan penuh perhatian dan mempunyai kapasitas untuk mempertahankan dan menciptakan hubungan yang konstruktif dengan lingkungan dan masyarakat yang lebih luas.

3.      Diagnosa Keperawatan
a.       Pengertian
Diagnose keperawatan adalah keputusan klinis mengenai individu, keluarga, atau masyarakat yang diperoleh melalui suatu proses pengumpulan data dan analisa data secara cermat, memberikan dasar untuk menetapkan tindakan-tindakan dimana perawat bertanggung jawab untuk melaksanakannya. Diagnose keperawatan keluarga dianalisis dari hasil pengkajian terhadap masalah dalam tahap perkembangan keluarga, lingkungan keluarga, struktur keluarga, fungsi keluarga, koping keluarga, baik yang bersifat aetual, resiko, maupun yang sejahtera dimana perawat memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan tindakan keperawatan bersama-sama dengan keluarga (Mubarak,2009,p;102).
Menurut Gordan (1994) dalam Friedman (2010) mengatakan diagnosis keperawatan keluarga merupakan perpanjangan dari diagnosis ke system keluarga dan subsistemnya serta merupakan hasil pengkajian keperawatan. Diagnosis keperawatan keluarga termasuk masalah kesehatan actual dan potensi dengan perawat keluarga yang memiliki kemampuan dan mendapatkan lisensi untuk menanganinya berdasarkan pendidikan dan pengalaman.
b.      Tipe diagnosis keperawatan
1)   Actual (terjadi deficit atau gangguan kesehatan)
Dimana masalah kesehatan yang dialami oleh keluarga memerluakan bantuan untuk segera ditangani dengan cepat. Pada diagnose keperawatan actual, factor yang berhubungan merupakan etiologi, atau factor penunjang lain yang mempengaruhi perubahan status kesehatan. Factor tesebut dapat dikelompokkan menjadi empat katagori, yaitu:
2)      Patofisiologi (biologi atau psikologi)
3)      Tindakan yang berhubungan
4)      Situasional (lingkungan, personal)
5)      Maturasional.
Secara umum faktor-faktor yang berhubungan atau etiologi dari diagnose keperawatan keluarga adalah adanya:
1)      Ketidaktahuan (kurangnya engetahuan, pemahaman dan kesalahan persepsi)
2)      Ketidakmauan (sikap dan motivasi)
3)      Ketidakmampuan (kurangnya keterampulan terhadap suatu prosedur atau tindakan, kurang sumber daya keluarga, baik financial, fasilitas, system pendukung, lingkungan fisik dan psikologis).
(Mubarak,2009,p;103).
c.       Resiko (ancaman kesehatan)
Sudah ada data yang menunjang namun belum terjadi gangguan, tetapi tanda tersebut dapat menjadi masalah actual apabila tidak segera mendapatkan bantuan pemecahan dari tim kesehatan atau keperawatan. Factor-faktor resiko untuk diagnosis resiko dan resiko tinggi memperlihatkan keadaan dimana kerentanan meningkat terhadap klian atau kelompok. Factor ini membedakan klien atau sekelompok resiko tinggi dari yang lainnya pada populasi yang sama yang mempunyai resiko.
d.      Potensial
Suatu keadaan jika keluarga dalam keadaan sejahtera, kesehatan keluarga dapat ditingkatkan. Diagnosis keperawatan sejahtera tidak mencakup factor-faktor yang berhubungan. Perawat dapat memperkirakan kemampuan atau potensi keluarga dapat ditingkatkan kea rah yang lebih baik.
1)      Diagnose keperawatan keluarga
      Daftar diagnosis keperawatan keluarga berdasarkan NANDA tahun 1995 dalam Mubarak (2009) adalah sebagai berikut:
Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah lingkungan
a)      Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah (hygiene lingkungan)
b)      Resiko terhadap cedera
c)      Resiko terjadi infeksi
2)      Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah stuktur komunikasi. Komunikasi keluarga disfungsional
3)      Diagnosis keperawatan keluarga pada maslah stuktur peran
a)      Berduka dan antisipasi
b)      Berduka disfungsional
c)      Isolasi social
d)     Perubahan dalam proses keluarga (dampak adanya orang yang sakit terhadap keluarga)
e)      Potensial peningkatan menjadi orang tua
f)       Perubahan menjadi orang tua (krisis menjadi orang tua)
g)      Perubahan penampilan peran
h)      Kerusakan penatalaksanaan pemeliharaan rumah
i)        Gangguan citra tubuh
4)      Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah fungsi afektif
a)      Perubahan proses keluarga
b)      Perubahan menjadi orang tua
c)      Potensial peningkatan menjadi orang tua
d)     Berduka yang diantisipasi
e)      Koping keluarga tidak afektif, menurun
f)       Koping keluarga tidak afektif, ketidakmampuan
g)      Resiko terhadap tindakan kekerasan
5)      Diagnosis keparawatan keluarga pada masalah fungsi social
a)      Perubahan proses keluarga
b)      Perilaku mencari bantuan kesehatan
c)      Konflik peran orang tua
d)     Perubahan menjadi orang tua
e)      Potensial peningkatan menjadi orang tua
f)       Perubahan pertumbuhan dan perkembangan
g)      Perubahan pemeliharaan kesehatan
h)      Kurang pengetahuan
i)        Isolasi social
j)        Kerusakan interaksi social
k)      Resiko terhadap tindakan kekerasan
l)        Ketidakpatuhan
m)    Gangguan identitas diri
6)      Diagnosis leperawatan keluarga pada masalah fungsi perawatan kesehatan
a)      Perubahan pemeliharaan kesehatan
b)      Potensial peningkatan pemeliharaan kesehatan
c)      Perilaku mencari pertolongan kesehatan
d)     Ketidakefektifan penatalaksanaan aturan terapeutik atau pengobatan keluarga
e)      Resiko terhadap penularan penyakit
7)      Diagnosis keperawatan keluarga pada masalah koping
a)      Potensial peningkatan koping keluarga
b)      Koping keluarga tidak afektif, menurun
c)      Koping keluarga tidak afrktif, ketidakmampuan
d)     Resiko terhadap tindakan kekerasan
Diagnosis keperawatan keluarga NANDA yang relevan dalam keperawatan keluarga menurut friedman (2010) adalah:
a)      Duka cita adaktif
b)      Ketegangan peran pemberi asuhan
c)      Kepedihan kronik
d)     Penurunan koping keluarga
e)      Konflik pengambilan keputusan
f)       Difisiensi pengetahuan
g)      Ketidakmampuan koping keluarga terganggu
h)      Disfungsi proses keluarga (alkoholisme)
i)         Duka cita maladaktif
j)        Perilaku sehat
k)      Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
l)        Ketidakseimbangan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh
m)    Gangguan penyesuaian
n)      Gangguan pemeliharaan rumah
o)      Ketidakmampuan menjadi orang tua
p)      Kendala interaksi social
q)      Ketidakafektifan performa peran
r)       Ketidakafektifan penatalaksanaan program teraupetik: keluarga
s)       Gangguan proses keluarga
t)       Ketidakpatuhan
u)      Konflik peran menjadi orang tua
v)      Sindrom pasca-trauma
w)    Ketidakberdayaan
x)      Kesiapan untuk meningkatkan koping keluarga
y)      Kesiapan untuk meningkatkan kesejahtaraan spiritual
z)      Resiko ketegangan peran pemberi asuhan
aa)   Resiko ketidakseimbangan nurtisi : lebih dari kebutuhan tubuh
bb)  Resiko ketidakseimbangan nitrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
cc)   Resiko ketidakmapuan menjadi orang tua
dd) Resiko ganggan pelekatan antara orang tua/bayi/anak
ee)   Resiko kesepian
ff)    Isolasi social
gg)  Resiko ketidakberdayaan
hh)  Resiko perilaku kekerasan terhadap diri
ii)      Disfungsi seksual
jj)      Distress spiritual
Contoh diagnosa keperawatan
a)      Risiko penularan pada anggota keluarga yang lain berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga terhadap pencegahan penularan penyakit (penyakit TB)
b)      Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga terhadap pencegahan penularan penyakit (penyakit TB)
4.      Prioritas Masalah Keperawatan Keluarga
Setelah data dianalisis, kemungkinan perawat menemukan lebih dari satu masalah. Mengingat keterbatasan kondisi dan sumber daya yang dimiliki oleh keluarga maupun perawat, maka masalah-masalah tersebut tidak dapat ditangani sekaligus. Oleh karena itu, perawat kesehatan masyarakat dapat menyusun prioritas masalah kesehatan keluarga.
a.      Menentukan prioritas masalah dengan skoring
Menurut Effendy (1998, p.52) & Sudiharto (2007, p.41-42), kriteria prioritas masalah terbagi atas empat, yaitu:
1)      Sifat masalah
Berdasarkan sifar atau tipologi masalah, penilaian masalah adalah sebagai berikut:
a)      Tidak/ kurang sehat (3): suatu keadaan sedang sakit atau gagal mencapai kesehatan optimal. Misalnya, keadaan sedang sakit dan kegagalan tumbuh-kembang.
b)      Ancaman kesehatan (2): keadaan yang dapat berisiko terjadinya penyakit, kecelakaan atau kegagalan dalam mempertahankan kesehatan optimal. Misalnya, riwayat penyakit keturunan, risiko tertular, risiko kecelakaan, dan lain-lain.
c)      Krisis (1): suatu keadaan individu atau keluarga memerlukan penyesuaian lebih banyak dalam hal sumber daya yang dimiliki. Sebagai contoh, kehamilan, aborsi, lahir di luar nikah, dan kehilangan orang yang dicintai.
2)      Kemungkinan masalah dapat diubah, adalah kemungkinan keberhasilan untuk mengurangi masalah atau mencegah masalah bila dilakukan intervensi keperawatan dan kesehatan. Pemberian nilainya adalah dengan mudah (2), hanya sebagian (1), dan tidak dapat diubah (0).
3)      Potensial masalah untuk dicegah, adalah sifat dan beratnya masalah yang akan terjadi bila dapat dikurangi atau dicegah melalui tindakan keperawatan. Pemberian nilainya adalah tinggi (3), cukup (2), dan rendah (1).
4)      Menonjolnya masalah, adalah cara memandang dan menilai masalah keperawatan berkaitan dengan berat dan mendesaknya untuk segera diatasi. Pemberian nilainya adalah masalah berat dan harus segera dirangani (2), ada masalah tetapi tidak perlu segera ditangani (1), dan masalah tidak dirasakan (0).
Menurut Bailon dan Maglaya (1978, dalam Mubarak, 2009, p.104), prioritas masalah kesehatan keluarga dengan menggunakan proses skoring sebagai berikut:
No
Kriteria
Skor
Bobot
1
Sifat Masalah

1

Skala:
a.       Tidak/ kurang sehat (Aktual)
b.      Ancaman kesehatan (Risiko)
c.       Krisis (Sejahtera)

3
2
1

2
Kemungkinan Masalah dapat Diubah

2

Skala:
a.       Dengan mudah
b.      Hanya sebagian
c.       Tidak dapat

2
1
0

3
Potensial Masalah untuk Dicegah

1

Skala:
a.       Tinggi
b.      Cukup
c.       Rendah

3
2
1

4
Menonjolnya Masalah

1

Skala:
a.       Masalah berat, harus segera ditangani
b.      Ada masalah, tetapi tidak perlu segera ditangani
c.       Masalah tidak dirasakan

2
1
0

Proses skoring dilakukan untuk setiap diagnosis keperawatan dengan cara berikut:
1)      Tentukan skor untuk setiap kriteria yang telah dibuat.
2)      Selanjutnya skor dibagi dengan angka tertinggi yang dikalikan dengan bobot.
3)      Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria, skor tertinggi adalah 5, sama dengan seluruh bobot.
Catatan: Skoring dihitung bersama dengan keluarga

Contoh soal skoring prioritas masalah:
1)      Risiko penularan pada anggota keluarga yang lain berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga terhadap pencegahan penularan TBC.
No
Kriteria
Skala
Bobot
Skoring
Pembenaran
1
a.    Sifat masalah: ancaman kesehatan
2
1

Keluarga tidak tahu penyakitnya mudah menular.
2
b.   Kemungkinan masalah dapat diubah: hanya sebagian
1
2

Kondisi pasien pada usia produktif dengan pendidikan SD mempengaruhi penyerapan informasi.
3
c.   Potensial masalah untuk dicegah: cukup
2
1

Keluarga mau diajak kerja sama (kooperatif).
4
d.  Menonjolnya masalah: masalah berat, harus segera ditangani
2
1

Bila tidak segera ditangani memungkinkan penyembuhan lama dan terjadi penularan kepada anggota keluarga.



Total


2)      Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan keluarga terhadap pencegahn penularan TBC.
No
Kriteria
Skala
Bobot
Skoring
Pembenaran
1
a.    Sifat masalah: ancaman kesehatan
2
1

TBC adalah penyakit menular, sehingga memungkinkan penularan pada anggota lain dalam rumah.
2
b.   Kemungkinan masalah dapat diubah: sebagian
1
2

Pasien tidak tahu kalau penyakitnya butuh pengobatan rutin.
3
c.    Potensial masalah untuk dicegah: tinggi
3
1

Penderita kooperatif dalam penyuluhan dan penatalaksanaan.
4
d.   Menonjolnya masalah: masalah tidak dirasakan
0
1

Bila tidak dapat ditangani memungkinkan penyembuhan lama dan terjadi penularan kepada anggota keluarga.



Total

Berdasarkan rumusan prioritas diatas, maka dapat diketahui prioritas permasalahan pada keluarga Bapak B adalah sebagai berikut:
1)      Risiko penularan pada anggota keluarga yang lain berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga terhadap pencegahan penularan TBC.
2)      Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan dalam merawat anggota keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan keluarga terhadap pencegahn penularan TBC.
b.      Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penentuan prioritas dengan melihat beberapa kriteria (Mubarak, 2009, p.105-106; Sudiharto, 2007, p.41-42; & Effendy, 1998, p.52)
1)      Sifat masalah
Sifat masalah kesehatan dapat dikelompokkan ke dalam tidak atau kurang sehat diberikan bobot yang lebih tinggi karena masalah tersebut memerlukan tindakan yang segera dan biasanya masalahnya dirasakan atau disadari oleh keluarga. Krisis atau keadaan sejahtera diberikan bobot yang paling sedikit atau rendah karena faktor kebudayaan biasanya dapat memberikan dukungan bagi keluarga untuk mengatasi masalahnya dengan baik.
Misalnya keadaan sakit atau pertumbuhan anak yang tidak sesuai dengan usia, kemudian baru diberikan kepada hal-hal yang mengancam kesehatan keluarga dan selanjutnya kepada situasi krisis dalam keluarga dimana terjadi situasi yang menuntut penyesuaian dalam keluarga.

2)      Kemungkinan masalah dapat diubah
Adalah kemungkinan berhasilnya mengurangi atau mencegah masalah jika ada tindakan (intervensi). Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan skor kemungkinan masalah dapat diperbaiki adalah:
a)      Pengetahuan dan teknologi serta tindakan yang dapat dilakukan untuk menangani masalah;
b)      Sumber-sumber yang ada pada keluarga, baik dalam bentuk fisik, keuangan, tenaga, atau sarana dan prasarana;
c)      Sumber-sumber dari keperawatan, misalnya dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan waktu;
d)     Sumber-sumber di masyarakat, misalnya dalam bentuk fasilitas kesehatan, organisasi masyarakat, dan dukungan sosial masyarakat. Seperti posyandu, DUKM, polindes, dan sebagainya.

3)      Potensial masalah untuk dicegah
Menyangkut sifat dan beratnya masalah yang akan timbul dapat dikurangi atau dicegah. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menentukan skor kriteria potensi masalah bisa dicegah adalah sebagai berikut:
1)      Kepelikan dari masalah
Berkaitan dengan beratnya penyakit atau masalah, prognosis penyakt atau kemungkinan mengubah masalah. Umumnya makin berat masalah tersebut makin sedikit kemungkinan untuk mengubah atau mencegah sehingga makin kecil potensi masalah yang akan timbul.
2)      Lamanya masalah
Hal ini berkaitan dengan jangka waktu terjadinya masalah tersebut. Biasanya lamanya masalah mempunyai dukungan langsung dengan potensi masalah bila dicegah.
3)      Adanya kelompok risiko tinggi atau kelompok yang peka atau rawan. Adannya kelompok tersebut pada keluarga akan menambah potensi masalah bila dicegah
4)      Menonjolnya masalah
            Merupakan cara keluarga melihat dan menilai masalah mengenai beratnya masalah serta mendesaknya masalah untuk diatasi. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan skor pada kriteria ini, perawat perlu menilai persepsi atau bagaimana keluarga tersebut melihat masalah. Dalam hal ini, jika keluarga menyadari masalah dan merasa perlu untuk menangani segera, maka harus diberi skor yang tinggi
5.      Perencanaan keperawatan keluarga
a.       Definisi
     Perencanaan adalah perumusan tujuan yang berorientasi padaklien yang mencakup tujuan umum dan khusus. Rencana keperawatan keluarga merupakan kumpulan tindakan yang direncanakan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam menyelesaikan atau mengatasi masalah kesehatan yang telah teridentifikasi. Rencana keperawatan keluarga yang berkualitas akan menjamin keberhasilan  dalam mencapai tujuan  serta penyelesaian masalah. Selama proses keperawatan ini, perawat keluarga terlibat dalam penyusunan rencana keperawatan, bekerjasama dengan keluarga dan menetapkan intervensi dalam rangka  mencapai hasil yang diharapkan (Friedman, 2010;172 : Mubarak, 2009;106).
b.      Prinsip-prinsip perencanaan
     Dalam Friedman (2010; 176) , prinsip-prinsip perencanaan antara lain :
1)      Tindakan-tindakan yang disusun harus berorientasi pada pemecahan masalah.
2)      Rencana tindakan yang dibuat akan dapat dilakukan mandiri oleh keluarga.
3)      Rencana tindakan yang dibuat berdasarkan masalah kesehatan.
4)      Rencana perawatan sederhana dan mudah dilakukan
5)      Rencana perawatan dapat dilakukan secara terus menerus oleh keluarga.
c.       Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rencana asuhan keperawatan
     Menurut Mubarak (2009; 106) beberapa hal yang harus diperhatika dalam mengembangkan  keperawatan keluarga diantaranya :
1)      Rencana keperawatan harus didasarkan atas analisis yang menyeluruh tentang masalah atau situasi keluarga.
2)      Rencana yang baik realistis, artinya dapat dilaksanakan dan dapat menghasilkan apa yang diharapkan.
3)      Rencana keperawatan harus sesuai dengan  tujuan dan falsafah instansi kesehatan. Misalnya bila instansi kesehatan pada daerah tersebut tidak memungkinkan pemberian pelayanan cuma-Cuma , maka perawat harus mempertimbangkan hal tersebut dalam menyusun perencanaan.
4)      Rencana keperawatan dibuat bersama dengan keluarga. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa perawat bersama keluarga bukan untuk keluarga.
5)      Rencana asuhan keperawatan sebaiknya dibuat secara tertulis. Hal ini selain berguna untuk perawat juga akan berguna bagi anggota tim kesehatan keluarga. Jika keluarga mengerti dan menerima sasaran yang telah ditentukan, mereka diharapkan dapat berpartisipasi secara aktif dalam mencapai sasaran tersebut. Selain  itu, dengan membuat rencana  keperawatan secara tertulis akan membantu mengevaluasi perkembangan masalah keluarga.
d.      Langkah-langkah dalam mengembangkan rencana keperawatan keluarga
     Menurut Mubarak (2009; 107)  langkah-langkah dalam mengembangkan rencana asuhan keperawatan keluarga.
1)      Menentukan sasaran atau goal
            Sasaran merupakan tujuan akhir yang akan  dicapai melalui segala upay. Prinsip yang paling penting adalah sasaran  harus ditentukan bersama keluarga. Jika keluarga mengerti dan menerima sasaran yang telah ditentuka, mereka diharapkan dapat berpartisipasi  secara aktif dalam mencapai sasaran tersebut. Misalnya setelah dilakukan tindakan keperawatan, keluarga mampu merawat anggota keluarga yang menderita penyakit hipertensi.
2)      Menentukan tujuan atau objektif
           Objektif merupakan pernyataan yang lebih spesifik atau lebih terperinci, berisi tentang hasil yang diharapkan dari tindakan perawatan yang dilakuka. Ciri tujuan atau objektif yang baik adalah spesifik, adapat diukur, dapat dicapai, realistis dan ada batasan waktu. Misalnya setelah dilakukan keperawatan diharapkan anggota keluarga yang sakit hipertensi mengerti tentang cara pencegahan, pengobatan hipertensi, dan tekanan  darah 120/80 mmHg.
           Perawat dapat membantu keluarga menentukan tujuan kesehatan mereka sendiri dengan memberikan informasi yang relavan tentang hal-hal yang menjadi kepedulian/masalah mereka. Ini memungkinkan keluarga untuk membuat keputusan yang masuk akal tentang apa yang menjadi tujuan dan pelayanan yang mereka ingin rencanakan. Jadi, penentu utama dari apa yang menjadi tujuan adalah keluarga bukan perawat (Friedman, Bowden, & Jones, 2010).
           Menetapkan tujuan bersama dengan keluarga merupakan tonggak dari suatu perencanaan afektif. Salah satu rumus dasar keperawatan keluarga adalah bahwa klien mempunyai tanggung jawab mutlak untuk mengelola kehidupan mereka (Prinsip penentuan diri) dan kita menghargai keyakinan mereka ( Carey, 1989), perawat dapat membantu keluarga menentukan tujuan kesehatan mereka sendiri dengan memberikan informasi yang relavan tentang hal-hal yang mnejadi kepedulian atau masalah mereka. Ini memungkinkan keluarga untuk membuat keputusan yang masuk akal tentang apa yang menjadi tujuan dan pelayanan yang mereka ingin rencanakan. Jadi, penentuan utama dari apa yang menjadi tujuan adalah keluarga bukan perawat (Otto,1973).
           Menetapkan bersama dengan anggota keluarga secara konsisten lebih utama dari pada menetapkan tujuan sepihak untuk beberapa alasan :
a)       Proses menetapkan tujuan bersama mempunyai afek positif dalam interaksi dengan keluarga.
b)      Orang cenderung menolak untuk diperintah apa yang harus dilakukan, tetapi akan lebih suka untuk bekerja terkait dengan tujuan yan mereka pilih dan dukung sendiri.
c)      Orang yang membuat keputusan cenderung merasa bertanggung jawab (Carey, dalam Friedman, Bowden, & jones, 2010)
            Penetapan tujuan semakin diakui sebagai komponen yang sangat penting dalam perencanaan. Penyuluhan tujuan yang jelas, spesifik dan dapat diterima, merupakan hal yang penting dalam perencanaan, penyusunan tujuan yan jelas, spesifik dan dapat di terima, merupakan hal yang penting. Jika tujuan keluarga tidak jelas maka tidak akan membuat banyak perbedaan apapun kegiatan yang di lakukan karena hasil akhir yang di capaipun tidak diketahui.
Sepanjang pertanyaan tujuan didefenisikan dan diterima sebagai sesuatu yang valid oleh keluarga, tindakan yang diinginkan tampak akan mengikuti. Selain tujuan dapat diterima , jelas dan spesifik, tujuan juga perlu dinyatakan dalam bentuk perilaku sehingga dapat diukur (dievaluasi). Tujuan perlu disebutkan dalam jangka pendek, yaitu spesifik, langsung dan terukur ; tujuan tingkat menengah;  atau pada akhir lain dari rentang sebagai jangka panjang,lebih umum, tujuan utama yang menunjukan tujuan yang luas yang di harapkan oleh perawat dan keluarga.
Tujuan jangka pendek diperlukan untuk memoyivasi dan memberikan keyakinan kepada keluarga dan individu bahwa mereka telah membuat kemajuan , dan untuk menentuakan keluarga ke tujuan yang lebih luas, dan lebih komprehensif. Proses ini konsisten dengan teori kontemporer utama yang berhubungan dengan perubahan perilaku sehat (Glanz, Lewis, & Rimer, 1997).
3)      Menentukan pendekatan dan tindakan keperawatan yang akan dilakukan
           Tindakan  keperawatan yang dipilih sangat bergantung pada sifat masalah dan sumber-sumber yang tersedia untuk memecah masalah. Dalam perawatan kesehatan keluarga tindakan keperawatan yang dilakukan ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan sebab-sebab yang mengakibatkan timbulnya kesanggupan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas kesehatan.
           Perawat dapat melakukan tindakan keperawatan dengan menstimulasi kesadaran dan penerimaan terhadap masalah atau kebutuhan kesehatan keluarga dengan jalan:
a)      Memperluas informasi atau pengetahuan keluarga
b)      Membantu keluarga untuk melihat dampak atau akibat dari situasi yang ada
c)      Menghubungkan antara kebutuhan kesehatan dengan sasaran yang telah ditentukan
d)     Menunjang sikap atau emosi yang sehat dalam menghadapi masalah
           Tindakan perawat untuk menolong keluarga agar dapat menentukan keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalahnya dapat dilakukan dengan:
a)      Mendiskusikan konsekuensi yang akan timbul jika tidak melakukan tindakan
b)      Memperkenalkan kepada keluarga alternatif kemungkinan yang  dapat diambil serta sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan alternative tersebut.
c)      Mendiskusikan dengan keluarga manfaat dari masing-masing alternatif atau tindakan
           Untuk meningkatkan kepercayaan diri keluarga dalam memberikan keperawatan terhadap anggota keluarga yang sakit, perawat dapat melakukan tindakan sebagai berikut :
a)      Mendemonstrasikan tindakan yang diperlukan
b)      Memanfaatkan  fasilitas atau sarana yang ada di rumah keluarga
c)      Menghindarkan hal-hal yang menganggu keberhasilan keluarga dalam merujuk klien atau mencari pertolongan kepada tim kesehatan yang ada.
           Perawat dapat meningkatkan kemampuan keluarga dalam menciptakan  lingkungan yang menunjang kesehatan keluarga antara lain dengan cara :
a)      Membantu mencari cara untuk menghindari adanya ancaman kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
b)      Membantu keluarga memperbaiki fasilitas fisik yang sudah ada
c)      Menghindarkan ancaman psikologis dalam keluarga dengan memperbaiki pola komunikasi keluarga, memperjelas masing-masing anggota keluarga.
d)     Mengembangkan kesanggupan keluarga menemukan kebutuhan psikososial.
           Adapun indikasi intervensi keperawatan keluarga baik secara perawatan promotif dan preventif kesehatan rutin, menurut Wright dan Leahey (dalam Friedman, Bowden, & Jones , 2010) yang diperlukan jika :
a)      Anggota keluarga mengalami suatu penyakit yang menimbulkan gangguan yang nyata terhadap anggota keluarga lain.
b)      Anggota keluarga menyebabakan gejala atau masalah individu.
c)      Perbaikan pada satu anggota keluarga menimbulkan gejala atau gangguan pada anggota keluarga lain.
d)     Anggota keluarga untuk pertama kalinya didiagnosis menderita penyakit.
e)      Kondisi anggota keluarga terganggu secara nyata.
f)       Anak remaja mengalami masalah emosi, perilaku, atau fisik dalam konteks penyakit anggota keluarga.
g)      Anggota keluarga yang mengalami penyakit kronik pindah dari rumah sakit atau pusat rehabilitasi ke komunikasi.
h)      Anggota keluarga yang mengalami penyakit kronik pindah dari rumah sakit atau pusat rehabilitasi ke komunikasi.
i)        Pasien yang mengalami penyakit kronik meninggal dunia.
Menurut Friedman, Bowden, dan Jones (2010) intervensi keperawatan keluarga yang spesifik meliputi :
a)      Modifikasi prilaku
b)      Manajemen kasus, termasuk koordinasi dan advokasi
c)      Kolabolasi
d)     Konsultasi
e)      Konseling
f)       Strategi pemberdayaan
g)      Modifikasi lingkungan
h)      Advokasi keluarga
i)        Modifikasi gaya hidup, termasuk manajemen stress
j)        Jaringan
k)      Model peran
l)        Tambahan peran
m)    Strategi pengajaran
4)      Menentukan criteria dan standar criteria
           Kriteria merupakan tanda atau indicator yang digunakan untuk mengukur pencapaian tujuan, sedangkan standar menunjukkan tingkat penampilan yang diinginkan untuk membandingkan bahwa perilaku yang menjadi tujuan  tindakan keperawatan  telah tercapai. Pernyataan tujuan yang tepat akan menentukan kejelasan criteria dan standar evaluasi.
a)      Tujuan, sesudah perawat kesehatan masyarakat melakukan kunjungan rumah, keluarga akan memanfaatkan puskesmas atau poliklinik sebagai tempat mencari pengobatan.
b)      Kriteria, kunjungan ke puskesmas atau poliklinik.
c)      Standar, ibu memeriksakan kehamilan ke puskesmas atau poliklinik, keluarga membawa berobat anaknya yang sakit ke puskesmas.
6.      Implementasi
a.       Definisi
Implementasi merupakan salah satu tahap dari proses keperawatan keluarga dimana perawat mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan minat keluarga dalam mengadakan perbaikan ke arah perilaku hidup sehat. Adanya kesulitan, kebingungan, serta ketidakmampuan yang dihadapi keluarga harus menjadikan perhatian. Oleh karena itu, perawat dapat memberikan kekuatan dan membantu mengembangkan potensi-potensi yang ada, sehingga keluarga mempunyai kepercayaan diri dan mandiri dalam menyelesaikan masalah (Mubaraq, 2009 ; 108).
Implementasi adalah tahap ketika perawat mengaplikasikan rencana asuhan keperawatan ke dalam bentuk intervensi keperawatan guna membantu klien mencapai tujuan yang ditetapkan. Kemampuan yang harus dimiliki perawat pada tahap implentasi adalah kemampuan komunikasi yang efekti, kemampuan untuk menciptakan hubungan saling percaya, dan saling bantu, kemampuan melakukan teknik psikomotor, kemampuan melakukan observasi sistematis, kemampuan memberikan pendidikan kesehatan, kemampuan advokasi dan kemampuan evaluasi ( Asmadi, 2008; 177).
Sedangkan menurut Suprajitno (2004; 24) implentasi merupakan bagian aktif dalam asuhan keperawatan, yaitu perawat melakukan tindakan sesuai rencana. Tindakan ini bersifat intelektual, teknis, dan interpersonal berupa berbagai upaya memenuhi kenutuhan klien.
b.      Tindakan keperawatan keluarga
      Menurut Mubaraq (2009; 108) tindakan keperawatan keluarga mencakup hal-hal sebagai berikut:
1)      Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan kebutuhan kesehatan dengan cara memberikan informasi, mengidentifikasi kebutuhan dan harapan tentang kesehatan, serta mendorong sikap emosi yang sehat terhadap masalah.
2)      Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat dengan cara perawatan yang tepat dengan cara mengidentifikasi konseksekuensi untuk tidak melakukan tindakan, mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki keluarga, dan mendiskusikan konsekuensi setiap tindakan.
3)      Memberikan kepercayaan diri dalam merawat anggota keluarga yang sakit dengan cara mendemonstrasikan cara perawatan, menggunakan alat dan fasilitas yang ada di rumah, dan mengawasi keluarga melakukan perawatan
4)      Membantu keluarga untuk menemukan cara membuat lingkungan menjadi sehat dengan menemukan sumber-sumber yang dapat digunakan keluarga dan melakukan perubahan lingkungan keluarga seoptimal mungkin.
5)      Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan cara mengenalkan fasilitas kesehatan yang ada di lingkungan keluarga dan membantu keluarga cara menggunakan fasilitas tersebut.
c.       Prinsip- prinsip Implementasi
1)      Pelaksanaan keperawatan mengacu pada rencana yang dibuat
2)      Pelaksanaan keperawatan dilakukan dengan tetap memperhatikan prioritas masalah
3)      Kekuatan keluarga berupa finansial, motivasi dan sumber-sumber pendukung lainnya jangan diabaikan
4)      Pendokumentasian pelaksanaan keperawatan keluarga janganlah terlupakan dengan menyertakan tanda tangan petugas sebagai bentuk tanggung gugat dan tanggung jawab profesi.
d.      Hambatan-hambatan Implementasi
      Menurut Mubaraq (2009; 109) hambatan-hambatan implentasi sebagai berikut:
1)      Kurang informasi yang diterima keluarga
2)      Tidak menyeluruh informasi yang diterima oleh keluarga
3)      Informasi yang diperoleh keluarga tidak dikaitkan dengan masalah yang dihadapiKeluarga tidak mau menghadapi situasi
4)      Anggota keluarga tidak mau melawan tekanan dari keluarga atau sosial
5)      Keluarga ingin mempertahankan suatu pola tingkah laku
6)      Kegagalan mengaitkan tindakan dengan sasaran keluarga
7)      Kurang percaya pada  tindakan yang diusulkan perawat
e.       Faktor-Faktor Kesulitan Yang Berasal Dari Petugas
      Menurut Mubaraq (2009; 109) faktor-faktor kesulitan yang berasal dari petugas antara lain:
1)      Petugas cenderung menggunakan satu pola pendekatan atau petugas kaku dan kurang fleksibel
2)      Petugas kurang memberikan penghargaan atau perhatian terhadap faktor –faktor sosial budaya
3)      Petugas kurang mampu dalam mengambil tindakan atau menggunakan bermacam-macam teknik dalam mengatasi masalah yang rumit.
4)      Menurut Friedman, Bowden & Jones (2010), hambatan impelementasi intervensi keluarga dapat terjadi pada :
a)      Hambatan terkait keluarga: apatis dan tidak dapat memutuskan
            Hambatan implementasi intervensi dapat berupa perilaku keluarga dan/atau perilaku perawat. Perilaku pertama adalah apati. Apatis dimanfestasikan ketika keluarga merespons tindakan keperawatan dengan sikap tak acuh dan tidak menunjukkan tindakan apa-apa atau kepedulian. Pada umumnya mereka peduli, namun demikian perbedaan nilai dan keyakinan sering kali mempengaruhi respons keluarga, khususnya jika keluarga berasal dari latar belakang social-ekonomi atau etnik yang berbeda dengan perawat.
            Perilaku yang berhubungan dengan apatis adalah putus asa (keyakinan bahwa “apapun yang dilakukan keluarga, tidak akan berpengaruh) dan fatalism (perasaan bahwa “apa yang akan terjadi, terjadilah”). Fatalisme merupakan kendala utama bagi orang miskin dan tak berdaya. Perilaku apatis dapat juga terkait dengan suatu perasaan kegagalan terhadap keberhasilan atau letersediaan pelayanan.
            Dyer (1973) dalam Friedman (2010; 190) menjelaskan keluarga yang tidak dapat membuat keputusan juga merupakan masalah. Dalam contoh ini, anggota keluarga mengalami kesulitan mengambil keputusan atau menggunakan “de facto” ketika membuat keputusan (membiarkan saja sesuatu terjadi). Keluarga seperti itu memerlukan perawat untuk menggali perasaan mereka dan menelaah berbagai pilihan pro dan kontra. Bukan mengambil alih tanggung jawab untuk membuat keputusan bagi keluarga dan dengan tanpa disengaja meningkatkan ketergantungan keluarga, perawat disarankan agar menjalankan peran sebagai narasumber yang suportif terhadap keluarga.
            Pada kedua situasi tersebut, perawat harus memeriksa tentang apa yang sedang terjadi di dalam keluarga dan memiliki keingintahuan tentang akar permasalahan, sehingga dapat diidentifikasi dan diatasi.
f.       Hambatan terkait perawat
      Sering kali, kita berpikir bahwa hambatan implementasi intervensi merupakan perilaku yang terpisah dari diri kita. Namun demikian, beberapa hambatan implementasi intervensi yang efektif dapat berhubungan dengan ide dan perilaku perawat. Perawat professional harus secara rutin merefleksikan keyakinan dan perilaku mereka sendiri ketika bekerja dengan keluarga untuk memastikan bahwa mereka tidak tanpa sengaja menutup pilihan bagi keluarga.
HAMBATAN IMPLEMENTASI INTERVENSI KELUARGA YANG TERKAIT PERAWAT
Hambatan 1: memaksakan ide
Perawa tmenerima, dan terlibat dalam hubungan nonkolaboratif (“berdirisendiri”) dengan keluarga. Dalam hal ini, perawat dapat terperangkap pemaksaan ide kelurga tanpa sepenuhnya mempertimbangkan kepakaran dan ide keluarga. Perawa tmenerima tanggungjawab penuhatasrencana keperawatan dan implementasinya (bertentangan dengan pendekatan kesetaraan, nonhierarki, yaitu input dari perawat dan keluarga dihormati dan didorong).
Pertanyaan refleksi diri :seberapa sering keputusan tentang pelayanan kesehatan keluarga dibuat bersama oleh pasien, keluarga, dan diri sendiri, serta anggota tim kesehatan lain?
Hambatan 2: memberi label negative
Perawatdapat member label negative kepada keluarga (atau dirinya sendiri) apabila intervensi tampak tidak berhasil. Sebagai contoh, jika keluarga tidak mengimplementasikan ide perawat, perawat mungkin menyebut keluarga sebagai “melawan” atau memandang tindakannya sebagai “tidak  efektif”.
Pertanyaan refleksi diri: apabila intervensi tidak berhasil, hal lain apa yang dapat saya perbuat? Rencana pengobatan tidak efektif-dapatkah saya jelaskan mengapa?
Hambatan 3: tidak melihat kekuatan
Bukannya memberikan perhatian pada kekuatan dan sumber yang ada di keluarga, atau keberhasilan keluarga sebelumnya dalam situasilain, perawat menekankan pada  kelemahan dan masalah dalam keluarga.
Pertanyaan refleksi diri: apa saja kegiatan pengkajian intervensi yang saya dapat gunakan untuk meningkatkan kekuatan keluarga?
Hambatan 4: mengabaikan implikasi budaya atau gender
Perawat kurang mempertimbangkan perbedaan budaya atau etnik dan isu gender, ketika merencanakan intervensi dengan keluarga.
Pertanyaan refleksi diri: dengan cara apa rencana perawatan yang saya buat agar dapat merefleksikan kebutuhan buday akeluarga? Jika ada, apakah biasa budaya atau gender saya yang mungkin menganggu kerja saya dengan keluarga ini?

7.    Evaluasi
a.    Definisi
     Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosis keperawatan, rencana tindakan dan implementasinya sudah berhasil dicapai. Evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor kealpaan yang terjadi selama tiga tahap pengkajian, analisis, perencanaan, dan implementasi tindakan (Ignatavicius dan Bayne, 1994).
     Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya. Dalam melakukan tindakan keperawatan, perlu dilakukan evaluasi keperawatan. Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses keperawatan yang berguna apakah tujuan dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau perlu pendekatan lain.
     Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, dilakukan penilaian untuk melihat keberhasilannya. Penialian dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam melaksanakan rencana tindakan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan Bila tidak atau belum berhasil, perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilaksanakan dalam satu kali kunjungan ke keluarga. Untuk itu dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga.
     Evaluasi berdasarkan pada seberapa efektif intervensi yang dilakukan keluarga, perawat, dan lainnya. Keberhasilan lebih ditentukan oleh hasil pada sistem keluarga dan anggota keluarga (bagaimana keluarga berespon) daripada intervensi yang diimplemetasikan. Evaluasi merupakan kegiatan bersama antara perawat dan keluarga.
     Rencana asuhan keperawata mencakup kerangka evaluasi. Jika jelas, tujuan dan perilaku spesifik sudah digambarkan yang kemudian dapat digunakan sebagai kriteria untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan yang dicapai. Evaluasi merupakan proses terus-menerus yang terjadi setiap saat perawat memperbarui rencana perawatan dikembangkan atau dimodifikasi, tindakan keperawatan tertentu perlu ditinjau oleh perawat dan keluarga untuk memutuskan apakah tindakan tersebut memang membantu. Kecuali respon keluarga terhadap intervensi keperawatan yang tidak efektif dapat terus berlangsung.
      Pernyataan berikut seharusnya direnungkan ketika sedang mengevaluasi respon keluarga :
1)   Adakah kesepakatan antara keluarga dan anggota tim kesehatan lain tentang evaluasi?
2)      Apa data tambahan yang perlu dikumpulkan untuk perkembangan evaluasi?
3)      Apakah ada hasil yang tidak terduga yang perlu dipertimbangkan?
4)      Jika perilaku dan persepsi keluarga menunjukkan bahwa masalah belum diselesaikan secara memuaskan, apa alasannya?
5)      Apakah diagnosis, tujuan, dan pendekatan keperawatan realistik dan akurat?
b.      Tujuan Evaluasi
      Tujuan evaluasi adalah melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Hal ini bisa dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respons klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan. Secara lebih spesifik, tujuan evaluasi dalam keperawatan adalah :
1)      Mengakhiri rencana tindakan keperawatan
2)      Menyatakan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum
3)      Meneruskan rencana tindakan keperawatan
4)      Memodifikasi rencana tindakan keperawatan
5)      Dapat menentukan penyebab apabila tujuan asuhan keperawatan belum tercapai
      Penilaian keperawatan adalah mungukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan klien. Penilaian adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai. Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan. Apabila dalam penilaian ternyata tujuan tidak tercapai, maka perlu dicari penyebabnya.
      Penilaian adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai. Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan. Apabila dalam penilaian ternyata tujuan tidak tercapai, maka perlu dicari penyebabnya. Hal tersebut dapat terjadi karena beberapa faktor :
1)      Tujuan tidak realistis
2)      Tindakan keperawatan yang tidak tepat
3)      Terdapat faktor lingkungan yang tidak dapat diatasi.
c.       Dimensi dalam evaluasi
      Hasil asuhan keperawatan dapat diukur dari 3 dimensi :
1)   Keadaan fisik, misalnya peningkatan berat badan anak pada anak dengan BBLR
2)   Psikologis dan sikap, misalnya berkembangnya sikap positif keluarga terhadap angota keluarga yang sakit setelah sebelumnya sempat ditelantarkan
3)   Penetahuan dan perubahan perilaku, keluarga melaksanakan petunjuk-petunjuk yang berkaitan dengan perawatan lansia dengan keterbatasan aktivitas.
d.      Kriteria dan standar
      Kriteria adalah gambaran tentang faktor-faktor tidak tetap yang dapat memberi petunjuk bahwa tujuan telah tercapai. Sedangkan standar menunjukkan tingkat pelaksanaan yang diinginkan untuk membandingkan pelaksanaan yang sebenarnya. Standar akan memberitahukan apakah tingkat pelaksanaan atau keadaan menunjukkan keberhasilan atau tercapainya tujuan.
e.       Tahap evaluasi
      Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, dilakukan penilaian untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak atau belum berhasil, perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilaksanakan dalam satu kali kunjungan ke keluarga. Untuk itu dapat dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga.
      Evaluasi disusun dengan menggunakan SOAP secara operasional. Evaluasi disusun menggunakan SOAP secara operasional. Evaluasi dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu:
1)      Evaluasi formatif
            Evaluasi ini dilakukan selama proses asuhan keperawatan dan dikerjakan dalam bentuk pengisian format catatan perkembangan dengan berorientasi kepada masalah yang dialami oleh keluarga. format yang dipakai adalah format SOAP.
2)      Evaluasi sumatif
            Evaluasi jenis ini dikerjakan dengan cara membandingkan antara tujuan yang akan dicapai. Bila terdapat kesenjangan diantara keduanya, mungkin semua tahap dalam proses keperawatan perlu ditinjau kembali, agar didapat data-data, masalah atau rencana yang perlu dimodifikasi.
Contoh format evaluasi
Format evaluasi formatif
Tanggal dan waktu
No dx
Evaluasi
1 Desember 2012
1
S : klg mengatakkan bahwa masih kurang mengerti tentang …….
O : klg dapat menjawab pertanyaan ……,belum bisa menjawab pertanyaan tentang ……..
A : implementasi yg dilaks.dg metode cermah belum dimengertioleh klg , perlu metode lain….
P :  berikan pendidikan ulang, dengan metode lain….
Format evaluasi sumatif
Tanggal dan waktu
No dx
Evaluasi
1 Desember 2012
1
S : klg mengatakkan masih kurang mengerti tentang …….
O : klg dapat menjawab pertanyaan ……,belum bisa menjawab pertanyaan tentang ……..
A : masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi, perlu bantuan LSM yang peduli akan kesehatan

f.       Macam-macam Evaluasi
Evaluasi proses keperawatan ada dua yaitu :
1)      Evaluasi Kuantitatif
            Evaluasi kuantitatif dilaksanakan, jumlah pelayanan, atau kegiatan yang telah dikerjakan. Misalnya, jumlah keluarga yang dibina atau jumlah imunisasi yang telah diberikan. Evaluasi kuantitatif sering digunakan dalam kesehatan karena lebih mudah dikerjakan bila dibandingkan dengan evaluasi kualiatatif. Pada evaluasi kuantitatif jumlah kegiatan dianggap dapat memberikan hasil yang memuaskan.
2)      Evaluasi Kualitatif
            Evaluasi kualiatatif merupakan evaluasi mutu yang dapat difokuskan pada salah satu dari tiga dimensi yang saliang terkait.
g.      Struktur atau sumber
      Evaluasi strukutur terkait dengan tenaga manusia atau bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan. Upaya keperawatan yang terkait antara lain :
1)      Kecakapan atau kualifikasi perawat.
2)      Minat atau dorongan
3)      Waktu atau tenaga yang digunakan
4)      Macam dan banyaknya peralatan yang digunakan
5)      Dana yang tersadia
h.      Proses
      Evaluasi proses berkaitan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan. Misalnya mutu penyuluhan kesehatan yang diberikan kepada keluarga lansia dengan masalah nutrisi.
i.        Hasil
      Evaluasi ini difokuskan kepada bertambahnya kesanggupan keluarga dalam melaksanakan tugas-tugas kesehatan.

j.        Metode evaluasi
            Metode yang dipakai dalam evaluasi antara lain:
1)      Observasi langsung
Yaitu mengamati secara langsung perubahan yang terjadi dalam keluarga.
2)      Wawancara keluarga
Wawancara yang dilakukan berkaitan dengan perubahan sikap, apakah telah menjalankan anjuran yang diberikan perawat
3)      Memeriksa laporan
Dapat dilihat dari rencana asuhan keperawatan yang dibuat dan tindakan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana
4)      Latihan simulasi
Latihan berguna dalam menentukan perkembangan kesanggupan melaksanakan asuhan keperawatan.
k.      Mengukur pencapaian tujuan keluarga
      Proses evaluasi terdiri atas dua tahap yaitu :
1)      Mengukur pencapaian tujuan klien,
a)      Kognitif (pengetahuan)
      Hal-hal yang dievaluasi adalah pengetahuan keluarga mengenai penyakitnya, mengontrol gejala-gejala, pengobatan, diet, aktivitas, persediaan alat-alat, risiko komplikasi, gejala yang harus dilaporkan dan pencegahan.
b)      Afektif  (status emosional)
      Dengan cara observasi secara langsung, yaitu dengan cara observasi ekspresi wajah, postur tubuh, nada suara, isi pesan secara verbal pada waktu melakukan wawancara
c)      psikomotor
      yaitu dengan cara melihat apa yang dilakukan keluarga sesuai dengan apa yang diharapkan.
d)     perubahan fungsi tubuh serta gejalanya; dan
2)      Membandingkan data yang terkumpul dengan tujuan dan pencapaian tujuan.
l.        Penentuan keputusan pada tahap evaluasi
      Ada tiga kemungkinan keputusan pada tahap ini:
1)      Keluarga telah mencapai hasil yang ditentukan dalam tujuan, sehingga rencana mungkin dihentikan
2)      Keluarga masih dalam proses mencapai hasil yang ditentukan, sehingga perlu penambahan waktu, resources, dan intervensi sebelum tujuan berhasil
3)      Keluarga tidak dapat mencapai hasil yang telah ditentukan, sehingga perlu:
a)    Mengkaji ulang masalah atau respon yang lebih akurat
b)   Membuat outcome yang baru, mungkin outcome pertama tidak realistis atau mungkin keluarga tidak menghendaki terhadap tujuan yang disusun oleh perawat.
c)    Intervensi keperawatan harus dievaluasi dalam hal ketepatan untuk mencapai tujuan sebelumnya.
m.    langkah-langkah evaluasi
      Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, tahap penilaian dilakukan untuk melihat keberhasilannya. Bila tidak/ belum berhasil, maka perlu disusun rencana baru yang sesuai. Semua tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan ke keluarga. Oleh karena itu, kunjungan dapat dilaksankan secara bertahap sesuai dengan waktu dan kesediaan keluarga. Langkah-langkah dalam mengevaluasi pelayanan keperawatan yang diberikan, baik kepada individu maupun keluarga adalah sebagai berikut :
1)      Tentukan garis besar masalah kesehatan yang dihadapi dan bagaimana keluarga mengatasi masalah tersebut.
2)      Tentukan bagaimana rumusan tujuan perawatan ysang akan dicapai.
3)      Tentukan kriteria dan standard untuk evaluasi. Kriteria dapat berhubungan dengan sumber-sumber proses atau hasil, bergantung kepada dimensi evaluasi yang diinginkan.
4)      Tentukan metode atau teknik evaluasi serta sumber-sumber data yang diperlukan.
5)      Bandingkam keadaan yang nyata (sesudah perawatan) dengan kriteria dan standard untuk evaluasi.
6)      Identifikasi penyebab atau alasan penampilan  yang tidak optimal atau pelaksanaan yang kurang memuaskan.
7)      Perbaiki tujuan berikutnya. Bila tujuan tidak tercapai, perlu ditentukan alas an kemungkinan tujuan tidak realistis, tinadakan tidak tepat, atau kemungkinan ada factor lingkungan yang tidak dapat diatasi.
n.      Luasnya evaluasi
      Evaluasi sebagai proses dipusatkan pada pencapian tujuan dengan memerhatikan keberhasilan dari tindakan keperawatan yang telah diberikan. Evaluasi dapat dipusatkan pada tiga dimensi, yaitu :
1)      Efisiensi atau dapat guna, evaluasi ini dikaitkan dengan sumber daya yang digunakan, misalnya : uang, waktu, tenaga, atau bahan.
2)      Kecocokan (appropriateness), evaluasi ini dikaitkan dengan adanya kesesuaian antara tindakan keperwatan yang dilakukan dengan pertimbangan professional.
3)      Kecukupan (adequacy), evaluasi ini dikaitkan dengan kelengkapan tindakan keperwatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan atau hasil yang diinginkan.
o.      Kegiatan dan evaluasi
      Kegiatan adalah tindakan untuk mencapi tujuan. Kegiatan adalah hal-hal yang dikerjakan oleh perawat untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Sedangkan hasil adalah akibat dari kegiatan yang telah dilakukan. Hasil dari peratan klien dapat diukur melalui tiga bidang.
1)      Keadaan fisik, dapat diobservasi melalui suhu tubuh yang turun, berat badan naik, dan perubahan tanda klinik.
2)      Psikologis sikap, seperti perasaan cemas berkurang, keluarga bersikap positif terhadap petugas kesehatan.
3)      Pengetahuan tentang prilaku, misalnya keluarga dapat menjalankan petunjuk yang diberikan keluarga, dapat menjelaskan manfaat dari tindakan keperawatan.

p.      Terminasi hubungan perawat-keluarga
      Wright dan Leahey (2000) menunjukkan bahwa indikator paling penting dari terminasi adalah kemampuan keluarga untuk menguasai atau menjalankan kehidupan yang bermasalah, tidak untuk mengurangi masalah. Diskusi tentang terminasi seharusnya dilakukan lebih awal dalam proses terapeutik, sehingga perawat dan keluarga menjadi jelas tentang harapan mereka. Tinjauan tujuan dan perkembangan secara teratur membantu untuk mencegah masalah yang terkait dengan terminasi. Terminasi akhir dapat diprakarsai oleh perawat, keluarga, atau profesional atau institusi kesehatan lain.
      Idealnya, terminasi disetujui bersama oleh keluarga dan perawat jika waktu telah disepakati, ada percakapan terakhir tentang pekerjaan yang telah diselesaikan. Perawat perlu waspada terhadap kontinuitas kerjanya dengan keluarga jika mereka telah menunjukkan kemampuan untuk hidup dengan masalahnya, jika tidak, meneruskan hubungan dengan keluarga dapat menimbulkan ketergantungan keluarga yang tidak perlu dan menghabiskan sumber sistem.
      Wright dan Leahey (2000) memberikan daftar tindakan keperawatan yang dapat digunakan dalam terminasi terapeutik dari hubungan perawat-keluarga :
1)      Meninjau kontrak
2)      Mengurangi frekuensi kunjungan
3)      Memberikan penguatan kepada keluarga untuk perubahan dan pencapaian yang telah dilakukan
4)      Mengevaluasi wawancara keluarga
5)      Memberikan pelayanan tindak lanjut atau rujukan

            Tindakan tersebut membantu menyisipkan suatu penutup dalam hubungan dan dimaksudkan untuk membantu keluarga mempertahankan pencapaian yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Asmadi.(2008). Konsep dasar keperawatan. Jakarta. EGC
Setiawati, S., & Darmawan,.A. C. (2008). Penuntun Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: TIM
Setiadi. 2008. Konsep dan Proses Keperawatan KeluargaYogyakarta : Graha Ilmu
Effendy, Nasrul. (1998). Dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat. (Ed.2). Jakarta: EGC
Friedman, Marilyn M. (2010). Buku ajar keperawatan keluarga: riset, teori, & praktik. (Achir Yani S. Hamid, penerjemah). (Ed. 5). Jakarta: EGC
Mubarak, Wahit Iqbal. (2009). Ilmu keperawatan komunitas buku 2: konsep dan aplikasi. Jakarta: Salemba Medika
Mubarak, W.I. & Santoso, B.A. (2006). Buku ajar ilmu keperawatan komunitas: teori & aplikasi dalam praktik dengan pendekatan asuhan keperawatan komunitas, gerontik, dan keluarga. Jakarta: Sagung Seto
Sudiharto. (2007). Asuhan keperawatan keluarga dengan pendekatan keperawatan transkultural. Jakarta: EGC
Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga : aplikasi dalam praktik. Jakarta: EGC

No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat