google adsense

Monday, August 7, 2017

Sejarah Perkembangan Keperawatan Spiritual

A.    Sejarah Perkembangan Keperawatan Spiritual

Sejak awal diketahui, manusia selalu memiliki usaha untuk memberikan dua fungsi dari perawatan untuk penyembuhan penyakit kepada sesama. Yang pertama, keperawatan lebih erat kaitannya dengan aspek kepedulian, sekarang khususnya sebagai praktisi keperawatan yang mencapai keunggulannya dalam profesi, perawatan harus memiliki kedua fungsi perawatan dan penyembuhan. Ini berarti bahwa sejarah juga berubah untuk memasukan sejarah praktik penyembuhan (Barbara, 2003, p.21).

1.      Keperawatan di Era Pra Kristiani
      Sebelum membahas pengaruh Kristen mengenai keperawatan sehat sakit, pelayanan kesehatan di era pra-Kristiani harus dikaji terlebih dahulu. Ilmu Kedokteran dan keperawatan dalam peradaban kuno menyediakan fondasi yang memiliki banyak praktek kesehatan dari perawat Kristen. Budaya kuno ini juga dipengaruhi oleh konsep perawat kristen. Budaya kuno juga dipengaruhi oleh konsep amalan Kristen dalam hubungannya dalam merawat mereka yang sakit (Bullough & Bullough, 1987). Studi arkeologi di era budaya pra-Kristen telah mengungkapkan dua jenis terkait namun berbeda dari perawat. Satu kelompok terdiri dari wanita terampil yang "menjalani untuk disewa"; lebih sering diidentifikasi, bagaimanapun, "perawat" yang mana posisi mereka adalah sebagai budak di rumah tangga kaya (Dolan, Fitzpatrick, & Herrmann, 1983, p; 81). Para perawat ini berlatih seni sesuai dengan model medis yang ditetapkan oleh masyarakat masing-masing (O’Brien, 2010, p. 24)
      Keperawatan dapat dieksplorasi dalam sejumlah budaya awal. Di Babilonia, "Kode Hammurabi" menyarankan bahwa asuhan keperawatan diberikan untuk pasien antara kunjungan dokter (Walsh, 1929, p;10). Penemuan awal Buddhis di Cina dinilai dari banyaknya tanaman yang menyebabkan terapi keperawatan menggunakan Herbologi (Sellew & Nuesse, 1946, p;6). Praktek medis agama Hindu di India mengikutsertakan peran perawat laki-laki (Grippando, 1986, p;3). Di Irlandia, para imam Druidic kuno dan pendeta disarankan pada perawatan dan penyembuhan penyakit dalam (Dolan, Fitzpatrick, & Herrmann, 1983, p;40). Keempat masyarakat utama, Namun, yang spiritual dan budaya kontribusi yang paling sering dikutip sebagai pendukung seni dan ilmu kedokteran dan keperawatan modern adalah dari Mesir, Yunani, Roma dan Israel (O’Brien, 2010, p. 24-25).
a.       Mesir
      Asal usul pengobatan di Mesir mengandung unsur sihir dan agama yang kuat, namun, praktek pembalseman diajarkan melalui anatomi manusia di Mesir, dari mana mereka dapat memperoleh prosedur bedah (Deloughery, 1977, p;7.). Sejarah Mesir menawarkan dokter pertama, Imhotep, serta buku medis yang pertama, Ebers Papyrus (Frank, 1959, p;9 dalam O’Brien, 2010, p. 25).
      Mesir prihatin tentang masalah kesehatan masyarakatnya seperti kelaparan dan kekurangan gizi. Sementara menawarkan doa-doa dan pengorbanan/persembahan kepada dewa untuk kegiatan religius mereka, mereka juga mengambil tindakan pencegahan seperti menyimpan gandum untuk kebutuhan di masa depan. Para peneliti telah menetapkan bahwa sebuah sekolah untuk pendidikan dokter Mesir sudah ada sejak 1100 SM, sebagai hasilnya sejumlah pengobatan terapeutik praktis untuk merawat orang sakit dikembangkan. Ahli sejarah Perawat Dietz dan Lehozky (1967) menyimpulkan dengan demikian bahwa "tidak diragukan lagi beberapa bentuk asuhan/pelayanan keperawatan naluriah (spiritual) harus ada pada saat ini" (p;10) (O’Brien, 2010, p. 25)
b.      Yunani
Dalam catatan sejarah membuktikan bahwa "keperawatan di era Yunani-Romawi sebagian besar merupakan tanggung jawab dari anggota keluarga sendiri baik pasien ataupun budak yang dipekerjakan untuk memberikan keterampilan khusus. Dasar pemikiran spiritual untuk memberikan asuhan keperawatan adalah tugas dan cinta untuk kerabat "(Swaffield, 1988, hlm 28-30). Para dokter Yunani kuno yang sempurna, tentu saja adalah Hippocrates (460-370 SM), yang memerintahkan perawat untuk "menggunakan mata dan telinga, dan untuk alasan dari fakta bukanlah dari asumsi gratuitious" (Deloughery, 1977, hal. 8). Hippocrates mengingatkan mereka yang cenderung sakit menjadi cemas untuk pasien mereka yang  kesejahteraan rohani dan 'tidak membahayakan "(Frank, 1959, p. 17 dalam O’Brien, 2010, p. 25).
Meskipun Hippocrates tidak mengidentifikasi keperawatan sebagai profesi, banyaknya dalam menentukan terapi termasuk dalam bidang praktek keperawatan. Beberapa contoh termasuk ajaran bahwa "diet cairan seharusnya hanya diberikan dalam keadaan demam"; "spon/kompres dingin (harus digunakan) untuk suhu tinggi", dan "gargles panas (harus diambil) untuk tonsilitis akut" (Dietz & Lehozky, 1967 , p. 16 dalam O’Brien, 2010, p. 25).
c.       Roma
Roma tidak menawarkan kemajuan besar dalam praktek medis dan keperawatan sebelum umat Kristen, tetapi sangat bergantung pada pengetahuan dokter yunani. sebelum munculnya kedokteran yunani, perawatan di  rumah, pasien yang  sakit dipandu  oleh penggunaan obat-obatan alami dari  rakyat. Agama berpengaruh dalam merawat orang sakit, dewa roman ditawarkan korban curahan dalam permohonan untuk bantuan yang berkaitan dengan kebutuhan kesehatan dan penyakit. setelah penaklukan pemuda roman Korintus banyak mulai belajar di athens dan secara pribadi mencapai keterampilan penyembuhan. Secara bersama-sama   mencapai keterampilan penyembuhan model yunani dengan pendidikan profesional, namun apresiasi dan penghormatan terhadap  para dewa sebagai tambahan penting untuk prosedur therapeutik. berdoa kepada dewa, atau untuk beberapa dewa, dianggap sebagai terapi yang dapat membantu dalam merawat seorang pasien di roma.
d.      Israel
Orang-orang ibrani dari israel diidentifikasi dalam keprihatinan hukum mosaik. banyak dari mereka menyediakan perawatan untuk orang sakit dan lemah. Agama  di sana mengajarkan tentang kebersihan kesehatan  secara umum: aturan diet ,kebersihan, jam kerja,  dan istirahat. Sellew dan Nuesse mengamati bahwa sejak aturan-aturan yang dipaksakan oleh kelompok dan tidak diserahkan kepada kehendak individu, tetapi pada aturan kesehatan masyarakat. Mereka menegaskan bahwa rakyat israel sebenarnya "meletakkan dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat pada prinsip-prinsip abadi, karena mereka secara alami menganggap mengunjungi orang sakit sebagai kewajiban agama.

2.      Sejarah Keperawatan Spiritual Terkait dengan Ajaran Islam

      Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, Sr, 1998 dalam studi Paper Presented at the 3rd International Nursing Conference "Empowerment and Health: An Agenda for Nurses in the 21st Century" yang diselenggarakan di Brunei Darussalam 1-4 Nopember 1998, menggambarkan Rufaidah adalah perawat profesional pertama dimasa sejarah islam. Beliau hidup di masa Nabi Muhammad SAW di abad pertama Hijriah/abad ke-8 Sesudah Masehi, dan diilustrasikan sebagai perawat teladan, baik dan bersifat empati. Rufaidah adalah seorang pemimpin, organisatoris, mampu memobilisasi dan memotivasi orang lain. Dan digambarkan pula memiliki pengalaman klinik yang dapat ditularkan kepada perawat lain, yang dilatih dan bekerja dengannya. Dia tidak hanya melaksanakan peran perawat dalam aspek klinikal semata, namun juga melaksanakan peran komunitas dan memecahkan masalah sosial yang dapat mengakibatkan timbulnya berbagai macam penyakit. Rufaidah adalah public health nurse dan social worker, yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia Islam.

      Rufaidah binti Sa'ad memiliki nama lengkap Rufaidah binti Sa'ad Al Bani Aslam Al Khazraj, yang tinggal di Madinah, dia lahir di Yathrib dan termasuk kaum Ansar (golongan yang pertama kali menganut Islam di Madinah). Ayahnya seorang dokter, dan dia mempelajari ilmu keperawatan saat bekerja membantu ayahnya. Dan saat kota Madinah berkembang, Rufaidah mengabdikan diri merawat kaum muslim yang sakit, dan membangun tenda di luar Masjid Nabawi saat damai. Dan saat perang Badar, Uhud, Khandaq dan Perang Khaibar dia menjadi sukarelawan dan merawat korban yang terluka akibat perang. Dan mendirikan Rumah sakit lapangan sehingga terkenal saat perang dan Nabi Muhammad SAW sendiri memerintahkan korban yang terluka dirawat olehnya. Pernah digambarkan saat perang Ghazwat al Khandaq, Sa'ad bin Ma'adh yang terluka dan tertancap panah di tangannya, dirawat oleh Rufaidah hingga stabil/homeostatis. (Omar Hassan, 1998)

      Rufaidah melatih pula beberapa kelompok wanita untuk menjadi perawat, dan dalam perang Khaibar mereka meminta ijin Nabi Muhammad SAW, untuk ikut di garis belakang pertempuran untuk merawat mereka yang terluka, dan Nabi mengijinkannya. Tugas ini digambarkan mulia untuk Rufaidah, dan merupakan pengakuan awal untuk pekerjaaannya di bidang keperawatan dan medis.

      Konstribusi Rufaidah tidak hanya merawat mereka yang terluka akibat perang. Namun juga terlibat dalam aktifitas sosial di komuniti. Dia memberikan perhatian kepada setiap muslim, miskin, anak yatim, atau penderita cacat mental. Dia merawat anak yatim dan memberikan bekal pendidikan. Rufaidah digambarkan memiliki kepribadian yang luhur dan empati sehingga memberikan pelayanan keperawatan yang diberikan kepada pasiennya dengan baik pula. Sentuhan sisi kemanusiaan adalah hal yang penting bagi perawat, sehingga perkembangan sisi tehnologi dan sisi kemanusiaan (human touch) mesti seimbang. Rufaidah juga digambarkan sebagai pemimpin dan pencetus Sekolah Keperawatan pertama di dunia Islam, meskipun lokasinya tidak dapat dilaporkan (Jan, 1996), dia juga merupakan penyokong advokasi pencegahan penyakit (preventif care) dan menyebarkan pentingnya penyuluhan kesehatan (health education).

      Sejarah islam juga mencatat beberapa nama yang bekerja bersama Rufaidah seperti : Ummu Ammara, Aminah, Ummu Ayman, Safiyat, Ummu Sulaiman, dan Hindun. Beberapa wanita muslim yang terkenal sebagai perawat adalah : Ku'ayibat, Aminah binti Abi Qays Al Ghifari, Ummu Atiyah Al Ansariyat dan Nusaibat binti Ka'ab Al Maziniyat. Litelatur lain menyebutkan beberapa nama yang terkenal menjadi perawat saat masa Nabi Muhammad SAW saat perang dan damai adalah: Rufaidah binti Sa'ad Al Aslamiyyat, Aminah binti Qays al Ghifariyat, Ummu Atiyah Al Anasaiyat, Nusaibat binti Ka'ab Al Amziniyat, Zainab dari kaum Bani Awad yang ahli dalam penyakit dan bedah mata.

      Ummu Ammara juga dikenal juga sebagai Nusaibat binti Ka'ab bin Maziniyat, dia adalah ibu dari Abdullah dan Habi, anak dari Bani Zayd bin Asim. Nusaibat dibantu suami dan anaknya dalam bidang keperawatan. Dia berpartisipasi dalam Perjanjian Aqabat dan perjanjian Ridhwan, dan andil dalam perang Uhud dan perang melawan musailamah di Yamamah bersama anak dan suaminya. Dia terluka 12 kali, tangannya terputus dan dia meninggal denan luka2nya. Dia terlibat dalam perang Uhud, merawat korban yang luka dan mensuplai air dan juga digambarkan berperang menggunakan pedang membela Nabi.

a.       Masa Sejarah Perkembangan Islam dalam Keperawatan

     Masa sejarah perkembangan islam dalam keperawatan, tidak dapat dipisahkan dalam konteks perkembangan keperawatan di Arab Saudi khususnya, dan negara-negara di timur tengah umumnya. Berikut ini akan lebih dijelaskan tentang sejarah perkembangan keperawatan di masa Islam dan di Arab Saudi khususnya.

1)      Masa penyebaran Islam/ The Islamic Period (570 – 632 M)

    Dokumen tentang keperawatan sebelum-islam (pre-islamic period) sebelum 570M sangat sedikit ditemukan. Perkembangan keperawatan di masa ini, sejalan dengan perang kaum muslimin/jihad (holy wars), memberikan gambaran tentang keperawatan dimasa ini. Sistem kedokteran masa lalu yang lebih menjelaskan pengobatan dilakukan oleh dokter ke rumah pasien dengan memberikan resep, lebih dominan. Hanya sedikit sekali lilature tentang perawat, namun dalam periode ini dikenal seorang perawat yang bersama Nabi Muhammad SAW telah melakukan peran keperawatan yaitu Rufaidah binti Sa'ad/Rufaidah Al-Asamiya (Tumulty 2001, Al Osimy, 1994)

2)      Masa Setelah Nabi/Post –Prophetic Era (632 – 1000 M)

    Sejarah tentang keperawatan setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW sudah sulit ditemukan (Al Simy, 1994). Dokumen yang ada lebih didominasi oleh kedokteran dimasa itu. Dr Al-Razi yang digambarkan sebagai seorang pendidik, dan menjadi pedoman yang juga menyediakan pelayanan keperawatan. Dia menulis dua karangan tentang "The Reason Why Some Persons and the Common People Leave a Physician Even if He Is Clever" dan "A Clever Physician Does Not Have the Power to Heal All Diseases, for That is Not Within the Realm of Possibility." Di masa ini ada perawat diberi nama "Al Asiyah" dari kata Aasa yang berarti mengobati luka, dengan tugas utama memberikan makanan, memberikan obat, dan rehidrasi.

3)      Masa Late to Middle Ages (1000 – 1500 M)

    Dimasa ini negara-negara Arab membangun RS dengan baik, dan mengenalkan perawatan orang sakit. Ada gambaran unik di RS yang tersebar dalam peradaban Islam dan banyak dianut RS modern saat ini hingga sekarang, yaitu pemisahan antar ruang pasien laki-laki dan wanita, serta perawat wanita merawat pasien wanita dan perawat laki-laki, hanya merawat pasien laki-laki (Donahue, 1985, Al Osimy, 2004).

4)      Masa Modern (1500 – sekarang) Early Leaders in Nursing’s Development

    Masa ini ditandai dengan banyaknya ekspatriat asing (perawat asing dari Eropa, Amerika dan Australia, India, Philipina) yang masuk dan bekerja di RS di negara-negara Timur Tengah. Bahkan dokumen tentang keperawatan di Arab, sampai tahun 1950 jarang sekali, namun di tahun 1890 seorang misionaris Amerika, dokter dan perawat dari Amerika telah masuk Bahrain dan Riyadh untuk merawat Raja Saudi King Saud. (Amreding, 2003).

    Dimasa ini ada seorang perawat Timur Tengah bernama Lutfiyyah Al-Khateeb, seorang perawat bidan Saudi pertama yang mendapatkan Diploma Keperawatan di Kairo dan kembali ke negaranya, dan di tahun 1960 dia membangun Institusi Keperawatan di Arab Saudi.

    Meskipun keperawatan masih baru sebagai profesi di Timur tengah, sebenarnya telah dibangun di masa Nabi Muhammad SAW. Dimana mempengaruhi philosofi praktek, dan profesi keperawatan. Dan sejak tahun 1950 dengan dikenalkannya organized health care dan pembangunan RS di Arab Saudi, keperawatan menjadi lebih maju dan bukan hanya sekedar pekerjaan.

b.      Keperawatan, Islam, Masa Kini dan Mendatang

Menurut Dr. H Afif Muhammad (2004), masalah sehat dan sakit adalah alami sebagai ujian dari Allah SWT, hingga manusia tidak akan bisa terbebas dari sakit. "Sehat kerap membuat orang lupa dan lalai baik dalam melaksanakan perintah-perintah Allah maupun mensyukuri nikmat sehatnya. Kita sering menyebut kondisi yang tidak menyenangkan seperti sakit sebagai musibah yang terkesan negatif, padahal musibah berkonotasi positif.

Tugas seorang perawat dalam meningkatkan spiritualitas pasien adalah dengan menekankan pasien agar tidak berputus asa apalagi menyatakan kepada pasiennya tidak memiliki harapan hidup lagi. "Pernyataan tidak memiliki harapan hidup untuk seorang muslim tidak dapat dibenarkan. Meski secara medis tidak lagi bisa menanganinya, tapi kalau Allah bisa saja menyembuhkannya dengan mengabaikan hukum sebab akibat," katanya. Perawat juga memandu pasiennya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT hingga kondisinya semakin saleh yang bisa mendatangkan "manjurnya" doa.

Di negara-negara timur tengah, konteks keperawatan sendiri banyak dipengaruhi oleh sejarah keperawatan dalam Islam, budaya dan kepercayaan di Arab, keyakinan akan kesehatan dari sudut pandang islam (Islamic health belief), dan nilai-nilai profesional yang diperoleh dari pendidikan keperawatan. Tidak seperti pandangan keperawatan di negara barat, keyakinan akan spiritual islam tercermin dalam budaya mereka.


B.     Praktik Spiritual (Ritual Ibadah) dalam Islam yang Berkaitan dengan Sehat-Sakit
1.      Puasa
      Puasa mengandung makna “menahan diri” atau “mengendalikan diri”. Ungkapan “menahan diri” mempunyai makna yang luas. Pertama, menahan diri untuk tidak makan dan minum, mulai dari terbit fajar dan berakhir ketika matahari terbenam, lamanya kira-kira 13-14 jam. Kedua, menahan diri juga mencakup pengertian melatih kemampuan megendalikan emosi, hawa nafsu, maupun perbuatan yang tidak baik (Wirakusumah, 2010, p. 200)
      Lama berpuasa, yaitu 13-14 jam, tidak akan berpengaruh negatif terhadap kesehatan, malah sebaliknya, puasa terbukti sangat bermanfaat. Kekhawatiran terhadap kekurangan energi selama puasa sebenarnya tidak beralasan. Umumnya, tubuh manusia mempunyai cadangan energi berupa lemak yang disimpan di berbagai bagian tubuh atau cadangan berupa glikogen (diubah dari kharbohidrat di dalam hati). Cadangan glikogen dapat bertahan 24-48 jam. Jika terjadi kekurangan energi, cadangan energi tersebut akan langsung diubah menjadi energi untuk menutup kekurangan yang terjadi. Dan jika masih terdapat kekurangan maka, cadangan lemak pun akan diubah menjadi energi (Wirakusumah, 2010, p. 200)
      Banyak sekali hikmah puasa terhadap kesehatan, baik dari segi fisik maupun psikis. Selain puasa wajib dalam bulan Ramadhan selama sebulan penuh, Islam juga menganjurkan berpuasa sunnah cara Nabi Daud a.s, yaitu berselang-seling, sehari berbuka dan sehari berpuasa; puasa pada hari Senin dan Kamis (dua hari seminggu); puasa enam hari pada awal bulan Syawal; puasa pada 9 Dzulhijjah (hari Arafah); puasa Asysyura (10 Muharram); puasa tiga hari pada setiap bulan Qamariyah; dan puasa pada bulan-nulan Sya`ban (Djayadi, 2007, p. 33)
      Dengan banyaknya jenis puasa dalam Islam, ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat concern (perhatian) terhadap kesehatan, yaitu lebih bersifat mencegah timbulnya penyakit dengan cara menjaga agar tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan. Dampaknya akan menciptakan umat Islam yang sehat jasmani dan rohani (Djayadi, 2007, p. 33-34)
      Menurut M. Sadik Sahil, pengurus Bulan Sabit Merah Cabang Samarinda dalam tulisannya “Puasa dalam Perspektif Kesehatan” di Kaltim Post 19 September 2006 dalam (Djayadi, 2007, p. 34), terdapat beberapa manfaaat dari ibadah puasa antara lain:
a.       Meningkatkan daya tahan tubuh
b.      Bermanfaat bagi kesehatan jiwa
c.       Menguatkan motivasi dalam diri dan melatih jiwa dengan kesabaran
d.      Menjernihkan pikiran dan gejolak hawa nafsu
e.       Meringankan beban kerja organ tubuh
f.       Terhindar dari kegemukan (obesitas)
g.      Membuat nyaman persendian dan saluran urinari
h.      Mengobati berbagai macam penyakit dan mencegah penyakit jantung koroner dan stroke
i.        Menurunkan kadar kolesterol, kadar gula darah, dan tekanan darah
j.        Meremajakan sel-sel tubuh
k.      Menghilangkan zat racun atau detoksifikasi dalam tubuh
l.        Memperbaiki fungsi hormonal tubuh
m.    Membuat kulit lebih sehat, lembut dan berseri-seri

      Menurut Wirakusumah (2010), prinsip “menahan diri” atau “mengendalikan diri” dalam ibadah puasa memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan, baik dari segi jasmaniah maupun ruhiah. Beberapa manfaat ibadah puasa bagi kesehatan jasmaniah adalah sebagai berikut:
a.       Memberikan kesempatan istirahat kepada organ-organ pencernaan serta sistem emzim dan hormon. Dengan berpuasa organ-organ tersebut diberi kesempatan untuk beristirahat serta memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat kerja yang terus-menerus.
b.       Mengurangi beban kerja ginjal dan hati, sehingga organ-organ tersebut bisa bekerja dengan lebih maksimal.
c.       Membebaskan tubuh dari zat-zat sisa pembentuk radikal bebas. Radikal bebas dapat terjadi karena penumpukan racun, kotoran maupun sampah-sampah berbahaya. Dengan demikian, berpuasa memberikan dampak menurunkan resiko terjadinya kanker, mag, sembelit, menghindari penuaan dini dan kulit menjadi lebih sehat.
d.      Mengurangi atau menghentikan aktivitas mikroorganisme jahat. Dengan berpuasa, pasokan makanan terhenti sehingga mikroorganisme patogen tidak dapat hidup dan berkembang.
e.       Meningkatkan daya tahan tubuh. Berdasarkan hasil penelitian, terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan produksi sel darah putih yang berdampak pada meningkatnya daya tahan tubuh seseorang.
f.       Meningkatnya daya serap makanan. Dengan berpuasa, terjadi efesiensi daya serap makanan. Hal itu disebabkan karena organ pencernaan telah diistirahatkan dan beban cerna yang menjadi lebih sedikit. Peningkatannya cukup signifikan, yaitu dari 35% saat tidak berpuasa menjadi 85% saat berpuasa.
g.      Membuat kullit lebih sehat dan berseri. Setiap saat tubuh mengalami metabollisme energi. Sisanya akan diubah dalam bentuk glikogen yang  akan disimpan dan ditimbun di berbagai organ tubuh, seperti hati dan kulit. Saat berpuasa, cadangan energi yang disimpan di dalam kulit akan dikeluarkan dan terjadi proses regenerasi dan peremajaan sel-sel kulit.   

      Wirakusumah (2010) dalam bukunya Sehat Cara Al-quran dan Hadist, juga menjelaskan manfaat ibadah puasa bagi kesehatan ruhaniah. Tinjauan dari segi ruhaniah ini pada dasarnya berawal dari upaya “pengendalian diri” dan kepedulian pada lingkungan. Hal itu tercermin dalam perilaku sebagai berikut:
a.       Melatih kesabaran, ketenangan dan meredam kemarahan
b.      Menghilangkan rasa dengki, fitnah, takabur, zu`uzhan (berburuk sangka)
c.       Melatih diri dalam menghadapi ujian dan cobaan seberat apa pun
d.      Melatih mengendalikan diri dari hawa nafsu birahi yang negatif dan meningkatkan kedisiplinan, melatih mengekang nafsu terhadap makanan yang berlebihan, menghamburkan uang, serta mengekang ambisi yang berlebihan dan menggunjing orang lain.

      Selain itu dengan berpuasa maka, dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti berikut.
a.       Puasa dapat mengurangi penyakit Diabetes Melitus
     Pada waktu berpuasa kadar gula dalam tubuh berkurang sampai ukuran yang minimal. Artinya, hal ini akan memberi kesempatan kepada kelenjar pankreas untuk beristirahat. Pankreas bekerja untuk memproduksi insulin. Insulin dengan segala peredarannya akan mempengaruhi zat gula dalam darah. Apabila makanannya bertambah, maka bertambah pula pankreas dalam memprodukasi insulin, maka kelenjar-kelenjar ini akan terlalu kuat menanggung beban dan akhirnya tidak mampu menjalankan tugasnya. Maka bertumpuklah kadar gula dalam darah, sehingga sedikit-sedikt bertambah, sehingga lama kelamaan berubah menjadi penyakit gula (diabetes). Maka jalan terbaik untuk memelihara pankreas dari beban ini adalah dengan berpuasa secara seimbang dan teratur (Sururin, 2004)

b.      Berpuasa akan menyehatkan perut
      Sekurang-kurangnya selama 12 jam dalam sehari pada waktu berpuasa usus besar akan kosong secara sempurna. Dan hal ini dilakukan dalam waktu sebulan penuh. Masa ini cukup untuk membersihkan makanan yang tertimbun dalam usus besar dan memberikan kesempatan untuk usus besar beristirahat dari proses pencernaan. Oleh karena itu dalam bulan puasa usus besar bersih dari makanan yang tertumpuk (Sururin, 2004)

c.       Berpuasa untuk mengontrol diri
      Waktu berpuasa merupakan kesempatan yang paling baik untuk menjaga kesehatan dari segala kebiasaan yang membahayakan kesehatan, seperti merokok, mengisap ganja, dan minuman keras. Karena ibadah ini mengandung unsur-unsur tertentu dari jenis yang menyebabkan saraf seseorang menjadi kecanduan. Jika seseorang telah menjadi pecandu, maka tidak mungkin menghentikannya secara tiba-tiba, jika dilakukan maka ia merasa sakit dan lemah sarafnya. Tetapi jika menghilangkan kebiasaan itu dengan berpuasa selama 12 jam setiap hari dan dalam masa empat minggu secara rutin, maka zat yang terkandung dalam ganja, alkohol, dan nikotin, hari demi hari secara bertahap sedikit demi sedikit berkurang kadarnya, sehingga saraf akan bebas dari pengaruh benda-benda berbahaya dengan mudah dan nyaman. Oleh karena itu, bagi pecandu membebaskan dirinya dari kecanduan pada bulan Ramadhan lebih mudah daripada hari-hari yang lain (Sururin, 2004)

d.      Puasa dan penyakit-penyakit kulit
      Puasa akan mengurangi kadar gula dalam darah, sehingga berpengaruh pula pada kadar gula pada kulit, hal ini sesuai dengan kondisi darah dalam kulit. Kekeringan kadar air dalam kulit dapat menyebabkan hal – hal berikut:
1)      Menambah ketegaran dan daya tahan terhadap bakteri.
2)      Memperkecil kemungkinan berkembangnya penyakit, bengkak, penyakit kulit dan berkembangnya ke seluruh tubuh.
3)      Puasa juga akan mengeringkan penyakit-penyakit indrawi (mata dan penyakit kulit yang berlemak.
4)      Dengan membebaskan usus dari proses pencernaan, maka akan memperkecil gas-gas beracun dan asamnya makanan yang menyebabkan bisul-bisul pada kulit.

      Berpuasa merupakan proses pengembangan dan aktualisasi diri ke arah manusia bertakwa. Dengan berpuasa seseorang akan menjadi sadar, yakin dan sabar melatih dirinya dalam menahan lapar dan haus, serta menahan segala keinginan hawa nafsu dalam jangka waktu tertentu. Puasa yang dilakukan dengan kesadaran, keimanan dan ketakwaan kepada Allah merupakan benteng yang kokoh bagi pertahanan diri terhadap segala godaan hawa nafsu. Puasa yang demikian akan mendorong manusia untuk bersikap ikhlas, jujur, benar, dan mengendalikan diri dalam setiap amal yang dilakukannya. Puasa yang benar akan memberikan ketenangan jiwa. Apabila orang sering melakukan puasa berarti ia akan jauh dari sifat jahat, semakin terkendali dan kuatlah benteng pertahanan dirinya. Dengan demikian, orang yang berpuasa dapat terhindar dari penyebab gangguan kejiwaan dan tercegah dari penyakit jiwa (Sururin, 2004).

2.      Shalat Tahajud
      Shalat secara etimologi berarti memohon (doa) dengan baik, yaitu memohon keselamatan, kesejahteraan, dan kedamaian hidup di dunia dan di akhirat kepada Allah SWT. Permohonan dalam shalat tidak sama dengan permohonan di luar shalat, sebab di dalam shalat telah diatur dengan tata cara yang baku, tidak boleh dikurangi ataupun ditambah. Sedangkan menurut istilah, shalat adalah perbuatan yang diawali dengan takbir dan dikhiri dengan salam (Kurniasih, 2008, p. 52)
Shalat adalah ibadah yang di dalamnya terjadi hubungan ruhani antara makhluk dan penciptanya. Shalat juga dipandang sebagai munajat yaitu berdoa dengan hati yang khusyuk kepada Allah. Orang yang mengerjakan shalat dengan khusyuk, seakan-akan berhadapan dan melakukan dialog dengan Allah. Suasana spritual seperti ini dapat menolong manusia untuk mengungkapkan segala perasaan dan berbagai permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian, ia mendapatkan tempat untuk mencurahkan segala yang ada dalam pikirannya. Dengan shalat yang khusyuk orang akan mendapatkan ketenangan jiwa, karena merasa diri dekat dengan Allah dan memperoleh ampunan-Nya (Sururin, 2004)

      Shalat bagi kesehatan merupakan sebuah sistem pertahanan yang sempurna bagi yang mengerjakannya dan juga merupakan pakaian orang-orang yang beriman karena shalat adalah perintah langsung dari Sang Maha Pencipta dan dikerjakan tanpa tendensi apapun yang semata-mata hanyalah sebuah perintah dari-Nya (Kurniasih, 2008, p. 42)
      Begitu pun dengan shalat Tahajud. Shalat Tahajud merupakan shalat yang dikerjakan saat tengah malam. Rasulullah SAW bersabda “kerjakanlah salat malam oleh kalian, karena ia adalah tradisi orang-orang salih sebelum kalian, sebagai sarana yang dapat mendekatkan kalian kepada Rabb kalian, menghapus berbagai keburukan, dan mencegah dari perbuatan dosa, serta mengusir penyakit dari tubuh” (Albani, 2007, p. 46)
      Albani (2007) mengungkapkan bahwa, terdapat 4 manfaat agung dari salat tahajud, yaitu;
a.       Mendekatkan kepada Allah
b.      Menghapus berbagai keburukan
c.       Mencegah dari perbuatan dosa
d.      Mengusir penyakit dari tubuh
      Satu aspek yang akan dibahas, yakni manfaat tahajud untuk mengusir penyakit dari tubuh. Hal ini selaras dengan sebuah hasil penelitian ilmiah, yang membuktikan bahwa salat tahajud mampu membebaskan seseorang dari berbagai penyakit. Hal ini karena orang yang melakukan salat tahajud memiliki kadar hormon kortisol yang rendah yang dapat mengindikasikan seseorang memiliki ketahanan tubuh yang kuat dan kemampuan individu yang tangguh, sehingga mampu menanggulangi masalah-masalah sulit dengan lebih stabil (Albani, 2007, p. 25)
      Menurut Soleh (Dosen Fakultas Tarbiah IAIN Sunan Ampel Surabaya), salat tahajud yang dilakukan dipenghujung malam yang sunyi, bisa mendatangkan ketenangan. Sementara ketenangan itu sendiri terbukti mampu meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan meningkatkan usia harapan hidup (Albani, 2007, p. 47-48)
      Sebaliknya, bentuk-bentuk tekanan mental seperti stress maupun depresi membuat seseorang rentan terhadap berbagai penyakit, infeksi, mempercepat perkembangan sel kanker, dan meningkatkan metastasis (penyebaran sel kanker). Tekanan mantal itu sendiri terjadi akibat gangguan irama sirkadian (siklus bioritmik manusia) yang ditandai dengan peningkatan hormone kortisol. Dan hormon kortisol ini biasa dipakai sebagai tolok ukur untuk mengetahui kondisi seseorang, apakah jiwanya sedang terserang stress, depresi atau tidak (Albani, 2007, p. 48)
      Menurut Soleh, salat tahajud mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stress yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural. Namun pada saat yang sama, salat tahajud pun bisa mendatangkan stress, terutama bila tidak dilaksanakan secara ikhlas dan kontinyu (Albani, 2007, p. 48)
      Dengan begitu, keikhlasan dalam menjalankan shalat Tahajud menjadi sangat penting. Selama ini banyak kiai dan intelektual berpendapat bahwa ikhlas adalah persoalan mental-psikis. Artinya hanya Allah SWT yang mengetahui, dan mustahil dapat dibuktikan secara ilmiah. Namun setelah dilakukan penelitian, terbukti secara medis bahwa ikhlas yang dipandang sebagai sesuatu yang misteri itu bisa dibuktikan secara kuantitatif melalui indicator sekresi hormone kortisol. Sholeh menegaskan,”keikhlasan dalam salat tahajud dapat dimonitor lewat irama sirkadian, terutama pada sekresi hormon kortisolnya “(Albani, 2007, p. 48-49)
      Sholeh (2007), menyatakan bahwa jika ada seseorang yang merasakan sakit setelah menjalankan shalat tahajud, kemungkinann besar hal tersebut berkaitan dengan niat yang tidak ikhlas, sehingga gagal beradaptasi terhadap perubahan irama sirkandian tersebut. Gangguan adaptasi itu tercermin pada sekresi kortisol dalam serum darah yang seharusnya menurun pada malam hari. Peningkatan sekresi kortisol akan mengakibatkan menurunnya produksi respon imunologik sehingga berakibat munculnya berbagai macam gangguan kesehatan pada tubuh seseorang. Niat yang tidak ikhlas, akan menimbulkan kekecewaan, persepsi negatif, dan rasa tertekan. Perasaan negatif dan tertekan ini menjadikan seorang individu rentan terhadap stress (Albani, 2007, p. 49)
      Dalam kondisi stres yang berkepanjangan yang ditandai dengan tingginya sekresi kortisol, maka hormon kortisol itu akan bertindak sebagai imunosupresif yang menekan poliferasi limfosit yang akan mengakibatkan imunoglobulin tidak terinduksi. Sehingga akibat tidak terinduksinya imunoglobulin ini, maka sistem daya tahan tubuh akan menurun sehingga rentan terkena kanker dan infeksi (Albani, 2007, p. 49)
      Sebaliknya, shalat Tahajud yang dijalankan dengan tepat, kontinyu, dan ikhlas dapat menimbulkan persepsi dan motivasi positif sehingga menumbuhkan coping mechanism yang efektif. Respon emosional yang positif dari pengaruh shalat tahajud berjalan mengalir dalam tubuh dan diterima oleh batang otak. Setelah diformat dengan bahsa otak, kemudian ditrasmisikan ke salah satu bagian otak besar, yaitu Thalamus. Kemudian, dari Thalamus respon ini ditransimisikan ke Hipokampus (pusat memori yang vital untuk mengkoordinasikan segala hal yang diserap oleh panca indera) untuk mensekresi GABA yang bertugas sebagai pengontrol emosi, dan menghambat acetylcholine, serotonis, dan neurotransmiter yang lain yang memproduksi sekresi kortisol. Selain itu, Talamus juga meneruskan respon ini ke prefrontal kiri-kanan dengan mensekresi dopanin dan menghambat sekresi seretonin dan norephinerin. Setelah terjadi kontak timbal balik antara Thalamus-Hipokampus-Amigdala-Prefrontal kiri-kanan, maka selanjutnya Thalamus mengirimkan respon ke Hipothalamus untuk mengendalikan sekresi kortisol (Albani, 2007, p. 50)
3.      Sedekah
      Terdapat dua keniscayaan mutlak milik Allah, yang sebenarnya tidak mampu dipungkiri oleh semua makhluk. Manusia pun begitu lemah untuk “menggugat” keniscayaan itu (Albani, 2007, p. 82)
      Keniscayaan yang pertama adalah, bahwa Allah telah menurunkan penyakit, dan Dia bersama dengan itu juga menurunkan obatnya. Allah akan memberikan kesembuhan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Allah juga akan meletakkan obat sebagai sarana kesembuhan itu di mana saja yang Dia kehendaki. Mungkin saja obat itu ada di dalam pil-pil kimiawi, atau dalam jamu-jamu tradisional, dan lain sebagainya. Termasuk juga dan sangat mungkin sekali jika Allah berkehendak meletakkan obat bagi penyakit itu berada dalam amalan ibadah, seperti sedekah (Albani, 2007, p. 82)
      Kedua, ketika Allah mengehendaki sesuatu, Dia hanya berfirman “jadilah”, maka akan terjadilah sesuatu itu. Ketika Allah menghendaki kesembuhan itu melalui perantara sedekah, maka saat orang yang sakit itu bersedekah, Allah pun langsung berfirman, “Sembuhlah”, dan orang yang sakit itu pun menjadi sembuh (Albani, 2007, p. 82-83)
      Albani (2007) dalam bukunya “Berobat dengan Sedekah” menjelaskan bahwa, agar sedekah yang dikeluarkan bisa dengan segera menyembuhkan penyakit yang di derita, dengan izin Allah, maka hendaknya secara serius memperhatikan prinsip-prinsip penting di bawah ini. Hal ini semacam menjadi “aturan main” dan rambu-rambu yang harus diperhatikan jika ingin melakukan pengobatan dengan sedekah, beberapa prinsip tersebut antara lain sebagai berikut:
a.       Yakin dengan keampuhan sedekah
      Langkah awal yang harus dilakukan agar penyakit yang diderita bisa sembuh dengan sedekah ialah dengan berprasangka baik kepada Allah, bahwa sakit yang dialami merupakan ekspresi kasih sayang Allah, sehingga diharapkan dengan sakit itu dosa-dosa akan berguguran dan Allah akan meninggikan derajat, jika mau bersabar. Kemudian hendaklah yakin bahwa Allah akan menyembuhkan penyakit tersebut, melaluo sedekah yang dikeluarkan. Keyakinan yang besar di dalam hati tentang kekuatan sedekah dalam menyembuhkan penyakit merupakan faktor sangat penting, yang harus dipatrikan di dalam lubuk hati. Oleh karena itu, berprasangka baiklah kepada Allah dan yakinlah dengan dahsyatnya kekuatan sedekah dalam menghilangkan penyakit yang bersarang di dalam tubuh (Albani, 2007, p. 84)

b.      Niatkan sedekah untuk kesembuhan
      Niatkan sedekah yang dikeluarkan untuk kesembuhan penyakit yang diderita. Banyak orang yang telah bersedekah di kala sakit, namun kesembuhan itu tidak didapat juga. Kemungkinan besar, ia tidak meniatkan dengan sedekah itu, semoga Allah memberikan kesembuhan kepadanya dengan segera (Albani, 2007, p. 84-85)
      Maka dengan hati yang yakin, bersedakahlah, baik dengan memberikan makanan kepada fakir miskin, menanggung beban hidup anak yatim, menyumbang untuk pos-pos kebajikan, bersedekah jariyah, dan lain sebagainya. Niatkan semua itu untuk kesembuhan penyakit yang diderita, dan semoga Allah benar-benar segera menyembuhkan (Albani, 2007, p. 85)

c.       Over dosis, lebih mempercepat kesembuhan
      Dalam pengobatan medis, over dosis dalam meminum obat-obatan kimia merupakan sesuatu yang dilarang dan sangat berbahaya, karena bisa menimbulkan kematian. Untuk itu ditetapkanlah aturan minum yang harus ditaati pasien (Albani, 2007, p. 85)
      Namun, over dosis dalam pengobatan ilahiyah dengan sedekah, yakni dengan sebanyak-banyaknya mengeluarkan sedekah yang dimiliki, kalau itu dilandasi keikhlasan, maka hal ini akan berdampak baik dan sangat berguna untuk mempercepat kesembuhan (Albani, 2007, p. 85-86)

d.      Sedekahkanlah yang terbaik
      Agar sedekah lebih berkah dan harapan untuk sembuh segera diijabah oleh Allah, maka dianjurkan untuk bersedekah dengan harta atau barang yang paling baik. Sesuai dengan firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah:267, yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan untuk sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya. Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
      Ada yang berpendapat yang dimaksud thayyib (yang baik-baik) dalam hal ini adalah harta benda yang halal. Karena Allah tidak akan menerima sedekah yang diambil dari harta yang haram. Disamping itu, dalam konteks ini, sedekah yang diperintahkan adalah dengan harta benda yang baik dari segi kualitasnya. Baik dari segi kualitasnya diartikan bahwa harta atau benda tersebut masih dibutuhkan atau dicintai oleh si pemberi sedekah itu sendiri. Hal ini mungkin agak berat untuk dilakukan. Namun, bersedekah dengan harta yang seperti inilah yang nanti akan lebih baik dan diterima Allah, dan dengan izin Allah pula, bisa menyembuhkan penyakit yang dialami (Albani, 2007, p. 88)

e.       Bersedekahlah yang banyak
      Dalam kisah-kisah seputar penyembuhan penyakit dengan sedekah, dapat dilihat bahwa anjuran bersedekah bagi orang yang sedang dirundung sakit, haruslah yang sebanding dengan dengan kekayaan yang dimiliki (Albani, 2007, p. 89)

f.       Ikhlaskan Hati
      Meniatkan sedekah untuk kesembuhan InsyaAllah tidak akan meniadakan eksistensi keikhlasan yang murni karena Allah SWT. Sebuah amalan yang dilandasi keikhlasan yang besar dan sempurna, tentu juga akan mendapatkan balasan yang besar dan sempurna pula. Kita masih ingat dengan hadist yang memaparkan tentang adanya 7 golongan yang dijamin selamat dan dilindungi oleh Allah di hari yang tidak ada perlindungan selain perlindunganNya. Dan rasulullah SAW menyebutkan salah satunya yang artinya :
       “…Dan seseorang yang mengeluarkan sedekah kemudian menyembunyikannya, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang telah diinfakkan oleh tangan kanannya….”(H.R Bukhari dan Muslim).
      Menurut Albani (2007), secara lahiriah ada beberapa penyakit yang sering menjangkiti sedekah, sehingga menyebabkan sedekah kita mati dan mandul, tak mampu menghasilkan pahala dan kebaikan, apalagi manfaat penyembuhan terhadap berbagai penyakit. Ada 4 hal yang harus diwaspadai agar sedekah kita menjadi barokah, yaitu:
1)      Al-mann (suka menyebut-nyebut pemberian)
2)      Al-adza (menyakiti perasaan si penerima sedekah, baik dengan ucapan maupun tindakan)
3)      Ria’annas (berbuat riya alias pamer dengan sedekah yang dikeluarkan)
4)      La yu’min billah wal yaumil akhir (tidak dilandasi keimanan kepada Allah dan hari akhir)
g.      Tepat sasaran
      Pahala dan khasiat sedekah memang sangat terkait dengan factor kemanfaatan dari sedekah yang dikeluarkan bagi penerimanya. Tentu sangat berbeda sekali, antara kita bersedekah kepada orang miskin yang masih bisa makan tiga kali sehari walaupun dengan kekuatan makanan yang pas-pasan, dengan bersedekah kepada orang yang sangat miskin yang terkadang hanya mampu makan sekali dalam sehari, karena terhimpit masalah ekonomi ynag sangat pelik (Albani, 2007, p. 93)
      Sebagaimana firman Allah yang artinya : “Atau kepada orang miskin yang sangat fakir” (QS. Al-Balad 90:16)
      Jadi menurut ayat diatas ada karakteristik khusus orang-orang yang layak dijadikan sasaran sedekah dalam perpektif yang ideal, agar sedekah dikeluarkan bisa menjadi lading pahala yang berlimpah dan bisa menjadi obat mujarab bagi penyakit yang diderita, yakni mereka orang-orang mu’minun taqiyyun yang miskinan dza matrabah (orang mukmin dan bertakwa yang miskin dan sangat fakir) (Albani, 2007, p. 94)
     
h.      Jangan Sekedar Mencoba
      Prinsip lainnya agar penyakit yang diderita dapat sembuh dengan ibadah sedekah ialah dengan meyakini sepenuh hati bahwa Allah akan menyembuhkan penyakit yang diderita melalui sedekah yang dikeluarkan. Allahlah penggenggam keburukan dan kebaikan, Dzat yang berkuasa menentukan seseorang itu sehat atau sakit. Tidak ada sesuatu yang mustahil bagiNya. Apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berfirman, “Jadilah” , maka terjadilah sesuatu itu. Menyembuhkan penyakit dengan sedekah, separah apapun penyakitnya, adalah sesuatu yang mudah sekali bagi Allah. Allah cukup berfirman, “Sembuhlah” , maka kita pun benar-benar sembuh. Subhanallah. (Albani, 2007, p. 95)
      Oleh karena itu, perbaikilah persangkaan kepada Allah. Bersedekahlah dengan dilandasi keyakinan yang tinggi. Jangan hanya sekedar coba-coba, siapa tahu nanti sembuh. Bersedekahlah dengan mantap dan optimis. Allahlah Sang Penyembuh segala penyakit yang ada di dunia ini (Albani, 2007, p. 95)

i.        Ulangi Sedekah Tersebut
      Apabila belum melihat hasil yang memuaskan setelah bersedekah, dan penyakityang diderita tidak juga kunjung sembuh, (ini mungkin bisa terjadi, walaupun sangat jarang sekali), hendaklah sedekah itu diulangi sekali lagi, mengulang dan terus mengulang untuk mengeluarkan sedekah, serta jangan sampai putus asa. Tetaplah yakin bahwa sedekah yang telah dikeluarkan sama sekali tidak akan menjadi sia-sia, namun ia tetap akan terpelihara di sisi Allah yang tak pernah melupakan kebaikan hamba-Nya (Albani, 2007, p. 96)
      Jika sedekah telah diulang-ulang, namun tidak sembuh juga, ketahuilah bahwa hal itu mengisyaratkan kasih saying Ilahi dan hikmah Rabbani belum sempurna tercurah. Terkadang Allah tidak akan menyembuhkan penyakit hingga orang itu mau bersedekah, namun Dia tetap mengasihi hambaNya yang gemar bersedekah walaupun Dia belum memberikan kesembuhan kepadanya hingga ia terbebaskan dari dosa-dosa yang mengeram pada dirinya (Albani, 2007, p. 96)

j.        Bersyukurlah jika telah sembuh
Apabila Allah SWT telah menyembuhkan penyakit yang diderita, serta menggantikan kesusahan dengan kebahagiaan, maka hadapkan wajah kepadaNya dan bersyukur. Memperbanyak mengucapkan lafazh “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin’, karena orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah dijanjikan akan diberi tambahan nikmat yang lain kepadanya. Allah SWT bwrfirman yang artinya:
“Dan ingatlah juga, tatkala rabbmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-KU, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim 14:7).
Itulah prinsip-prinsip vital yang harus diperhatikan bagi orang yang ingin melakukan pengobatan dengan sedekah. Semoga Allah SWT senantiasa menyembuhkan seluruh orang yang sakit dengan kesembuhan yang sempurna dan tak pernah kambuh. Dan agar Dia menjadikan musibah yang menimpanya sebagai penghapus segala kesalahannya, pengankat derajatnya, dan menjadi tirai yang menghalanginya dari panasnya api neraka (Albani, 2007, p. 98-99)
C.    Asuhan Keperawatan pada Keluarga Klien yang Menjelang Kematian
1.      Pengkajian
      Untuk mendapatkan data dasar lengkap yang memungkinkan analisis akurat dan identifikasi diagnosis keperawatan yang tepat untuk klien menjelang ajal dan keluarga mereka, perawat pertama kali perlu mengetahui status pemahaman yang ditunjukkan oleh klien dan anggota keluarga, yaitu tidak memiliki pemahaman, keadaan saling berpura-pura dan pemahaman terbuka (Kozier, 2010, p. 570).
Pada saling berpura-pura, klien, keluarga, dan personel kesehatan tahu bahwa prognosis menunjukkan penyakit terminal tetapi tidak membicarakannya dan berusaha untuk tidak memunculkan subjek tersebut. Pada pemahaman terbuka, klien dan orang di sekitarnya mengetahui tentang kematian yang akan datang dan merasa nyaman mendiskusikannya, walaupun terasa sulit. Sedangkan tidak memiliki pemahaman, klien tidak menyadari kematian yang akan datang. Keluarga mungkin tidak sepenuhnya memahami mengapa klien sakit dan mereka percaya bahwa klien akan pulih. Dokter meyakini bahwa hal terbaik adalah tidak mengomunikasikan diagnosis atau prognosis kepada klien. Personel keperawatan dihadapkan dengan masalah etik dalam situasi ini. (Kozier, 2010, p. 570).
Beberapa pertanyaan yang dapat ditanyakan pada saat wawancara pengkajian pada keluarga atau orang terdekat klien yang menjelang ajal antara lain:
1.      Pernahkan Anda dekat dengan seseorang yang sebelumnya menjelang ajal?
2.      Apa yang pernah dikatakan kepada Anda mengenai seseuatu yang mungkin terjadi apabila terjadi kematian?
3.      Apakah Anda mempunyai pertanyaan mengenai apa yang mungkin terjadi di saat kematian?
4.      Menurut Anda bagaimana Anda akan mengatakan selamat tinggal?
5.      Bagaimana Anda merawat diri sendiri selama masa ini?
6.      Kepada siapa Anda meminta bantuan dalam masa ini?
7.      Apakah ada orang yang ingin Anda hubungi melalui saya saat ini atau saat kematian terjadi?

      Saat kematian mendekat, perawat membantu keluarga dan orang terdekat lain untuk mempersiapkan diri. Bergantung sebagian pada pengetahuan mengenai status pemahaman seseorang, perawat memberi pertanyaan yang membantu mengidentifikasi cara-cara untuk menyediakan dukungan selama periode sebelum dan sesudah kematian. Terutama, perawat perlu mengetahui apa yang keluarga harapkan akan terjadi saat seseorang meninggal sehingga informasi akurat dapat diberikan dengan kedalaman yang tepat. Saat anggota keluarga mengetahui apa yang diharapkan mereka mungkin mampu mendukung orang yang menjelang ajal dan orang lain yang berduka. Selain itu, mereka mungkin mampu membuat keputusan tertentu mengenai kejadian disekitar kematian seperti apakah mereka ingin melihat jenazah klien atau tidak (Kozier, 2010).

2.      Diagnosa
      Salah satu diagnosa yang dapat ditegakkan adalah “perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan dampak penyakit kritis anggota keluarga pada sistem keluarga.”

3.      Intervensi
      Menurut Hudak (1997), tujuan atau kriteria hasil yang diharapkan dari intervensi yang akan diberikan kepada keluarga klien yang menjelang ajal antara lain adalah:
a.       Anggota keluarga akan mengatakan perasaan mereka kepada perawat
b.      Anggota keluarga akan berpartisipasi dalam perawatan anggota keluarga yang sakit.
c.       Anggota keluarga akan membantu mengembalikan anggota keluarga yang yang sakit dari peran sakit ke peran sehat
d.      Anggota keluarga akan mempertahankan fungsi sistem dukungan yang menguntungkan bagi semua
e.       Anggota keluarga akan mencari sumber dukungan yang tepat bila dibutuhkan.

      Selain itu, Hudak (2007) juga menjelaskan beberapa intervensi keperawatan yang juga dirancang untuk membantu keluarga agar:
a.       Mencapai tingkat adaptasi yang lebih tinggi dengan belajar dari pengalaman krisis
b.      Mendapatkan kembali keadaan seimbang
c.       Mengalami perasaan terkait dalam krisis untuk menghindari keterlambatan depresi dan memungkinkan pertumbuhan emosi yang akan datang.

      Intervensi yang dapat diberikan kepada keluarga yaitu:
a.       Kaji kemampuan keluarga untuk memenuhi atau mencapai kriteria hasil
b.      Bantu keluarga untuk mengungkapkan perasaannya dengan menanyakannya dan menunjukkan minat dan perhatian, serta evaluasi diskusi sebelumnya.
c.       Berikan kesempatan bagi anggota keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan. Dorong anggota keluarga untuk menyentuh dan berbicara pada pasien ketika sadar maupun tidak sadar
d.      Bantu keluarga dalam mengidentifikasikan perubahan dalam pelaksanaan peran
e.       Bantu anggota keluarga dalam mengijinkan pasien untuk berfungsi dalam modifikasi peran sesuai kebutuhan
f.       Bantu keluarga dalam mencari hiburan dan rekreasi selama masa kritis
g.      Yakinkan keluarga bahwa mereka boleh menghubungi unit atau perawat akan menghubungi mereka bila sesuatu berubah menjadi buruk
h.      Minta anggota keluarga mengindentifikasikan pola khusus mereka untuk mengatasi stress. Dorong mereka untuk menghubungi sumber lama dan merujuknya ke sumber yang baru, contohnya perawat psikososial, pekerja sosial dan kiai.
i.        Bantu anggota keluarga mengidentifikasikan rasional prioritas, contohnya mendapatkan pengasuh atau transportasi.

4.      Evaluasi
      Setelah memberikan intervensi pada keluarga klien yang menjelang ajal, dapat dilakukan evaluasi berdasarkan kriteria hasil yang diharapkan. Hal-hal yang dapat dievaluasi antara lain adalah:
a.       Anggota keluarga akan mengatakan perasaan mereka kepada perawat
b.      Anggota keluarga akan berpartisipasi dalam perawatan anggota keluarga yang sakit.
c.       Anggota keluarga akan membantu mengembalikan anggota keluarga yang yang sakit dari peran sakit ke peran sehat
d.      Anggota keluarga akan mempertahankan fungsi sistem dukungan yang menguntungkan bagi semua

e.       Anggota keluarga akan mencari sumber dukungan yang tepat bila dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Albani, M. (2007). Berobat dengan sedekah. Jawa Tengah: Insan Kamil
Djayadi, M. T. (2007). Puasa sebagai terapi. Bandung: PT. Mizania Pustaka
Hudak, C. M. (1997). Keperawatan kritis: pendekatan holistik. Jakarta: EGC
Kurniasih, I. (2008). Indahnya Tahajud, keutamaan, manfaat dan keistimewaan shalat malam. Yogyakarta: Mutiara Media
O ‘Brien, M.E (2010). Spirituality in Nursing. Toronto: Jones and Bartlett.
Potter, A. P & Perry, A. G. (2005). Fundamental keperawatan: konsep, proses, dan praktik. Ed. 4. Vol. 1. (Renata Komalasari, penerjemah). Jakarta: EGC
Sururin. (2004). Ilmu Jiwa Agama. Ed.1. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Wirakusumah, E. P. (2010). Sehat cara Alqur1an dan Hadis. Jakarta: PT. Mizan Publika

No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat