google adsense

Monday, August 7, 2017

Gangguan Respon Sosial (Isolasi Diri)

A.    Gangguan Respon Sosial (Isolasi Diri)
1.      Pengertian
     Isolasi sosial merupakan keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan atau sama sekali tidak berinteraksi dengan orang disekitar.Klien merasa ditolak,tidak diterima,kesepian dan tidak mampu membina hubungan (Keliat,2009)
     Isolasi sosial merupakan keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain dianggap menyatakan sikap negatif dan mengancam bagi dirinya (Townsend,MC 1998:152).
2.      Faktor Isolasi sosial
     Isolasi sosial menarik diri sering disebabkan oleh karena kurangnya rasa percaya pada orang lain, perasaan panik, regresi ke tahap perkembangan sebelumnya, waham, sukar berinteraksi dimasa lampau, perkembangan ego yang lemah serta represi rasa takut (Townsend, M.C,1998:152).
     Menurut Stuart, G.W & Sundeen, S,J (1998 : 345) Isolasi sosial disebabkan oleh gangguan konsep diri rendah. Berbagai faktor biasa menimbulkan respon sosial yang maladaptif dan mungkin disebabkan oleh kombinasi dari berbagai faktor, meliputi :
a.       Faktor perkembangan
     Tiap gangguan dalam pencapaian tugas perkembangan dapat mempengaruhi respon sosial maladaptif pada setiap individu. Sistem keluarga yang terganggu dapat berperan dalam perkembangan respon sosial maladaptif. Beberapa orang percaya bahwa individu yang mengalami masalah ini adalah orang yang tidak berhasil memisahkan dirinya dari orang tua
b.      Faktor biologis
     Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaptif. Bukti terdahulu menunjukan keterlibatan neurotransmitter dalam perkembangan gangguan ini, namun tetap diperlukan penelitian lebih lanjut.
c.       Faktor sosiokultural
     Isolasi sosial merupakan faktor utama dalam gangguan hubungan. Hal ini akibat dari transiensi, norma yang tidak mendukung pendekatan terhadap orang lain, atau tidak mengharhai anggota masyarakat yang kurang produktif, seperti lanjut usia ( lansia ), orang cacat dan penderita penyakit kronik. Isolasi dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku, dan sistem nilai yang berbeda dari yang dimiliki budaya mayoritas.
3.      Ciri-ciri isolasi sosial
     Menurut Townsend, M.C (1998:152-153) & Carpenito,L.J (1998: 382) isolasi sosial menarik diri sering ditemukan adanya tanda dan gejala sebagai berikut:  
Bersifat subjektif :
a.       Mengungkapkan perasaan tidak berguna, penolakan oleh lingkungan
b.      Mengungkapkan keraguan tentang kemampuan yang dimiliki
Bersifat objektif :
a.         Tampak menyendiri dalam ruangan
b.        Tidak berkomunikasi, menarik diri
c.         Tidak melakukan kontak mata
d.        Tampak sedih, afek datar
e.         Posisi meringkuk di tempat tidur dengang punggung menghadap ke                           pintu
f.         Adanya perhatian dan tindakan yang tidak sesuai atau imatur dengan perkembangan usianya
g.        Kegagalan untuk berinterakasi dengan orang lain didekatnya
h.        Kurang aktivitas fisik dan verbal
i.          tidak mampu membuat keputusan dan berkonsentrasi
j.          Mengekspresikan perasaan kesepian dan penolakan di wajahnya
4.      Rentang atau tahap Isolasi sosial
     Menurut Stuart dan Sundeen (1998), rentang respon klien ditinjau dari interaksinya dengan lingkungan sosial merupakan suatu kontinum yang terbentang antara respon adatif dengan maladatif berikut :
 


Menarik diri
Ketergantungan
Manipulasi
Curiga
 
Merasa sendiri
Dependensi
Curiga
 
Menyendiri
Otonomi
Bekerjasama
Interdependen
 
Respon Adatif                                                                     Respon Maladatif




Gambar 1.2 rentang respon isolasi sosial

a.       Respon adaptif
     Respon adaptif adalah suatu respon individu dalam menyesuaikan masalah yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya yang umum berlaku,yang meliputi :
1)      Menyendiri (solitude)
     Merupakan respons yang dibutuhkan seseorang untuk menentukan apa yang telah dilakukan dilingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya.
2)      Otonomi
     Kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide, pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
3)      Berkerja sama (mutualisme)
     Suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling member dan menerima
4)      Saling tergantung (interdependent)
     Merupakan kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
b.      Respon maladaptif
     Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyesuaikan masalah menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya,meliputi :
1)      Menarik diri
     keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain
2)      Tergantung (dependent)
     Terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuanya untuk berfungsi secara sukses.
3)      Manipulasi
     Gangguan hubungan smosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang sebagai obyek. Individu tersebut mtidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
4)      Impulsif
     Tidak mampu merencanakan sesuatu, tidak mamapu belajar dari pengalaman, penilaian yang buruk dan individu ini tidak dapat diandalkan.
5)      Narsisisme
     Harga dirinya rapuh, secara terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian yang egosentris dan pencemburu. (Stuard, GaillW,2006)
5.      Dampak isolasi sosial
      Perilaku isolasi sosial : menarik diri dapat berisiko terjadinya perubahan persepsi sensori halusinasi (Townsend, M.C, 1998 : 156). Perubahan persepsi sensori halusinasi adalah persepsi sensori yang salah (misalnya tanpa stimulus eksternal) atau persepsi sensori yang tidak sesuai dengan realita/kenyataan seperti melihat bayangan atau mendengarkan suara-suara yang sebenarnya tidak ada (Johnson, B.S, 1995:421).
     Menurut Maramis (1998:119) halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya rangsang apapun dari panca indera, di mana orang tersebut sadar dan dalam keadaan terbangun yang dapat disebabkan oleh psikotik, gangguan fungsional, organik atau histerik.
     Halusinasi merupakan pengalaman mempersepsikan yang terjadi tanpa adanya stimulus sensori eksternal yang meliputi lima perasaan (pengelihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, perabaan), akan tetapi yang paling umum adalah halusinasi pendengaran dan halusinasi pendengaran (Boyd, M.A & Nihart, M.A, 1998: 303; Rawlins, R.P &  Heacock, P.E, 1988 : 198).
     Menurut Carpenito, L.J (1998: 363) perubahan persepsi sensori halusinasi merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau berisiko mengalami suatu perubahan dalam jumlah, pola atau intepretasi stimulus yang datang. Perubahan persepsi sensori halusinasi sering ditandai dengan adanya:
a.       Tidak mampu mengenal waktu, orang dan tempat
b.      Tidak mampu memecahkan masalah
c.       Mengungkapkan adanya halusinasi
6.      Penatalaksanaan
Penataksanaan pada penderita gangguan jiwa dibagi dalam beberapa bentuk:
a.         Suasana terapi(lingkungan teurapeutik)
     Suasana terapi adalah suasana yang diciptakan oleh dokter atau perawat denga klien yang dapat membantu proses penyembuhan klien. Dalam teori keperawatan jiwa hal ini lebih dikenal dengan menciptakan hubungan saling percaya antara perawat dengan klien.
b.        Farmakoterapi
     Farmakoterapi adalah bentuk penatalaksanaan penderita gangguan jiwa dengan pemberian obat-obatan Anti Psikotik. Pengobatan ini diharapkan mampu memperbaiki keadaan somatik atau biologis tubuh yang berhubungan dengan perubahan perilaku penggunaan obat-obatan anti psikotik dapat mempengaruhi keseimbangan Neurotransmitter pada sistem embolik otak sehingga efek gangguan perilaku seperti halusinasi dan Apatis dapat teratasi.
c.       Psikoterapi
     Psikoterapi adalah suatu cara pengobatan terhadap masalah emosional seorang pasien yang dilakukan oleh seorang yang terlatih dalam hubungan profesional secara sukarela, dengan maksud hendak menghilangkan, mengubah, atau menghambat gejala-gejala yang ada, mengoreksi perilaku yang terganggu, dan mengembangkan pertunbuhan kepribadian secara positif. Psikoterapi dilakukan dengan pemberian support kepada klien untuk meningkatkan aspek positif diri. Pada penderita gangguan jiwa dengan perilaku isolasi sosial, bentuk psikoterapi dalam keperawatan yang paling efektif digunakan adalah terapai aktifitas kelompok dengan sosialisasi.(W.F Maramis, 1998).


Rsko perilaku kekrsan t’hdp diri sndri
 
                                                                                         Akibat
 









Ketidakefektifan koping keluarga
 
Gangguan konsep diri : HDR kronis
 
                                                                                      Penyebab

Gambar 1.3 pohon masalah isolasi sosial : menarik diri.
7.      Proses Keperawatan Pasien Dengan Isolasi Sosial
a.       Pengkajian
     Untuk mengkaji pasien isolasi sosial, kita dapat menggunakan teknik wawancara dan observasi pasien dan keluarga. Berikut ini merupakan salah satu contoh format pengkajian pasien isolasi sosial. (keliat, 2009)
1)      Hubungan sosial
a)      Orang yang berarti bagi pasien:……
b)      Peran serta dalam kegiatan kelompok atau masyarakat:…..
c)      Hambatan berhubungan dengan orang lain:….
2)      Masalah keperawatan:….
a)      Pasien menceritakan perasaan kesepian atau ditolak oleh orang lain.
b)      Pasien merasa tidak aman berada dengan orang lain.
c)      Pasien mengatakan hubungan yang tidak berarti dengan orang lain.
d)     Pasien merasa bosan dan lambat menghabiskan waktu.
e)      Pasien tidak mampu berkonsentrasi dan membuat keputusan.
f)       Pasien merasa tidak berguna.
g)      Pasien tidak yakin dapat melangsungkan hidup.
     Pertanyaan yang dapat ditanyakan perawat pada saat wawancara untuk mendapatkan data subjektif:
1)      Bagaimana pendapat pasien tentang orang-orang di sekitarnya (keluarga/tetangga)?
2)      Apakah pasien memiliki teman dekat? Jika ada, siapa teman dekatnya?
3)      Apa yang membuat pasien tidak memiliki orang terdekat dengannya?
4)      Apa yang pasien inginkan dari orang-orang di sekitarnya?
5)      Apakah ada perasaan tidak aman yang dialami oleh pasien?
6)      Apa yang menghambat hubungan yang harmonis antara pasien dan orang di sekitarnya?
7)      Apakah paisen merasakan bahwa waktu begitu lama berlalu?
8)      Apakan pernah ada perasaan ragu untuk dapat melanjutkan hidup?
Tanda dan gejala isolasi sosial yang didapat melalui observasi:
1)      Tidak memiliki teman dekat
2)      Menarik diri
3)      Tidak komunikatif
4)      Tindakan berulang dan tidak bermakna
5)      Asyik dengan pikirannya sendiri
6)      Tidak ada kontak mata
7)      Tampak sedih, afek tumpul.
b.      Diagnosa
1)      Risiko Gangguan Sensori/Persepsi: Halusinasi berhubungan dengan menarik diri. (Keliat, 2005)
c.       Perencanaan (Intervensi)
Tgl.
No. Dx
Perencanaan
intervensi
Tujuan
kriteria Hasil

1.     
TU:
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain sehingga tidak terjadi halusinasi.
TK:
1.    Klien dapat membina hubungan saling percaya













2.    klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri


















3.    Klien dapat menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain dan kerugian berinteraksi dengan orang lain















4.    Klien dapat melaksana-kan interaksi sosial secara bertahap








·     ekspresi wajah bersahabat,menunjukkan rasa senang, ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama, mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi


·      klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri yang berasal dari:
-            diri sendiri
-            orang lain
-            lingkungan












·      Klien dapat menyebutkan keuntungan berinteraksi dengan orang lain, misalnya:
·         Banyak teman
·         Tidak sendiri
·         Bisa diskusi
·      Klien dapat menyebutkan kerugian berinteraksi dengan orang lain, misalnya:
·         Sendiri
·         Tidak memiliki teman
·         Sepi




·      Klien dapat mendemonstrasi-kan interaksi sosial secara bertahap antara:
·      Klien-perawat
·      Klien-perawat-perawat lain
·      Klien-perawat-perawat lain-klien lain
·      Klien-keluarga/kelompok/masyarakat
















·      BHSP dengan menggunakan prinsip komunikasi teurapeutik:
ü Sapa klien
ü Perkenalkan diri dengan sopan
ü Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien
ü Jelaskan tujuan pertemuan
ü Jujur dan menepati janji
ü Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
ü Berikan perhatian kepada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
·      Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tandanya:
ü ‘’di rumah, Ibu tinggal dengan siapa”
ü “siapa yang paling dekat dengan Ibu”
ü “apa yang membuat Ibu dekat dengannya”
ü “dengan siapa Ibu tidak dekat”
ü “apa yang membuat Ibu tidak dekat”
·      Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan yang menyebabkan klien tidak mau bergaul
·      Berikan pujian terhadap kemampuan klien yang mengungkapkan perasaannya.
·      Kaji pengetahuan klien tentang keuntungan memiliki teman
·      Beri kesempatan pada klien untuk berinteraksi dengan orang lain
·      Diskusikan dengan klien tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
·      Beri penguatan positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang keuntungan berinteraksi dengan orang lain
·      Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berinteraksi dengan orang lain
·      Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan persaan tentang kerugian bila tidak berinteraksi dengan orang lain
·      Diskusikan kepada klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain
·      Beri penguatan positif terhadap kemampuan mengungkapkan perasaan tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
·      Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
·      Bermain peran tentang cara berhubungan dengan orang lain
·      Dorong dan bantu klien untuk berinteraksi dengan orang lain
·      Beri penguatan positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai
·      Bantu klien untuk mengevaluasi keuntungan menjalin hubungan sosial
·      Diskusikan jadwal harian yang dapat dilakukan bersama klien dalam mengisi waktu, yaitu berinteraksi dengan orang lain
·      Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
·      Beri penguatan positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan


5.    Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berinteraksi dengan orang lain
·    Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berinteraksi dengan orang lain untuk:
-          Diri sendiri
-          Orang lain

·    Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berinteraksi dengan orang lain
·    Diskusikan dengan klien tentang perasaan keuntungan berinteraksi dengan orang lain


6.    Klien dapat memberdayakan system pendukung atau keluarga
·      Keluarga dapat:
-          Menjelaskan perasaannya
-          Menjelaskan cara merawat klien menarik diri
-          Mendemonstrasikan cara perawatan klien menarik diri
-          Berpartisipasi dalam merawat klien menarik diri
·    BHSP dengan keluarga
·    Diskusikan dengan anggota keluarga tentang:
-   Perilaku menarik diri
-   Penyebab perilaku menarik diri
-   Akibat yang akan terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
-   Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
-   Dorong anggota keluarga untuk memberi dukungan kepada klien dalam berkomunikasi dengan orang lain
-   Anjurkan anggota keluarga untuk secara rutin bergantian menjenguk klien minimal satu kali seminggu
-   Beri penguatan positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh keluarga.
Tabel 2.1 intervensi keperawatan pasien isolasi sosial
d.      Pelaksanaan (Implementasi )
1)      Tindakan keperawatan pada pasien
a)      Pasien dapat membina hubungan saling percaya
b)      Pasien dapat menyadari penyebab isolasi sosial
c)      Pasein dapat berinteraksi
2)      Tindakan keperawatan
a)      Membina hubungan saling percaya
     Untuk membina rasa saling percaya dengan pasien isolasi sosial kadang membutuhkan waktu yang lama dan interaksi yang singkat serta sering karena tidak mudah bagi pasien untuk percaya pada orang lain. Oleh karena itu, perawat harus konsisten bersikap terapeutik terhadap paisen. Selalu menempati janji adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan. Pendekatan yang konsisiten akan membuahkan hasil. Jika pasien sudah percaya dengan perawat, program asuhan keperawatan lebih mungkin dilaksanakan. Membina hubungan saling percaya dapat dilakukan dengan cara:
(1)       Ucapkan salam setiap kali berinteraksi dengan pasien.
(2)       Berkenalan dengan pasien: perkenalkan nama lengkap dan nama penggilan pasien.
(3)       Tanyakan perasaan dan keluhan pasien saat ini
(4)       Buat kontrak asuhan :apan yang perawat akan lakukan bersama pasien, berapa lama akan dikerjakan, dan tempat pelaksanaan kegiatan.
(5)       Jelaskan bahwa perawat akan merahasiakan informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi
(6)       Tunjukan sikap empati terhadap pasien setiap saat
(7)       Penuhi kebutuhan dasar pasien jika mungkin

b)      Membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial dengan cara:
(1)   Tanyakan pendapat pasien tentang kebiasaan berinteraksi denga orang lain
(2)   Tanyakan penyebab pasien tidak ingin berinteraksi dengan orang lain
c)      Bantu pasien untuk mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain dengan cara mendiskusikan manfaat jika pasien memiliki banyak teman.
d)     Membantu pasien mengenal kerugian tidak berhubungan dengan orang lain dengan cara sebagai berikut:
(1)       Diskusikan kerugian jika pasien hanya mengurung diri dan tidak bergaul dengan orang lain.
(2)       Jelaskan pengaruh isolasi terhadap kesehatan fisik pasien
e)      Membantu pasien untuk berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.  Perawat dapat melatih pasien berinteraksi dengan orang lain secara bertahap:
(1)     Memberikan kesempatan pasien mempraktikan cara berinteraksi dengan orang lain yang dilakukan di hadapan anda
(2)     Mulai bantu pasien berinteraksi dengan satu orang (pasien, perawat,atau keluarga)
(3)     Jika pasien sudah menunjukkan kemajuan, tingkatkan jumlah interaksi dengan dua, tiga, empat orang dan seterusnya.
(4)     Berilah pujian untuk setiap kemajuan interaksi pasien.
(5)     Dengarkan ekspresi perasaan pasien setelah berinteraksi dengan orang lain, mungkin pasien akan mengungkapkan keberhasilan atau kegagalannya. Berilah dorongan terus-menerus agar pasien tetap semangat mengingkatkan interaksinya.
3)      Strategi pelaksanaan (Sp)
a)      Strategi pelaksanaan pada pasien
SP I
     Membina hubungan saling percaya, membantu pasien mengenal penyebab isolasi sosial, membantu pasien mengenal manfaat berhubungan dengan orang lain, dan mengajarkan pasien berkenalan.
Contoh komunikasi yang harus dilakukan perawat terhadap pasien:
1)        Orientasi
“selamat pagi! Saya suster HS. Saya senang di panggil suster H. Saya perawat di ruang mawar ini.”
Siapa nama anda? Senang di panggil apa?
“Apa keluhan S hari ini?” bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga dan teman-teman S? Mau di mana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tamu? Mau berapa lama, S? Bagaimana kalau 15 menit?”
2)        Kerja
(Jika pasien baru)
“siapa saja yang tinggal serumah dengan S? Siapa yang paling dekat dengan S? Siapa yang jarang bercakap-cakap dengan S? Apa yang membuat S jarang bercakap-cakap dengannya?
(jika pasien sudah lama dirawat)
“apa yang S rasakan selama S dirawat disini? S merasa sendirian? Siapa saja yang S kenal di ruangan ini?”
“apa saja kegiatan yang biasa S lakukan dengan teman yang S kenal?”
Apa yang menghambat S dalam berteman dengan pasien yang lain?”
“menurut S, apa saja manfaatnya kalau kita memiliki teman?  Wah benar, ada teman bercakap-cakap. Apa lagi? ( sampai pasien dapat menyebutkan beberapa) nah, apa kerygiannya kalau S tidak memiliki teman? Ya, apa lagi? (samapi pasien dapat menyebutkan beberapa). Nah, banyak jua ruginya tidak punya teman ya? Jadi, apakah S belajar bergaul dengan orang lain?”
“bagus! Bagaimana kalau sekarang kita belajar berkenalan dengan orang lain?”
“begini lho S, untuk berkenalan dengan orang lain kita sebutkan dulu nama kita, nama panggilan yang kita suka, asal kita, dan hobi kita. Contoh: nama saya SN, senang di panggil S. Asal saya dari kota X, hobi memasak.
“ayo S dicoba! Misalnya saya belum kenal dengan S. Coba berkenalan dengan saya! Ya, bagus sekali! Coba sekali lagi. Bagus sekali”
“setelah S berkenalan dengan orang tersebut S bisa melanjutkan percakapan tentang hal-hal yang menyenangkan S bicarakan, misalnya tentang cuaca, hobi, keluarga, pekerjaan, dan sebagainya.
3)      Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah kita latihan berkenalan?”
“S tadi sudah mempraktikan cara berkenalan dengan baik sekali. Selanjutnya S dapat mengingat-ingat apa yang kita pelajari tadi selama saya tidak ada sehingga S lebih siap untuk berkenalan dengan orang lain. S mau mempraktikan ke orang lain? Bagaimana kalau S mencoba berkenalan dengan teman saya, perawat N. Bagaimana, S mau kan?
“ baiklah, sampai jumpa!”

SP II
Mengajarkan pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang pertama [perawat].
1)      Orientasi
“selamat pagi S! Bagaimana perasaan S hari ini?” sudah di ingat-ingat lagi pelajaran kita tentang berkenalan? Coba sebutkan lagi bagaimana dengan suster!”
“bagus sekali, S masih ingat. Nah, seperti janji saya, saya akan mengajak S mencoba berkenalan dengan teman saya, perawat N. Tidak lama kok, sekitar 10 menit.”
“ayo kita temui perawat N disana!”
2)      Kerja
(bersama-sama S, perawat mendekati perawat N)
“Selamat pagi perawat N, S ingin berkenalan denga perawat N. Baikklah S, S bisa berkenalan dengan perawat N seperti yang kita praktikkan kemarin.”(pasien mendemontrasikan cara berkenalan dengan perawat N: Memberi salam, menyebutkan
nama, menanyakan nama perawat, dan seterusnya.)
“ada lagi yang S ingin tanyakan kepada perawat N ? coba tanyakan tentang keluarga perawat N!”
“jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, S dpat menyudahi perkenalan ini. Lalu S, bisa buat janji untuk bertemu lagi dengan perawat N, misal jam 1 siang nanti.”
“baiklah perawat N, karena S sudah selesai berkenalan, saya dan S akan kembali ke ruangan S. Selamat pagi!” (bersama pasien, perawat H meninggalkan perawat N untuk melakukan terminasi dengan S di tempat lain.)
3)      Terminasi
“ bagaimana perasaan S setelah berkenalan dengan perawat N?’ “S tampak bagus sekali saat berkenalan tadi.”
“pertahankan terus apa yang sudah S lakukan tadi. Jangan lupa untuk menanyakan topik lain supaya perkenalan berjalan lancar, misalnya menanyakan keluarga, hobi, dan sebagainya. Bagaimana, mau coba dengan perawat lain? Mari kita masukkan ke dalam jadwal. Mau berapa kali sehari? Bagaimana kalau 2 kali. Baik, nanti S coba sendiri. Besok kita latihan lagi ya, mau jam berapa? Jam 10? Sampai besok!”

SP III
Melatih pasien berinteraksi secara bertahap (berkenalan dengan orang kedua)
1)      Orientasi
“selamat pagi S! Bagaimana S hari ini?”
“apakah S bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang (jika jawaban pasien, ya , perawat dapat melanjutkan komunikasi berikutnya dengan pasien lain).”
“bagaimana perasaan S setelah bercakap-cakap dengan perawat N kemarin siang?
“bagus sekali S menjadi senang karena punya teman lagi!”
“kalau begitu S ingin punya banyak teman lagi?”
“bagaimana kalau sekarang kita berkenalan lagi dengan teman seruangan S yang lain, yaitu O. Seperti biasa, kira-kira 10 menit.mari kita temui dia di ruang makan.”
2)      Kerja
(bersama-sama S, perawat mendekati pasien lain)
“selamat pagi, ini ada pasien saya yang ingin berkenalan.”
“baiklah S, S sekarang bisa berkenalan dengannya seperti yang telah S lakukan sebelumnya.” (pasien mendemontrasikan cara berkenalan: memberi salam, menyebutkan nama, nama panggilan, asal, hobi, dan menanyakan hal yang sama.)
“ada lagi yang ingin S tanyakan kepada O? Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, S bisa sudahi perkenalan ini. Lalu S bisa buat janji untuk bertemu lagi, mis: bertemu lagi jam 4 sore nanti. (S membuat janji untuk  bertemu lgi nanti).”
“baiklah O, karena S sudah selesai berkenalan, saya dan S akan kembali ke ruang S. Selamat pagi (bersama pasien perawat meninggalkan O untuk melakukan terminasi S di tempat lain).
3)      Terminasi
“bagaimana perasaan S setelah berkenalan dengan O?”
“di bandingkan kemarin pagi, S tampak lebih baik ketika berkenalan dengan O. Pertahankan apa yang sudah S lakukan tadi. Jangan lupa untuk bertemu kembali dengan O jam 4 sore nanti.”
“selanjutnya, bagaimana jika kegiatan berkenalan dan bercakap-cakap denga orang lain kita tambah lagi jadwal harian. Jadi, satu hari S dapat berbincang-bincang dengan orang lain sebanyak tiga kali, jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 8 malam, S bisa bertemu dengan N, dan tambah denga pasien yang baru dikenal. Bagaimana S, setuju kan?”
“baiklah, besok kita ketemu lagi untuk membicaraka pengalaman S. Pada jam yang sama dan tempat yang sama ya.”
 “sampai besok!”
b)      Strategi pelaksanaan pada keluarga
     Memberikan pendidikan kesehatan kepada keluarga mengenai masalah isolasi sosial, penyebab isolasi sosial, dan cara merawat pasien isolasi sosial. Peragakan pada pasangan anda komunikasi di bawah ini !
SP I
1)      Orientasi
“Selamat pagi pak ! perkenalkan saya perawat H saya yang merawat anak Bapak, S, di ruang Mawar ini.”
“Nama Bapak siapa ? senang dipanggil apa ?”
“bagaimana perasaan Bapak pada hari ini ? bagaimana keadaan S sekarang?”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang tentang masalah anak Bapak dan cara perawatannya ?”
“Kita diskusi disini saja ya ? berapa lama Bapak punya waktu ? bagaimana kalau setengah jam ?”
2)      Kerja
“Apa masalah yang Bapak hadapi dalam merawat S ? apa  yang sudah dilakukan ?
“Masalah yang dialami oleh anak S disebut isolasi sosial. Ini adalah salah satu gejala penyakit yang juga dialami oleh pasien-pasien gangguan jiwa yang lain. Tanda-tandanya, antara lain tidak mau bergaul dengan orang lain, mengurung diri, dan kalaupun berbicara hanya sebentar dengan wajah menunduk. Biasanya masalah ini muncul karena memiliki pengalaman yang mengecewakan ketika berhubungan dengan orang lain, seperti sring ditolak, tidak dihargai, atau berpisah dengan orang-orang yang dicintai. Jika masalah isolasi sosial ini tidak diatasi, seseorang dapat mengalami halusinasi, mendengar suara atau melihat bayangan yang sebetulnya tidak ada. Untuk menghadapi keadaan yang demikian Bapak dan anggota keluarga lainnya harus sabar menghadapi S. Untuk merawat S, keluarga perlu melakukan beberapa hal. Pertama keluarga harus membina hubungan saling percaya dengan S, caranya adalah dengan bersikap peduli terhadap S dan jangan ingkar janji. Kedua keluarga perlu memberikan semangat dan dorongan kepada S untuk dapat melakukan kegiatan bersama-sama dengan orang lain. Berilah pujian yang wajar dan jangan mencela kondisi S. Selanjutnya jangan biarkan S sendiri. Buatlah rencana atau jadwal bercakap-cakap dengan S, misalnya ibadah bersama, makan bersama, rekreasi bersama atau melakukan kegiatan rumah tangga bersama.”
“Nah, bagaimana kalau sekarang kita latihan untuk melakukan semua cara itu ? begini contoh komunikasinya pak, “S, Bapaklihat sekarang kamu sudah bisa bercakap-cakap dengn orang lain. Perbincangannya juga lumayan lama. Bapak senang sekali melihat perkembangan kamu, nak. Coba kamu berbincang-bincang dengan yang lain. Bagaimana S, kamu mau cobakan, nak?”
“Nah, coba sekarang Bapak peragakan cara komunikasi seperti yang saya contohkan ! Bagus, Bapak telah memperagakan dengan baik sekali !” “Samapai disini ada yang ingin ditanyakan pak ?”
3)      Terminasi
“Baiklah waktunya sudah habis. Bagaimana perasaan bapak setelah kita latihan tadi ?”
“Coba Bapak ulangi lagi apa yang dimaksud dengan isolasi sosial dan tanda-tanda orang yang mengalami isolasi sosial. Selanjutnya dapatkah Bapak sebutkan kembali cara-cara merawat anak Bapak yang mengalami masalah isolasi sosial ?”
“Bagus sekali, Bapak dapat menyebutkan kembali cara-cara perawatan tersebut ! nanti kalau ketemu S coba Bapak lakukan. Dan tolong ceritakan kepada semua keluarga agar mereka juga melakukan hal yang sama.”
“ Bagaiman kalau kita bertemu tiga hari lagi untuk latihan langsung dengan S ?”
“Kita bertemu disini ya pak pada jam yang sama. Selamat pagi!”

SP II
     Melatih keluarga mempraktikkan cara merawat pasien isolasi sosial langsung dihadapan pasien peragakan komunikasi di bawah ini!
1)      Orientasi
“selamat pagi Bapak ! bagaimana perasaan Bapak hari ini ?”
“Bapak masih ingat latihan merawat anak Bapak seperti yang kita pelajari beberapa hari yang lalu ?”
“mari praktikkan langsung pada S ! Bapak punya waktu berapa lama ? baik kita akan coba tiga puluh menit.”
2)      Kerja
“selamat pagi S. Bagaiman perasaan S hari ini ?”
“Bapak S datang membesuk. Beri salam ! bagus. Tolong S tunjukkan jadwal kegiatannya !” (kemudian anda berbicara kepada keluarga sbb)
“nah pak, sekarang Bapak dapat mempraktikkan apa yang sudah kita latihan beberapa hari lalu. (perawat mengobservasi keluarga mempraktikkan cara merawat pasien seperti yang telah dilatihkan pada pertemuan sebelumnya).”
“bagaiman perasaan S setelah berbincang-bincang dengan ayah S ?” , “baiklah sekarang saya dan orang tua ke ruang perawat dulu.” (perawat dan keluarga meninggalkan pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga).
3)      Terminasi
“bagaimana perasaan Bapak setelah kita latihan tadi ? Bapak sudah bagus melakukannya.”
“mulai sekarang Bapak sudah dapat melakukan cara perawatan tersebut pada S.”
“tiga hari lagi kita akan bertemu dan untuk mendiskusikan pengalaman Bapak melakukan cara merawat yang sudah kita pelajari. Waktu dan tempanya sama seperti sekarang ya pak ?”

SP III
     Membuat perencanaan pulang bersama keluarga peragakan komunikasi di bawah ini !
1)      Orientasi
“selamat pagi pak ! karena besok S sudah boleh pulang, kita perlu membicarakan tentang perawatan S di rumah.”
“bagaiman kalau kita membicarakan jadwal S tersebut disini saja.” , “berapa lama kita dapat bicara ? bagaimana kalau tiga puluh menit.”
2)      Kerja
“Bapak, ini jadwal S selama di rumah sakit. Coba dilihat, mungkinkah dilanjutkan di rumah ? di rumah Bapak yang menggantikan perawat. Lanjutkan jadwal ini di rumah, baik jadwal kegiatan maupun jadwal minum obatnya berikan pujian jika benar dilakukan. Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan anak Bapak selama dirumah. Misalnya kalau S terus menerus tidak mau bergaul dengan orang lain, menolak minum obat  atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi perawat K di puskesmas X yang terdekat dari rumah Bapak. Selanjutnya perawat K tersebut yang akan memantau perkembangan S selama berada di rumah.”
3)      Terminasi
“bagaimana pak ? apa yang belum jelas ? ini jadwalkegiatan harian S untuk dibawa pulang. Ini surat rujukan untuk perawat K di puskesmas X sebelum obt habis atau ada gejala yang tampak. Silahkan selesaikan administrasinya !”
4)      Teraoi Aktivitas Kelompok(TAK)
     TAK yang dapat dilakukan untuk pasien isolasi sosial adalah TAK siosialisasi yang terdiri dari tujuh sesi, meliputi hal-hal berikut:
a)      Sesi pertama: kemampuan memperkenalkan diri
b)      Sesi dua : kemampuan berkenalan
c)      Sesi tiga : kemampuan bercakap-cakap
d)     Sesei empat :kemampuan bercakap-cakap topik tertentu
e)      Sesi lima : kemampuan bercakap-cakap masalah pribadi
f)       Sesi enam : kemampuan bekerjasama
g)      Sesi tujuh : evaluasi kemampuan sosialisasi

e.       Evaluasi
1)      Evaluasi kemampuan klien
a)      Pasien menunjukkan rasa percayanya kepada perawat yang ditandai dengan pasien mau bekerja sama secara aktif dalam melaksanakan program yang diusulkan perawat.
b)      Pasien mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan tidak mau bergaul dengan orang lain, kerugian tidak mau bergaul, dan keuntungan bergaul dengan orang lain
c)      Pasien menunjukkan kemajuan dalam berinteraksi dengan orang lain secara bertahap.

2)      Evaluasi kemampuan keluarga: keluarga ikut bekerja sama merawat pasien sesuai anjuran perawat.
DAFTAR PUSTAKA
Keliat, B. A., Panjaitan. (2005). Proses Keperawatan Kesehatan  Jiwa, penerbit buku Kedokteran  EGC, Jakarta
Keliat, B. A., (2009). Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa, penerbit buku Kedokteran EGC, Jakarta
Stuart & Laraia. (2005). Principles and practice of psychiatric nursing, 8th Edition. St. Louis: Mosby.
Videbeck, S. L. (2008). Buku ajar keperawatan jiwa. (Renata K. & Alfrina H., penerjemah). Jakarta: EGC.
Yosep, Iyus.(2010). Keperawatan Jiwa. Bandung. Refika Aditama
Nevid, J.S., Rathus, S.A., & Greene. B., (2005). Psikologi Abnormal.Penerbit buku Erlangga, jakarta
Martono, Lidya. H. (2008), Peran Orang Tua dalam Mencegah dan Menanggulangi Penyalahgunaan Narkoba. Jakarta : Balai Pustaka



No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat