google adsense

Monday, August 7, 2017

Mekanisme Penanganan Nyeri dengan Terapi Musik

A.    Mekanisme Penanganan Nyeri dengan Terapi Musik
1.      Pengertian
      Terapi musik terdiri dari dua kata yaitu “terapi” dan “musik”. Terapi adalah penanganan penyakit atau pengobatan. Sedangkan musik adalah suara atau nada yang mengandung irama. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:676), musik memiliki pengertian sebagai berikut: Ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan.
      Musik bukan sekedar bunyi, tapi merupakan hasil komposisi dari bunyi. Jadi, jika vibrasi atau getaran alam semesta membentuk jaringan energy, musik merupakan representasi dari jaringan energy harmonis yang seimbang di alam semesta (Setiono. 2005, p.163)
      Jadi bisa disimpulkan bahwa terapi musik merupakan adalah suatu cara penanganan penyakit (pengobatan) dengan menggunakan nada atau suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan.
      Sedangkan menurut Djohan (2009, p. 245) terapi music adalah teknik penyembuhan yang menggunakan bunyi dimana tujuannya adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki kondisi fisik, emosi, kognitif, dan social bagi individu dari berbagai kalangan usia.

2.      Manfaat Musik
      Menurut Spawnthe Anthony (2003), musik mempunyai manfaat sebagai berikut:
a.       Efek mozart, adalah salah satu istilah untuk efek yang dihasilkan oleh sebuah musik yang dapat meningkatkan intelegensia seseorang
b.      Refresing, pada saat pikiran seseorang sedang kacau atau jenuh, dengan mendengarkan musik walaupun sejenak, terbukti dapat menenangkan dan menyegarkan pikiran kembali
c.       Motivasi, hal yang hanya bisa dilahirkan dengan “feeling” tertentu. Motivasi akan memisu timbulnya semangat.
d.      Terapi, berbagai penelitian dan literatur menerangkan tentang manfaat musik untuk kesehatan, baik untuk kesehatan fisik maupun mental, beberapa penyakit yang dapat ditangani dengan musik antara lain: kanker, stroke, dimensia, nyeri, gangguan kemampuan belajar, dan bayi prematur.

3.      Karakteristik terapeutik musik
      Menurut Robbert (2002) dan Greer (2003), musik mempengaruhi persepsi dengan cara:
a.       Distraksi, yaitu pengalihan pikiran dari nyeri, musik dapat mengalihkan konsentrasi klien pada hal-hal yang menyenangkan
b.      Relaksasi, musik menyebabkan pernafasan menjadi lebih rileks dan menurunkan denyut jantung, karena orang yang mengalami nyeri denyut jantung meningkat
c.       Menciptakan rasa nyaman, pasien yang berada pada ruang perawatan dapat merasa cemas dengan lingkungan yang asing baginya dan akan merasa lebih nyaman jika mereka mendengar musik yang mempunyai arti bagi mereka.
      Terapi musik adalah penggunaan musik untuk relaksasi, mempercepat penyembuhan, meningkatkan fungsi mental dan menciptakan rasa sejahtera. Musik dapat mempengaruhi fungsi-fungsi fisiologis, seperti respirasi, denyut jantung dan tekanan darah (Greer, 2003). Musik juga dapat menurunkan kadar hormon kortisol yang meningkat pada saat stres. Musik juga merangsang pelepasan hormon endorfin, hormon tubuh yang memberikan perasaan senang yang berperan dalam penurunan nyeri (Berger, 1992).
      Menurut Greer (2003), keunggulan terapi musik yaitu:
a.       Lebih murah daripada analgesia
b.      Prosedur non-invasif, tidak melukai pasien
c.       Tidak ada efek samping
d.      Penerapannya luas, bisa diterapkan pada pasien yang tidak bisa diterapkan terapi secara fisik untuk menurunkan nyeri.
      Menurut Potter (2005 dikutip dari Erfandi, 2009), musik dapat digunakan untuk penyembuhan, musik yang dipilih pada umumnya musik lembut dan teratur seperti instrumentalia/ musik klasik mozart.

4.      Jenis Musik untuk Terapi
      Jenis music yang digunakan untuk terapi adalah jenis music klasik, pop, dan modern (music tanpa vokal, periode tenang). Namun, musik pop biasanya tidak menciptakan tingkat relaksasi yang dalam karena music pop biasanya singkat dan diiringi irama serta kata-kata yang tetap. (Perry & Potter, 2005, p. 1532)
      Musik klasik mozart adalah salah musik klasik yang muncul 250 tahun yang lalu. Diciptakan oleh Wolgang Amadeus Mozart. Selain kemampuannya untuk menyembuhkan berbagai penyakit, memberikan efek positif pada ibu hamil dan janin, disamping itu beberapa penelitian oleh Alfred dan Campbell sudah membuktikan bahwa musik klasik mozart bisa mengurangi nyeri pasien. Dibanding musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada musik klasik mozart mampu merangsang dan memberdayakan kreatifitas dan motivatif diotak. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan (Andreana, 2006).



5.      Proses Penurunan Nyeri Dengan Terapi Musik Klasik Mozart
      Terapi musik klasik Mozart dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori Gate Control, bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan di buka dan impuls dihambat saat sebuah pertahanan ditutup. Salah satu cara menutup mekanisme perthanan ini adalah dengan merangsang sekresi endorphin yang akan menghambat pelepasan subtansi P. Musik klasik Mozart sendiri juga dapat merangsang peningkatan hormone endorphin yang merupkan substansi sejenis morfin yang disuplai oleh tubuh. Sehingga pada saat neuron nyeri perifer mengirimkan sinyal ke sinaps, terjadi sinapsis antara neuron perifer dan neuron yang menuju otak tempat seharusnya substansi p akan menghantarkan impuls. Pada saat tersebut, endorfin akan memblokir lepasnya substansi P dari neuron sensorik, sehingga transmisi impuls nyeri di medula spinalis menjadi terhambat, sehingga sensasi nyeri menjadi berkurang.

6.      Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menggunakan Musik Sebagai Terapi Penanganan Nyeri
      Menurut Perry & Potter (2005, p. 1532) dalam pelaksanaan penggunaan musik untuk mengontrol nyeri dan meningkatkan kenyamanan, maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini:
a.      Pilih musik yang sesuai dengan selera klien. Pertimbangkan usia dan latar belakang.
b.      Gunakan earphone supaya tidak mengganggu klien atau staf yang lain dan membantu klien berkonsentrasi pada musik.
c.       Pastikan tombol-tombol kontrol di radio atau pesawat tape mudah ditekan, dimanipulasi, dan dibedakan.
d.      Apabila nyeri yang klien rasakan akut, kuatkan volume musik. Apabila nyeri berkurang, kurangi volume.
e.      Apabila tersedia musik latar, pilih jenis musik umum yang sesuai dengan keinginan klien.
f.        Minta klien berkonsentrasi pada musik dan mengikuti irama dengan mengetuk-ngetukkan jari atau menepuk-nepuk paha.
g.      Instruksikan klien untuk tidak menganalisa musik: “Nikmati musik ke mana pun musik membawa Anda”.

h.     Musik harus didengarkan minimal 15 menit supaya dapat memberikan efek terapeutik.

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. (2009). Buku saku patofisiologi Corwin. Egi Komara Yudha (et al). Jakarta: EGC.
Djohan. (2009). Psikologi musik. Yogyakarta: Best Publisher.
Guyton, A. C.(2007). Buku ajar fisiologi kedokteran. Ed. 11 (Irawati, Penerjemah).  Jakarta: EGC.
Mucci, K dan Mucci, R. (2002). The healing sound of musik: manfaat musik untuk kesembuhan, kesehatan dan kebahagiaan anda (Jungprakoso, penerjemah). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Potter, A. Patricia, Perry Anne Griffin. (2005). Fundamental keperawatan: konsep, proses, dan praktik. Ed. 4. Vol. 2. (Renata Komalasari, penerjemah). Jakarta: EGC
Price, S. A. (2005). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. (Brahm U. Pendit, et. al., Penerjemah). Jakarta: EGC.

No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat