google adsense

Monday, August 7, 2017

Komunikasi kesehatan

Komunikasi kesehatan
A.  Pengertian
Menurut Alo Liliweri. 2007 pengertian komunikasi kesehatan adalah:
1.      Studi yang mempelajari bagaimana cara menggunakan strategi komunikasi yang dapat mempengaruhi individu dan komunitas agar mereka dapat membuat keputusan yang tepat berkaitan dengan pengelolaan kesehatan.
2.      Proses kemitraan antara para partisipan berdasarkan dialog dua arah yang didalamnya ada suasana interaktif, ada pertukaran gagasan, ada kesepakatan mengenai kesatuan gagasan mengenai kesehatan, juga merupakan teknik dari pengirim dan penerima untuk memperoleh informasi mengenai kesehatan yang seimbang demi memperbarui pemahaman bersama (ratzan, S.C., 1994 : Alo Liliweri. 2007)
3.      Proses untuk mengembangkan atau membagi pesan kesehatan kepada audiens tertentu dengan maksud mempengaruhi pengetahuan, sikap, keyakinan mereka tentang pilihan dan perilaku hidup sehat.

B.  Tujuan
Tujuan komunikasi kesehatan menurut Alo Liliweri. 2007 ada 2, yaitu tujuan strategis dan tujuan praktis.
1.      Tujuan strategis. Pada umumnya program yang berkaitan dengan komunikasi kesehatan yang dirancang dalam bentuk paket acara atau paket modul dapat berfungsi untuk:
a.       Relay information. Meneruskan informasi kesehatan dari suatu sumber kepada pihak lain secara berangkai (hunting).
b.      Enable informed decision making. Memberikan informasi akurat untuk memungkan pengambilan keputusan.
c.       Promote healthy behaviors. Informasi untuk memperkenalkan perilaku hidup sehat.
d.      Promote peer information exchange and emotional support. Mendukung pertukaran informasi pertama dan mendukung secara emosional pertukaran informasi kesehatan.
e.       Promote self-care. Memperkenalkan pemeliharaan kesehatan diri sendiri.
f.       Manage demand for health services. Memenuhi permintaan layanan kesehatan.

2.      Tujuan praktis. Menurut Taibi Kahler (kahler Communication), Washington, D.C. Courses Process Communication Model, 2003) sebenarnya secara praktis tujuan khusus komunikasi kesehatan itu meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui beberapa usaha pendidikan dan pelatihan agar dapat:
a.       Meningkatkan pengetahuan – yang mencakup:
1)      Prinsip dan proses komunikasi manusia
2)      Menjadi komunikator – yang memiliki etos, patos, logos, kreadibilitas dan lain-lain.
3)      Menyusun pesan verbal dan non-verbal dalam komunikasi kesehatan.
4)      Memilih media yang sesuai dengan konteks komunikasi kesehatan.
5)      Menentukan segmen komunikasi yang sesuai dengan konteks komunikasi kesehatan.
6)      Mengelola umpan-balik atau dampak pesan kesehatan yang sesuai dengan kehendak komunikator dan komunikan.
7)      Mengelola hambatan-hambatan dalam komunikasi kesehatan.
8)      Mengenal dan mengelola konteks komunikasi kesehatan.
9)      Prinsip-prisip riset.

b.      Meningkatkan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi efektif
1)      Praktis berbicara, berpidato, memimpin rapat, dialog, diskusi, negosiasi, menyelesaikan konflik, menulis, membaca, wawancara, menjawab pertanyaan, argumentasi dan lain-lain.

c.       Membentuk sikap dan perilaku berkomunikasi:
1)      Berkomunikasi yang menyenangkan, empati
2)      Berkomuniaksi dengan kepercayaan pada diri
3)      Menciptakan kepercayaan public dan pemberdayaan publik
4)      Membuat oertukaran gagasan dan informasi makin menyenangkan
5)      Memberikan apresiasi terhadap terbentuknya komunikasi yang baik (Report of the Liberal Arts and Scienecs Task Force, Truman State University, 1994)

C.  Manfaat
Manfaat mempelajari ilmu komunikasi kesehatan menurut Alo Liliwari. 2007 adalah:
1.      Memahami interaksi antara kesehatan dengan perilaku individu.
2.      Meningkatkan kesadaran kita tentang issue kesehatan, masalah atau solusi.
3.      Menghadapi disparitas pemeliharaan kesehatan antaretnik atau antarras.
4.      Memperkuat infrastuktur kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang.
5.      Sebagai tindak-lanjut dari kesadaran tersebut, kita dapat melakukan strategi intervensi pada tingkat komunitas.
6.      Menampilkan ilustrasi keterampilan, menggambarkan berbagai jemis keterampilan untuk mememlihara kesehatan, pencegahan, advokasi atau sistem layanan kesehatan kepada masyarakat.
7.      Memperbarui peran para professional di bidang kesehatan masyarakat.

D.  Cakupan Komunikasi Kesehatan
Banyak sekali teori, model dan perspektif mengenai komunikasi kesehatan. Namun, semua model teoritik maupun praksis itu, menurut Alo Liliwari.2007 meliputi:
1.      Komunikasi persuasive atau komunikasi yang berdampak pada perubahan perilaku kesehatan.
2.      Faktor-faktor psikologi individual yang mempengaruhi persepsi terhadap kesehatan:
a)      Stimulus (objek persepsi) à sense organ dan permaknaan stimulus (respons)
b)      Bagaimana mengorganisir stimulus à berdasarkan aturan, schemata dan label
c)      Interpretasi dan evaluasi berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan lain-lain
d)     Memory
e)      Recall

Teori yang digunakan adalah teori persepsi

3.      Pendidikan kesehatan (health education), yang bertujuan memperkenalkan perilaku hidup sehat melalui informasi dan pendidikan kepada individu dengan menggunakan aktivitas material maupun terstruktur. Cakupan pendidikan kesehatan meliputi:
a)      Jenis pendidkan professional dibidang kesehatan (kurikulum, dan lain-lain)
b)      Penjenjang pendidikan profesi
c)      Pelatihan professional (jenis, jenjang dan kurikulum)
d)     Pendidikan masyarakat (informal)
e)      SDM pendidik, dan lain-lain.

4.      Pemasaran sosial yang bertujuan untuk memperkenalkan atau mengubah perilaku positif melalui penerapan prinsip-prinsip pemasran denganbmengintervensi informasi kesehatan yang bermanfaat bagi kominitas.
5.      Penyebarluasan informasi kesehatan; melalui media (sosialisasi informasi, pendidikan, hiburan, opini, pemberitaan dan lain-lain)
6.      Advokasi, pendamping melalui komunitas, kelompok atau media massa yang bertujuan untuk memperkenalkan :
a)      Kebijakan
b)      Peraturan
c)      Program-program untuk memperbarui kesehatan
7.      Resiko komunitas, bertujuan untuk menyebarluaskan informasi yang benar mengenai resiko yang dihadapi oleh masyarakat terhadap infoemasi kesehatan.
8.      Komunikasi dengan pasien – meliputi informasi untuk seorang individu, misalnya informasi yang berkaitan dengan kondisi kesehatan individu.
9.      Informasi kesehatan untuk para konsumen – satu aktivitas komunikasi yang ditunjukkan kepada para individu-konsumen demi membantu individu untuk memahami kesehatan individu.
10.  Merancang health entertain atau hiburan yang didalamnya mengandung informasi kesehatan.
11.  Kommunikasi kesehatan yang interaktif yakni komunikasi kesehatan yang dilakukan melalui media interaktif sehungga terjadi dialog dan diskusi antar sumber dengan penerima melalui media massa.
12.  Strategi komunikasi, yang meliputi desain pilihan:
a)      Komunikator kesehatan
b)      Pesan-pesan kesehatan
c)      Media kesehatan
d)     Komunikan kesehatan (audiens-sasaran komunikasi)
e)      Mereduksi hambatan komunikasi
f)       Menentukan atau memilih konteks komunikasi kesehatan dan lain-lain (Health Communication Partnership’s M/Mc Health Communication Materials. 2004 : Alo Liliwari. 2007)

E.  Ruang Lingkup Komunikasi Kesehatan
Dalam rangka memahami komunikasi kesehatan, perlu sedikit di bahas tentang kata “komunikasi”, yang secara umum diartikan sebagai suatu proses yang kompleks dengan beberapa karakteristik. Proses komunikasi biasanya melibatkan dua pihak, baik antar –individu dengan individu, individu dengan kelompok atau antar - kelompok dengan kelompok yang berinteraksi dengan aturan-aturan yang disepakati bersama. Fokus utama dalam konteks suatu proses dan bagaimana proses komunikasi berfungsi antar- individual atau kelompok dalam rangka “perubahan perilaku” kesehatan. Dalam bagian ini kita akan membahas beberapa teori konsep, definisi serta asumsi-asumsi dalam proses komunikasi antar-manusia (human communication). Disamping itu, kita akan menampilkan beberapa model komunikasi yang umum digunakan untuk menjelaskan komunikasi kesehatan.
1.      Komunikasi. Menurut Clevenger, 1959 Komunikasi merupakan suatu terminology yang merujuk pada suatu proses pertukaran informasi yang dinamis. Masing-masing pihak, baik source  maupun receiver terlibat dalam proses berbagi informasi. Situasi ini dapat dilihat pada interaksi antara pekerjaan sosial dengan seorang perawat yang berkerja sama untuk menyembuhkan seorang pasien. Komunikasi bersifat “serba ada” dan berbentuk ganda (B.Augrey fisher, 1986)
2.      Komunikasi antar-manuasia(human communication). Dalam sejarah perkembangan terdapat dua bentuk umum komunikasi, yakni komunikasi antar manusia (human communication) dan komunikasi bukan antar-manusia (non human communication), misalnya komunikasi antar –hewan sejenis dan berbeda jenis serta komunikasi antar –hewan dengan lingkungan alam. Komunikasi antar-manusia merupakan proses komunikasi yang berlangsung antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan antar kelompok manusia. Factor yang membedakan komunikasi antar-manusia dengan jenis komunikasi lainnya adalah digunakannya simbol-simbol dan “bahasa”. Bahasa yang digunakan manusia untuk berkomunikasi erat kaitannya dengan “budaya”, maka komunikasi antar manusia berlangsung dalam konteks kebudayaan. Konteks kebudayaan yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, sedangkab komunikasi antar hewan berlangsung berdasarkan instink atau instuisi semata. Cronkhite (1967) menyatakan, bahwa komunikasi antar manusia terjadi ketika individu merespon symbol-simbol tertentu dengan menggunakan bahasa. Selanjutnya Brown dan Keller (1979) mendifinisikan komunikasi antar-manusia sebagai berikut: “ communication is symbolic interaction; by mean what happen when one personsays spomething and the other responds to it. We have to have at least one response to one initiation before we can say we have established a connection or a relatedness of communication. Definisi ini merujuk pada bagaimana seseorang berinteraksi dengan sesame, dengan menggunakan bahasa. Pada kenyataannya, komunikasi antar manusia tidak statis, tetapi sangat dinamis, melinbatkan “perasaan” dan “sikap” manusia. Komunikasi kesehatan merupakan salah satu bentuk komunikasi antar manusia . illustrasi di bawah ini menunjukkan hubungan antara komunikasi antar-manusia dengan komunikasi kesehatan. Komunikasi kesehatan merupakan bagian dari komunikasi antar-manusia yang berfokus pada bagaimana seorang individu dalam suatu kelompok/masyarakat menghadapi isu-isu yang berhubungan dengan kesehatan serta berupaya untuk memelihara kesehatannya. Fokus dalam komunikasi kesehatan adalah “transaksi “ spesifik pada isu-isu yang berhubungan dengan kesehatan dan factor-faktor yang memperngaruhi transaksi tersebut. Transaksi yang berlangsung antar-ahli  kesehatan dan antar ahli kesehatan dengan klien merupakan perhatian utama dalam komunikasi kesehatan. Transaksi tersebut berlangsung baik”verbal” maupun “non verbal”, “lisan” atau “tulisan”, “personal’ atau “impersonal”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa komunikasi kesehatan merupakan aplikasi dari konsep dan teori komunikasi dalam transaksi yang berlangsung antar-individu/kelompok terhadap isu-isu kesehatan. Lebih jauh lagi, menurut rasmuson (1988) dan ahli komunikasi lainnya yang terlibat dalam proyek-proyek USAID untuk pengembangan komunikasi kesehatan. Komunikasi kesehatan dipandang sebagai disiplin ilmu kkomunikasi terapan yang digunakan untuk mempengaruhi secara positif perilaku kesehatan masyarakat. Disiplin ini menggunakan metode dan prinsip-prinsip komunikasi massa, desain pengajaran, pemasaran sosial, analisis perilaku dan antropologi medis. Sebagai cabang ilmu yang baru. Komunikasi kesehatan parallel dengan cabang ilmu yang lainnya, seperti psikologi  kesehatn, sosiologi kesehatan, komunikasi biomedis ilmu perilaku kesehatan.
KOMUNIKASI   

KOMUNIKASI ANTAR MANUSIA
KOMUNIKASI KESEHATAN
 






Referensi:
Liliwari. A. 2007. Dasar-dasar komunikasi kesehatan. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Model-Model Komunikasi Kesehatan
1.      Model Stimulus-Respons
Model Stimulus-Respons (S-R) adalah komunikasi paling dasar. Model ini dipengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut menggambarkan hubungan Stimulus-Respons. Dalam konsep yang fokusnya pada lingkungan, pada dasarnya setiap kejadian selalu terdapat stimulus dan respons (Mubarak, 2011, p. 64).
Dalam konsep yang fokusnya pada lingkungan, pada dasarnya setiap kejadian yang kita allami selalu terdapat stimulus dan respon. Kejadian yang ada menuntut kita untuk menerjemahkan kedalam proses pikir kita berupa proses belajar dengan menggunakan komunikasi intrapersonal, dimana dalam jiwa manusia terdiri atas kumpulan bermacam-macam tanggapan yang terbentuk karena adanya stimulus dan respon.
Model stimulus-respon yang melibatkan stressors dan strains, ditambah dengan sebuah bentuk hubungan yang penting karena hubungan antara seseorang dan lingkungannya mendorong seseorang untuk bereaksi dan bertindak untuk memenuhi tuntutan yang harus dipenuhi. Proses ini melibatkan interaksi dan penyesuaian secara berkesinambungan yang disebut transactions, antara sesorang dan lingkungannya, dimana keduanya saling memengaruhi satu sama lain.
Dalam keperawatan kebutuhan dasar manusia sebagai penopang hidup merupakan stimulus bagi seseorang yang menjadikan seeseorang tergerak untuk bereaksi dan bertindak atas stimulus yang dirasakan dan dikehendaki sehingga timbul reaksi untuk mencapai tujuan. Hal ini terjadi karena dalam model stimulus respon ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan negative maupun tujuan positif. Bila stimulus yang datang baik, maka akan direspon baik, sebaliknya bila stimulus yang datang negative maka akan direspon negative. Dalam memicu stimulus dibutuhkan kesadaran yang tinggi model ini menunjukkan komunikasi sebagai proses aksi reaksi yang  sangat sederhana.
Dengan demikian model stimulus respon mengabaikan komunikasi proses khususnya yang berkenaan dengan factor manusia. Secara implisit ada amsumsi ada model stimulus respon ini yang menyatakan perilaku (respon) manusia dapat diramalkan. Ringkasannya, komunikasi dianggap statis; manusia dianggap berperilaku kekuatan dari luar (stimulus), bukan berdasarkan kehendak, keinginan, atau kemauan bebasnya. Model ini lebih sesuai bila diterapkan pada sistem pengendalian suhu udara dari pada perilaku manusia (Mubarak, 2011, p.64-65).
 





Gambar 1.a Model S-R (negatif-negatif)           



 





 Gambar 1.b Model S-R (positif-positif)

2.      Model Shannon-Weaver
Dalam model ini, komunikasi dipandang sebagai suatu “sistem”, ldimana “sumber” informasi (source) memilih informasi yang dirumuskan (encode) menjadi pesan (message) dan selanjutnya pesan ini dikirim dengan “isyarat” (signal) melalui “saluran” (channel) kepada “penerima” (receiver). Kemudian penerima menerjemahkan pesan tersebut dan mengirimkannya ke tempat tujuan (destination) (Notoadmojo, 2005, p. 148).
Pola komunikasi yang diterapkan adalah komunikasi satu arah yang berlangsung tanpa ada timbal balik secara langsung. Apabila adanya hambatan (noise) dalam berkomunikasi, dapat mengganggu keefektifan dari proses komunikasi.
a.       Tingkat kedengaran manusia
b.      Gangguan persepsi
c.       Mispersepsi psikososial
d.      Hardware/software
e.       Lingkungan, dll



Sumber Informasi
Transmitter
Sumber Noise
Penerima (Receiver)
Tujuan
 




Gambar 2: Model Shannon-Weaver
3.      Model Lasswell
Model ini umumnya digunakan dalam komunikasi massa di mana komunikator sangat powerful mampu mempengaruhi komunikan dan menganggap pesan yang disampaikan mampu membawa efek dalam diri komunikan.
Lasswell (1948) mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu: pertama, pengawasan lingkungan yang mengingatkan anggota-anggota masyarakat akan bahaya dan peluang dalam lingkungan; kedua, korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespons lingkungan; dan ketiga, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya. terdapat tiga kelompok spesialis yang bertanggung jawab melaksanakan fungsi-fungsi ini. Dalam penyebaran pola hidup sehat, decision maker merupakan pengendali lingkungan, sedangkan tokoh masyarakat dan juga LSM bertindak serta membantu mengorelasikan atau mengumpulkan respons orang-orang terhadap informasi baru. Anggota keluarga dan tenaga kesehatan di lapangan mengalihkan warisan sosial (Mubarak, 2011, p. 68)
Unsur-unsur dalam komunikasi ini menggunakan lima pertanyaan, yaitu:
  1. Who (komunikator)
  2. Say what (pesan yang disampaikan)
  3. In which channel (saluran komunikasi)
  4. To whom (penerima pesan)
  5. With what effect (efek komunikasi yang disampaikan)
Who (Communicator)
Says what? (Message)
In which channel (Medium)
To whom (Receiver)
With what effect (effect)
 



Gambar 3: Model Lasswell

4.      Model SMCR (Model Berlo)
Model ini menampilkan yang variabel dalam komunikasi yakni source (sumber), message (pesan), channel (media), dan receiver (penerima). Model SMCR melihat proses komunikasi berdasarkan keterampilan, sikap, pengetahuan dan latar belakang budaya yang berbeda dari sumber informasi (source). Sementara itu, pesan (message) yang disampaikan biasanya mengandung elemen-elemen tertentu, seperti struktur, isi dan kode-kode yang unik. Pesan tersebut ditransfer melalui saluran yang melibatkan pendengaran, penglihatan, sentuhan, bau dan rasa. Kemudian penerima (receiver) menginterpretasikan pesan tersebut juga didasarkan pada keterampilan, sikap, pengetahuan dan latar belakang sosio budaya yang berbeda, sehingga seringkali terjadi salah interpretasi dalam proses komunikasi (Notoadmojo, 2005, p. 149)
Salah satu kekuatan dari model ini adalah bahwa komunikasi dilihat sebagai suatu proses yang dinamis, bukan sekadar peristiwa yang statis. Sedangkan kekurangan dari model ini adalah tidak adanya mekanisme “umpan balik” (feed-back) dalam proses tersebut. Apabila model ini diaplikasikan dalam komunikasi kesehatan, maka model ini tidak mampu menjelaskan betapa banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas komunikasi antar-petugas kesehatan dengan klien yang memiliki latar belakang keterampilan dan sosio budaya berbeda. Mekanisme “umpan balik” diperlukan agar proses komunikasi menjadi lebih dinamis dan dapat menghindari mis-interpretasi kedua belah pihak. Namun demikian, model ini sangat bermanfaat untuk komunikasi antar-petugas kesehatan. Di bawah ini adalah gambar yang mengilustrasikan tentang model SMCR (Notoadmojo, 2005, p. 149)
SOURCE
MESSAGE
CHANNEL
RECEIVER
Keterampilan berkomunikasi
Elemen
Penglihatan
Keterampilan berkomunikasi
Sikap
Struktur
Pendengaran
Sikap
Pengetahuan
Isi
Sentuhan
Pengetahuan
Sistem sosial
Treatments
Senyuman
Sistem sosial
Budaya
Kode
Merasakan
Budaya
Gambar 4: Model Berlo

5.      Speech Communication Model
Model ini pertama kali dikembangkan oleh Miller (1972) yang melihat bahwa proses komunikasi terdiri dari tiga variabel, yakni pembicara (speaker), pendengar (receiver), dan umpan balik (feed-back). Dalam hal ini, pembicara menyampaikan “pesan” (informasi) berdasarkan sikap tertentu, sedangkan pendengar menginterpretasikan pesan tersebut berdasarkan sikap yang berbeda. Kemudian pendengar memberikan umpan balik (baik positif maupun negatif) kepada pembicara. Demikian seterusnya sehingga terjadi proses komunikasi yang hidup dan dinamis (Notoadmojo, 2005, p. 150).
Model ini tampak sangat sederhana (over simplified) untuk menjelaskan proses komunikasi yang kompleks dan rumit dalam realitas, namun sangat mudah dipahami untuk menjelaskan proses komunikasi antar-manusia. Hal-hal inilah yang merupakan kekuatan dan kelemahan dari Speech Communication Model (Notoadmojo, 2005, p. 150).

LISTENER
ATTITUDE ENCODING SKILLS


SPEAKER
ATTITUDE ENCODING SKILLS
                Positif/Negatif
           
                                                                    FEEDBACK
           

Gambar 5: Model Miller (Speech Communication Model)



6.      Model Aristoteles
Model Aristoteles adalah modedl komunikasi yang palingng klasik, sering disebut juga dengan Model Retoris (Rhethorical Model) yang kini lebih dikenal dengan komunikasi publik (public speaking) atau pidato. Model Aristoteles ini melibatkan persuasi dimana berisi suatu anjuran untuk melakukan dan mengimplementasikan suatu kegiatan sesuai dengan isi pesan. Untuk itu harus dipersiapkan siapa yang menyampaikan (etos- kepercayaan pada sipenyampai pesan), argumen yang dipersiapkan (logos, logika dalam pendapat) dan bagaimana membawa dan memaikan e,osi khalayak untuk tertarik pada isi pesan (phatos-emosi khalayak). Dengan kata lain, faktor-faktor yangb memaikan peran dalam menentukan efek persuasi suatu pidato meliputi isi pidato, susunannya, dan cara penyampaiannya (Mubarak, 2011. p. 66).
Dalam perkembangan selanjutnya model Aristoteles diimplementasikan dengan menempatkan baliho-baliho ditempat strategis yang berisi anjuran untuk melakukan kegiatan sesuia isi pesan. Namun, banyak pakar berpendapat bahwa penempatan baliho di tempat strategis merupakan bentuk komunikasi massa dan hal tersebut kurang tepat bila ditinjau dari spesifik tujuan yang diingin dicapai sesuai dengan karakteristik dari komunikasi persuasi (Mubarak, 2011. p. 67).


Tiga unsur utama dalam Model Aristoteles adalah sebagai berikut:
a.       Pembicara (speaker)
b.      Pesan (message)
c.       Pendengar (listener)
Pembicara
Pesan
Pendengar
 



Dalam Model Aristoteles ini tidak memuat unsur-unsur lainnya yang dikenal dalam model komunikasi, seperti, umpan balik, efek dan kendala atau gangguan komunikasi. Dengan demikian, komunikasi ini terkesan sangat simpel dan statis. Saat seseorang berbicara, pesannya akan berjalan kepada khalayak, dan khalayak mendengarkan.pesan dirancang sedemikian rupa untuk memengaruhi khalayak agar mau memerima pesan (Mubarak, 2011. p. 67).

7.      Model schramm
Model schramm memberikan gambaran proses komunikasi dari yang sederhana sampai yang kompleks dengan menghadirkan tiga model. Model yang pertama adalah Wilbur Schramm 1954 yang memperkenalkan model yang sangat sederhana, dimana dalam berkomunikasi  yang dibutuhkan perangkatnya hanya ada tiga unsur yaitu sumber (source), pesan (message), sasaran (desfination). Model ini terkesan sangat sederhana sekali karena hanya beriontasi pada penyampaian sinyal saja tanpa memperhatikan sisi lainnya dan mengesampingkan lainnya, yang terpenting inti sinyal sudah dikomunikasikan pada sasarannya.
sumber
encorder
signal
decorder
sasaran
 






Dalam perkembangannya, sumber informasi tidak cukup hanya ditransmisikan kesasaran saja melainkan juga membutuhkan kesamaan bidang pengalaman (field of exprince) sehinggan dari model yang sederhana tersebut dikembangkan lagi menjadi model yang kedua dengan menambah unsur bidang pengalaman, agar pesan bisa diterima oleh penerima pesan dengan baik.
            Model yang kedua schramm memperkenalkan gagasan bahwa kesamaan dalam bidang pengalaman, sumber dan sasaranlah yang sebenarnya dikomunikasikan, karena bagian sinyal itulah yang dianut sama oleh sumber dan sasaran. Untuk itu Wilbur schramm memberikan gambaran model yang kedua ini sebagai berikut

sumber
encorder
sinyal
tujuan
decorder
 




Model ketiga schram mengganggap komunikasi sebagai interaksi dengan kedua pihak, yang menyandi , menafsirkan, dan menyandi balik, mentransmisikan dan menerima sinyal. Disini kedua belah pihak sama-sama berfungsi sebagai encorder, interpreter, mmaupun decorder. Ketika sumber memberikan pesan kepada tujuan maka sumber bertindak sebagi encorder sedangkan tujuan bertindak sebagi decorder


Encorder
Interprete
decorder

pesan
Encorder
Interprete
decorder

pesan
 










A.    Cara mengolah Pesan dalam Komunikasi Kesehatan
1.    Memahami symbol pesan komunikasi non verbal
Dalam buku silent massage (1971) mengemukakan bahwa manusia berkomunikasi secara verbal dan non verbal. Bila kita membandingkan prosentase penggunaan pesan, maka total= 7% verbal feeling+38%, vocal feeling+55%, facial feeling (mehrabian, 1971). Ini berarti bahwa 93% dari dari perilaku komunikasi kita, dalam hal ini pengalihan pesan, menggunakn pesan symbol non verbal, sisanya 7% menggunakan pesan herbal.(Liliweri, 2007;109)
Morris (1977) dalam liliweri (2007; 109-116) membagi pesan non verbal sebagai berikut:
a.    Kinesik
Kinesik adalah pesan non verbal yang diimplementasikan dalam bentuk bahasa isyarat tubuh atau anggota tubuh. Perhatikan bahwa dalam pengalihan informasi mengenai kesehatan, para penyuluh tidak saja menggunakan kata-kata secara verbal tetapi juga memperkuat pesan-pesan itu dengan bahasa isyarat  untuk mengatakan suatu penyakit yang berbahaya, obat yang mujarab, cara memakai komndom, cara mngaduk obat, dan lain-lain
1)   Gesture
Gesture merupakan bahasa isyarat yang ditampilkanoleh gerakan anggota tubuh seorang komunikator kesehatan mungkin memksudkan V, artinya dia berhasil memengaruhi audiens  untuk membangun WC yang sehat, atau sebaliknya mengacungkan jempol “ke bawah” artinya  kegagalan, dan lain-lain.
2)   Ekspresi wajah
Di dunia ini tercatat sekurang-kurangnya 30.000 lebih ekspresi yang berbeda satu sama lain. Banyak diantaranya mempunyai makna yang sama namun banyak pula yang berbeda. Suatu kenyamanan mungkin berarti senang, namun mungkin pula berarti sinis. Jadi, tanggapan itu tergantung dari pandangan kebudayaan.
3)   Bersalaman
Bersalaman atau handshake merupakan sesuatu yang lazim dilakukan ketika kita bertemu seseorang. Perbedaan budaya dari audiens akan memberikan makna yang berbeda atas salaman itu.
4)   Kontak mata
Kontak mata adalah symbol non verbal yang sangat penting dalam beberapa kebudayaan namun tidak penting bagi kebudayaan lain. Apabila melakukan penyuluhan kesehatan di pendesaan NTT maka ingatlah bahwa komunikasi lebih suka mendengarkan sambil melakukan kontak mata.
b.    Proksemik
Ruang lingkup bahasa non verbal berikutnya adalah proksemik, yaitu bahasa non verbal yang ditujukan oleh “ruang” dan “jarak” antara individu  dengan objek. Proksemik doibagi atas proksemik jarak, proksemik ruang, dan proksemik waktu. (liliweri, 2007;111)
1)   Proksemik jarak
Proksemik jarak merupakan bahasa jarak symbol komunikasi yang paling sensitive. Jarak antara orang dan dapat digolongkan sebagai jarak sahabat intim, jarak sahabat-kenal(say hello), atau jarak romantic. Umumnya jarak fisik kita dengan orang lain menunjukan pula kedekatan psikologis dan sosial dengan lawan bicara misalnya jarak intim, jarak pribadi, jarak sosial, dan jarak public. Makin dekat jarak fisik seseorang dengan badan kita, maka dia dianggap makin dekat secara psikologis maupun sosial dengan kita.

2)   Proksemik ruang
Dalam kasus proksemik ruang, berikut ini beberapa contoh di mana kita daoat menginterprestasi makna terhadapnya. Yaitu
a)    Ukuran ruang
b)   Hawa atau udara dalam ruang
c)    Warna
d)   Pencahayaan
e)    Jangkauan ruang
3)   Proksemik waktu
Kronemik meliputi penggunaan waktu untuk berkomunikasi secara non verbal. Sebagaimana biasa para bawahan harus menunggu kedatangan pimpinan, atau dalam pertemuan, para bawahan diharuskan diharuskan tiba mendahului atasan mereka.
Waktu menggambarkan sebuah peristiwa yang dapat memberikan makna tertentu, maksud dan tujuan tertentu. Bahasa waktu meliputi symbol; (liliweri, 2007;114)
a)    Peluang diperkenalkan untuk terlambat-waktu yang diperkenankan oleh sebuah kebudayaan atau subkultur bagi kita sebuah mengikuti sebuah jadual atau programformal maupun informal.
b)   Ambiliguitas(tergantung kebudayaan) tingkat keluwesan waktu untuk mengikuti sebuah jadual
atau program formal maupun informal.
c.    Haptik
Haptik seringkali disebut zero proxemics, artinya tidak ada lagi jaral diantara dua orang waktu berkomunikasi. Atas dasar itu maka ada ahli komunikasi non verbal yang mengatakan haptik itu sama dengan menepuk-nepuk, meraba-raba, memegang, mengelus dan mencubit. Haptik ditentukan oleh tiga faktor: (liliweri, 2007;113)
1)   Derajat atraksi dan kesukaan. Anda lebih cenderung atau suka memegang  seseorang atau suatu objek yang anda sukai. Andapun lebih suka memegang atau mengambi suatu barang yang menarik.
2)   Derajat kekeluargaan/kekerabatan. Anda juga lebih sering menghiraukan jarak fisik dengan seseorang yang sangat dekat dengan anda, yang dianggap sebagai anggota atau sahabat karib. Karena kedekatan psikologis itulah maka anda lebih berani mendekatkan psikologis itulah maka anda lebih berani mencubit, menepuk lengan dan bahu, mencium dahi atau pipi.
3)   Kekuasaan dan status. Haptik juga ditentukan oleh faktor kekuasaan dan status, misalnya hubungan antara atasan dengan bawahan. Mereka yang tergolong pada kelompok atasan sering menghindari diri dari pegangan bawahannya.
d.   Paralinguistic
Paralinguistic meliputi setiap penggunaan suara sehingga dia bermanfaat kalau kita hendak menginterpretasi simbol verbal.
e.    Artifak
Kita tidak memaksudkan artifak dengan artifak dalam study arkeologi. Kita memahami artifak dalam komunikasi non verbal dengan pelbagai benda material di sekitar kita, lalu bagaimana cara benda-benda itu digunakan untuk menampilkan pesan ketika digunakan.
f.     Logo dan warna
Kreasi para perancang untuk menciptakan logo dalam penyuluhan merupakan karya komunikasi bisnis, namun model kerja ini dapat ditiru dalam komunikasi kesehatan. Biasanya logo dirancang untuk dijadikan symbol dari suatu karya organisasi atau produk dari suatu organisasi,  terutama bagi organisasi swasta. Bentuk logo umumnya berukuran kecil dengan pilihan bentuk, warna dan huruf yang mengandung visi dan misi organisasi. Berikut ini ada beberapa unsure yang patut diperhatikan ketika kita menciptakan logo.
g.    Penggunaan Warna
Warna berkaitan dengan adanya budaya audiens. Oleh karena itu jika anda memilih warna yang salah, hal itu akan memengaruhi penerimaan pesan oleh audiens. Dalam masyarakat kita umumnya, warna hitam diindetikkan dengan warna berkabung. Warna ungu menjadi symbol penantian dan harapan, warna putih diasosiakan dengan keberanian, warna merah dikaitkan dengan keberanian, warna kuning dihubungkan dengan perilaku cemburu. Jadi, peranan warna penting karena;
1)   Warna berkaitan dengan kepribadian
2)   Warna berkaitan dengan faktor-faktor psikologi
Ukuran-pada mulanya digunakan untuk kartu nama(business card), oleh karena itu ukuran logo yang paling besar(format asli) hanya sebesar kartu nama. (Liliweri, 2007;115)
Multimedia-kini dengan teknologi komputer maka perancangan pesan dapat dapat dilakukan semakin mudah, apalagi menggunaka software seperti Corral atau untuk kepentingan presentasi bahan digunakan software power point.
Animasi-animasi adalah proses kerja perancang untuk membuat variasi-variasi atas simbol atau logo.
h.    Tampilan Fisik Tubuh
Acapkali Anda mempunyai kesan tertentu terhadap tampilan fisik tubuh dari lawan bicara Anda. Kita sering menilai seseorang mulai dari warna kulitnya, tipe tubuh (atletis, kurus, ceking, bungkuk, gemuk, gendut, dan lain-lain). Tipe tubuh itu merupakan cap atau warna yang kita berikan kepada orang itu. Salah satu keutamaan pesan atau informasi kesehatan adalah persuasif, artinya bagaimana kita merancang pesan sedemikian rupa sehingga mampu mempengaruhi orang lain agar mereka dapat mengetahui informasi, menikmati informasi, memutuskan untuk membeli atau menolak produk bisnis yang disebarluaskan oleh sumber informasi. (Liliweri, 2007; 116)
Apa yang disimpulkan dari uraian mengenai bahasa non verbal diatas?  Dalam komunikasi kesehatan hendaklah dalam komunikasi antarpribadi maupun komunikasi kelompok kita merancang pesan non verbal yang disukai audiens. Telitilah kebudayaan audiens setempat sebelum kita merancang pesan non verbal; baik rancangan pesan yang ditampilkan langsung dalam komunikasi antarpersonal atau digambarkan diatas kertas, dicetak di pamflet, atau dipindahkan ke video. Pesan non verbal turut mempengaruhi
penerimaan pesan oleh audiens. (Liliweri, 2007; 116)

2.    Memahami dan Memakai Pesan Verbal dalam Komunikasi Kesehatan
Kalau kita bicara tentang komunikasi verbal maka terkandung pula didalamnya pengertian pesan-pesan verbal atau pesan berupa kata-kata yang diucapkan (vokal), di tulis (visual). Konsep komunikasi verbal ini tidak bisa dilepaskan dari ilmu bahasa atau linguistik. Dalam praktiknya, cara manusia berkomunikasi melalui bahasa yang secara formal dilakukan melalui bahasa lisan dan tulisan. (Liliweri, 2007; 117)
a.    Penggunaan bahasa secara pragmatis
Kita memang mengakui bahasa indonesia sebagai bahasa pemersatu, oleh karena itu kita mempelajari bahasa Indonesia sejak masih duduk di SD sampai ke perguruan tinggi. Ketika kita menggunakan bahasa sebagai “alat komunikasi”, haruslah disadari bahwa ada perbedaan penggunaan bahasa tulisan dan bahasa lisan. Perbedaan itu menampak pada aspek “kepraktisan” semata-mata. Artinya, orang tidak terbiasa berbahasa lisan dengan mengikuti semua aturan tata bahasa Indonesia. Bagi kita, dalam komunikasi adalah membuat orang lain cepat mengerti yang dalam istilah komunikasi, memberikan makna yang sama atas apa yang sama atas apa yang kita ucapkan. Inilah aspek pragmatis suatu bahasa. (Liliweri, 2007; 118)
Seorang komunikator kesehatan hendaklah memerhatikan kebiasaan dan kepraktisan bahasa di kalangan ibu-ibu desa yang berkunjung ke Puskesmas, bapak-bapak nelayan di pantai, para gadis di pasar umum, orang-orang yang berada dalam perjalanan, dan lain-lain. Kadang-kadang kelompok-kelompok ini menggunakan “jargon” secara khusus yang hanya dimengerti oleh kalangan mereka. (Liliweri, 2007; 118)
b.    Ingat variasi berbahasa
Menurut Liliweri (2007; 116-120)dalam berkomunikasi kesehatan, apalagi dalam situasi antar budaya, hendaklah kita memperhatikan beberapa variasi berbahasa yang bersumber pada:
1)   Dialok
Dialek merupakan variasi penggunaan bahasa  di suatu daerah bahasa. Orang Timor yang tinggal di Timur Tengah Utara (TTU), Timor Tengah Selatan (TTS) dan sebagian Kabupaten Kupang (Amfoang, Amarasi) memakai bahasa Dawan namun terdapat variasi penggunaan bahasa di antar berbagai daerah yang berbeda-beda itu. Demikian pula orang Jawa yang tinggal di Jawa Timur berbeda dialek jawanya dengan Jawa dari Solo. Hal ini karena di masing-masing “daerah” pengguna bahasa mempunyai dialek untuk menerangkan kata tau istilah lokal.
2)   Aksen
Aksen menunjukkan kekhasan tekanan dalam ucapan bahasa lisan. Meskipun semua orang Timor memakai bahasa Dawan, di antara pengguna bahasa Dawan sendiri dapat membedakan asal usul pembicara berdasarkan aksen Amarasi, aksen Amfoang, aksen Soe, dan aksen Kefa. Atas alasan yang sama yang sama kita bisa membedakan aksen orang Jawa dari Surabaya dengan orang Jawa dari Semarang atau dari Yogyakarta.
3)   Jargon
Jargon adalah sebuah unit kata-kata atau istilah yang dipertukarkan oleh mereka yang sama profesi atau pengalamannya. Perhatikan ada istilah-istilah tertentu yang hanya beredar di kalangan ibu rumah tangga, di kalangan nelayan, atau dikalangan dosen dan mahasiswa. Istilah SKS  hanya dimengerti di kalangan dosen dan mahasiswa (baca: 50 menit). Contoh, ketika akan memberikan pengarahan kepada ibu-ibu di Puskesmas, seorang teman bertanya kepada Anda: berapa lama Anda bicara? Anda menjawab: ya kira-kira 1 SKS (para ibu tidak mengerti 1 SKS, hanya Andadsn teman Anda yang tahu lama pembicaraan 50 menit).
4)   Argot
Argot adalah bahasa khusus yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu untuk mendefenisiskan batas-batas kelompok mereka dengan orang lain. Di kalangan anak-anak sering menggunakan bahasa khusus yang hanya dimengerti di kalangan mereka. Contoh: Kapan saya bisa datang ke rumah kamu?
c.    Berbahasa pada saat yang tepat
Menurut Liliweri (2007; 120-123) dalam berkomunikasi, terutama dalam situasi antar budaya, ada beberapa perbedaan yang perlu diperhatikan. Menurut Ohoiwutun (1997;99-107) dalam Liliweri (2007; 120-123) anda harus memperhatikan:
1)   Kapan orang berbicara
Jika kita berkomunikasi antarbudaya perlu diperhatikan bahwa ada kebiasaan (habits) budaya yang mengajarkan kepatutan kapan seseorang harus atau boleh berbicara. Orang-orang Timor, Batak,Sulawesi,Ambon,Irian, mewarisi sikap kapan saja bisa bicara, tanpa membedakan yang tua dan muda, artinya semaunya saja, berbicara tidak mengenal batas usia. Namun orang Jawa dan Sunda mengenal aturan atau kebiasaan kapan orang berbicara, misalnya yang lebih muda mendengarkan lebih banyak daripada yang tua, yang tua omong lebih banyak dari yang muda.
2)   Apa yang dikatakan
Laporan studi Eades (1982)menungkapkan bahwa orang-orang Aborigin Australia tidak pernah mengajukan pertanyaan mengapa ‘mengapa’? Suzanne Scolon (1982) mendapati orang indian Athabaska jarang bertanya. Terdapat anggapan bahwa pertanyaan dianggap terlalu keras, karena menuntut jawaban. Dari sisi pendidikan orang akan bertanya-tanya, apakah mungkin orang dapat belajar bila mereka tidak diperkenankan bertanya? Guna menghindari bertanya yang dianggap terlalu keras maka ada kebiasaan dalam masyarakat tertentu yang menempuh strategi ‘bercerita’. Laporan penelitian Tannen (1984-an) menunjukkan bahwa orang-orang New York keturunan Yahudi lebih cenderung bercerita dibandingkan dengan teman-temannya di California. Cerita mereka (New York Yahudi) selalu berkaitan dengan pengalaman dan perasaan pribadi. Masing-masing anggota kelompok kurang tertarik pada isi cerita yang dikemukakan anggota kelompok lain.
3)   Kecepatan dan jeda berbicara
Yang dimaksudkan dengan kecepatan dan jeda berbicara di sini adalah pengaturan kendali berbicara menyangkut tingkat kecepatan dan ‘istirahat sejenak’ dalam berkomunikasi antara dua pihak. Orang-orang di Barat sulit berdiam diri terlalu lama dan hanya mendengarkan orang lain. Di Indonesia, kita semua yang menjadi bawahan selalu berdiam diri di depan atasan, hanya mendengarkan pengarahan dan perintah.
4)   Hal yang perlu diperhatikan
Konsep ini berkaitan erat dengan gaze atau pandangan mata yang diperkenankan waktu berbicara bersama-sama. Orang-orang kulit hitam biasanya berbicara sambil menatap mata dan wajah orang lain, hal yang sama terjadi bagi orang Batak dan Timor. Dalam berkomunikasi ‘memperhatikan’ adalah melihat bukan sekedar mendengarkan. Sebaliknya Orang Jawa tidak mementingkan ‘melihat’ tetapi mendengarkan. Anda membayangkan jika seorang Jawa sedang berbicara dengan orang Timor yang terus-menerus menatap mata orang Jawa, maka si Jawa akan merasa tidak enak dan bahkan menilai orang Timor itu kurang ajar. Sebaliknya orang Timor merasa dilecehkan karena si Jawa tidak melihat dia waktu dia memberikan pengarahan.
5)   Intonasi
Masalah intonasi cukup berpengaruh dalam pelbagai bahasa yang berbeda budaya. Orang Kedang di Lembata/Flores memakai kata bua berarti melahirkan, namun kata yang sama kalau ditekan pada huruf akhir ‘a’ – bua’ (buaq), berarti berlayar.


6)   Gaya kaku atau puitis
Ohoiwutun (1997; 105) menulis, jika Anda membandingkan bahasa Indonesia yang digunakan pada awal berdirinya negara ini dengan gaya yang dipakai dewasa ini, dekade 90-an, Anda akanmendapati bahwa bahasa Indonesia tahun 1950-an lebih kaku. Gaya bahasa sekarang lebih dinamis, lebih banyak kata dan frase dengan makna ganda, tergantung dari konteksnya. Perbedaan ini terjadi sebagai akibat dari perkembangan bahasa. Tahun 1950-an bahasa Indonesia hanya dipengaruhi secara dominan oleh bahasa Melayu.
7)   Bahasa tidak langsung
Setiap bahasa mengajarkan kepada para penuturnya mekanisme untuk menyatakan sesuatu secara langsung atau tidak langsung. Jika Anda berhadapan dengan orang Timor, Anda tidak biasanya berbicara secara langsung namun didahului oleh basa basi dan bahsa simbolik. Ini jelas berbeda kalau Anda berbicara dengan orang Flores atau orang Rote di Kupang.
d.   Struktur pesan
Menurut Liliweri (2007; 123-125) struktur pesan ditunjukkan dengan :
1)   Pola penyimpulan (tersirat atau tersurat)
Banyak anak terserang campak (PK, Rabu 4 November 2004)
Gejalanya:
a)    Panas 2-3 hari berturut-turut
b)   Muncul ruam-ruam merah di balik telinga
c)    Timbul batuk, pilek, dan mencret
d)   Bagian kulit yang ruam-ruam mengelupas
e)    Timbul bintik-bintik hitam pada kulit yang mengelupas
2)   Pola urutan argumentasi (mana yang lebih dahulu)
Argumentasi yang disenangi (disampaikan terlebih dahulu) misalnya, Anda hendak mengadakan penyuluhan tetntang usaha mencegah anak-anak mencret karena makan makanan atau penganan yang tidak bersih. Anda bisa menampilkan pada pamflet foto anak-anak yang riang gembira bersama kawan-kawannya berebutan membeli jajan di suatu kios di bilangan daerah kumuh. Beberapa foto berikutnya anda yang dimulai dari anak-anak memasukkan jajan ke mulut, proses pengolahan dalam perut… sampai terakhir potret anak yang mulai sakit perut dan terus-menerus ke WC dan akhirnya dibawa ke UGD dalam keadaan pucat pasi.
Argumentasi yang tidak disenangi (disampaikan terlebih dahulu), dalam model ini anda menampilkan terlebih dahulu wajah seorang anak yang pucat pasi terbaring tidak berdaya di UGD…sampai menampilkan alur cerita pertama.
3)   Pola objektivitas (satu sisi atau dua sisi)
Satu sisi – Pesan yang terlihat dari dua contoh argument di atas sebenarnya berpola SATU SISI karena Anda mengambil anak sebagai pusat informasi kesehatan.
Dua sisi – Alur satu sisi di atas dapat diubah menjadi dua sisi karena Anda menampilkan pula potret seorang dokter atau perawat yang mengingatkan beberapa pesan mengenai pencegahan penyakit mencret.
e.    Gaya Pesan (bahasa)
Gaya pesan menunjukkan variasi linguistic dalam penyampaian pesan dengan perulangan, mudah mengerti, dan perbendaharaan kata (Liliweri, 2007; hal.125)
1)   Perulangan
Perulangan pesan adalah pengungkapan suatu pesan berkali-kali dalam satuan waktu untuk mengesankan kepada audiens bahwa apa yang disampaikan sangat penting. Contoh: “Saya ingatkan untuk mencegah demam berdarah lakukan 3M, sekali lagi 3M, 3M, jangan lupa 3M”.
2)   Mudah dimengerti
Suatu pesan yang baik adalah pesan yang menggunakan pilihan kata yang mudah dimengerti, atau jangan menimbulkan tafsir ganda. Contoh: apabila kata ruam-ruam kurang dipahami, sehingga sebaiknya gunakan kata bintil-bintil.
3)   Perbendaharaan kata
Yang dimaksudkan dengan perberdaharaan kata adalah kata-kata yang lazim digunakan oleh audiens sehari-hari. Contoh: kata ruam-ruam (jika digunakan dalam bahasa tulisan maka hendaklah diterangkan dalam kurang).
e.    Daya Tarik Pesan
Yang dimaksudkan dengan daya tarik pesan (message appeals) mengacu pada motif-motif psikologis yang dikandung pesan, yakni rasional-emosional, fear appeals (gaya tarik ketakutan), dan reward appeals (daya tarik ganjaran). (Liliweri, 2007; 129-131)
1)   Rasional – Emosional
Rasional adalah rancangan pesan yang menjelaskan suatu informasi secara rasional sesuai dengan syarat-syarat yang seharusnya, misalnya syarat ilmu kesehatan, dll. Contoh: “Karena penyakit ini disebabkan oleh virus maka tidak bias diobati. Penyakit ini akan sembuh sendiri yang dalam istilah medis disebut  self limited disease, yang bisa dilakukan terhadap penyakit ini adalah melakukan pengobatan sesuai gejala-gejala penyakit. Misalnya, ketika penderita mengalami batuk, diberi obat batuk, begitu pula penderita pilek atau diare.”
Emosional adalah rancangan pesan yang menjelaskan suatu informasi secara emosional serta menggugah emosi audiens. Contoh: merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin; jika bapak tetap merokok, berarti bapak mau bunuh diri. Itu kan kasian anak-anak dan istri, apalagi kalau bapak jadi impoten, maka rumah tangga bapak bakal tidak bahagia!
2)   Fear Appeals (daya tarik ketakutan)
Untuk memengaruhi audiens, maka sebaiknya sampaikan pesan atau informasi yang kurang menyenangkan kemudian baru diikuti dengan menampilkan pesan atau informasi yang menyenangkan. Daya tarik pesan yang menampilkan ketakutan rupanya lebih ditakutkan daripada pesan yang tidak menakutkan. Fear appeals menampilkan daya tarik tertentu apalagi jika ketakutan itu berkaitan dengan nyawa manusia.
Atas pertimbangan itu maka dalam penyuluhan kesehatan yang ausiensnya (adalah manusia-manusia super sibuk) mempercayakan anak-anak mereka kepada para pembantu perlu ditampilkan kasus-kasus bagaimana hubunghan pembantu dengan anak-anak ketika orang tua tidak berada di rumah. Hal ini akan mendorong para orang tua sibuk untuk lebih meluangkan lebih banyak waktu memperhatikan anak-anaknya daripada kepada para pembantu. 
3)   Reward Appeals (daya tarik ganjaran)

Ada banyak sekali cara untuk menciptakan daya tarik bagi para pembeli untuk membeli makanan atau minuman sehat. Semua pasta gigi memberikan iming-iming bagi pembeli dengan hadiah uang jutaan rupiah setelah mengumpulkan sejumlah tertentu bungkus pasta gigi. Jadi, orang dipersuasi untuk membeli produk bukan karena dia butuh produk tersebut tetapi karena dia ingin mendapatkan hadiah karena membeli produk itu. 

No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat