google adsense

Monday, August 7, 2017

Asuhan Keperawatan Pada Lansia dengan Depresi

A.  Asuhan Keperawatan Pada Lansia dengan Depresi
1.    Pengertian
Depresi adalah perasaan sedih, ketidakberdayaan, dan pesimis, yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan kepada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam.
Pada lansia depresi terus menjadi masalah kesehatan mental yang serius meskipun pemahaman kita tentang penyebab dan perkembangan pengobatan farmakologis dan psikoterapeutik sudah sedemikian maju. Gejala-gejala depresif sering berhubungan dengan penyesuaian yang terlambat terhadap kehilangan dalam hidup dan stresor-stresor lain (misalnya: pensiun yang terpaksa, kematian pasangan) dan penyakit-penyakit fisik. Oleh karena itu depresi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan; merupakan gangguan psikiatrik yang paling banyak dapat terjadi pada lansia, akan tetapi untungnya paling dapat diobati. Hampir 80% penderita depresi serius berhasil diobati dan kembali sehat (Stanley, 2006)
Depresi dapat memperpendek harapan hidup dengan mencetuskan atau memperburuk kemunduran fisik. Dampak terbesarnya sering terjadi di area-area tempat kepuasan dan kualitas hidup menurun, menghambat pemenuhan tugas-tugas perkembangan lansia. Lebih lanjut lagi, depresi dapat menguras habis emosi dan finansial orang yang terkena juga pada keluarga dan sistem pendukung sosial informal dan formal yang dimilikinya. Akhirnya, angka bunuh diri yang tinggi menjadi konsekuensi (Stanley, 2006)
2.    Pertimbangan Khusus Dalam Perawatan
a.    Pertolongan segera untuk mengatasi depresi. Untuk membantu klien lanjut usia memahami dan menyatakan perasaan positif dan negatif yang menyangkut dirinya, orang lain, dan apa yang terjadi, lakukan hal berikut:
1)   Bentuk kontak dengan klien lanjut usia sesering mungkin, baik secara verbal maupun nonverbal.
2)   Beri perhatian terus-menerus, walaupun klien lanjut usia tidak mau dan tidak dapat berbicara dengan Anda. Pendekatan ini akan menjadikan Anda seseorang yang menyenangkan dan menarik. Ingat, klien lanjut usia yang mengalami depresi biasanya merasa sendiri dan tidak berharga. Kepercayaan bahwa seseorang menaruh minat dan memperhatikan mereka adalah tindakan yang paling menolong.
3)   Libatkan klien lanjut usia dalam menolong dirinya sendiri atau aktivitas sehari-hari dan tingkatkan secara bertahap.
4)   Jika Anda merasa perlu, usulkan pada dokter untuk memakai antidepresan (Nugroho, 2008, p. 129-130).
b.    Beralih ke perawatan diri sendiri untuk menambah harga diri.
1)   Tetap luangkan waktu untuk klien lanjut usia setiap hari.
2)   Gunakan pertanyaan terbuka untuk mengekspresikan perasaan klien lanjut usia, misalnya, “Anda kelihatan sedih hari ini, apa yang Anda rasakan?”
3)   Jangan katakan pada klien lanjut usia bahwa ia tidak sesedih seperti yang ia rasakan. Pendekatan ini hanya akan menguatkan perasaan bahwa tidak seorang pun mengerti dirinya.
4)   Puji klien lanjut usia karena keterlibatannya dalam menolong dirinya atau aktivitas lainnya (Nugroho, 2008, p. 130).
c.     Bekerja sama dengan tim dan keluarga untuk mencapai tujuan membantu klien lanjut usia secara optimal. Untuk memudahkan pengenalan cara penyesuaian diri dan memudahkan staf mengatasi masalah klien lanjut usia, hal berikut dapat dilakukan:
1)   Meyakinkan pemberi asuhan tentang tanggung jawab mereka untuk tidak memperberat rasa sedih klien.
2)   Menganjurkan staf atau orang terdekat memuji klien lanjut usia atas usaha dan aktivitasnya.
3)   Membantu staf dalam upaya berkomunikasi dengan klien lanjut usia, mengarahkan mereka supaya memberi perhatian kepada klien lanjut usia sebanyak mungkin (Nugroho, 2008, p. 130).
3.    Manifestasi Klinis
Gejala-gejala depresi, yang tetap sama selama rentang kehidupan, dapat dibagi menjadi tiga kelompok utama, sering disebut triad depresif. Meskipun gejala-gejala depresi pada lansia sama dengan yang ditunjukkan pada orang yang lebih muda dengan gangguan depresi, tetapi lansi lebih dari kelompok lainnya, tidak dapat secara tepat dimasukka ke dalam kategori-kategori psikiatrik (Stanley, 2006).
Menurut Nugroho (2008), gajala umum yang terjadi adalah:
a.    Pandangan kosong
b.    Kurang atau hilangnya perhatian pada diri, orang lain, dan lingkungan
c.    Inisiatif menurun
d.   Keidakmampuan berkonsentrasi
e.    Aktivitas menurun
f.     Kurang nafsu makan
g.    Mengeluh tidak enak badan dan kehilangan semangat, sedih, atau mungkin cepat lelah sepanjang waktu
h.    Susah tidur di malam hari
Menurut Stanley (2006), tanda dan gejala depresi pada lansia adalah sebagai berikut:
a.    Gangguan alam perasaan pervasif
1)   Kesedihan, kehilangan semangat
2)   Menangis
3)   Ansietas, serangan panik
4)   Murung
5)   Iritabilitas
6)   Pernyataan, merasa sedih, “blue”, tertekan, “rendah”, atau “susah”, dan perasaan bahwa tidak ada satupun rang yang menyenangkan
7)   Paranoia
b.    Gangguan persepsi diri, lingkungan, masa depan
1)   Menarik diri dari aktivitas-aktivitas biasa
2)   Penurunan gairah seks
3)   Perasaan tidak berharga
4)   Ketidakmampuan mengekspresikan kesenangan
5)   Ketakutan tidak beralasan
6)   Pendekatan diri kembali pada kegiatan kecil
7)   Delusi
8)   Halusinasi (durasi singkat)
9)   Kritik yang ditujukan pada diri sendiri dan orang lain
10)         Pasif
c.    Vegetatif
1)   Peningkatan atau penurunan gerakan tubuh
2)   Mondar-mandir, meremas-remas tangan, menarik atau mengusap rambut, tubuh, atau pakaian
3)   Sulit tidur, terus terjaga, terbangun dini hari
4)   Penurunan atau (terkadang) peningkatan nafsu makan
5)   Penurunan atau (terkadang) peningkatan  berat badan
6)   Keletihan
7)   Terpaku pada kesehatan fisik, terutama ketakutan terhadap kanker
8)   Ketidakmampuan berkonsentrasi, berpikir jernih, atau membuat keputusan
9)   Bicara lambat, berhenti sejenak sebelum menjawab, penurunan jumlah bicara, bicara rendah atau menonton
10)         Berpikir tentang kematian
11)         Bunuh diri atau upaya bunuh diri
12)         Konstipasi
13)         Takikardia

4.    Penatalaksanaan
a.    Pencegahan Primer
Sejumlah bahaya interpersonal dan lingkungan yang banyak terdapat pada kehidupan akhir dapat bergabung menempatkan lansia pada risiko depresi yang lebih besar. Beberapa diantaranya, seperti reaksi obat yang merugikan, dapat dicegah; yang lainnya, seperti awitan demensia atau kematian pasangan, tidak dapat dicegah. Namun demikian, perawat harus selalu mewaspadai adanya faktor-faktor tersebut dan mengintervensinya untuk mencegah awitan depresi jika mungkin (Stanley, 2006).
Perawat yang menghadapi lansia yang telah mengalami kehilangan besar dan sering kumulatif dapat membantu mereka menghindari depresi dengan:
1)   Mengarahkan kembali minat-minat mereka
2)   Mendorong aktivitas-aktivitas dan hubungan baru yang penuh makna
3)   Mendukung jaringan pendukung sosial mereka.
4)   Memastikan bahwa lansia memiliki akses telepon atau mengetahui bagaimana cara menggunakan transportasi umum, dan strategi-strategi fasilitatif, seperti mendorong keluarga untuk berkunjung dengan lebih teratur.
5)   Menganjurkan konseling prapensiun.
b.    Pencegahan Sekunder
1)   Pengkajian
Cara terbaik untuk mengkaji depresi pada lansia adalah dengan meninjau ulang tanda dan gejala depresi dan pastikan melalui wawancara langsung dengan klien apa gejala-gejala yang ia alami, berapa lama gejala itu sudah berlangsung, dan apakah gejala-gejala tersebut pernah terjadi sebelumnya. Hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah apakah pencetus lingkungan yang jelas atau kehilangan (mis., pensiun yang terpaksa) telah memicu gejala-gejala depresi tersebut. (Stanley & Beare, 2006; 370)
Jika dicurigai terjadi depresi, perawat harus melakukan pengkajian dengan alat pengkajian yang terstandarisasi dan dapat dipercaya serta valid dan memang dirancang untuk dan diujikan kepada lansia. Ada beberapa alat pengkajian semacam itu, tetapi salah satu yang paling mudah digunakan dan diinterpretasikan di berbagai tempat adalah Geriatric Depression Rating Scale (GDRS). GDRS 30 poin dibuat sebagai alat penapisan depresi pada lansia. GDRS tersebut menggunakan format laporan sederhana yang diisi sendiri dengan ya atau tidak atau dapat dibacakan untuk orang dengan gangguan penglihatan, serta memerlukan waktu sekitar 10 menit untuk menyelesaikannya. GDRS merupakan alat psikomotorik dan tidak mencakup hal-hal somatik yang tidak berhubungan dengan pengukuran mood lainnya. Skor lebih dari 10 menunjukkan kebutuhan untuk rujukan guna mendapatkan evaluasi psikiatrik terhadap depresi secara lebih rinci; GDRS hanya merupakan alat penapisan. (Stanley & Beare, 2006; 370)
Pengkajian identifikasi masalah emosional dilakukan melalui list pertanyaan berikut:
No
Pertanyaan Tahap 1
Ya
Tidak
1.
Apakah klien mengalami sukar tidur?


2.
Apakah klien sering merasa gelisah?


3.
Apakah klien sering murung dan menangis sendiri?


4.
Apakah klien sering was-was dan khawatir?


Lanjutkan ke pertanyaan tahap 2 jika > 1 jawaban “Ya”
No
Pertanyaan Tahap 2
Ya
Tidak
1.
Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih 1 kali dalam 1 bulan?


2.
Ada masalah atau banyak pikiran?


3.
Ada gangguan/masalah dalam keluarga?


4.
Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter?


5.
Cenderung mengurung diri?


Bila > 1 “Ya” berarti masalah emosional (+)
2)      Intervensi
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Kriteria evaluasi

Rencana intervensi
1.       
Depresi

1.      Klien menunjukkan lebih sedikit tanda dan gejala vegetatif
Diagnostik/pemantauan
1.      Pantau nafsu makan, penurunanan BB, pola tidur dan eliminasi, tingkat keletihan dan aktivitas, geraka tubuh.
2.      Observasi pola bicara, kemampuan berkonsentrasi, membuat keputusan dan perhatian terhadap kesehatan fisik.
Terapeutik
1.      Anjurkan untuk berpartisipasi dala aktivitas perawatan diri
2.      Beri dukungan, struktur dan konsistensi
3.      Modifikasi lingkungan fisik dan sosial untuk meningkatkan input sensoris dan beri kesempatan untuk keberhasilan menyelesaikan tugas
4.      Anjurkan keterlibatan tumbuh-tumbuhan dan hewan peliharaan
5.      Buat batasan-batasan bila diperlukan
2.      Klien menunjukkan alam perasaan dan persepsi tentang diri, lingkungan dan masa depan yang lebih positif.
Diagnostik/pemantauan
1.      Kaji alam perasaan, gunakan GDRS
2.      Pantau kepatuhan terhadap pengobatan dan adanya efek samping yang merugikan
3.      Observasi interaksi sosial dengan staf, pasien lain, keluarga dan teman-teman
4.      Kaji adanya delusi, halusinasi atau ide paranoid
5.      Pantau tingkat aktivitas, perasaan tidak berharga dan rasa takut yang tidak beralasan
6.      Observasi gejala-gejala menangis, iritabilitas dan ansietas
Terapeutik
1.      Komunikasikan perawatan secara langsung
2.      Validasi dan terima alam perasaan klien yang sedih dengan sikap yang tidak menghukum dan tidak menghakimi
3.      Tunjukkan ketertarikan dan ajukan pertanyaan-pertanyaan yang membantu klien mengidentifikasi kehilangan dan luka hati klien. Dengarkan dan biarkan klien mengekspresikan emosinya yang kuat
4.      Bantu klien mengungkapkan bahwa ia mengalami kesedihan atau deprsesi yang tidak biasa
5.      Fasilitasi klien dalam mengingat kembali kejadian-kejadian positif di masa lalu dan kuatkan perasaan harga diri
6.      Beri informasi yang akurat tentang depresi dan pengobatannya
7.      Anjurkan verbalisasi masalah dan perasaan. Ajarkan klien tentang bagaimana caranya bersikap asertif
8.      Tingkatkan rasa penguasaan, memiliki dan berbagi pengalaman.
9.      Anjurkan pembuatan keputusan untuk meningkatkan  rasa kendali
10.  Fasilitasi terapi rehabilitative psikososial, baik dengan membentuk kelompok atau merujuk klien kepada professional kesehatan mental
11.  Berikan obat yang diresepkan
                                                                                                                    
c.    Pencegahan Tersier
Terapi kelompok sering berhasil digunakan di antara lansia karena bersama dengan orang lain merupakan hal yang penting dalam proses asuhan dan rehabilitasi depresi yang berkelanjutan. Berbagai jenis terapi rehabilitatif psikososial yang mungkin dilakukan:
1)   Terapi yang berfokus pada aktivitas dan meningkatkan rasa keterkaitan dengan orang lain (misalnya: gerakan dan musik)
2)   Terapi yang mendorong ingatan atau tinjauan hidup dan oleh karena itu membantu penyelesaian masalah-masalah lama dan meninggalkan identifikasi dan pencapaian di masa lalu
3)   Terapi yang mengajarkan tentang penatalaksanaan kesehatan stres
4)   Terapi yang menstimulasi rasa dan perbaikan respons terhadap lingkungan
5)   Terapi yang membantu memenuhi kebutuhan akan mencintai dan dicintai

6)   Terapi yang mendorong pembaharuan minat terhadap lingkungan sekitar dan menstimulasi pemikiran dan pembahasan tentang topik-topik yang berkaitan dengan duni nyata, seperti terapi remotivasi.

No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat