google adsense

Friday, August 4, 2017

Gangguan Sistem Reproduksi

A.  Gangguan Sistem Reproduksi
1.    Gangguan Sistem Reproduksi pada wanita
a.    Infeksi vulvovagina
     Vagina dilindungi oleh Ph yang normalnya rendah 3,5 - 4,5 terhadap infeksi. Resiko infeksi meningkat  jika daya tahan tubuh wanita diturunkan oleh stres atau penyakit, pH terganggu atau jumlah organisme yang masuk meningkat.
b.    Sindrom shock toksik
     Sindrom shock toksik merupakan kondisi yang disebabkan oleh toksin yng dihasilkan oleh bakteri  staphylococcus aureus. Kondisi ini terjadi pada wanita yang sedang mentruasi. Faktor risiko yang dapat mencetuskan wanita terhadap TTS termasuk menstruasi,infeksi vaginal kronis, infeksi pelvis, abses paru, infeksi luka bedah, infeksi jaringan lunak, infeksi pascapersalinan dan ginekologis serta penggunaan obat IV.
     Manifestasi klinis. Pada individu yang sehat, awitan TTs terjadi  dengan demam mendadak (38,9ºC [102ºF]), menggigil, malaise, dan nyeri otot. Muntah, diare, hipotensi, sakit kepala, dan kulit merah pada telapak tangan dan tanda-tanda yang menandakan syok septik dini dapat terjadi. Ruam makular merah yang menyerupai terbakar sinar matahari sering terjadi. Pada beberapa pasien ruam ini muncul pertama pada tangan (telapa dan jari-jari)dan kaki (telapak dan jari-jari kaki). Imflamasi membran mukosa juga dapat terjadi. Pada 7-10 hari ruam tersebut dapat dapat mengelupas. Haluaran urin menurun dan kadar nitrogen urea darah meningkat, serta mengakibatkan disorientasi.
     Penatalaksanaan. Pasien diprogramkan untuk tirah baring dan rencana pengobatan diarahkan terutama pada pengontrolan infeksi dengan antibiotik dan memulihkan volume darah yang bersirkulasi. Pada kasus distres pernapasan terapi oksigen dilakukan. Keseluruhan rencana pengoobatan termasuk strategi yang diarahkan pada perhatian psikologis dan emosional, disesuaikan berdasarkan pada kondisi setiap pasien yang beragam mulai dari ringan sampai akut.

c.    Endoservisitis
     Endoservisitis adalah inflamasi mukosa dan kelenjar serviks yang dapat terjadi ketika organisme mencapai akses ke kelenjar servikal setelah hubungan seksual, aborsi, manipulasi uterin, atau persalinan.
     Etiologi. Servisitis mokupurulen sering disebakan oleh chlamydia. Penyakit ini paling umum ditemukan pada pasien yang masih muda, pasien-pasien yang secara seksual aktif dengan lebih dari satu pasangan seksual dan ditularkan melalui hubungan seksual.kondisi ini menyebabkan infeksi pelvik dan sterilitas. Infeksi klamidia dari serviks sering tidak menimbulkan gejala, meski rabas servikal, dispareunia, disuria, dan perdarahan dapat terjadi. Komplikasi yang lain dapat mencakup konjungtivitis dan perihepatitis. Jika wanita hamil terinfeksi maka dapat terjadi lahir mati, kematian neonatal, dan persalinan prematur.
     Penatalaksanaan. Pengobatan harus mencakup upaya preventif dan kuratif. Mencegah infeksi klamidia dengan menggunakan kondom dan spermisida dan menghindari hubungan seksualdengan pasangan nonpoligami atau seseorang yang mempunyai rabas penis, mengurangi angka kejadian endoservisitis dan penyakit hubunggan seksual.
     Penggobatan diitujukan untuk menghilangkan kedua organisme, biiasanya dengan amoksisilin yang diikuti dengan terpai tetrasiklin. Jika klamidia saja yang diobati, terapi biasanya mencakup tetrasiklin, doksisiklin, atau azitromisin.

d.   Infeksi pelvis
     Infeksi pelvis adalah kondisi inflamasi rongga pelvis yang dapat mengenai uterus (endometritis), tuba falopi (salpingitis), ovarium (ooforitis), peritonium pelvik, atau sistem vaskular pelvik. Infeksi yang bisa saja akut dan kronis menyebar biasanya disebabkan oleh virus, bakteri dan parasit.
     Etiologi. Organisme patogenik biasanya memasuki tubuh melalui vagina, menjjalar melalui kanalis servikalis dan masuk ke dalam uterus. Organisme dapat memasuki salah satu atau kedua tuba falopii dan ovarium serta ke dalam pelvis. Pada infeksi bakteri yang terjadi setelah kelahiran atau aborsi dan pada beberapa infeksi yang berhubungan dengan alat intrauterin, patogen menyebar secara langsung melalui jaringan yang menyangga uterus secara limfatik atau melalui pembuluh darah. Peningkatan kebutuhan suplai darah yang dibutuhkan oleh plasenta memungkinkan infeksi memiliki lebih banyak saluran untuk memasukinya. Infeksi pascapersalinan dan pasca aborsi ini cenderung untuk terjadi secara unilateral.
     Manifestasi klinis. Infeksi pelvis biasanya  diawali dengan adanya rabas vagina, nyeri pelvis abdomen bawah, dan nyeri tekan yang terjadi setelah haid. Nyeri biasanya meningkat sellama berkemih atau defekasi. Gejala lain mencakup demam, malaise, anoreksia, mual, sakit kepala dan kemungkinan muntah. Pada pemeriksaan pelvis, nyeri tekan yang hebat dapat tampak pada saat palpasi uterus atau gerakan serviks.
     Penatalaksaan. Pasien mendapatkan terapi antibiotik spektrum luas. Wanita dengan infeksi ringan dapat diobati di unit rawat jalan, tetapi hospitalisasi mungkin diperlukan pada waktu tersebut. Terapi intensif mencakup tirah baring, cairan intravena untuk memperbaiki dehidrasi dan asidosis, dan terapi antibiotik intravena. Jika pasien mengalami distensi abdomen atau ileus, intubasi selang nasogastrik dan penghisapan dilakukan. Pemantauan yang cermat terdapat tanda-tanda vital dan gejala-gejala membantu dalam mengevaluasi status infeksi. Pengobatan pasangan seksual diperlukan untuk mencegah reinfeksi.

a.    Kelainan struktural
1)   Fistula, suatu ostium abnormal, berliku-lliku antara dua organ berongga internal atau dengan tubuh bagian luar. Nama dari fistula menandakan kedua area yang berhubungan secara abnormal. Fistula vesikovaginal adalah ostium antara kandung kemih dan vagina, dan fistula rektovaginal adalah suatu ostium antara rektum dan vagina.
     Etiologi. Fistula terjadi secara kongenital, pada orang dewasa kerusakan biasanya terjadi karena kerusakan jaringan akibat cedera yang didapatkan selama pembedahan, melahirkan, terapi radiasi, atau proses penyakit seperti karsinoma.
     Manifestasi klinis. Gejala-gejala tergantung pada kekhususan defek. Contoh, pada pasien denggan fistula vesikovaginal, urin terus merembes ke dalam vagiina. Pada fistula rektovagiinal terdapat inkontinens fekkal, dan flatus dikeluarkan melalui vagina. Kombinasi rabas demikian dengan leukorea mengakibatkan kondisi yang sangat berbau yang sulit untuk dikontrol.
     Penatalaksaan. Untuk menghilangkan fistula, infeksi dan ekskoriasi. Biasanya fistula akan menghilang tanpa intervensi bedah. Sebaliknya akan diperlukan pembedahan.pembedahan pada vagina digunakan untuk fistula vesikovaginal dan uretrovaginal, dan pembedahan pada abdomen untuk fistula yang lebih tinggi dalam abdomen. Fistula yang sulit untuk diperbaiki atau fistula yang sangat besar membutuhkan perbaikan melalui tindakan bedah dengan diversi urinarius atau fekal.

2)   Sistokel, merupakan perpindahan tempat ke bawah dari kandung kemih ke arah orifisium vagina.Sistokel terjadi akibat cedera atau tegangan selama melahirkan anak. Kondisi ini biasanya tampak beberappa tahun kemudian  ketika atrofi gental yang berkaitan dengan penuaan yang terjadi, tetapi wanita yang lebih muda, multipara, pramenopause juga dapat mengalaminya.
     Manifestasi klinis. Karena sistokel menyebabkan diding vagina menonjol ke arah bawah, pasien biasanya melaporkan adanya tekanan pelvis, keletihan, dan masalah perkemihan seperti inkontinensia, sering berkemih dan dorongan selalu untuk berkemih. Sakit pinggang dan nyeri pelvis juga dapat terjadi.
     Penatalaksaan non bedah. Latihan perineal atau kegel diharuskan dan sering dapat membantu menguatkan otot-otot yang melemah. Latihan ini paling efektif pada sistokel dini. Latihan kegel mencakup mengencangkan atau kontraksi otot-otot vagina. Latihan ini mudah untuk dilakukan dan direkomendasikan bagi senua wanita, termasuk mereka yang memiliki dinding vagina yang kuat. 

3)   Rektokel, kondisi ini dan laserasi perineal dapat menyerang otot dan jaringan dasar pelvis dan dapat terjadi selama melahirkan. Karena robekan otot di bawah vagina, maka rektum dapat menggelantung ke arah depan, dengan demikian mendorong dinding vagina ke depan.
     Manifestasi klinis. Gejala-gejala rektokel menyerupai gejala-gejala sistokel kecuali pasien dapat mengalami tekanan pada rektum. Konstipasi, gas yang terkontrol, dan inkontinensia fekal dapat terjadi pada pasien dengan robekan komplit.
 
4)   Perubahan letak uterus, uterus dapat digerakkan bebas karena kehamilan. Tetapi regangan akibat kehamilan yang dapat mencakup pembentukan perlekatan atau melemahkan penyangga uterus alamiah (atau variasi individual) dapat menyebabkan perubahan posisi normal uterus. Biasanya perubahan ini tidak menyebabkan masalah berat, tetapi kondisi ini dapat menyebabkan gejala-gejala yang menyulitkan.
Manifestasi. Sakit pinggang atau tekanan pada pelvis. Akibat pergeseran kandung kemih . masalah diperburuk ketika pasien batuk, mengangkat benda berat atau berdiri untuk waktu yang lama. Aktivitas normal, ketika berjalan menaiki anak tangga, dapat memperburuk masalah. Pasien dengan gejalan demikian didorong untuk mencari bantuan medis.
Penatalaksaan. Pembedahan merupakan pengobatan pilihan. Uterus dijahit kembali ke tempatnya dan diperbaiki untuk menguatkan dan mengencangkan pita-pita otot. Pada wanita pascamenopause, uterus dapat di angkat (histerektomi). Bagi lansia wanita atau mereka yang terlalu sakit untuk menahan regangan pembedahan, pesari dapat menjadi pengobatan pilihan.
b.    Tumor dan kondisi benigna dan maligna
     Terdapat beberapa kondisi seperti kista vulva, kista ovarium,leimioma, kanker serviks, kanker endometrium, kanker tuba fallopi.
1)   Kista vulva adalah kista bartholin terjadi akibat obstruksi duktus pada salah satu pasangan kelenjar vestibular pada segitiga posterior vulva dekat vestibula. kista sederhana dapat saja asimptomatik tetapi kista yang terinfeksi dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Infeksi dapat diakibatkan oleh organisme Gonococcus, Escherichia coli, atau Stphylococcus aureus dan dapat disebabkan oleh abses dengan melibatkan nodus limfe inguinal. Pengobatan yang lazim adalah insisi dan drainase yang diikuti dengan terapi antibiotik. Jika kista asimptomatik, pengobatan tidak diperlukan. Panas lembab atau rendam duduk dapat meningkatkan drainase dan resolusi. Jika pembedahan diperlukan, vaporisasi laser dapat digunakan.
2)   Kista ovarium adalah pembesaran konstituen ovarium normal, folikel graft, atau korpus leteum, atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan abdomen dari epitelium ovarium. Pengobatan kista ovarium yang besar adalah pengangkatan melalui tindakan bedah.
3)   Kanker serviks  adalah kondisi yang jarang terjadi dibanding sebelumnya akibat deteksi dini dengan pap smear. Kondisi ini masih merupakan kanker reproduksi wanita ketiga yang paling umum, tidak termasuk kanker payudara.
4)   Kanker endometrium adalah keganasan pelvis perempuan yang paling sering, dilaporkan terdapat 6% dari seluruh kanker pada perempuan. Gejala yang dialami biasanya adalah perdarahan uterus abnormal dan perdarahan setelah menopause.
5)   Kanker tuba falopii adalah hal yang jarang terjadi dan merupakan tipe kanker genital yang paling sedikit. Gejala-gejala termasuk rabas yang sangat banyak, encer dan nyeri kolik abdomen bagian bawah atau perdarahan vagina abnormal. Pembedahan diikuti dengan terapi radiasi adalah pengobatan yang biasanya dilakukan.

2.    Gangguan Sistem Reproduksi pada Pria
     Terdapat beberapa gangguan sistem reproduksi pria antara lain:
a.    Malformasi kongenital:
1)   Kriptorkhidisme, pada masa gestasi sekitar 32 minggu, testis turun ke dalam skrotum di bawah pengaruh testosteron. Kriptorkhidisme adalah kegagalan satu atau kedua testis untuk turun dari rongga abdomen ke dalam skrotum. Penyebabnya adalah hipogonadisme atau obstruksi mekanik. Kegagalan testis ektopik dalam mengikuti penurunan jalur normal dan akan terletak pada tempat yang abnormal. Letak yang paling sering untuk testis yang ektopik adalah kanalis inguinalis, perineum paha, daerah femoral, atau pada pangkal penis (Price 2005, p. 1317).
     Testis yang tidak turun biasanya lebih kecil dari pada normal, tidak menghasilkan sperma dengan baik, dan rentan terhadap perubahan keganasan. Pada sebagian kasus testis yang tidak teraba terdapat agenesis testis. Testis yang tidak turun pada bayi baru lahir dapat turun secara spontan menjelang usia 1 tahun di bawah pengaruh testosteron yang disekresi oleh testis neonatus (Price 2005, p. 1317).
2)   Hipospadias dan epispadias, merupakan abnormalitas kongenital dari ostium uretra. Pada hipospadia ostium uretra terletak pada sisi bawah penis, pada epispadia ostium uretra terletak di dorsal penis. Hipospadia terjadi pada 1 dalam 300 kelahiran anak laki-laki. Uretra terbentuk dari penyatuan lipatan uretra sepanjang permukaan ventral penis. Hipospadia terjadi bila penyatuan di garis tengah lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral penis (Price 2005, p. 1317).

b.    Infeksi saluran genitourinaria
     Sistitis tak terkomplikasi akut pada pria dewasa jarang terjadi, kecuali pada pria yang pasangan seksualnya menderita infeksi vaginal dengan E. Coli bakteri uria asistomatik dapat juga terjadi akibat manipulasi genitourinaria, pemasangan kateter, atau instrumentasi.
     Penyakit hubungan seksual (PHS) yang menyerang saluran genotourinaria pria umumnya termasuk gonore dan sifilis. Terdapat kontroversial yang menyebar luas mengenai peran penyakit hubungan seksual dalam infertilitas pria (Moskowitz & Mellinger, 1992 dalam Smeltzer 2001, p. 1624).
c.    Prostatititis
     Merupakan inflamasi kelenjar prostat yang disebabkan oleh agens infeksius (bakteri, fungi, mikoplasma) atau oleh berbagai masalah lain. Mikroorganisme biasanya terbawa ke prostat dari uretra. Prostatitis mungkin diklasifikasikan sebagai bakterial atau abakterial, bergantung pada ada atau tidaknya mikroorganisme dalam cairan prostat. Manifestasi klinik, gejala-gejala prostastitis dapat mencakup rasa tidak nyaman pada perineal, rasa terbakar, dorongan ingin berkemih, sering berkemih dan nyeri saat atau setelah ejakulasi. Prostatodinia (nyeri pada prostat) dimanifestasikan oleh nyeri saat berkemih atau nyeri perineal tanpa adanya inflamasi atau pertumbuhan bakterial dalam cairan prostat (Smeltzer 2001, p. 1624).
d.   Hiperplasia prostat
     Merupakan pembesaran kelenjar prostat, dengan bentuk memanjang ke atas ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin dengan menutupi orifisium uretra. Kondisi ini dikenal sebagai hiperplasia postatik jinak (BPH), perbesaran atau hipertrofi prostat. BPH adalah kondisi patologis yang paling umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi medis pada pria di atas usia 60 tahun. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya prostat yang membesar, berwarna kemerahan, dan tidak nyeri tekan. Penyebabnya tidak pasti, tetapi bukti-bukti menunjukkan bahwa hormon menyebabkan hiperplasia jaringan penyangga stromal dan elemen glandular pada prostat (Smeltzer 2001, p. 1625).
     Dan menyebabkan obstruksi leher kandung kemih, yang mengakibatkan berkurangnya aliran kemih dari kandung kemih. Tanda dan gejala yang sering terjadi adalah sering berkemih, nokturia, urgensi, urgensi dengan inkontinensia. Kandung kemih yang teregang dapat teraba pada pemeriksaan abdomen, dan tekanan suprapubik pada kandung kemih yang penuh akan menimbulkan rasa ingin berkemih. Prostat diraba sewaktu pemeriksaan rektal untuk menilai besarnya kelenjar (Price 2005, p. 1320).
e.    Kanker prostat
     Kanker prostat adalah yang paling umum terjadi pada pria (selain kanker kulit nonmelanoma). Pertumbuhan kelenjar prostat bergantung pada adanya hormon androgenik seperti testosteron. Karena hidrostestosteron adalah suatu promoter paling dari kanker prostat, maka medikasi seperti finasterida menjadi andalan sebagai cara dalam menghambat sel proliferatif dan membunuh sel-sel kanker prostatik.
     Manifestasi klinik, kanker prostat pada tahap awalnya jarang menimbulkan gejala. Gejala yang terjadi akibat obstruksi urinarius terjadi saat penyakit berada pada tahap lanjut. Kanker ini cenderung beragam dalam perjalananya. Jika neoplasma cukup besar untuk menyumbat kolum kandung kemih, maka gejala dan tanda obstruksi urinarius terjadi, seperti kesulitan dan sering berkemih, retensi urin dan penurunan ukuran dan kekuatan aliran urin. Kanker prostat umumnya bermetastasis ke tulang dan nodus limfe. Gejala-gejala yang berhubungan dengan metastasis mencakup sakit pinggang, nyeri panggul, rasa tidak nyaman pada perineal dan rektal, anemia, penurunan berat badan, kelemahan, mual, dan oliguria (penurunan haluaran urin). Hematuria dapat terjadi akibat kanker yang menyerang uretra atau kandung kemih, atau keduanya. Sayangnya, hal ini mungkin menjadi indikasi pertama yang jelas dari kanker prostat (Smeltzer 2001, p. 1633).

f.     Kondisi yang menyerang testis
1)   Orkhitis, merupakan suatu inflamasi testis (kongesti testikular), biasa disebabkan oleh faktor-faktor piogenik, virus, spiroseta,  parasit, traumatis, kimia atau faktor yang tidak diketahui. Gondongan adalah salah satu faktor tersebut. Ketika pria pascapubertas terserang gondongan, sekitar satu dari lima pria tersebut mengalami suatu bentuk orkhitis 4 sampai 7 hari setelah rahang dan lehernya membengkak. Testis dapat menunjukkan suatu tingkatan atrofi. Pada beberapa tahun yang lalu, sterilitas dan impotensi sering terjadi. Sekarang ini, pria yang tidak pernah mengalami gondongan dan yang terpajan pada penyakit tersebut menjadi gamma globulin dengan segera, penyakit mungkin menjadi lebih ringan, dengan komplikasi minimal atau tanpa komplikasi (Smeltzer 2001, p. 1640).
2)   Epididimitis, merupakan suatu infeksi epididimis yang biasanya turun dari prostat atau saluran urine yang terinfeksi. Kondisi ini juga dapat terjadi sebagai infeksi dari gonore. Pada pria di bawah usia 35 tahun, penyebab utama epididimitis adalah Chlamydia trachomatis. Infeksi menjalar ke atas melalui uretra dan duktus ejakulatorius, dan kemudian sepanjang vas deferen ke epidermis.
     Pasien mengeluh nyeri unilateral dan rasa sakit pada kanalis inguinalis sepanjang jalur vas deferens, dan kemudian mengalami nyeri dan pembengkakan pada skrotum dan lipat paha. Epididimis menjadi bengkak dan sangat sakit, suhu tubuh pasien meningkat. Urin dapat mengandung nanah (piuria) dan bakteri (bakteriuria), dan pasien dapat mengalami menggigil dan demam (Smeltzer 2001, p. 1640).
3)   Vasektomi, merupakan sterilisasi pada pria, adalah ligasi dan transeksi suatu bagian dari vasdeferen dengan atau tanpa pengangkatan segmen vas deferen. Untuk mencegah mengalirnya sperma dari testis, vas deferen dipajankan dengan cara membedah skrotum atau dengan menggunakan hemostat lengkung yang tajam. Ujung dari vas diikat dengan tali atau klip, atau lumen dari setiap vas dirapatkan melalui kauterisasi. Spermatozoa, yang dihasilkan di dalam testis, tidak dapat berjalan ke atas ke arah vas deferen setelah pembedahan ini dilakukan (Smeltzer 2001, p. 1640).
4)   Hidrokel, merupakan pengumpulan cairan, umumnya pada tunika vaginalis testis, meskipun dapat juga berkumpul pada korda spermatikus. Biasanya, tunika vaginalis menjadi sangat membesar akibat cairan. Hidrokel dapat akut atau kronis. Pada deteksi, kondisi ini berbeda dari hernia karena pada hidrokel cahaya diteruskan ketika ditransiluminasi, sementara hernia tidak. (Smeltzer 2001, p. 1643).
     Biasanya juga sering ditemukan hernia inguinalis. Karena cairan kemudian akan direabsorpsi dan lubang akan menutup, maka tidak diperlukan tindakan apapun. Jika dicurigai atau didiagnosis terdapat hernia inguinalis dan terdapat usus di dalamnya, dilakukan pembedahan untuk mencegah terjadinya strangulasi usus.
     Pada orang dewasa, hidrokel tidak berhubungan dengan rongga peritoneum, kumpulan cairan terbentuk sebagai reaksi terhadap infeksi, tumor, atau trauma, yaitu akibat produksi cairan yang berlebihan oleh testis, maupun obstruksi aliran limfe atau vena di dalam funikulus spermatikus. Hidrokel yang kronik biasanya timbul pada pria yang berusia di atas 40 tahun. Cairan yang terkumpul dan massa yang terbentuk dapat lunak, kistik, atau keras. Tanda-tanda dan gejala-gejalanya adalah pembesaran skrotum dan perasaan berat, hidrokel biasanya nyeri ringan kecuali disebabkan oleh infeksi epididimis akut atau torsio testikular (Price 2005, p. 1319).
5)   Tumor testis, kanker testikuler yang menempati peringkat pertama dalam kematian. Penyebabnya tidak diketahui, tetapi kriptokhidisme, infeksi dan faktor-faktor genetik dan endokrin tampak berperan dalam terjadinya tumor tersebut. Gejalanya dengan benjolan pada testis, dan secara umum perbesaran testis yang tidak nyeri. Pasien dapat mengeluhkan rasa sesak pada skrotum, area inguinal, atau abdomen dalam. Sakit pinggang (akibat perluasan nodus retroperineal), nyeri pada abdomen, penurunan berat badan, dan kelemahan umum dapay diakibatkan oleh metastasis (Smeltzer 2001, p. 1641)
6)   Varikokel, merupakan dilatasi abnormal (varises) dari pleksus pampiniformis vena yang mengalirkan darah ke setiap testis, lebih sering terjadi pada sisi kiri di bandingkn sisi kanan. Varikokel pada sisi kanan dapat merupakan tanda obstruksi yang disebabkan tumor. Varikokel dapat teraba pada 10% laki-laki pada populasi umum, dan 30% pada laki-laki infertil. Konsentrasi dan pergerakan sperma menurun secara signifikan sebanyak 65% hingga 75% pada laki-laki dengan varikokel. Mekanisme yang menghubungkannya dengan infertilitas tidak diketahui, tetapi mungkin berkaitan dengan peninggian suhu, karena salah satu dari fungsi pleksus pampiniformis adalah untuk menjaga suhu testis 1 atau 20F lebih rendah dari suhu tubuh guna memberikan keadaan yang optimal untuk produksi sperma (Price 2005, p. 1319).
7)   Torsio testis, testis dapat terputar dalam kantung skrotum. Testis yang demikian mudah memuntir dan memutar funikulus spermatikus. Gejalanya adalah awitan yang mendadak dari nyeri skrotum, nyeri abdomen bagian bawah, mual dan muntah  (Price 2005, p. 1318).

g.    Kondisi yang menyerang penis
1)   Firmosisi, merupakan kondisi prepusium mengalami kontriksi sehingga tidak dapat diretraksi di atas glans penis. Dapat terjadi secara kongenital atau akibat inflamasi dan edema. Karena sirkumsisi rutin pada masa neonatus tidak dapat dilakukan, maka anak dan pria dewasa secara dini diinstruksikan untuk membersihkan prepusium. Pada orang dewasa yang membersihkan area prepusial, sekresi normal menumpuk, menyebabkan inflamasi (balanitis), yang dapat mengarah pada adesi dan fibrosis. Sekresi yang mengental menjadi kering bersama garam-garam urin dan pengapuran, membentuk batu atau kalkuli dalam prepusium. Pada pria lansia, dapat terjadi karsinoma penis. Fimosis diatasi dengan sirkumsisi (Smeltzer 2001, p. 1644).
2)   Sirkumsisi, merupakan eksisi prepusium dari glans penis, hal ini biasanya dilakukan pada masa bayi dengan tujuan higienik. Pada periode pasca operatif, balutan kasa petrolatum dipasang dan diganti sesuai indikasi. Pasien diamati terhadap perdarahan. Karena pria dewasa dapat mengalami nyeri yang cukup hebat setelah sirkumsisi, analgesik diberikan sesuai dengan keperluan (Smeltzer 2001, p. 1644).
3)   Kanker penis, terjadi pada pria yang berusia lebih dari 60 tahun. Kanker penis jarang terjadi pada pria yang disirkumsisi. kondisi ini tampak pada kulit penis sebagai pertumbuhan mirip kutil, tidak nyeri atau sebagai ulkus. Kanker penis dapat mencakup glans, sulkus koronal, di bawah prepusium, korpus-korporal, uretra, dan nodus limfe regional atau nodus limfe yang jauh. Penyakit bowen adalah bentuk karsinoma sel skuamosa in situ dari batang penis. Biasanya, pria menunda untuk mencari pengobatan selama lebih dari satu tahun, kemungkinan karena rasa bersalah, malu atau mengabaikan (Smeltzer 2001, p. 1644).
4)   Priapisme, merupakan ereksi persisten, tidak terkontrol dari penis yang menyebabkan penis menjadi besar, keras dan sangat sakit. Kondisi ini dapat terjadi baik akibat penyebab neural atau vaskular, termasuk trombosis sel sabit, infiltrasi sel leukemik, tumor medula spinalis, dan invasi tumor penis atau pembuluhnya. Kondisi ini dapat diakibatkan gangren dan sering mengakibatkan impotensi (Smeltzer 2001, p. 1644).
5)   Penyakit peyronie, merupakan penumpukkan plak fibrosus pada selaput korpus kavernosum, plak tidak tampak pada saat penis dalam keadaan rileks. Namun demikian, ketika penis ereksi, terjadi kurvatura penis yang dapat sangat nyeri dan mengganggu hubungan seksual menjadi sulit atau tidak memungkinkan. Penyakit peyronie terutama terjadi pada usia baya dan yang lebih tua. Meskipun plak dapat menyusut bersama dengan berlalunya waktu, pengangkatan plak melalui bedah mungkin saja diperlukan (Smeltzer 2001, p. 1645).
6)   Striktur uretral, merupakan kondisi dimana suatu bagian dari uretra menyempit. Kondisi ini terjadi secara kongenital atau akibat jaringan parut sepanjang uretra. Cedera traumatik pada uretra, sebagai contoh, akibat instrumentasi atau infeksi, dapat mengakibatkan striktur. Pengobatan mencakup dilatasi atau, pada kasus yang berat, urethromi (pengangkatan striktur melalui tindakan bedah) (Smeltzer 2001, p. 1645).

3.    Penyakit Menular Seksual (PMS)
     Istilah penyakit menular seksual (PMS) mencerminkan definisi setiap mikroba yang ditularkan seseorang kepada orang lain melalui kontak yang dekat dan intim (Spense, 1989 dalam Bobak, 2004). Kemungkinan penularan penyakit ini adalah dari: (Hegner, 2003)
a.    Membran mukosa ke membran mukosa seperti dari genital ke mulut atau dari genital ke genital
b.    Membran mukosa ke kulit, seperti dari genital ke tangan
c.    Kulit ke membran mukosa seperti dari tangan ke genital

Penyakit menular seksual karena Infeksi Bakteri
1)   Klamidia
     Infeksi klamidia merupakan epidemi di Amerika Serikat. Chlamydia trachomatis, patogen bakteri yang paling umum ditularkan melalui hubungan seksual, bertanggung jawab untuk morbiditas substansial, penderitaan pribadi, dan beban ekonomi yang berat. C trachomatis dapat hidup hanya di dalam sel hidup dan transmisi terjadi melalui kontak seksual secara langsung atau pemamparan saat lahir. Lima belas tipe-imun C trachomatis menyebabkan infeksi pada orang dewasa dan neonatus (Bobak, 2004).
     Diagnosis laboraturium definitif dapat dilakukan melalui kultur jaringan (McGregor, 1989). Namun, prosedur ini sangat mahal, memerlukan keahlian dalam pelaksanaannya, dan memakan waktu empat sampai tujuh hari untuk mengetahui hasilnya. Ada dua metode pemdeteksi antigen : (1) tes direct immunofluo-recent (mis., Micro Trak), yang memerlukan mikroskop fluoresen dan memakan waktu 30 menit, dan (2) tes enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) (mis., Chlamydiazime), yang memunculkan tanda berwarna dalam empat jam. Tes -30 menit lebih sesuai untuk skrining populasi risiko-rendah, sementara tes ELISA digunakan untuk populasi risiko-tinggi (Bobak, 2004).
     Chlamydia adalah organisme infeksius yang dapat menembus membran mukosa tubuh. Organisme ini dapat : (Hegner, 2003)
a)    Masuk ke mata menyerang konjungtiva. Menyebabkan peradangan (konjungtivitis) dan keadaan yang lebih serius seperti trachoma. Trachoma ini dapat menyebabkan kebutaan
b)    Menular secara seksual dan biasanya menyebabkan infeksi saluran reproduksi
c)    Penyebab penyakit radang panggul (PRP) dengan jaringan parut dan bahkan infeksi sistemik. Jaringan parut dapat menyebabkan strerilitas.
d)   Bertanggung jawab atas tanda dan gejala yang hampir sama dengan gonore, kecuali bahwa rabas biasanya berwarna putih kekuningan
e)    Diobati dengan antibiotik

     Tanda utama infeksi klamidia pada perempuan adalah sekret serviks mukopurulen dan ektopi, edema, dan rapuhnya serviks, dan pada laki-laki, uretritis dengan atau tanpa sekret. Infeksi uretra pada laki-laki atau perempuan dapat menyebabkan disuria, walaupun hal ini lebih sering terjadi pada laki-laki (Price, 2005)

2)   Gonore
     Gonore disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, suatu bakteri jenis diplokokus. Meskipun gonore merupakan suatu PMS, penyakit ini juga ditularkan melalui kontak langsung dengan lesi terinfeksi dan secara tidak langsung melalui benda mati atau fomites (Bobak, 2004).
a)    Tanda dan gejala
     Gejala dan tanda pada laki-laki dapat muncul sedini 2 hari setelah pajanan mulai dengan uretritis, diikuti oleh sekret purulen, disuria, dan sering berkemih serta malese. Sebagian besar laki-laki akan memperlihatkan gejalan dalam 2 minggu setelah inokulasi oleh organisme ini. Pada sebagian besar kasus, lakki-laki akan segera berobat karena gejala yang mengganggu. Karena infeksinya cepat diketahui dan di terapi, maka jarang ada laki-laki yang mengalami prostatitis, epididimitis, atau bakteremia (Price, 2005)
     Pada perempuan, gejala dan tanda timbul dalam 7 sampai 21 hari, dimulai dengan sekret vagina. Pada pemeriksaan, serviks yang terinfeksi tampak edematosa dan rapuh dengan drainase mukopurulen dari ostium.  Tempat penyebaran tersering pada perempuan adalah ke uretra, dengan gejala uretritis, disuria dan sering berkemih serta ke kelenjar Bartholin dan Skene yang menyebabkan perdarahan abnormal vagina, nyeri panggul dan abdomen, dan gejala-gejala PID progresif apabila tidak diobati (Price, 2005)

b)   Pemeriksaan diagnostik
     Gonore dapat didiagnosis dengan cepat dengan pewarnaan gram terhadap asupan eksudat yang diambil dari tempat infeksi. Asupan positif apabila ditemukan diplokokus gram-negatif intrasel. Sayangnya, metode pewarnaan ini kurang andal untuk mendiagnosis gonorea pada perempuan, pasien asimtomatik, dan infeksi di rektum atau faring. Untuk memastikan diagnosis harus dilakukan pembiakan dari semua kemungkinan tempat infeksi. Kuman memerlukan waktu 48 sampai 96 jam untuk tumbuh dalam biakan, dan berdasarkan anamnesis dan gejala, atau riwayat pajanan, terapi antibiotik biasanya sudah dimulai sebelum hasil diperoleh.

c)    Terapi
     Terapi yang saat ini direkomendasikan adalah golongan sefalosporin atau fluorokuinolon (CDC, 1998). Sayangnya di banyak bagian dunia sudah dilaporkan adanya galur-galur N. Gonorrhoeae yang resisten-fluorokuinolon (QRNG). Karena ancaman galur-galur N. Gonorrhoeae yang resisten ini maka pada semua kasus yang tidak sembuh harus dilakukan uji kepekaan. Karena tingginya insidensi koinfeksi dengan C. Trachomatis pada pasien dengan gonorea, maka dianjurkan pemberian terapi untuk kedua penyakit sekaligus (Price, 2005)
     Ceftriakson ialah dosis tunggal terapi yang direkomendasikan. Spektinomisin ialah terapi alternatif yang lebih disukai. Di antara wanita berisiko tinggi, khususnya wanita yang memiliki banyak pasangan, berbagai PMS sering timbul. Semua pasangan seksual harus diobati dan penggunaan kondom dianjurkan saat melakukan hubungan seksual oral dan hubungan seksual genital (Bobak, 2004)

3)   Sifilis
     Sifilis disebabkan oleh spirokaeta Treponema pallidum setelah suatu periode inkubasi beberapa minggu. Sifilis dapat disembuhkan pada tahap-tahap awal infeksi, tetapi apabila dibiarkan penyakit ini dapat menjadi infeksi yang sistemik dan kronik. Infeksi sifilis dibagi menjadi tiga fase, yaitu : (Price, 2005)
a)    Sifilis primer
     Biasanya manifestasi klinis awal sifilis adalah papul kecil soliter di tempat invasi yang timbul dalam 10 sampai 90 hari setelah terpajan. Dalam satu sampai beberapa minggu, papul ini berkembang menjadi ulkus merah, indolen (tidak nyeri), dan berbatas tegas yang disebut chancre dan dipenuhi oleh spirokaeta.
b)   Sifilis sekunder
     Apabila tidak diobati, tanda-tanda sifilis sekunder akan mulai timbul dalam 2 sampai 6 bulan setelah terpajan. Tanda tersering pada sifilis sekunder adalah ruam kulit makulopapular yang terjadi pada 80% kasus. Gejala dan tanda lain pada sifilis sekunder adalah limfadenopati, uveitis, malese, demam ringan, nyeri kepala, anoreksia, penurunan berat badan, atopesia, serta nyeri tulang dan sendi.
c)    Sifilis tersier
     Beberapa tahun sampai beberapa dekade setelah awal infeksi, dapat timbul tiga bentuk sifilis tersier : sifilis tersier jinak pada kulit, tulang, dan visera ; sifilis kardiovaskular; dan neurosifilis. Sifilis tersier jinak ditandai oleh timbulnya guma, yaitu nodular kecil jaringan granulasi dengan bagian tengah mengalami nekrosis dikelilingi oleh sedikit peradangan.
     Pemeriksaan serologi tidak-spesifik, yang digunakan untuk tujuan skrining, terdiri dari dua tipe, yakni fiksasi komplemen dan flokulasi. Hasil pemeriksaan VDRL positif baru dapat diihat pada hari ke-10 sampai ke-90 setelah infeksi. Penisilin lebih dipilih untuk pengobatan sifilis. Pada individu yang alergi terhadap penisilin, pilihan lain mencakup tetrasiklin atau doksisiklin, eritromisin, dan seftriakson (Bobak, 2004)

4)   Penyakit Inflamasi Pelviks (PIP)
     Penyakit inflamasi pelviks adalah kelainan infeksius yang menyebabkan inflamasi, abses, dan pembentukan jaringan parut pada ovarium, tuba fallopii, dan struktur pelviks lainnya. Kelainan sering disebabkan oleh gonorea atau klamidia progresif yang tidak diketahui atau tidak diobati.
     PIP biasanya menyebabkan nyeri pelviks, nyeri tekan, dan demam. Bergantung pada beratnya gejala, pengobatan antibiotik mungkin diberikan secara intravena di rumah sakit atau melalui asuhan keperawatan di rumah. Kasusu PIP yang parah sering mengharuskan pembedahan untuk mengeluarkan abses, tuba yang terinfeksi, atau ovarium pada saatnya melakukan histerektomi dengan pengangkatan ovarium dan tuba ini (Potter dan Perry, 2005)

Penyakit menular seksual karena Infeksi Virus
1)   Virus Herpes Simpleks (HSV)
     Virus herpes simpleks adalah suatu penyakit virus menular dengan afinitas pada kulit, selaput lendir, dan sistem saraf. HSV-1 dan HSV-2 adalah dua dari delapan virus herpes yang menginfeksi manusia dan dari sekitar 100 virus herpes yang telah diidentifikasi. HSV disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa atau setiap kerusakan di kulit. Virus herpes tidak dapat hidup di luar lingkungan yang lembab dan penyebaran infeksi mellaui cara selain kontak langsung kecil kemungkinannya terjadi (Price, 2005).
a)    Tanda dan gejala
     Infeksi HVS diklasifikasikan sebagai inisial primer, inisial nonprimer, rekurenm dan asimtomatikatau tidak diketahui. Infeksi inisial primer biasanya timbul 2 sampai 7 hari setelah kontak erat dengan orang yang terinfeksi. Gejala sistemik, termasuk demam, malese, dan nyeri kepala, biasanya mendahului munculnya lesi selama beberapa hari dan terjadi pada sekitar dua pertiga perempuan dan sepertiga laki-laki.  Manifestasi lain infeksi herpes primer adalah servisitis, proktitis, dan faringitis. Herpes genitalis inisial nonprimer adalah infeksi HSV-2 primer pada orang yang seropositif untuk antibodi HSV-1. Episode-episode kekambuhan herpes genitalis bervariasi berdasarkan keparahan infeksi primer, jenis kelamin, usia, galur (HSV-1 atau HSV-2) dan berbagai faktor individual lainnya. Episode-episode herpes rekuren lebih ringan dan singkat (5 sampai 10 hari) dibandingkan dengan infeksi primer. Gejala sistematik biasanya tidak ada, dan lesi yang cenderung timbul secara unilateral di tempat yang sama, lebih sedikit dibandingkan dengan infeksi primer. Sebagian besar infeksi asimtomatik diketahui saat ditemukannya infeksi rekuren pada pemeriksaan fisik atau saat pemeriksaan penyaring antibodi (Price, 2005)
b)   Pemeriksaan diagnostik
     Pada sebagian besar kasus, herpes genitalis dapat didiagnosis secara klinis saat infeksi aku atau rekuren. Sebelum ditemukannya uji amplifikasi DNA, biakan virus terhadap vesikel atau pustul merupakan baku emas untuk diagnosis. Biakan yang diambil dari lesi yang sudah berkrusta dan infeksi rekuren kurang sensitif, dan sering menyebabkan hasil uji negatif-palsu. Amplifikasi DNA merupakan metode yang lebih akurat, spesifik-virus, dan mahal dibandingkan dengan biakan virus (Price, 2005)
c)    Terapi
     Karena infeksi HSV tidak dapat disembuhkan, maka terapi ditujukan untuk mengendalikan gejala dan menurunkan pengeluaran virus. Obat antivirus analog nukleosida merupakan terapi yang dianjurkan. Obat-obat ini bekerja dengan menyebabkan deaktivasi atau mengantagonisasi DNA polimerase HSV yang pada gilirannya menghentikan sintesis DNA dan replikasi virus (Bobak, 2004)


2)   Kutil Genital
     Kutil venereal atau genital, atau kondiloma akuminata, disebabkan oleh humam papilloma virus (HPV). Kondisi ini mungkin asimptomatik atau menyebabkan lesi lunak berwarna mengkilat pada area yang menjadi tempat kontak seksual. Kutil genital dapat terjadi sampai 6 bulan setelah pemajanan dan miungkin sulit untuk diobati. Pengobatannya termasuk pengolesan berulang medikasi seperti podovilum, atau lesi harus diangkat mellaui bedah beku atau bedah laser. Kolposkopi adalah prosedur yang memungkinkan pemeriksaan untuk melihat serviks melalui pembesaran dan mengidentifikasi dan kemudian membiopsi area yang dicurigai (Potter dan Perry, 2005)
3)   Human Immunodeficiency Virus (HIV)
     Transmisi HIV, suatu retrovirus, terjadi terutama melalui prtukaran cairan tubuh (mis., darah, semen, peristiwa perinatal). Depresi berat pada sistem imun selular menandai sindrom imnunodefisiensi di dapat (AIDS). Walaupun populasi berisiko tinggi telah didokumentasi dengan baik, semua wanita harus dikaji untuk mengetahui kemungkinan mereka terpapar HIV. Begitu HIV memasuki tubuh, serum HIV menjadi positif dalam 10 minggu pertama pemaparan. Walaupun perubahan serum secara total asimptomatik, perubahan ini disertai viremia, respons tipe-influenza terhadap infeksi HIV awal.
     Gejala meliputi demam, malaise, mialgia, mual, diare, nyeri tenggorok, dan ruam dan dapat menetap selama dua sampai tiga minggu. Penelitian laboratorium dapat menunjukkan leukopenia, trombositopenia, anemia, dan peningkatan laju endap darah )Bobak, 2004). Tidak ada penyembuhan untuk penyakit ini, yang biasanya fatal. Pengobatan dan vaksin untuk penyakit ini sedang dalam penelitian (Potter dan Perry, 2005).

4.    Infeksi TORCH
a.    Toksoplasmosis
     Toksoplasmosis: suatu infeksi protozoa yang timbul akibat mengkonsumsi daging mentah atau tidak mencuci tangan sewaktu menyiapkan daging mentah, atau terinfeksi kotoran kucing. Infeksi akut pada masa hamil menimbulkan gejala yang menyerupai influenza, dan limfadenopati.
     Efek maternal antara lain, infeksi akut: sama dengan influenza; limfadenopati. Efek pada janin atau neonatus adalah:
1)      Jika disertai infeksi akut maternal; parasitemia
2)      Kemungkinan untuk terjadi bersama infeksi kronik maternal lebih kecil
3)      Abortus cenderung terjadi bila terdapat infeksi akut pada awal kehamilan.
Penatalaksanaan:
1)        Hindari mengonsumsi daging mentah dan terpapar kotoran kucing yang terinfeksi; jika kucing ada di dalam rumah, periksa titer toksoplasma.
2)        Jika titer naik selama masa hamil dini, abortus bisa dipertimbangkan sebagai suatu pilihan.

b.    Infeksi lain
     Infeksi primer termasuk dalam kategori ini adalah hepatitis. Hepatitis A atau hepatitis infeksiosa adalah virus yang disebarkan oleh droplet akibat tidak mencuci tangan setelah buang air besar, pengaruhnya pada kehamilan adalah abortus spontan, atau jika janin terinfeksi pada trimester pertama janin akan mengalami anomali janin, kelahiran prematur, hepatitis pada janin atau neonatus, dan kematian janin dalam rahim.
     Hepatitis B atau hepatitis serum adalah penyakit virus yang ditularkan seperti penularan HIV, cara transmisinya melalui jarum terkontaminasi, produk darah atau jarum bekas, hubungan seksual dan pertukaran cairan tubuh.
     Efek Maternal: Hepatitis A (Abortus-penyebab gagal hati selama masa hamil, demam, malaise, mual, dan rasa tidak nyaman di abdomen). Hepatitis B (ditransmisi melalui hubungan seksual. Gejala bervariasi: demam, ruam, atralgia, penurunan nafsu makan, dispepsia, nyeri abdomen, sakit di seluruh badan, malaise, lemah, ikterik, nyeri tekan, dan pembesaran hati).
     Efek pada janin atau neonatus: Hepatitis A (Pemaparan selama trimester pertama: anomali janin; hepatitis janin atau neonatus; kelahiran prematur; kematian janin di dalam rahim); Hepatitis B (Infeksi terjadi pada waktu lahir: vaksinasi maternal selama masa hamil harus tidak menimbulkan risiko pada janin; namun tidak ada data yang tersedia).
     Penatalaksanaan: Hepatitis A (biasanya disebarkan melalui droplet atau kontak tangan terutama oleh pekerja di dapur; gama-globulin dapat diberikan sebagai profilaksis untuk hepatitis A);  pencegahan Hepatitis B antara lain:
1)   Biasanya ditularkan melalui jarum terkontaminasi atau transfusi darah; juga bisa ditransmisi secara oral atau melalui koitus, tetapi periode inkubasi lebih lama; globulin imun hepatitis B dapat diberikan sebagai profilaksis setelah pemaparan.
2)   Vaksin hepatitis B dianjurkan untuk populasi berisiko; vaksinasi terdiri dari rangkaian dari rangkaian 3 dosis IM.
3)   Populasi berisiko: wanita asia, kepulauan Pasifik, Haiti, sub-Afrika, Alaska (wanita keturunan Eskimo); wanita berisiko lainnya ialah dokter, pemakai obat-obatan intravena, mereka yang secara seksual aktif dengan banyak pasangan, dan pasangan tunggal yang memiliki risiko multipel.
c.    Rubella (Campak Jerman)
     Rubella adalah suatu infeksi virus yang ditransmisi melalui droplet. Demam, ruam, dan limfadema ringan biasanya terlihat pada ibu terinfeksi. Pencegahan infeksi rubela maternal dan efek janin adalah fokus utama program imunisasi rubela.
     Efek Maternal:
1)   Ruam, demam, gejala ringan, kelenjar limfa di suboksipital dapat membengkak; fotopobia.
2)   Kadang-kadang arthritis atau ensefalitis
3)   Abortus spontan.
     Efek pada janin atau neonatus:
1)   Insiden anomali kongenital: bulan pertama, 50%; bulan kedua, 25%, bulan ketiga 10% dan bulan keempat 4%.
2)   Pemaparan pada dua bulan pertama: malformasi jantung, mata, telinga, atau otak, dermatoglifik abnormal.
3)   Pemapatan setelah bulan keempat: infeksi sistemik, hepatosplenomegali, retardasi pertumbuhan intrauterin, ruam.
4)   Pada usia 15 sampai 20 tahun, anak yang terkena bisa mengalami kemunduran intelektual dan perkembangan atau bisa menderita epilepsi.

Penatalaksanaannya, vaksinasi pada ibu hamil dikontraindikasikan; kehamilan harus dicegah selama tiga bulan setelah vaksinasi; wanita hamil yang nonreaktif terhadap antigen hemaglutin-inhibisi dapat divaksinasi secara aman setelah melahirkan.


d.   Sitomegalovirus (CMV)
     Merupakan penyebab utama infeksi virus kongenital pada janin dan neonatus, infeksi yang paling sering menyebabkan retardasi mental. Sumber infeksi virus meliputi saliva, urine, semen, air susu ibu, darah, dan sekresi serviks/vagina.
     Efek Maternal antara lain: penyakit pernapasan atau hubungan seksual yang asimptomatik atau sindrom seperti mononukleosis: dapat memiliki rabas di serviks.
     Efek pada janin atau neonatus: kematian janin atau neonatal atau penyakit menyeluruh-anemia hemolitik dan ikterik: hidrosefalus atau mikrosefalus; pneumonitis, hepatosplenomegali.
     Penatalaksanaan: virus bisa direaktivasi dan menyebabkan penyakit di dalam rahim atau selama kelahiran pada kehamilan berikutnya: infeksi janin bisa terjadi saat janin melalui jalan lahir; penyakit seringkali progresif pada masa bayi dan kanak-kanak.


e.    Virus herpes simpleks (HSA) tipe 1 merupakan infeksi yang paling banyak ditemukan pada masa kanak-kanak. Virus ini terutama ditransmisi melalui kontak dengan sekresi oral dan menyebabkan cold sores dan fever blister. HSA tipe 2 sering terjadi setelah puber seiring aktivitas seksual meningkat, transmisi terutama melalui kontak dengan sekresi genitalia. Efek maternal, efek pada janin atau neonatus serta penatalaksanaannya sama dengan pada pada sitomegalovirus (CMV)
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn E, (1999). Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta:EGC
Kozier, B, Glenora, Berman, A, Snyder, SJ. 2010. Fundamental of Nursing Concept, process, and practice, seventh edition. USA: Pearson Edication
Potter, P.A, & Perry, A,G. (2005), Buku ajar fundamental keperawatan konsep proses dan praktik, edisi 4 vol 1. Jakarta: EGC
Price, S. A. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed. 6. Jakrta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Ed. 8. Jakarta: EGC.
Bobak. L. J. (2004). Buku ajar keperawatan maternitas. Jakarta: EGC




No comments:

Post a Comment

Komentar yang diharapkan membangun bagi penulis, semoga bermanfaat