Kamis, 06 September 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT ASMA


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PENYAKIT ASMA

A.  PENGERTIAN ASMA
Penyakit asma merupakan penyakit saluran nafas yang ditandai oleh peningkatan daya responsif percabangan trakeo-bronkial terhadap berbagai jenis stimulus. Penyakit asma mempunyai menifestasi fisiologi berbentuk penyempitan yang meluas pada saluran udara pernapasan yang dapat sembuh spontan atau sembuh dengan terapi dan secara klinis ditandai oleh serangan mendadak dispnea,batuk serta mengi.

B.  ETIOLOGI
Penyakit asma merupakan penyakit yang sangat penting ditemukan dan diperkirakan hingga 4 sampai 5 populasi penduduk di amerika serikat terjangkit oleh penyakit ini.
Asma merupakan penyakit heterogenosa. Oleh sebab itu,bagi kepentingan epidemiologik dan klinis penting untuk membuat klasifikasi asma berdasarkan rangsangan yang berkaitan dengan episode akut. Akan tetapi,penting untuk ditekankan bahwa perbedaan ini sering hanya merupakan perkiraan saja dan jawaban terhadap subklasifikasi yang diberikan biasanya dapat dibangkitkan oleh lebih dari satu jenis rangsangan. Dapat juga disebabkan oleh:
a.    Kontraksi otot disekitar bronkus,sehingga terjadi penyempitan jalan nafas.
b.    Pembengkakan membran bronkus
c.    Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.
Pada penderita asma, saluran pernafasannya memiliki sifat yang khas yaitu sangat peka terhadap berbagai rangsangan (broncial hyperractivity = hipereaktivitas saluran nafas ). Faktor-faktor penyebab asma yaitu:
a.    Faktor predisposisi (Genetika )
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya,meskipun belum diketahui bagaimana cara penularannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu,hipersentifisitas saluran pernapasannya juga bisa diturunkan.

b.    Faktor pencetus(faktor presipitasi) asma bronkhial:
1)      Alergen \
Alergen adalah zat-zat tertentu yang bila dihisap atau dimakan dapat menimbulkan serangan asma misalnya debu rumah,spora jamur,bulu kucing,bulu binatang,beberapa makanan laut,dan sebagainya.

2)      Infeksi saluran pernapasan
Terutama disebabkan oleh virus. Virus influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering menimbulkan asma bronkial. Diperkirakan, dua pertiga penderita asma dewasa serangan asmanya ditimbulkan oleh infeksi saluran pernapasan.



3)      Tekanan jiwa
Tekanan jiwa bukan penyebab asma tetapi pencetus asma, karena banyak orang yang mendapat tekanan jiwa tetapi tidak menjadi penderita asma bronkhial. Faktor ini berperan mencetuskan serangan asma terutama pada orang yang agak labil kepribadiannya. Hal ini lebih menonjol pada wanita dan anak-anak.

4)      Olahraga/kegiatan jasmani yang berat
Sebagian penderita asma bronkhial akn mendapatkan serangan asma bila melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan. lari cepat dan bersepeda adalah dua jenis kegiatan paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena kegiatan jasmani terjadi setelah olahraga atau aktivitas fisik yang cukup berat dan jarang serangan timbul beberapa jam setelah olahraga.

5)      Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya,orang yang bekerja di lab hewan,industri tekstil,polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.

6)      Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan asma berhubungan dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau, hal ini berhubungan dengan arah angin debu.

C.  PATOFISIOLOGI
Asma adalah obstruksi jalan nafas difus reversible. Obstruksi di sebabkan oleh satu atau lebih dari yang berikut ini :
a.    Kontraksi otot-otot  yang mengelilingi bronki, yang menyempitkan jalan nafas
b.    Pembengkakan membrane yang melapisi bronki
c.    Pengisian bronki dengan dengan mucus yang kental.
Selain itu, otot-otot bronkial dan kelenjar mukosa yang membesar ; sputum yang kental, banyak di hasilkan dan alveoli menjadi hiperinflesi, dengan udara terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini tidak di ketahui, tetapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan system imunologis dan system saraf otonom.
Beberapa individu dengan asma mengalami respons imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibody yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap anti gen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibody, menyebabkan pelepasan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti histamine, bradikinin, dan prostaglandin seta anafilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A). pelepasan mediator ini dalam jaringan paru mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan nafas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membrane mukosa, dan pembentukan mukus yang sangat banyak.
 








Rounded Rectangle: Ketidak efektifan bersihan jalan nafasRounded Rectangle: Keluhan sistematis, mual, intake ntrisi tidak adekuat, malaise, kelemahan,dan keletihan fisik.Rounded Rectangle: Keluhan psikososial, kecemasan, ketidaktahuan akan prognosis.     



 














D.  MANIFESTASI KLINIK
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras.
Gejala klinik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi ( whezing), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan.
Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makinbanyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal .Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari.

E.  KLASIFIKASI ASMA
a.    Asma alergik
Asma yang disebabkan oleh alergen. Alergen adalah zat-zat tertentu yang bila dihisap atau dimakan  dapat menimbilkan serangan asma. Kebanyakan alergen terdapat di udara dan musiman. Alergen-alergen tersebut misalnya serbuk sari, bulu binatang, beberapa jenis makanan laut, spora jamur, dan debu rumah. Pasien dengan asma alergik biasanya mempunyai riwayat keluarga yang alergik dan riwayat medis masa lalu ekzema atau rhinitis alergik. Anak – anak dengan asma alergik sering dapat mengatasi  kondisi sampai dengan remaja.

b.   Asma idiopatik atau non alergik
Asma non alergik terjadi bukan karena pemaparan alergen tetapi terjadi akibat beberapa faktor pencetus seperti common cold,  infeksi saluran pernafasan bagian atas, olahraga atau kegiatan jasmani yang berat dan tekanan jiwa atau stres psikologis. Beberapa agens farmakologi seperti aspirin dan agens inflamasi nonsteroid lain, pewarna rambut, agens sulfit ( pengawet makanan), juga mungkin menjadi faktor.  Serangan asma idiopatik atau nonalergik menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkitis kronis dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.

c.    Asma Gabungan
Merupakan bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik maupun bentuk idiopatik atau nonalergik.

F.   TERAPI PENYEMBUHAN ASMA
a.       Terapi Non Farmakologi
1)      Untuk terapi non farmakologi, dapat dilakukan dengan olah raga secara teratur (fisioterapi), misalnya saja renang. Sebagian orang berpendapat bahwa dengan berenang, gejala sesak nafas akan semakin jarang terjadi. Hal ini mungkin karena dengan berenang, pasien dituntut untuk menarik nafas panjang-panjang, yang berfungsi untuk latihan pernafasan, sehingga otot-otot pernafasan menjadi lebih kuat. Selain itu, lama kelamaan pasien akan terbiasa dengan udara dingin sehingga mengurangi timbulnya gejala asma. Namun hendaknya olah raga ini dilakukan secara bertahap dan dengan melihat kondisi pasien.
2)      Berikan penjelasan kepada pasien agar menghindari atau menjauhkan diri dari faktor-faktor yang diketahui dapat menyebabkan timbulnya asma, serta penanganan yang harus dilakukan jika serangan asma terjadi.
3)      Berikan O2 bila diperlukan.
b.      Terapi Farmakologi
1)      Quick-relief medicines, yaitu pengobatan yang digunakan untuk merelaksasi otot-otot di saluran pernafasan, memudahkan pasien untuk bernafas, memberikan kelegaan bernafas, dan digunakan saat terjadi serangan asma (asthma attack). Contohnya yaitu bronkodilator.
2)      Long-term medicines, yaitu pengobatan yang digunakan untuk mengobati inflamasi pada saluran pernafasan, mengurangi udem dan mukus berlebih, memberikan kontrol untuk jangka waktu lama, dan digunakan untuk membantu mencegah timbulnya serangan asma (asthma attack). Contohnya yaitu kortikosteroid bentuk inalasi.

G.  PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a.      Pengukuran Fungsi Paru ( Spirometri)
Pengkuran fungsi ini dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol golongan adrenergik. Peningkatan FEV atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnostik asma.

b.      Tes provokasi bronkus
Tes ini lakukan pada spirometri internal. Penurunan FEV sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90% dari maksimum dianggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEFR 10% atau lebih.

c.       Pemeriksaan kulit
Untuk menunjukkan adanya antibody lgE hipersensitif yang spesifik dalam tubuh.

H.  PEMERIKSAAN LABORATORIUM
a.      Analisis gas darah (AGD /Astrup)
Hanya dilakukan pada serangan asma berat karena terdapat hipoksemia, hiperkapnea, dan asidosis respiratorik.

b.      Sputum
Adanya badan kreola adalah karakreristik untuk serangan asma yang berat, karena hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabakan transudasi dari edema mukosa, sehingga terlepaslah sekelompok sel-sel epitel  dari perlekatannya.

c.       Sel Eosinofil
Sel eosinofil pada klien dengan status asmatikus dapat mencapai 1000-1500/mm baik asma intrinsik ataupun ekstrinsik, sedangkan hitung sel eosinofil normal antara 100-200/mm.

d.      Pemeriksaan Darah Rutin Dan Kimia
Jumlah sel eukosit yang lebih dari 15.000/mm terjadi karena adanya infeksi.



I.     PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Hasil pemeriksaan radiologi pada klien dengan asma bronkhial biasanya normal, tetapi prosedur ini harus tetap dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya proses patologi di paru atau komplikasi asama.

J.      PROSES KEPERAWATAN
1.      Pengkajian Keperawatan
a.      Anamnesis
Seperti: nama,umur, jenis kelamin, tempat tinggal, alamat, status perkawinan, dan gangguan emosional.Keluhan utama meliputi sesak napas, bernapas terasa berat pada dada, dan adanya keluhan sulit untuk bernapas.
b.      Riwayat penyakit saat ini
Klien dengan serangan asma datang mencari pertolongan terutama dengan keluhan sesak napas yang hebat dan mendadak, kemudian dengan diikuti gejala-gejala lain seperti wheezing (bunyi napas), penggunaan otot bantu pernapasan,kelelahan, gangguan kesadaran, sianosis, dan perubahan tekanan darah. Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi tiga stadium.
1)      Ditandai dengan batuk-batuk berkala dan kering. Batuk ini terjadi karena mukosa yang kental dan mengumpul. Pada stadium ini terjadi edema dan pembengkakan bronkus
2)      Ditandai dengan batuk disertai dengan mukus yang jernih dan berbusa.klien merasa sesak napas dan berusaha untuk bernapas dalam, ekspirasi memanjang diikuti bunyi mengi. Klien lebih suka duduk dengan tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur tampak pucat, gelisah, dan warna kulit mulai membiru.
3)      Ditandai dengan hampir tidak terdengarnya suara napas karena aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernapasan menjadi dangkal dan tidak teratur, irama pernapasan meningkat karena asfiksia (gangguan pertukaran udara).
Perawat perlu mengkaji obat-obatan yang biasa diminum klien dan memeriksa kembali setiap jenis obat apakah masih relevan untuk digunakan kembali.
c.         Riwayat penyakit dahulu
Seperti: adanya infeksi saluran pernapasan atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, dan polip hidung.
d.        Riwayat penyakit keluarga
Seperti riwayat penyakit asma atau penyakit alergi yang lain pada anggota keluarganya karena hipersensitivitas pada penyakit asma ini lebih ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan.
e.       Pengkajian psiko-sosio-kultural
f.       Pola resepsi dan tata laksana hidup sehat
g.      Pola hubungan dan peran
h.      Pola persepsi dan konsep diri
i.        Pola penanggulangan stress
j.        Pola sensorik dan kognitif
k.      Pola tata nilai dan kepercayaan

2.      Pemeriksaan fisik
a.      Keadaan umum
Seperti : kesadaran klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan suara berbicaa, denyut nadi, frekuensi pernafasan yang meningkat, penggunaan otot-otot bantu pernapasan, sianosis ( warna kebiru-biruan pada kulit ), batuk dengan lendir lengket, dan posisi istirahat klien.

b.      B1 (Breathing) / pernafasan
Inspeksi    :terlihat adanya peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan, serta penggunaan otot bantu pernapasan, kemudian melihat postur bentuk, kesimetrisan tubuh.
Palpasi      :kesimetrisan, ekspansi, dan taktil fremitus normal.
Perkusi     :didapatkan suara normal sampai hipersonor sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah.
Auskultasi:terdapat suara vesikuler ( yg normal) yang meningkat yg disertai dengan ekspirasi lebih dari empat detik atau lebih dari tiga kali inspirasi, dengan bunyi napas tambahan utama wheezing pada akhir ekspirasi.

c.       B2 (Blood) / darah
Perawat perlu memonitor dampak asma pada status kardiovaskular meliputi keadaan hemodinamik seperti nadi, tekanan darah dan CRT.

d.      B3 (Brain) / otak
Tingkat kesadaran perlu dikaji. Kemudian diperlukan pemeriksaan GCS, untuk menentukan tingkat kesadaran klien apakah composmentis, somnolen atau koma.

e.       B4 (Bladder) / kandung kemih
Pengukuran volume output urine perlu dilakukan karena berkaitan dengan intake cairan. Oleh karena itu, perawat perlu memonitor ada tidaknya oliguria (sedikitnya urine) karena hal tsb merupakan tanda awal dari syok.

f.       B5 (Bowel) / sistem pencernaan
Perlu juga dikaji tentang bentuk, turgor, nyeri, dan tanda-tanda infeksi, mengingat hal-hal tsb juga dapat merangsang serangan asma. Pada klien dengan sesak napas, sangat potensial terjadi kekurangan pemenuhan kebutuhan nutrisi.

g.      B6 (Bone) / tulang
Dikaji adanya edema ekstremitas, tremor dan tanda-tanda infeksi pada ekstremitas karena dapat merangsang serangan asma.
3.      Diagnosa
a.      Diagnosa I : ketidakefektifan jalan nafas yang berhubungan dengan adanya bronkhokonstriksi, bronkhopasme, edema mukosa dan dinding bronchus, serta sekresi mucus yang kental.
b.      Diagnosa II: gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli.
c.       Diagnosa III: gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan nafsu makan
d.      Diagnosa IV : Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.

4.      Intervensi
a.      Diagnosa I : ketidakefektifan jalan nafas yang berhubungan dengan adanya bronkhokonstriksi, bronkhopasme, edema mukosa dan dinding bronchus, serta sekresi mucus yang kental.
Kriteria hasil:
1.    Pasien dapat mendemonstrasikan batuk efektif.
2.    pasien dapat menyebutkan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.
3.    tidak ada lagi suara nafas tambahan dan wheezing.
Intervensi yang di lakukan secara mandiri:
1.    kaji warna, kekntalan, dan jumlah sputum.
2.    atur posisi semifowler.
3.    ajarkan cara batuk efektif.
4.    bantu klien latihan nafas dlam.
5.    pertahankan intake cairan min.2500 ml/hari
6.    auskultasi bunyi nafas, catat adanya bunyi nafas, mis mengi, krekels, dan ronki.
7.    kaji frekuensi pernafasan
8.    Pertahankan polusi lingkungan minimum.
Intervensi yang dilakukan secara kolaborasi :
1.    kolaborasi pemberian obat Bronkodilator , mis: Nebulizer via inhalasi
2.    kolaborasi pemberian obat Xantin, mis aminofilin, oxtrifilin, dll

b.        Diagnosa II: gangguan pertukaran gas yang berhubungan dengan gangguan suplai oksigen dan kerusakan alveoli.
Kriteria hasil:
1.    dapat mendemonstrasikan batuk efektif
2.    menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal.
Intervensi yang dilakukan secara mandiri :
1.    kaji frekuensi, kedalaman pernafasan, catat penggunaan otot aksesori, nafas bibir, ketidakmampuan bicara.
2.    atur posisi semifowler
3.    auskultasi bunyi nafas , catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan.
4.    palpasi fremitus.
5.    awasi tanda vital dan irama jantung.
Intervensi yang dilakukan secra kolaborasi
1.    awasi/gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri.
2.    berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi  pasien.

c.       Diagnosa III : gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
Kriteria hasil :
1.    Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat
2.    Menunjukkan perilaku atau perubahan pola hidup untuk meningkatkan atau mempertahankan berat badan yang tepat.
Intervensi yang dilakukan secara mandiri:
1.    Kaji kebiasaan diet, masukkan makanan saat ini.  Catat derajat kesulitan makan.  Evaluasi berat badan dan ukuran tubuh.
2.    Auskultasi bunyi usus
3.    Berikan perawatan oral, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai dan tisu
4.    Dorong periode istirahat semalam 1 jam setelah dan sebelum makan.  Berikan makan porsi kecil tapi sering
5.    Hindari makanan yang panas atau dingin
6.    Timbang berat badan sesuai indikasi
Intervensi yang dilakukan secara kolaborasi :
1.    Konsul ahli gizi untuk memberikan makanan yang mudah dicerna, secara nutrisi seimbang
2.    Kaji pemeriksaan laboratorium, misalnya albumin serum, transferin, profil asam amino.

d.   Diagnosa IV : Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai proses penyakit dan pengobatan.
Kriteria hasil :
1.    Menyatakan pemahaman kondisi atau proses penyakit dan tindakan
2.    Mengidentifikasi hubungan tanda/gejala yang ada dari proses penyakit dan menghubungkan dengan faktor penyebab.
3.    Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam ptogram pengobatan.
Intervensi yang dilakukan secara mandiri :
1.    Instruksikan rasional untuk latihan napas,batuk efektif,latihan kondisi umum
2.    Diskusikan obat pernapasan,efek samping,dan reaksi yang tak diinginkan.
3.    Tekankan pentingnya perawatan oral
4.    Diskusikan pentingnya menghindari orang yang sedang infeksi pernapasan aktif.  Tekankan perlunya vaksinasi influenza
5.    Diskusikan faktor individu yang meningkatkan kondisi.  Dorong pasien untuk mencari cara mengontrol faktor ini dan sekitar rumah
6.    Kaji efek bahaya merokok dan menasehatkan menghentikan rokok pada pasien atau orang terdekat
7.    Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas dan aktivitas pilihan dengan periode istirahat untuk mencegah kelemahan, cara menghemat energi selama aktivitas
8.    Diskusikan pentingnya mengikuti perawatan medik, foto dada periodik, dan kultur sputum.
9.    Kaji kebutuhan oksigen untuk pasien yang pulang dengan oksigen tambahan
10.               Anjurkan pasien atau orang terdekat dalam penggunaan oksigen aman dan merujuk ke perusahaan penghasil sesuai indikasi
11.               Rujuk untuk evaluasi perawatan di rumah bila diindikasikan.  Berikan rencana rencana perawatan detil dan pengakjian dasar fisik untuk perawatan di rumah sesuai kebutuhan pulang dari perawatan akut.

5.        Implementasi
Melakukan tindakan sesuai intervensi dan kebutuhan pasien.

6.      Evaluasi
a.      Tidak ada lagi suara nafas tambahan ( wheezing)
b.      Dapat mendemonstrasikan batuk efektif
c.       Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi
d.      Jalan nafas kembali efektif
e.       Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

7.    Discharge Planning (Perencanaan Pemulangan)
Berikan intruksi verbal dan tertulis kepada pasien dan orang terdekat yaitu:
a.      Mejelaskan pengertian mengenai  penyakit asma.
b.      Tanda dan gejala, ex: infeksi paru (batuk meningkat), produksi sputum banyak, warna sputum berubah dari putih jernih menjadi kuning kehijauan, demam atau iritasi bronkus (batuk kering).
c.       aMenjelaskan obat-obatan yang boleh depergunakan, nama obat, yujuan , dosis, jadwal tindakan pencegahan, interaksi o at-obatan dan makanan/obat  dan potensi efek samping. Intruksi pasien untuk menghubungkan terapi yang diresepkan.
d.      Intruksi pasien untuk menghubungi dokter  sebelum menggunakan obat yang dijual bebas.
e.       Menghindara  kontak langsung atau indivudi denga individu yang lain
f.       Menganjurkan pasien untuk perawatan lanjut bila mengalami asma.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jangan lupa tinggalkan jejakk yaa...