Kamis, 23 Februari 2012

PERENCANAAN keperawatan

PERENCANAAN
A.    Pengertian
Perencanaan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan yang berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut. (Potter & Perry, 2005).

B.     Langkah-langkah intervensi keperawatan :
1.      Menetapkan Prioritas
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan spesifik, perawat menggunakan ketermpilan berpikir kritis untuk menetapkan prioritas diagnosa dengan membuat peringkat dalam urutan kepentingannya. Prioritas ditegakkan untuk mengidentifikasi urutan intervensi keperawatan ketika klien mempunyai masalah atau perubahan multiple. (Carpenito, 1995).
2.      Menetapkan Tujuan
Setelah mengkaji, mendiagnosis, dan menetapkan prioritas tentang kebutuhan perawatan kesehatan klien, perawat merumuskan tujuan dan hasil yang diperkirakan dengan klien untuk setiap diagnosa keperawatan (Gordon,1994).
Maksud dari penulisan tujuan dan hasil yang diperkirakan ada dua.
Pertama, tujuan dan hasil yang diperkirakan memberikan arahan untuk intervensi keperawatan yang individual.
Kedua, tujuan dan hasil yang diperkirakan untuk menentukan keefektifan intervensi. Bulechek & McCloskey (1985), mendefinisikan tujuan sebagai “petunjuk untuk pemilihan intervensi keperawatan dan kriteria dalam evaluasi intervensi keperawatan”.
Tujuan jangka pendek adalah sasaran yang diharapkan tercapai dalam periode waktu yang singkat, biasanya kurang dari satu minggu (Carpenito, 1995). Sedangkan tujuan jangka panjang adalah sasaran yang diperkirakan untuk dicapai sepanjang periode waktu yang lebih lama, biasanya lebih dari satu minggu atau berbulan-bulan (Carpenito, 1995).
Tujuan jangka panjang dapat dilanjutkan saat pemulangan ke fasilitas keperawatan terampil, lingkungan rehabilitasi, atau kembali ke rumah.
Penetapan tujuan menegakkan kerangka kerja untuk rencana asuhan keperawatan. Melalui tujuan, perawat mampu untuk memberikan asuhan yang bersinambungan dan meninngkatkan penggunaan waktu serta sumber yang optimal.

3.      Kriteria Hasil atau Hasil Yang Diharapkan
Hasil yang diharapkan adalah sasaran spesifik, langkah demi langkah yang mengarah pada pencapaian tujuan dan penghilangan etiologi untuk diagnose keperawatan. Suatu hasil adalah perubahan dalam status klien yang dapat diukur dalam berespons terhadap asuhan keperawatan (Gordon, 1994; Carpenito, 1995). Hasil adalah respons yang diinginkan dari kondisi klien dalam dimensi fisiologis, sosial, emosional, perkembangan atau spiritual.
Untuk menentukan hasil yang diharapkan, ada beberapa pedoman yang harus diperhatikan, yaitu :
a.       Faktor yang berpusat pada klien
Karena asuhan keperawatan diarahkan dari diagnose keperawatan, maka tujuan dan hasil yang diperkirakan difokuskan pada klien. Pernyataan ini mencerminkan perilaku dan respons klien yang diperkirakan sebagai hasil dari intervensi keperawatan.
b.      Faktor Tunggal
Setiap penetapan tujuan atau hasil yang diperkirakan harus menunjukkan hanya satu respons perilaku. Kemanunggalan ini memberikan metoda yang lebih tepat untuk mengevaluasi respons klien terhadap tindakan keperawatan.

c.       Faktor yang dapat diamati
Hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan harus dapat diamati. Melalui pengamatan peawat mencatat bahwa telah terjadi perubahan. Perubahan yang dapat diamati dapat terjadi dalam temuan fisiologis, tingkat pengetahuan klien, dan perilaku  Hasilnya dapat dicapai dengan menanyakan secara langsung klien tentang kondisi atau dapat diamati dengan menggunakan keterampilan pengkajian. Faktor yang dapat diamati ini kita dapati dari data subjektif.

d.      Faktor yang dapat diukur
Tujuan dan hasil yang diharapkan ditulis untuk memberi perawat standar yang dapat digunakan untuk mengukur respons klien terhadap asuhan keperawatan. Faktor yang dapat diukur ini kita dapat dari data obektif.

e.       Faktor batasan waktu
Batasan waktu untuk setiap tujuan dan hasil yang diharapkan menunjukkan kapan respons yang diharapkan harus terjadi. Batasan waktu membantu perawat dan klien dalam menentukan bahwa kemajuan sedang dilakukan dengan kecepatan yang jelas.

f.       Faktor Mutual
Penetapan tujuan dan hasil yang diharapkan secara mutual memastikan bahwa klien dan perawat setuju mengenai arah dan batasan waktu dari perawatan. Penetapan tujuan secara mutual dapat meningkatkan motivasi dan kerja sama klien.

g.      Faktor realistik
Tujuan dan hasil yang diharapkan yang singkat dan realistic dapat dengan cepat memberikan klien dan perawat suatu rasa pencapaian. Sebaliknya, rasa pencapaian ini dapat meningkatkan motivasi dan kerja sama klien. Ketika menetapkan tujuan dan hasil yang diharapkanyang realistik, perawat, melalui pengkajian, harus mengetahui sumber-sumber fasilitas perawatan kesehatan, keluarga, dan klien.


4.      Intervensi Keperawatan
Intervensi, strategi, atau tindakan keperawatan dipilih setelah tujuan dan hasil yang diharapkan ditetapkan. Intervensi keperawatan adalah tindakan yang dirancang untuk membantu klien dalam beralih dari tingkat kesehatan saat ini ke tingkat kesehatan yang diinginkan dalam hasil yang diharapkan (Gordon, 1994).
Tipe intervensi terbagi 3, yaitu :
a.       Intervensi perawat
Intervensi perawat adalah respons perawat terhadap kebutuhan perawatan kesehatan dan diagnose keperawatan klien. Sebagai contoh, intervensi untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi yang adekuat atau aktivitas kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan higiene adalah tindakan keperawatan mandiri. Intervensi perawat tidak membutuhkan instruksi dari dokter atau profesi lainnya.
b.      Intervensi dokter
Intervensi dokter didasarkan pada respons dokter terhadap diagnose medis, dan perawat menyelesaikan instruksi tertulis  dokter (Bulechek & McCloskey, 1994). Sebagai perawat untuk menyelesaikan insruksi tersebut dan untuk mengkhususkan pendekatan tindakan. Setiap intervensi dokter membutuhkan tanggung jawab keperawatan spesifik dan pengetahuan keperawatan tehnik spesifik.

c.       Intervensi kolaborasi
Intervensi kolaborasi adalah terapi yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, dan keahlian dari berbagai professional perawatan kesehatan. Intervensi perawat, dokter dan kolaborasi membutuhkan penilaian keperawatan yang kritis dan pembuatan keputusan. Ketika menghadapi intervensi dokter, atau intervensi kolaboratif, perawat tidak secara otomatis mengimplementasikan terapi, tetapi harus menentukan apakah intervensi yang diminta sesuai untuk klien.
Pemilihan intervensi
Ketika memilih intervensi, perawat menggunakan keterampilan membuat keputusam klinis yang menunjukkan tentang enam faktor untuk memilih intervensi keperawatan pada klien spesifik, yaitu :

a.       Karakteristik diagnosa keperawatan
1)      Intervensi harus diarahkan pada pengubahan etiologi atau tanda dan gejala yang berkaitan dengan label diagnostik.
2)      Intervensi diarahkan pada pengubahan atau menghilangakan faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan diagnosa keperawatan faktor risiko.

b.      Hasil yang diharapkan
1)      Hasil dinyatakan dalam istilah yang dapat diukur dan digunakan untuk mengevaluasi keefektifan intervensi.

c.       Dasar riset
1)      Tinjauan riset keperawatn klinis yang berhubungan dengan label diagnostik dan masalah klien.
2)      Tinjauan artikel yang menguraikan penggunaan temuan riset dalam situasi dan lingkungan klinis yang serupa.

d.      Kemungkinan untuk dikerjakan
1)      Interaksi dan intervensi keperawatan dengan tindakan yang sedang diberikan oleh profesional kesehatan lain.
2)      Biaya. Apakah intervensi mempunyai nilai yang efektif baik secara klinis maupun biaya?
3)      Waktu. Apakah waktu dan sumber tenaga tertangani dengan baik ?

e.       Keberterimaan klien
1)      Rencana tindakan harus selalu dengan tujuan klien dan nnilai perawatan kesehatan klien.
2)      Tujuan keperawatan yang diputuskan secara mutual.
3)      Klien harus mampu melakukan perawatan diri atau mempunyai orang yang dapat membantu dalam perawatan kesehatan tersebut.
f.       Kompetensi dari perawat
1)      Berpengetahuan banyak tentang rasional ilmiah intervensi.
2)      Memiliki keterampilan fisiologis dam psikomotor yang diperlukan untuk menyelesaikan intervensi.
3)      Kemampuan untuk berfungsi dalam lingkungan dan secara efektif dan efisien menggunakan sumber perawatan kesehatan.
Contoh bentuk intervensi :
No
Tanggal
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Kriteria hasil
Intervensi
1.
21 Nov
2011
Gangguan mobilitas
fisik berhubungan
dengan inflamasi pada lutut : tidak mampu
berdiri seimbang
dengan kaki kiri.
Untuk dapat
Menyeimbangkan fisik : berdiri
seimbang dengan
kaki kiri
1.                           1. Dapat
2.                           menggunakan alat bantu selama satu minggu.
3.                            
2.   Berdiri tanpa ada
bantuan asisten
selama sebulan.
1.   Mengajarkan klien
bagaimana cara
menggunakan alat
bantu.


2.   Membimbing klien
agar terlepas dari ketergantungan
terhadap alat
bantu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jangan lupa tinggalkan jejakk yaa...