Kamis, 23 Februari 2012

APLIKASI MODEL ADAPTASI MENURUT SISTER CALLISTA ROY DALAM KEPERAWATAN

APLIKASI MODEL ADAPTASI MENURUT SISTER CALLISTA ROY DALAM KEPERAWATAN
            Model ilmu keperawatan dari adaptasi Roy memerlukan pedoman kepada perawat dalam mengembangkan asuhan keperawatan melalui proses keperawatan. Unsur keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi seperti :

A.    Pengkajian
Pengkajian pertama meliputi pengumpulan data tentang perilaku klien sebagai suatu sistem adaptif yang berhubungan dengan masing-masing model adaptif : fisiologi, konsep diri, fungsi peran, dan ketergantungan. Oleh karena itu pengkajian pertama diartikan sebagai pengkajian perilaku, yaitu pengkajian klien terhadap masing-masing model adaptasi secara sistematika dan holistic. Pelaksanaan dan pengkajian dan pencatatan pada 4 model adaptif tersebut memberikan gambaran keadaan klien pada tim kesehatan lainnya.
Setelah pengkajian pertama perawat menganalisa perubahan yang memerlukan lingkungan perawat. Jika X ditemukan ketidakefektifan respon (maladaptive), perawat melaksanakan pengkajian tahap 2. Pada tahap ini, perawat mengumpulkan data stimulus fokal, kontekstual, dan residual yang berdampak pada klien. Proses ini bertujuan untuk mengklarifikasika masalah dan mengidentifikasi faktor kontektual dan residual yang sesuai menurut Martinez, faktor yang mempengaruhi respon adaptif meliputi ginetik, seperti : jenis kelamin, tahap perkembangan, obat-obatan alcohol, merokok, konsep diri, fungsi, peran, ketergantungan, dan pola interaksi sosial ; mekanisme koping dan gaya ; stress fisik dalam emosi ; budaya ; serta lingkungan fisik.


B.     Perumusan diagnosis keperawatan
Diagnosis keperawatan adalah respon individu terhadap rangsangan yang timbul dari diri sendiri maupun luar (lingkungan). Sifat diagnosis keperawatan adalah :
1.      Berorientasi pada kebutuhan dasar manusia
2.      Menggambarkan respon individu terhadap proses, kondisi dan situasi sakit
3.      Berubah bila respon individu juga berubah (Nursalam 2011).
Unsur dalam diagnosis keperawatan meliputi problem / respon (P); etiologi (E); dan Signslsymptom (S), dengan rumus diagnosis P+E+S. diagnosis keperawatan dan diagnosis medis mempunyai beberapa perbedaan sebagaimana tersebut pada table di bawah ini


Diagnosis medis


Diagnosis keperawatan
1.      Fokus : faktor-faktor pengobatan penyakit

2.      Orientasi : keadaan patologi


3.      Cenderung tetap mulai masuk sampai pulang.

4.      Mengarah tindakan medis (pengobatan) yang sebagian
              dilimpahkan kepada perawat

5.      Diagnosis medis melengkapi diagnosis keperawatan
Focus : respon klien, tindakan medis dan faktor lain.

Orientasi : kebutuhan dasar manusia (KDM )

berubah sesuai perubahan respon klien


mengarah pada fungsi mandiri perawat



diagnosis keperawatan melengkapi diagnosis medis.

Roy mendefinisikan 3 metode untuk menyusun diagnosis keperawatan:
Ø  Menggunakan tipologi yang dikmbangkan oleh roy dan berhungan dengan 4 model adaptasi(tabel masalah adaptasi) dalam mengaplikasikan metode diagnosis ini, diagnosis pada kasus Tn. Sigit adalah “ Hipoksia”.
Standar Tindakan Psiologis
1.      Memenuhi kebutuhan oksigen
Kriteria :
a.       Menyiapkan tabung oksigen dan flowmater
b.      Menyiapkan homidifier berisi air
c.       Menyiapkan selang nasal/ masker
d.      Memberikan penjelasan kapeda klien
e.       Mengatur posisi klien.
f.       Memasang selang nasal / masker
g.      Memerhatikan reaksi klien
2.      Memahami kebutuhan nutrisi, cairan dan elektolit
Kriteria:
a.       Menyiapkan peralatan dalam dressing care
b.      Menyiapkan cairan infus/makanan/ darah
c.       Memberikan penjelasan pada klien
d.      Memberikan penjelasan pada klien mencocokan jenis cairan / darah/ diet makanan
e.       Mengatur posisi klien
f.       Melakukan pemasangan infus /darah /makanan
g.      Mengobservasi reaksi klien

3.      Memenuhi kebutuhan eliminasi
Kriteria:
a.       Menyiapkan alat pemberian huknah/gliserin/dulcolak dan perawatan pemasangan ateter
b.      Memerhatikan suhu cairan atau ukuran kateter
c.       Menetup dan memasang selimut
d.      Mengobservasi keadaan feses/urine
e.       Mengobservasi reaksi klien
4.      Memenuhi kebutuhan aktifitas atau istirahat atau tidur
Kriteria:
a.       Melakukan latihan gerak pada klien tidak sadar
b.      Melakukan mobilitasi pada klien pasca operasi.

5. Memiliki kebutuhan  intergitas kulit (kebersihan dan kenyamanan fisik)
Kriteria :
a.       Memendikan klien yang tidak sadar / kondisinya lemah.
b.      Mengganti alat-alat tenun sesuai kebutuhan / kotor
c.       Merapikan alat-alat klien

6.Mencegah dan mengatasi reaksi fisiologis kriteria
1.      Mengopserfasi tanda-tanda fital sesuai kebutuhan
2.      Melakukan tes Alergi pada pemberian obat baru
3.      Mengopserfasi reaksi klien

Ø  Menggunakan perrnyataan dari perilaku yang tampaak dan pberpengaruh terhadap stimulunya. Dengan menggunakan metode diagnosis ini maka diagnoosisnya adalah “nyeri dada disebabkan oleh kekurangan oksigen pada otot jantung berhuungan dengan cuaca lingkungan yang panas.

`         Standar tindakan gangguan konsep diri ( psikis )

Memenuhi kebutuhan emosional dan spiritual
Kriteria :
1.   Melaksanakan orientasi pada klien baru
2.   Memberikan penjelasan tentang tndakn yang dilakukan
3.   Memberikan penjelasan dengan bahasa sederhana
4.   Memperhatikan setiap keluhan klien
5.   Memottivasi klien untuk berdoa
6.   Membantu klien untuk beribadah
7.   Memperhatikan pesan-pesan klien

Standar tindakan pada gangguan peran (sosial)
1.      Meyakinkan klien bahwa dia adalah tetap sebagai individu yang berguna bagi keluarga dan masyarakat
2.      Mendukung upaya kegiatan/kreatifitas klien
3.      Melibatkan klien dalam setiap kegiatan terutama dalam pengobatan pada dirinya
4.      Melibatkan klien dalam setiap mengambiil keputusan menyangkut diri klien
5.      Bersifat terbuka dan komunikatif pada klien
6.      Mengizinkan keluarga untuk memberikan dukungan kepada klien
7.      Perawat dan keluarga selalu mmemberikan pujian atas sikap klien yang positif dann perawatan
8.      Perawat dan keluarga selallu bersikap halus dan menerima jika ada sikap klien yang negatif

Standar  Tindakan pada Gangguan Interdependence ( ketergantungan )
1.   Membantu klien memenuhi makan & minum
2.   Membantu klien memenuhi kebutuhan eliminasi  ( urine & alvi )
3.   Membantu klien memenuhi kebutuhan kebersihan diri ( mandi )
4.   Membantu klien berhias / berdandan

Ø  Berhubungan dengan stimulus yang sama. Misalnya jika seseorang petani mengalami nyeri dada saat ia bekerja di luar pada cuaca yang panas. Pada kasus ini diagnosis yang sesuai adalah “kegagalan peran berhubungan dengan keterbatasan fisik (miokardial) untuk bekerja saat cuaca yang panas “



C.    Intervensi Keperawatan
Suatu perencanaan dengan tujuan merubah atau memanipulasi local, kontekstual, residual. Pelaksanaannya juga ditujukan kepada kemampuan klien dalam menggunakan koping secara luas, supaya stimulasi secara keseluruhan dapat terjadi pada klien.
Tujuan intervensi keperawatan adalah mencapai kondisi yang optimal dengan menggunakan koping yang konstruksif. Tujuan jangka panjang harus dapat menggambarkan penyelesaian masalah adaptif dan ketersediaan energy untuk memenuhi kebutuhan tersebut (mempertahankan, pertumbuhan, reproduksi).
Tujuan jangka pendek mengidentfikasi harapan perilaku klien setelah memanipulasi stimulus fokal, kontekstual, dan residual.Pengembangan kriteria standars intervensi keperawatan menurut adaptasi akan digunakan oleh peneliti sebagai instrumen untuk mengukur kinerja perawat dalam menerapkan teori adaptasi pada asuhan keperawatan anak.


D.    Evaluasi
Penilaian terakhir proses keperawatan didasarkan pada tujuan keperawatan yang ditetapkan. Penetapan keberhasilan suatu asuhan keperawatan didasarkan pada perubahan perilaku dari kriteria hasil yang telah ditetapkan, yaitu terjadinya adaptasi pada individu.



Sumber : Nursalam.2008. Konsep dasar dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.



m% �,: u K ��O in-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%'>      Orem dengan Self-Care Dependent-Care Nursing teori nya mencoba memberikan pelayanan keperawatan dengan memunculkan potensi dari tiap klien yang terganggu karena kondisi sakitnya. teori orem menjelaskan bahwa proses keperawatan akan terjadi ketika kemampuan klien dalam memenuhi kondisnya yang terganggu. dalam teori ini disebutkan bahwa kemampuan seseorang dalam memberikan pealayanan tergadap dirintya sendiri itu akan di pengaruhi oleh kebutuhan dasar tang dependen, artinya kebutuhan dasar manusia akan terap porsi kebutuhanya dalam kondisi apapun seorang klien. selain kebutuhan self care juga di pengaruhi self care agency, yaitu kekempuan seseorang untuk memenuhi kebutuhanya sendiri. hal ini tifdak bersipat dependen, artinya  kemampuan ini kan terganggu bila keadaan tubuh dei klien terganggnu. mislanya sakit. bila ini terjadi maka kemampuan diri sendiri dalam memenuhi kebutuhanya akan berjurang, akibatnya suplai kebutuhan yang harsusnya terpenuhi akan tidak optimal. keadaan seperti ini yang akana menjadi permasalahan dalam teori ini. disaat seperti ini maka yang diperluakan adalah nursing agency,maksudnya disaat self care agency tidak mampu memenuhi kebutuhanya maka perawat yang bertindak sebagai nursing Agency harus mampu memberikan bantuan pada klien tapi lebih pada sisi self care agency nya.maksudnya tidak langsung diberikan pemenuhan kebutuhanya, tapi melalui optimalisasi kemampuan klien itu sendiri.egi abdul wahid

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

jangan lupa tinggalkan jejakk yaa...